
"Di lobi bukan hanya ada satu orang. Dia pakai baju warna apa?"
Untuk mencari Ganadian, Jhico harus menelpon istrinya dulu karena ada beberapa orang yang sedang duduk di lobi.
"Sebentar, aku tanya dulu."
Jhico menghembuskan napas pelan lalu mematikan sambungan telepon. Ia duduk disalah satu sofa yang ada di lobi seraya menunggu istrinya mendapat jawaban dari tamu itu.
Jhico tak sengaja melihat seorang laki-laki yang tak jauh darinya baru saja mengangkat telepon. Hanya beberapa detik saja Ia berbicara dengan orang yang menelponnya. Ia tebak kalau itu Vanilla. Karena hanya menanyakan pakaian tidak butuh waktu lama 'kan?
Selang sedetik kemudian panggilan dari Vanilla masuk ke ponselnya. "Biru," kata Vanilla singkat, padat, jelas, dan tanpa menunggu waktu lama, Vanilla langsung menyudahi panggilan. Jhico mengangguk meskipun istrinya tidak melihat. Baiklah, Vanilla sedang tidak mood bicara banyak mungkin karena tadi sempat berdebat dengannya walaupun sebenarnya pangkal permasalahan yang terjadi tidaklah jelas asal-usulnya darimana.
Jhico mendatangi lelaki yang tadi dilihatnya menjawab panggilan, dia memakai baju biru dan hanya dia sendiri yang mengenakan pakaian warna biru di lobi ini. Sepertinya tidak salah lagi.
"Hallo," sapa Jhico dengan kaku. Ganadian yang tadi fokus pada ponsel langsung mengangkat kepala untuk melihat siapa yang menyapanya.
"Oh iya, hallo."
"Kau temannya Vanilla?"
"Iya benar, aku Ganadian. Kau suaminya ya?"
"Ya, kita bisa naik sekarang,"
Ganadian mengangguk. Ia bangkit seraya meraih parsel dan bunga yang tadi diletakkan tepat di sampingnya. Jhico menawari bantuan untuk memegang bunga di tangannya namun dia menolak dengan ucapan, "Aku saja yang bawa bunga. Kau bisa bantu aku bawa parsel?"
Entah mengapa hati Jhico merasa panas. Ia tahu betul untuk siapa bunga itu. Sejak awal memang matanya sudah fokus ke benda hidup yang identik dengan perempuan itu.
"Ini bunga untuk Vanilla 'kan?"
"Iya, kenapa? Vanilla menyukainya?"
"Karena ini untuk istriku, maka aku saja yang membawa. Pasti akan aku sampaikan juga pada Vanilla kalau ini dari mu,"
Jhico tetap keras kepala ingin membantu membawakan bunga saja, bukan parsel. Sebenarnya Ia ingin hanya dirinya saja yang boleh memberikan bunga untuk Vanilla. Hanya tangannya yang boleh melakukan itu.
Namun untuk kali ini biarlah. Vanilla cukup tahu kalau yang memberikan bunga tersebut adalah Ganadian dan yang menyerahkannya harus Jhico. Ia rasa juga tidak ada salahnya kalau Ia bersikap seperti itu. Ganadian terlihat pongah dan tak ada sungkannya dengan Jhico. Saat mereka tiba di unit apartemen, Ia memeluk Vanilla begitu erat sampai-sampai badan Vanilla terangkat. Jhico yang melihat itu mendehem keras.
Gila! Jhico yang melihatnya langsung merasa khawatir. Vanilla yang punya perut kenapa terlihat santai ya? bahkan tertawa seolah tidak tahu kalau tekanan atas pelukan mereka bisa saja menyakiti anaknya.
Vanilla nampak kaku saat ditatap sedemikian tajam oleh sang suami. Sementara Ganadian tidak menyadari itu.
"Silahkan duduk, Gana."
"Ya, tanpa disuruh pun aku akan duduk,"
__ADS_1
Sebenarnya Ganadian adalah laki-laki yang mudah bergaul, dan pembawaannya sangat santai. Tapi karena ini berhubungan dengan Istrinya, Jhico tidak begitu suka.
"Kau hamil? serius? anak siapa?" tanya Ganadian dengan tawa. Jhico memicing tajam sementara Vanilla nampak memukul lengan Ganadian, lelaki yang memiliki usia di atasnya.
"Anakku lah." jawab Jhico dengan tegas.
"Ini bunga dari dia, Nilla." ujarnya seraya menunjukkan bunga tersebut dan meletakkannya di meja. Ia menarik kembali ucapannya.
Jhico tidak menyerahkan bunga itu secara langsung pada Vanilla. Biarkan saja bunga tergeletak di atas meja.
"Berikan langsung ke dia, bisa?" tanya Ganadian dengan senyum hangat. Jhico langsung menggeleng. "Tidak perlu, yang terpenting aku sudah mengatakan kalau ini darimu. Iya 'kan?"
Ganadian diam-diam menggeram kesal. Ia melirik Vanilla yang melempar senyum pada Jhico. Seolah tahu betul kalau suaminya itu butuh penenang ditengah rasa cemburunya.
"Aku juga membawa buah,"
"Ya, Vanilla melihatnya," gumam Jhico yang lagi-lagi menghalangi interaksi antara Ganadian dan Vanilla.
"Kau cemburu ya? oh ayolah, aku ini menganggap Vanilla sebagai adikku,"
"Banyak yang seperi itu, pada akhirnya terjatuh."
"Terjatuh bagaimana?"
Entah mengapa kali ini Jhico terlihat kekanakan sekali. Biasanya Ia tidak seperti ini sekalipun ada yang mendekati sang istri dengan terang-terangan.
Jhico tak menanggapi. Ia menekan asal tombol-tombol di remote dan berusaha fokus menonton televisi. Ia harus mengendalikan dirinya sendiri. Kalau begini caranya Ia terlihat sangat takut apabila Vanilla akan jatuh dalam pesona lelaki lain. Padahal tidak seharusnya seperti itu. Mereka adalah rekan kerja.
Sepertinya anak mereka yang mendorong Jhico untuk bersikap over posesif seperti tadi. Sekarang kalau ada apa-apa yang dirasa aneh dan tak biasa terjadi, anaklah yang dijadikan alasan.
"Kapan kamu bisa bekerja lagi?"
"Belum tahu,"
"Suamimu memberikan izin?"
"Tergantung bagaimana keputusan dokter kandungan ku nanti. Sepertinya tidak dalam waktu dekat. Karena untuk berdiri saja aku tidak kuat lama-lama,"
"Jhi, aku mau makan buah dari Gana. Boleh tolong siapkan?"
"Buah apa?"
"Apel,"
"Yang aku belikan tadi pagi belum dimakan padahal sudah aku potong,"
__ADS_1
"Aku mau yang dari Gana,"
Jhico akhirnya melakukan apa yang diminta istrinya, menyiapkan buah yang diberikan Ganadian untuk dimakannya.
"Apel yang aku beli tidak dimakan. Giliran punya orang dimakan. Ck! wanita hamil pintar sekali membuat hati panas,"
Sementara Ia memotong buah apel, Vanilla kembali melanjutkan obrolan dengan Ganadian.
"Kuliahmu bagaimana? yang aku tahu, kamu masih kuliah 'kan?"
"Terpaksa tidak dulu. Pekerjaan saja aku tinggal. Tapi kalau ada tugas-tugas aku berusaha mengerjakannya dibantu juga dengan Jhico,"
"Bukankah dia harus bekerja? katamu, dia dokter 'kan?
"Iya, tapi dia selalu ada waktu untuk aku,"
"Oh baguslah. Aku kira karena kesibukannya, kamu terlupakan."
"Tidak mungkin, dia begitu menyayangiku dan anak kami,"
Jhico membersihkan pisau setelah dipakai untuk memotong apel. Lalu setelah itu, Ia segera membawa buah tersebut ke hadapan Vanilla.
"Terima kasih, Sayangku."
"Aduh sayang. Aku tidak punya sayang. Jangan sebut-sebut sayang di hadapanku, tolong." sindir Ganadian yang membuat Vanilla terkekeh sementara Jhico tersenyum miring. Semoga selamanya Vanilla memanggil Ia 'sayang', kalau perlu setiap didekat para laki-laki yang Ia anggap sangat akrab dengan Vanilla seperti Renald, Deni, dan Ganadian ini. Sampai terkadang Ia geram sekali tapi berusaha berpikir dewasa. Mereka bukan lagi sepasag kekasih jadi seharusnya ketakutan akan kehilangan Vanilla tidak perlu sebesar itu. Apalagi setelah mereka sama-sama mengakui perasaan yang dimiliki terhadap satu sama lain.
"Kamu tidak kembali lagi dengan dia?"
"Dia siapa?"
Vanilla tersenyum menggoda dengan alis yang sengaja dinaik turunkan. "Yang baru putus,"
"Ck! aku sudah katakan bahwa bukan dia yang terbaik untukku,"
"Aku carikan mau tidak? teman kuliahku banyak yang masih sendiri,"
"Wow boleh-boleh."
Mereka bahkan tidak kaku sama sekali ketika membahas masalah hubungan Ganadian. Padahal baru tiga kali bertemu tapi sudah sedekat ini. Mungkin karena Vanilla juga bisa dijadikan teman bercerita. Buktinya Ganadian cepat percaya menceritakan keluh kesah yang dirasakannya.
"Kabari aku kalau menurutmu dia cocok denganku,"
"Yang tahu cocok atau tidaknya kalian, ya hanya kalian sendiri. Tugasku hanya mempertemukan,"
"Asal ada yang mau, segera kabari."
__ADS_1
"Kasihan kamu. Sepertinya pasrah sekali," tawa geli Vanilla tak bisa disembunyikan lagi. Ia menepuk-nepuk bahu Ganadian dengan memasang raut sedih ditengah tawanya, Vanilla seolah prihatin dan hal itu membuat Ganadian gemas. Ia mengacak pelan kepala Vanilla. Hal yang sering dilakukan oleh Jhico. Dan saat ini Jhico menyaksikan sendiri ternyata ada juga lelaki yang memperlakukan istrinya sama seperti dirinya.