Nillaku

Nillaku
Nillaku 437 Tiba saatnya adik Grizelle lahir


__ADS_3

-Empat bulan kemudian-


Yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah sembilan bulan Vanilla membawanya kemanapun di dalam perut, kini anak keduanya bernama Gisca berhasil dilahirkan dengan selamat.


Semuanya menyambut dengan suka cita tidak terkecuali kakak Gisca, Grizelle begitu bahagia menyambut kehadiran adiknya. Ia selalu berada di dekat Vanilla menjelang persalinan sampai pasca persalinan.


Vanilla sudah dipindahkan ke ruang perawatan, sementara adiknya kini tengah diberi asupan.


"Ya ampun, aku gemas sekali denganmu, Gisca," Grizelle memperhatikan dengan seksama adiknya yang tengah menikmati asupan dari sang Ibu dengan lahap.


"Terimakasih ya, Nillaku,"


Vanilla mendongak menatap Jhico yang berdiri di sampingnya seraya mengusap kepalanya dengan lembut. Vanilla tersenyum, "Sudah berulang kali kamu mengucapkan itu,"


"Ya, dan rasanya tidak pernah cukup,"


Jhico mencium kepala Vanilla dengan lembut. Perempuan ini benar-benar berjasa dalam hidupnya. Menghadirkan kebahagiaan yang tidak pernah Jhico duga sebelumnya. Betapa beruntungnya Jhico ditakdirkan bersama Vanilla. Mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing. Hingga kini ditengah mereka sudah memiliki dua malaikat kecil yang sungguh luar biasa membawa kebahagiaan.


"Aku ingin menciumnya. Boleh, Mu?"


"Boleh, Sayang,"


Vanilla mengizinkan Grizelle mencium kening adiknya dengan sangat lembut tanpa ingin mengganggunya yang sedang lahap menghilangkan dahaga.


"Aku tidak sabar dia besar,"


Jhico dan Vanilla tertawa. Mereka menatap Grizelle yanh kini mengusap kepala adiknya dengan hati-hati.


"Baru juga lahir ke dunia, kamu sudah tidak sabar dia tumbuh besar?"


Grizelle mengangguk, sudah banyak rancangan di kepalanya setelah adiknya besar nanti.


"Adikku cantik sekali,"


"Sama seperti kakak dan Mumunya," sahut Jhico yang juga memuji istri dan anak pertamanya.


"Lebih cantik Gisca,"


"Kata siapa? dua-duanya cantik. Anak Pupu semuanya cantik,"


Setelah anaknya kembali terlelap, Vanilla tidak lagi menyuapinya asupan. Kini ia hanya merengkuh anaknya saja, memperhatikan Ia terlelap.

__ADS_1


Saat mereka tengah berbincang kecil seperti ini,ada yang mengetuk pintu ruang rawat Vanilla. Setelah Jhico membuka pintu rupanya Rena dan Raihan yang datang.


Rena langsung mendekati cucunya yang baru lahir. "Ya ampun, cantik sekali," 


Rena langsung meminta izkn pada Vanilla untuk menggendongnya yang tentu Vanilla izinkan. Raihan tersenyum melihat cucu dalam gendongan istrinya ini.


"Aduh Grandpa ingin menggigit kamu rasanya. Gemas sekali,"


"Jangan, Grandpa. Cukup aku saja yang suka Grandpa gigit pipinya," ujar Grizelle tidak mengizinkan sang kakek menggigit adiknya untuk menyalurkan rasa gemas.


Mereka yang ada di sana tertawa pelan, tidak ingin mengganggu tidur lelap putri cantik kedua Jhico dan Vanilla.


Tak lama setelahnya Thanatan dan Karina juga datang. Sambutan Karina tak jauh berbeda dengan Rena. Ia juga langsung meminta izin pada Mumunya Gisca untuk menggendong Gisca.


Thanatan juga tidak bisa menahan kebahagiaannya melihat sang cucu. Meskipun kali ini Ia dibuat kecewa karena yang terlahir bukanlah laki-laki sesuai harapannya tapi sejak tahu bahwa Gisca adalah seorang perempuan, Thanatan sudah belajar untuk menerima sampai akhirnya saat ini ia bisa sepenuhnya menerima tapi ttap berharap Vanilla dan Jhico bisa memberinya cucu laki-laki. Ia tidak minta banyak, cukup satu saja.


"Kakek tidak mau gendong?"


"Tidak bisa,"


"Oh sama dengan Grandpa berarti,"


Kedua kakeknya mengaku tidak bisa. Grizelle terkekeh mengetahui fakta itu.


Sepupu-sepupu Vanilla yang terbilang jauh dan sangat jarang bertemu pun hadir. Sementara Jane dan Richard hanya bisa memberi ucapan selamat sekaligus meminta maaf melalui panggilan video karena mereka belum bisa menjenguk Gisca. Kabar persalinan Vanilla tidak disangka Jane. Kalau saja sudah diberi tahu Jane akan melahirkan sejak dua hari lalu. Ia sudah langsung berangkat pasti! Tapi Vanilla memang masuk ke rumah sakit sudah memasuki waktu malam larena perutnya yang sakit dan Jhico berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit.


*****


Triple A tidak kalah antusias menyambut kelahiran Gisca. Begitu tahu Vanilla sudah melakukan persalinan dari Mommy mereka, langaung lah mereka bergegas ke sini. Tentunya dengan Lovi dan Devan.


"Icelle, kamu mau punya adik lagi?"


Adrian sambil tertawa bertanya seperti itu. Grizelle menjawabnya dengan anggukan kemudian menggeleng.


"Mau, tapi tidak sekarang. Karena kasihan Mumu,"


"Ya maksudku tidak sekarang, Icelle,"


"Hmm ya, nanti. Semoga laki-laki," kata Grizelle yabg baru saja menjadi seorang kakak dari Gisca.


Lovi yang tengah menggendong keponakan barunya juga ikut mengamini apa yang dikatakan Grizelle.

__ADS_1


Devan berceletuk, "Harus semangat, Co." Ia mengatakannya seraya tersenyum jenaka menatap Jhico.


"Biar ada tiga sepertiku dan Lovi," Imbuhnya seraya tertawa. Melihat Jhico dan Vanilla yang malu, Devan semakin tertawa.


"Semangat bekerja maksudku. Anak bertambah, biaya hidup bertambah, jadi harus semangat bekerja. Itu maksudku," ralatnya kemudian.


"Semoga Icelle punya adik lagi dan itu laki-laki biar aku dan Ean mendapat personel juga. Tidak hanya Auristella,"


Adrian sangat berharap punya sepupu lagi dari Vanilla dan Jhico dan berdoa semoga jenis kelaminnya laki-laki. Ia dan Andrean mendapat teman baru. Kalau Auristella sudah mendapat teman baru sekarang yaitu Gisca.


"Tidak sabar Gisca besar. Kita ajak make up dan photoshoot,"


"Iya benar! aku juga tidak sabar mengajaknya bermain,"


"Selain make up, nanti aku berikan kuteks yang banyak juga. Gisca juga pasti suka sama seperti kita berdua, Icelle,"


Orangtua mereka hanya menjadi pendengar setia saja untuk keduanya yang sedang sibuk berancang-ancang akan seperti apa ketika nanti Gisca sudah beranjak besar.


"Nanti kalau Aunty Vanilla dan Uncle Jhico punya anak laki-laki, aku juga akan mengajaknya bermain sepak bola, dan juga berkuda!" sahut Adrian tidak ingin kalah berencana sekalipun anak ketiga Vanilla dan Jhico belum hadir.


*****


Tak hanya keluarga, beberapa teman Vanilla dan Jhico juga hadir. Seperti dokter di klinik Jhico, juga Joana dan Nein.


"Erghh gemas sekali melihat anak ini ya. Jadi ingin punya anak juga," cetus Joana menatap Gisca demgan pandangan mengagumi.


"Menikah makanya, Jo!" kata Vanilla bermaksud menggoda sahabatnya itu.


"Belum ada yang tepat sampai sekarang,"


"Kamu yang malas mencari,"


"Sudah lelah berburu, Van,"


Vanilla tertawa mendengar keluhan Joana yang beberapa kali dekat dengan laki-laki tapi belum ada yang berakhir di jenjang yang lebih serius.


"Yakin saja kalau akan segera dipertemukan dengan jodoh,"


Joana mengamini apa yang diucapkan Jhico, ayah yang baru saja memiliki dua anak itu.


"Aku senang kebahagiaanmu semakin lengkap, Van," kata Nein yang merupakan manager Vanilla.

__ADS_1


Usai melihat secara langsung bayi bernama Gisca itu, mereka pulang. Tersisalah mereka bereempat saja. Tamu-tamu mereka hanya datang sebentar sebab mereka tahu Vanilla msih harus banyak istirahat sekalipun sudah kelihatan sehat.


__ADS_2