Nillaku

Nillaku
Nillaku 133


__ADS_3

Selang beberapa menit gelasnya pecah, Vanilla berusaha untuk tenang. Ia berusaha untuk menghilangkan perasaan tidak enaknya dengan berbincang bersama Joana, Karina yang sudah datang belum lama ini, dan juga Grizelle.


Ia sulit sekali untuk yakin bahwa perasaan itu tidak menandakan apapun. Ia tiba-tiba saja mencemaskan Jhico setelah gelas itu pecah.


Ternyata kecemasan itu memang ada makna nya. Jhico mengalami kecelakaan dan rasa tidak tenang yang dialami Vanilla sebagai pemberi tahuan bahwa suaminya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Jhico mengalami patah tulang dan juga kehilangan banyak darah. "Ma, aku mau ke sana. Aku mau lihat Jhico," Vanilla menangis seraya berbicara dengan Karina di telepon.


Vanilla yang mendapat telepon dari pihak berwajib terpaksa tidak bisa bertindak apapun karena ada Grizelle yang masih membutuhkan Ia disampingnya. Akhirnya Karina lah yang mengurus semuanya. Dan saat ini Karina yang setia mendampingi Jhico untuk mendapat perawatan.


"Van, kamu ke ruangan Jhico saja. Biar Grizelle dengan aku," Joana menyahuti. Joana mengerti kalau Karina berat meninggalkan putranya untuk menjaga Grizelle sementara Vanilla bertemu dengan suaminya. Vanilla pun berat bila harus meninggalkan Grizelle untuk melihat kondisi suaminya sekarang.


"Vanilla, jaga Griz baik-baik. Kamu tidak usah ke sini,"


"Tapi, Ma--"


Cklek


"Van, maaf Mama baru datang. Kamu bisa pergi sekarang untuk melihat Jhico. Griz biar dengan Mama,"


Vanilla merasa lega saat sang Mama akhirnya datang juga. Rena baru saja pulang dari negara lain menemani suaminya mengurus pekerjaan. Ia rela meninggalkan Raihan yang urusannya belum selesai demi menantunya yang mengalami kecelakaan itu.


Vanilla menutup panggilan dan tanpa menunggu waktu lama, Ia keluar dari ruangan Grizelle. Beruntungnya Jhico mengalani kecelakaan belum jauh dari rumah sakit dimana Grizelle dirawat. Sehingga ketika Jhico mengalami kecelakaan, Jhico dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Grizelle.


Grizelle sedari tadi hanya memandang Mumu nya yang panik dengan bingung. Lalu Ia menagis ketika Vanilla pergi. Joana dan Rena segera menenangkannya, memberi pengertian pada anak itu. Biarpun ia belum bisa memahami, tapi paling tidak batinnya sebagai anak dari Jhico, membuat Ia bisa ikut merasakan bahwa saat ini Pupunya itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja dan Vanilla harus menemaninya.


****


"Aku mohon kamu datang sekarang. Anak kita butuh darah,"


Karina menangis terisak ketika bicara dengan suaminya di telepon. Ia berharap untuk kali ini saja Thanatan tidak mengutamakan ego nya. Yang sedang terbaring di sana adalah darah dagingnya.


"Aku akan datang, tanpa kamu memohon seperti itu," jawab Thanatan dengan tenang. Meski begitu, Ia juga merasa khawatir dan tidak menyangka bahwa putranya akan mengalami kejadian tragis itu. Biar bagaimanapun Ia adalah seorang ayah, sekesal apapun Ia terhadap anaknya, tetap saja Jhico adalah bagian dari separuhnya.


Karina mengalihkan perhatiannya pada pintu ruangan anaknya yang terbuka. Vanilla keuar dari sana dengan wajah yang sembab.


"Bagaimana, Ma? apa Papa mau? apa aku saja yang bicara, Ma?"


"Papa mau. Dia akan ke sini,"

__ADS_1


Vanilla mengucap syukur dalam hati. Akhirnya ada harapan suaminya bisa segera mendapat donor darah.


Sampai sekarang, Ia masih tak habis pikir dengan penyebab kecelakaan suaminya. Karina sudah menceritakan semuanya berdasarkan apa yang dikatakan oleh pihak berwajib. Jhico tidak mengantuk, dia memang sedang lalai. Entah karena apa Jhico yang biasanya sangat konsentrasi ketika mengemudi bahkan tidak menyukai musik bila sedang diperjalanan agar Ia benar-benar fokus berkendara, saat ini malah mengalami kecelakaan ketika anaknya juga sedang sakit.


"Apa mungkin karena masalah kami kemarin Jhico jadi banyak pikiran dan akhirya seperti ini? ya Tuhan, kalau memang benar seperti itu, aku sangat merasa bersalah," Vanilla terus berbicara seperti itu di dalam hatinya.


****


Vanilla dan Karina sudah berharap besar Thanatan bisa mendonorkan darahnya untuk Jhico. Namun sayang, kadar gula darah Thanatan sangat tinggi dan kondisi tubuh nya juga sedang kurang baik. Jadwal donor harus diundur sementara Jhico sudah butuh darah itu sekarang.


Vanilla mengusap wajahnya cemas setelah dokter menjelaskan alasan mengapa suaminya belum bisa menerima darah dari Thanatan.


Saat ini belum ada yang bisa mendonor darahnya untuk Jhico baik karena golongan darah yang tidak sesuai maupun karena kondisi pendonor yang tidak memungkinkan. Orang-orang terdekat Jhico sudah dihubungi oleh Karina namun tidak membuahkan hasil.


"Pihak rumah sakit sedang mengusahakan agar secepatnya Tuan Jhico memperoleh darah. Selalu doakan yang terbaik, Nona."


"Pasti, Dokter."


Dokter meninggalkan ruangan Jhico. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar dari mata indah Vanilla. Ini sangat berat untuk Vanilla. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya sedang mengalami kondisi tubuh yang tidak sehat.


"Jhi, tadi kita sempat bercanda dulu sebelum kamu pergi. Kamu sempat mengungkit ucapanku semalam. Sekarang kamu terbaring lemah. Kita sempat saling memeluk tadi, bahkan ciumanmu di keningku masih terasa, tapi kenapa---" Vanilla tak bisa menahan isak tangisnya. Ia mencium tangan yang selalu setia memeluknya ketika Ia sedang butuh kehangatan dan tempat mengadu. Tubuh kokoh yang biasanya selalu menjadi pelindungnya, kini nampak ringkih tak berdaya di atas bangsal rumah sakit.


Karina dan Thanatan memasuki ruangan Jhico. Hati mereka ikut terluka melihat pemandangan dihadapan mereka saat ini. Vanilla sangat terpukul atas kejadian yang menimpa sang suami.


"Kamu dan Griz kompak membuat aku sedih. Kenapa kalian setega ini? kenapa bukan aku saja yag berada di posisi kalian? kenapa--"


"Vanilla, jangan bicara seperti itu. Kamu menyalahi takdir Tuhan,"


Vanilla menoleh saat Thanatan bicara seperti itu. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang luar biasa. Takdir Tuhan kali ini berat sekali bagi Vanilla. Daripada Ia yang merasakan kesedihan mendalam ini akibat melihat dua orang yang disayanginya sakit, kalau boleh meminta, lebih baik Ia saja yang sakit.


******


Ponsel Vanilla tidak dibawa oleh pemiliknya. Ia tidak sabaran bertemu dengan suaminya, hingga lupa membawa ponsel. Lagipula ditengah kondisi seperti saat ini, ponsel tidak ada artinya bagi Vanilla. Yang terpenting, Ia ada di samping suaminya.


Rena sedang memberikan susu dalam botol untuk cucunya. Joana mengantarkan botol susu Grizelle ke Vanilla yang sedang bersama Jhico lalu setelah diisi, Ia kembali membawanya untuk dikonsumsi Grizelle.


"Terima kasih, Joana. Kamu peduli sekali dengan keluarga Vanilla,"


"Iya, sama-sama, Nyonya."

__ADS_1


Keluarga Vanilla sudah seperti keluarganya sendiri. Saling membantu itu merupakan sebuah keharusan apalagi Vanilla juga sering membantunya terutama dalam hal materi.


"Ada yang menelpon Vanilla, Nyonya." ucap Joana memberi tahu Rena ketika Ia melihat ponsel Vanilla di nakas menyala.


Rena segera meraihnya. Ia tidak kenal dengan si penelpon yang diberi nama 'Keyfa' namun Ia tetap mengangkatnya.


"Hallo..." sapa nya.


"Hallo, kakak manis kenapa kakak dokter tidak ke klinik? tadi aku ke sana, dan kakak dokter tidak ada. Telepon aku juga tidak dijawab,"


"Kakak manis?"


Keyfa terdiam sesaat. Ia menatap ponsel Ibunya sebentar, lalu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Hallo, ini siapa? seperti bukan suara kakak manis, ah maksudku kak Vanilla,"


"Saya Rena, Mamanya Vanilla. Jhico sedang dirawat di rumah sakit, jadi tidak---"


"APA?!"


"Iya, Jhico mengalami kecelakaan dan dia sedang membutuhkan darah,"


"Keyfa, kembalikan ponsel Ibu,"


"Sebentar, Bu..." Jawab Keyfa kemudian ia fokusl lagi bicara dengan Rena.


"Golongan darah nya apa?"


"A,"


"Golongan darahku juga itu. Aku bisa membantu kakak dokter,"


"Sepertinya kamu belum cukup umur,"


"Ta--tapi---"


"Terima kasih atas niat baiknya. Tapi kalau aku dengar dari suaramu, sepertinya kamu masih kecil dan yang aku tahu prosedur untuk pendonor darah harus berusia paling tidak tujuh belas tahun,"


 -------

__ADS_1


Holahalooo. Teng teng teng babang donat Jeko dateng. Doi lg terbaring lemah gesss :(


__ADS_2