
"Makan yang banyak. Biar baby kita sehat,"
"Huh! apa-apaan sih kamu?!" Vanilla menyingkirkan tangan Jhico yang baru saja mengusap perutnya. Jhico terkekeh melihat reaksi istrinya. Belakangan ini Jhico memang lebih terbuka, tak sungkan menampilkan sisi yang asli dalam dirinya yaitu jahil. Dan selalu Vanilla yang menjadi korban kejahilannya.
Sejak mereka mengakui perasaan masing-masing, tak ada lagi batasan. Jhico mudah sekali menempatkan posisinya sebagai suami sekaligus teman untuk Vanilla.
Devan melirik adiknya seraya menahan senyum. Devan tahu betul sehampa apa hidup Vanila selama ini walaupun Ia dikelilingi orang yang sangat menyayanginya dan dilimpahi dengan harta. Itu semua terbukti dari pelarian Vanilla setiap harinya yaitu kelab malam, Ia melakukan itu karena merasa tak ada kenyamanan dalam hidupnya. Sekarang, Vanilla bisa tertawa lepas dan rona bahagia juga tak bisa disembunyikan. Sejak kehadiran Jhico, perlahan hidup Vanilla yang gelap berubah menjadi terang.
Apa lagi jika mereka dianugerahi seorang malaikat kecil. Devan sudah bisa membayangkan sebesar apa kebahagiaan yang akan dirasakan oleh Vanilla dan sang suami yang begitu tulus mencintainya itu.
"Kamu menatap siapa?"
Semuanya melirik Lovi yang baru saja bertanya seperti itu pada Devan. Yang ditanya tampak gugup dan mengalihkan pandangan ke piring Adrian dan Auristella yang saat ini disuapinya. Devan tak menjawab, dan Lovi semakin dibuat penasaran.
Vanilla menatap ke depan, dimana objek yang membuat kakaknya salah fokus berada. Vanilla mengangkat sebelah alisnya saat menemukan seorang gadis tengah memperhatikan keluarganya dengan senyum hangat.
Vanilla seperti kenal dengan sosoknya. Ia berusaha mengingat sebentar. Selang beberapa detik, Ia segera mendekatkan bibirnya ke telinga sang kakak yang duduk di sampingnya.
"Dia teman ONS-mu dulu ya? yang hampir jadi kekasihmu juga 'kan?"
Devan berdehem pelan sebagai jawaban. Ia menggeleng saat Vanilla kembali ingin membisikinya sesuatu. "Kalian membicarakan apa sih? jangan bisik-bisik, aku penasaran," kata Lovi dengan gemas. Ketiga anaknya yang tadi nampak tidak peduli pun ikut menatap Devan.
"Tidak, Vanilla mengatakan kalau makanan ini enak sekali. Dia mau lagi,"
"Oh, pesan saja, Vanilla. Tumben sekali makan-mu banyak. Bukankah belakangan ini sedang diet?" Devan menghela napas lega saat istrinya tak lagi bertanya lebih jauh. Biar saja Ia menggunakan Vanilla sebagai tameng.
Lovi memang tidak pernah mempermasalahkan masa lalu Devan, tetapi Devan tahu kalau sebenarnya Lovi tetap merasa sakit hati ketika masa lalu dirinya kembali dibahas.
"Makanan kamu kurang?" tanya Jhico tak yakin dan merasa curiga dengan kakak beradik itu.
"Huh? hmm... iya, iya aku mau minta satu porsi lagi," Vanilla harus mengikuti jalan yang telah dibuat kakaknya. Ia harus berpura-pura menjadi orang rakus saat ini. Padahal makanan yang ada di depan mejanya saja belum habis. Tapi sudah minta satu porsi lagi.
"Habisi yang itu dulu," ujar Raihan seraya menunjuk makanan putrinya yang baru disantap setengah. Vanilla mengangguk patuh.
*******
"Hati-hati, Vanilla!"
BUGH
"Sudah aku katakan tadi hati-hati. Bangun tidur jangan langsung berdiri,"
Melihat Vanilla jatuh, ada rasa geli di perutnya tapi Jhico tak mungkin tertawa. Vanilla memang memiliki kebiasaan seperti itu setelah bangun tidur. Terkadang langsung berdiri untuk ke kamar mandi, tidak mengumpulkan kesadarannya secara penuh terlebih dahulu sehingga ketika berdiri dan berjalan pandangannya terasa berkunang-kunang.
Vanilla dibantu oleh suaminya untuk bangkit. Jhico membawanya ke tepi ranjang. Saat akan kembali membanting punggungnya ke ranjang yang super lembut itu, Jhico segera menahan.
"Kita akan bersepeda bukan? jangan tidur lagi, Nillaku."
"Kamu saja lah. Aku tidak jadi ikut, malas."
"Tidak, kamu jarang sekali olahraga. Sekarang harus ikut aku!"
"Jhi---"
__ADS_1
"Kita bersepeda bersama. Itu menyenangkan, Semuanya ikut, dan kamu malah diam di sini?"
"Lebih baik tidur, Jhico. Aku lelah,"
"Lelah karena apa? semalam kita langsung tidur usai makan malam. Aku tidak melakukan itu denganmu 'kan?"
Vanilla tak mendengar lagi kalimat selanjutnya dari Jhico. Ia kembali terpejam, melihat itu Jhico segera berdecak. Vanilla kalau sudah melihat dan menyentuh ranjang, pasti akan selalu seperti ini. Bawaannya ingin tidur terus.
Jhico membawa Vanilla dalam gendongan secara tiba-tiba hingga perempuan itu berteriak kaget, matanya langsung terbuka karena tak menyangka akan melayang.
Diturunkannya sang istri di dalam sebuah jacuzzi. Air hangat langsung menyambut tubuh Vanilla yang dibalut pajamas berbahan satin itu.
"Aku akan mandi sangat lama supaya tidak ikut kamu bersepeda,"
"Ya sudah, aku juga ikut mandi kalau begitu."
"Kamu 'kan sudah mandi!" sela Vanilla seraya melihat suaminya dari atas sampai bawah. Jhico sudah mengenakan celana cargo berwarna beige dan kaus putih polosnya.
"Mandi lagi, sekalian kita mengulangi peristiwa bersejarah malam itu,"
"TIDAK MAU!"
"Yakin tidak mau? aku bisa melakukannya, Nillaku."
"Tidak, aku akan mandi cepat. Sekarang kamu boleh keluar,"
Jawaban istrinya membuat Jhico tersenyum puas. Entah mengapa Vanilla merasa malu saat mengingat malam pertama mereka dan Ia belum siap untuk mengulangi, hal itulah yang membuat Jhico sengaja menggodanya seolah mereka akan kembali melakukannya sekarang. Kalau diancam seperti itu, Ia pasti akan cepat-cepat menyelesaikan mandinya.
Hanya Jhico, Vanila, Devira, Jane, dan anak-anak saja yang bersepeda. Sementara yang lain memilih untuk duduk menikmati suasana pagi hari dengan segelas susu dan teh hangat.
Mereka bersepeda di atas jembatan yang membawahi laut tempat mereka berenang pada hari pertama datang ke penginapan itu. Jhico, Vanilla, Devira, dan Jane hanya melajukan sepeda bolak-balik seraya memboncengi keponakan mereka, walaupun begitu, mereka sangat senang.
"HUWAAA TOPI AUNTY TERBANG! HEY BAGAIMANA INI?! ASTAGA, ITU MAHAL," Tiba-tiba Jane berteriak riuh saat topi bundarnya yang sering digunakan olehnya ketika bermain di pantai tiba-tiba terlepas dari kepalanya karena diterpa angin.
Adrian terbahak kencang melihatnya. Padahal hanya topi, kenapa harus seheboh itu? "Mahal? memang berapa harganya?"
"SANGAT MAHAL. LEBIH MAHAL DARI ROBOTMU,"
"Ah mana mungkin,"
Jane turun dengan cepat dari sepeda dan Adrian yang diboncenginya hampir jatuh karena tidak seimbang. Beruntungnya anak itu bisa segera turun dan menyandarkan sepeda di pilar jembatan.
"OH TOPIKU, KENAPA KAMU TENGGELAM?! HUWAAAA,"
Ia meraung tidak terima saat melihat topi mahal miliknya sudah masuk ke dalam air. Ia segera menatap Adrian lalu mengayun lengan keponakannya itu dengan cepat, "Adrian, tolong ambil topi Aunty."
"Tidak mau. Aku sudah mandi, kalau masuk ke dalam sana nanti mandi lagi,"
"Ya Tuhan, kamu tega sekali. Aunty mohon, itu topi kesayangan Aunty, Adrian. Bukan masalah harga saja,"
Lovi dan Devan memperhatikan dari jauh kehebohan yang terjadi itu. Vanilla dan Jhico pun sampai berhenti mengayuh sepeda mereka. Semua keponakan yang mereka bonceng disuruh turun sebentar.
Adrian memasang raut menyebalkan, sengaja membuat Aunty-nya memohon. "Baiklah, aku bantu,"
__ADS_1
Ia melepas sandal berwarna hitam yang membalut kaki kecilnya lalu bersiap untuk berenang ke dalam air di bawahnya.
"Ada bayarannya tidak?"
"Ada, tentu saja. Aunty tahu aku seperti apa 'kan?"
Jane mendengus dan bertanya, "Apa bayarannya?"
"Hmm... nanti aku pikirkan dulu,"
Byurr
Anak itu masuk ke dalam lautan air. Lalu meraih topi Aunty-nya yang ada di permukaan.
Devan dan Lovi bangkit karena terkejut. Mereka kira tidak ada hal yang penting. Tapi kenapa Adrian berenang?
Devan segera berlari mendekati Jane. Ia menarik lengan Jane dan mentapnya tajam. "Kenapa anakku masuk ke dalam sana?"
"Aku meminta bantuannya untuk mengambil topiku yang jatuh,"
Telunjuk Jane mengarah pada topi yang sudah diambil oleh Adrian. Terlihat anak itu sudah mendekati jembatan untuk naik.
"Perkara topi sampai harus menyuruh anakku berenang? benar-benar kamu ya!"
Jane terkekeh lalu merangkul lengan sepupunya dengan manis. "Keponakan ku ternyata lebih baik dari ayahnya ya? dia tidak masalah membantu aku. Tapi kenapa kamu marah? lagi pula, ini semua ada bayarannya, asal kamu tahu!"
"Aduh kakiku keram," Adrian tidak jadi menaiki jembatan karena kakinya tiba-tiba saja keram.
Vanilla yang melihat itu langsung berteriak mengalihkan fokus Devan yang akan melanjutkan perdebatan dengan Jane.
"DEVAN, BANTU ADRIAN NAIK. CEPAT!"
Rupanya sebelum Vanilla memberi tahu Devan, Jhico sudah mengambil langkah terlebih dahulu. Ia yang membantu Adrian untuk naik.
Setelah itu, Jhico membaringkan keponakannya di atas jembatan. Lalu memijat-mijat pelan kaki anak itu. Devan segera mendekati Adrian dan Adrian langsung menggenggam tangan Devan.
"Tidak apa, jangan menangis Keringkan dulu tubuhmu," ujar Jhico bertepatan dengan kedatangan Lovi yang langsung terlihat panik melihat anaknya meringis kesakitan.
Devan segera menggendong Adrian dan membawanya ke kamar, diikuti Lovi. Sementara Vanilla memberi pelajaran untuk sepupunya, Jane.
Ia menarik daun telinga Jane dan gadis itu langsung meringis. "Aku tidak tahu kalau akan menjadi seperti ini,"
"Kamu harus siap-siap dimarahi Devan. Saat dia tahu kalau kamu menyuruh Adrian mengambil topi saja dia sudah marah. Apa lagi setelah melihat anaknya keram begitu,"
"Aku akan minta maaf." ujarnya dengan tulus. Ia akan menyusul Devan. Tapi sedetik kemudian Ia kembali berbalik, "Topiku ketinggalan," ujarnya seraya meraih topi yang tadi diambil Adrian.
Jane mengerang kesal melihat Jane. Ia ingin menarik sejumput rambut Jane dari belakang karena terlalu gemas, tetapi Jhico menarik tangannya. Vanilla menatap sang suami dengan pandangan protes.
"Yang terpenting Adrian tidak kenapa-kenapa,"
------
Uncle idaman bgt yagasi? sweet parah Jhico tuh dr kemaren ama ponakannya :') BAGI LIKE, VOTE, DAN KOMEN DUNGS BUAT YG GA PELIT😜
__ADS_1