
"Jadi Mumu dan Pupu pergi?"
Grkzelle mengangguk disela kegiatannya menikmati ice cream. Apa yang dilakukannya itu membuat Karina dan Thanatan senang memperhatikannya.
"Ya, Mumu dan Pupu perrliksa (periksa) adik,"
"Sudah lama perginya?"
"Hmm...iya, sudah lama, Nay-Nay,"
"Kakimu kenapa bisa seperti itu?"
Yang membuat Thanatan salah fokus sedari Ia melihat Grizelle adalah luka-luka di kaki cucunya itu.
"Aku jatuh dua kali, Kakek. Di rrlumah (rumah) lalu di sekolah,"
"Apa yang kamu lakukan di sekolah sampai bisa jatuh?"
Kalau jatuh di rumah Ia sudah tahu berdasarkan cerita Vanilla. Tapi kalau yang di sekolah, Thanatan belum tahu kronologisnya.
"Aku olahrlraga(olahraga) mengikuti materrli (materi) keseimbangan badan, lalu tidak bisa seimbang dan akhirrlnya (akhirnya) jatuh," ceritanya dengan jelas. Yang didengarkan baik-baik oleh Kakek dan Neneknya.
"Jadi bagaimana sekarang? sudah lebih baik?"
"Sudah, tidak keluarrl darrlah (keluar darah) lagi,"
"Tapi bukan berarti kamu bisa hiperaktif, Grizelle," sorot Thanatan memperingati cucunya dengan tegas. Karina menatap suami dan cucunya bergantian. Thanatan kelihatan peduli pada Grizelle, bahkan Ia yang memulai pembicaraan mengenai sebab Grizelle bisa mendapatkan luka di kedua kakinya.
****
"Woahh ini akan jadi teman bermain Grizelle. Jenis kelaminnya perempuan,"
Vanilla mengerjapkan matanya terkejut sekaligus terharu. Ia sudah bisa mengetahui jenis kelamin anak keduanya. Sementara Jhico tersenyum. Dalam hati Ia memang sudah bisa melihat kalau jenis kelamin anak keduanya perempuan.
"Punya dua anak perempuan. Selamat ya, Nona Vanilla dan Dokter Jhico,"
Vanilla dan Jhico tersenyum penuh buncahan rasa bahagia dalam hati mereka. Akhirnya tiba juga di hari dimana mereka bisa tahu jenis kelamin anak mereka.
"Ada keajaiban berubah kelaminnya saat lahir nanti tidak, Dokter?" tanya Vanilla yang sebenarnya masih berharap anak keduanya laki-laki supaya melengkapi Grizelle.
Dokter terkekeh, menggeleng. Sudah terbilang jelas sekali jenis kelamin janin Vanilla perempuan. Hasil pemeriksaan hanya memiliki kemungkinan sangat tipis untuk berbeda dari hasilnya.
__ADS_1
"Memang ingin sekali laki-laki?"
"Sebenarnya iya, Dokter. Tapi tetap saja aku senang mendengar kabar ini. Dan Grizelle pun pasti akan senang karena adiknya perempuan, bisa menjadi teman bermainnya,"
"Nanti yang ketiga laki-laki,"
Vanila dan Jhico yang kali ini terkekeh. Mengaminkan dalam hati, semoga mereka bisa dianugrahi lagi. Dalam hati kecil masih berharap laki-laki agar keluarga mereka semakin lengkap. Jhico memiliki teman lari pagi, bersepeda dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa sering ia lakukan seorang diri.
Vanilla dan Jhico keluar dari ruangan dokter dengan perasaan bahagia. Akhirnya mereka tahu jenis kelamin anak kedua mereka.
"Bagaimana reaksi Griz nanti ya?"
Vanilla menutup pintu mobil setelah ia berada di dalam, Jhico memutari mobil usai membukakakn pintu mobil untuk sang istri.
"Reaksinya pasti senang. Dia juga tidak sabaran sekali ingin tahu jenis kelamin adiknya"
"Kamu punya teman dua, Nilla. Aku gagal punya teman,"
Vanilla terkekeh. Teman yang dimaksud Jhico adalah anak mereka dua-duanya perempuan yang itu artinya akan menjadi teman dekat Vanilla sementara Jhico gagal mendapatkan teman nya.
"Bagimana karakternya nanti ya? Ah aku tidak sabar sekali,"
Jhico tersneyum mengecup singjat jsning Vanilla. "Aku pun juga"
*****
"Katakan pada Evelyn kalau aku senang sekali dengan boneka besarrlnya (besarnya). Terrlimakasih,"
Memang sudah diduga oleh Karina dan Thanatan kalau Grizelle akab senang ketika mendapatkan boneka itu.
"Koleksiku berlltambah (bertambah) yeayy,"
"Terrlimakasih juga Kakek dan Nay-Nay yang sudah mau membawa bonekanya ke rrlumahku (rumahku),"
"Sama-sama," jawab Thanatan dengan senyum tipisnya. Grizelle begiu menyukai boneka dan Ia adalah anak yang terlahir begitu tulus, menerima semua pemberian orang lain tanpa mementingkan nilainya.
"Itu boneka di rrlumah(rumah) Nay-Nay dan Kakek masiha ada?"
"Masih, tidak akan Nay-Nay buang. Griz sengaja membiarkannya di kamar Nay-Nay dan kakek supaya bisa lihat boneka itu kalau nerindukan Griz. Nay-Nay akan biarkan di sana terus,"
"Aku sudah berrlikan dua. Jadi Nay-Nay dan Kakek dapat satu,"
__ADS_1
Karina mengangguk, adil sekali Grizelle ini. Sampai Kakek dan neneknya diberikan masing-masing satu boneka untuk mengobati kerinduan mereka terhadap Grizelle.
"Untuk apa menggunakan boneka? Kan habis bertemu kalaupun memang rindu," cetus Thanatan.
"Tapi 'kan tidak bisa setiap waktu berrltemu (bertemu), Kakek. Aku tahu Kakek sibuk. Kalau aku ke sana, belum tentu bisa berrltemu (bertemu) kakek dan Kakek juga tidak bisa melepas rrlindu (rindu) dengan aku 'kan?makanya aku berllikan (berikan) boneka itu,"
"Hmm, tapi sejujurnya Kakek kurang suka ada boneka di kamar,"
"Kenapa? bonekanya menggemaskan, kakek. tidak menakutkan jadi Kakek tidak perlru (perlu) takt,"
"Siapa yang mengatakan bahwa Kakek takut? Kakek tidak begitu suka saja. Karena kakek 'kan laki-laki,"
"Ya memang laki-laki tidak boleh menyimpan boneka?"
"Aneh, Grizelle,"
"Kakek tidak boleh mengusirrl (mengusir) bonekanya. Tidak boleh! aku tidak izinkan,"
Thanatan juga tidak mau melakukannya sebab Grizelle sudah meletakkannya di kanar ia dan Karina. Maka Ia akan biarkan saja di sana. Tapi Ia hanya merasa aneh saja kalau di kamar ada boneka. Kalau karina perempuan, mungkin tidak masalah. Lalu Ia laki-laki, sudah berusia tak lagi muda pula! aneh sekali menyimpan boneka di dalam kamar.
"Kakek peluk bonekanya kalau rindu dengan aku,"
"Itu lebih aneh,"
Karina terbahak mendengar gumaman suaminya yang kelihatan sekali menolak saran Grizelle. Mungkin menurut Thanatan bisa dipandang saja, tanpa perlu memeluk.
"Kenapa aneh?"
Thanatan menggeleng pelan. Sulit menjelaskan pada cucunya. Yang jelas, akan sangat aneh kalau ia memeluk boneka berwarna pink yang kini di kamarnya iu.
"Kalau Kakek mau, nanti aku berrlikan (berikan) lagi bonekanya. Aku masih banyak,"
"Tidak usah, Griz. Cukup dua saja di kamar Kakek. Jangan sampai kamar Kakek seperti kamarmu yang banyak sekali boneka ataupun barbie,"
Auristella tertawa puas. Ia puas sekali mengerjai kakeknya yang memang terang-terangan tak suka dengan mainan yang identik dengan anak perempuan itu. Tapi karena mungkin Grizelle sudah meletakkannya di kamar, dan sudah meminta juga agar tak dipindahkan, maka Thanatan pasrah saja. Namun ketika diminta untuk memeluk bonekanya ketika merasa rindu, Thanatan menolak mentah-mentah. Aneh katanya.
"Ya sudah, kami pulang ya,"
"Haaa nanti saja tunggu Pupu dan Munu pulang. Ya, Nay-Nay?"
Karina menatap suaminya, meminta persetujuan. Ia mau-mau saja bersama cucunya sampai kapanpun apalagi kalau Grizelle sudah meminta, tapi khawatirnya Thanatan tak setuju dengan alasan Ia ingin istirahat secepatnya.
__ADS_1
Melihat kakeknya mengangguk, karina tersenyum. "Ya," kata Thanatan yang membuat Grizelle tersenyum senang. Setidaknya Ia ada Kakek dan Neneknya yang akan menemani Ia sampai kedua orangtuanya pulang.