Nillaku

Nillaku
Nillaku 147


__ADS_3

"Iya, Griz yang mengajarkan aku. Hahahaha,"


"Sstt tawamu kencang sekali. Ibu-ibu yang akan melahirkan pasti langsung kontraksi mendengarnya,"


Puk


"Aduh, jangan dipukul. Sakit, Nilla."


"Eh maaf-maaf aku tidak sengaja,"


Jhico mengusap-usap area bahunya yang dipukul Vanilla dengan reflek. Beruntung istrinya tidak menyentuh bagian yang sedang cedera.


Ucapan Jhico membuat perut Vanilla tergelitik. Tidak mungkin suara tawanya terdengar sampai ke telinga Ibu-Ibu yang dimaksud Jhico. Ruangan Jhico ini kedap suara dan hanya Jhico saja yang menjadi penghuninya.


Vanilla dan Jhico terkekeh pelan tidak tahu sebabnya apa. Vanilla merasa gemas dengan suaminya lalu mencubit pipi Jhico. Lagi-lagi suaminya mengeluh.


"Aku bukan anak kecil. Wajah tampanku bisa hilang kalau kamu cubit begitu, Nilla."


"Ck anak remaja ini sibuk berdua terus dari tadi ya,"


Mereka berdua menoleh ke arah Karina yang melepas kacamata nya usai membaca artikel di ponsel. Karina menatap sepasang suami istri itu.


"Jhi..."


"Hmm?"


"Griz kan sudah besar---"


"Sudah besar? usianya saja belum genap dua bulan,"


"Hmmm..." Vanilla bergumam dengan perasaan ragu ingin melanjutkan ucapannya atau tidak. Di awal Jhico sudah menyanggah kalimatnya yang mengatakan bahwa Grizelle sudah besar. Maksud Vanilla adalah, Grizelle sudah bukan bayi baru lahir lagi. Jadi disebutnya sudah besar.


"Kamu mau bicara apa? aku melihat kamu seperti ingin mengatakan sesuatu,"


"Hah? tidak,"


Tadinya Vanilla ingin berbicara sedikit menyinggung mengenai keinginannya untuk bekerja. Tapi sepertinya belum tepat untuk membicarakan itu sekarang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Jhico nanti jika Ia bicara mengenai itu.


"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?"


"Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun. Kamu jangan menuduh aku, Jhi."


"Aku tidak menuduh. Aku bisa melihat kalau kamu ingin mengatakan sesutu tapi kamu seperti menahan keinginan itu,"


Vanilla menggeleng seraya tersenyum. "Tidak, jangan kamu pikirkan itu ya,"


******


"ICEELLL UHUUU,"


Auristella memasuki mansion dan langsung berseru memanggil Grizelle setelah diberi tahu oleh maid bahwa ada Grizelle di mansion.


Auristella baru saja pulang sekolah dan Ia langsung ke sini. Lovi tidak bisa mengantarnya sekolah karena Ia harus menghadiri acara di kantor Devan. Jadi Senata dan Lucas lah yang mengantar cucunya sekolah dan menunggu sampai anak berusia satu tahun lebih itu pulang sekolah.


Sejak usia Auristella menginjak empat bulan, Ia sudah mengikuti kelas untuk melatih perkembangan motorik dan sensorik nya. Semakin besar usianya, maka semakin banyak kelas yang Ia ikuti untuk menunjang perkembangan nya.


Auristella senang sekali diantar oleh kakek dan neneknya. Meski tak dipungkiri saat Ia melihat Lovi pergi bersama Devan, Ia menangis.

__ADS_1


"Icel?" panggil Auristella saat Grizelle diam saja menatapnya.


"Sepertinya dia lupa denganmu,"


"Hah?"


Auristella langsung menatap Rena yang baru saja berucap begitu sembari menahan senyum.


Grizelle yang berada di sofa bersama Rena pun mulai sibuk lagi dengan boneka nya.


"Ndak ukin,"


"Tidak mungkin? tapi kenapa Griz diam saja saat kamu datang? biasanya--"


"Engggh,"


Grizelle menepuk-nepuk bonekanya sembari menatap Auristella. Mungkin maksudnya Ia mengajak Auristella bermain boneka.


Auristella segera tersenyum dan bertepuk tangan. "Icel ndak upa Awyis?"


Lagi-lagi Grizelle melakukan hal tadi. Auristella segera menatap Rena dengan kedua alis yang sengaja dinaik turunkan lalu memasang ekspresi bangga.


"Icel ndak upa aku,"


Rena terbahak melihat cucunya itu. Lalu membiarkan Grizelle di atas pangkuannya bermain dengan Auristella.


"Raihan dimana?" tanya Lucas yang tidak menemukan keberadaan Raihan di sekitarnya.


"Istirahat di kamar. Sebentar lagi pasti keluar. Atau mau aku panggil?"


Kedua kakek itu kalau bertemu entah di mansion atau rumah Devan tempat tinggal Lucas saat ini, selalu bermain catur. Itu menjadi hal wajib untuk mereka.


"Pasti mencari aku ya,"


Lucas menoleh ke arah tangga setelah mendengar suara Raihan. Lelaki itu nampak menuruni tangga dengan wajah yang terlihat baru bangun tidur.


"Turun juga. Tadinya aku berpikir mungkin aku akan kebosanan menunggu cucu kita bermain. Akhirnya kau datang,"


"Kita makan malam bersama di sini ya," ajak Rena menatap Senata dan Lucas.


"Bagaimana?" tanya Senata pada suaminya untuk memastikan apakah tidak apa bila mereka di mansion hingga makan malam.


"Terserah padamu,"


"Okay, Lovi dan Devan juga sampai malam,"


"Cucuku yang pertama dan kedua dimana? kenapa tidak diajak?" tanya Raihan. Ada yang kurang. Seharusnya di sini ada empat cucu nya. Tapi sekarang hanya ada dua dan itu perempuan semua.


"Mereka ada kemah di sekolah," jawab Lucas yang membuat Raihan sangat menyayangkan.


"Oh, sayang sekali. Jadi kurang ramai mansion ini,"


"Mereka tahu Auris akan singgah ke mansion setelah sekolah. Adrian sempat mau pulang untuk ikut ke sekolah Auris dan ke sini. Tapi kau tahu sendiri 'kan bagaimana kakaknya? Andrean dengan tegas melarang Adrian,"


"HAHAHA,"


"Sampai mau pulang?"

__ADS_1


"Ya, karena dia tahu dari Lovi bahwa ada Griz di mansion," Senata mengingat pembicaraan Lovi dengan Adrian tadi pagi. Bertemu dengan sepupu adalah hal yang menyenangkan untuk Adrian. Sehingga Ia tak pernah mau melewatkan kesempatan itu.


"Vanilla ke rumah sakit ya?"


"Iya, tapi sebentar lagi pulang sepertinya,"


****


Vanilla membantu suaminya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Sudah ya? kamu mandi sendiri. Ingat jangan sampai perban nya terkena air," ujarnya usai mengantar Jhico sampai ke bilik kaca transparan yang berada di kamar mandi.


"Baju aku belum dibuka,"


Vanilla berdiri gelisah di tempatnya. Sudah punya satu anak tapi jantungnya tetap saja berdentum tidak menentu bila berada di situasi seperti saat ini.


"Aduh harus aku yang membukanya?"


"Iya!" tegas tak ingin dibantah oleh Vanilla, Jhico langsung menjawab. Sebenarnya Ia bisa membuka baju sendiri karena Ia selalu memakai baju yang berkancing di depan. Dan luka-luka ditubuhnya sudah membaik, tinggal cedera salah satu tulang selangka dan juga tangannya saja.


Vanilla segera membuka baju yang dikenakan suaminya. "Sudah," ujarnya dan ingin meninggalkan kamar mandi. Namun tangannya ditahan oleh Jhico.


"Belum semua. Aku mandi dengan celana?


Vanilla menggeleng denan cepat. Raut wajahnya semakin gelisah dan itu membuat Jhico benar-benar gemas.


"Oh tidak! kamu bisa buka itu sendiri, pliss jangan suruh aku untuk membukanya,"


Jhico tertawa melihat raut panik sang istri. Vanilla terlihat sangat enggan untuk melakukannya karena Ia akan grogi.


"Aku tidak menyuruh kamu. Aku hanya bertanya, apakah aku mandi dengan celana?" tanya Jhico yang sengaja mengerjai istrinya. Ia juga tak ingin menyuruh Vanilla membuka celana panjang nya.


"Yang namanya mandi tentu saja semuanya harus dibuka! kenapa harus bertanya?!"


Wajah Vanilla benar-benar jengkel. Mata nya menatap Jhico yang tertawa dengan tajam.


"Selama aku sakit baru kali ini kamu membantu aku,"


"Iya, maaf. Selama ini aku jarang berada di sini. Makanya sekarang aku bantu kamu. Kamu butuh bantuan apa lagi?"


"Sudah cukup bantuannya. Terimakasih, Nillaku."


"Okay, sama-sama. Aku tunggu di luar,"


"Mau apa? memakaikan aku baju? woaahh aku seperti Grizelle nanti ya? bajunya dipakaikan kamu,"


Vanilla memutar gemas kulit pinggang suaminya hingga meringis. "Vanilla, Jhico kenapa dari tadi berisik di dalam?"


"Maaf, Ma." sahut Vanilla dari dalam kamar mandi.


"Kamu sih!"


"Kamu yang salah. Suami lagi sakit malah dibuat makin sakit. Cubitan kamu itu rasanya perih sekali, Nilla. Semoga Grizelle tidak punya cubitan mematikan seperti Mumu nya,"


 -------


Siapa di sini yg kalo nyubit sakitnya bukan kaleng-kaleng? aku bangeddd😂😂 ada yg sama? kl sama, kita tosss🙌

__ADS_1


__ADS_2