Nillaku

Nillaku
Nillaku 358 Vanilla dan Jhico tidur bersama Grizelle tapi Jhico di lantai


__ADS_3

Rena duduk di samping suaminya yang sedang menonton di depan televisi.


Matanya mengamati berkas di atas meja yang berhadapan dengannya.


Ia menoleh pada suaminya dan bertanya, "Itu dokumen apa? pekerjaan? jangan diletakkan dekat minuman, Raihan."


Rena menggeser berkas tersevut menjauhi orange juice punya suaminya.


"Berkas kepemilikan playground punya Auris,"


"Oh sudah jadi, Pa?"


"Sudah,"


"Lalu Auris sudah tahu?"


Raihan mengambil ponselnya dan mencari kontak putranya, "Lagi mau aku hubungi." katanya.


"Ah tidak dijawab,"


"Mungkin Devan masih belum pulang ke rumah,"


Raihan melihat waktu di ponselnya. Pukul tujuh. Mungkin anaknya memang belum pulang dari kantor.


******


"Griz tidur, Nada?"


"Iya, Tuan. Tidur dengan Nona Vanilla,"


Jhico mengangguk, hal pertama yang Ia tanyakan saat tiba di rumah adalah keberadaan putrinya.


Ia mandi dulu, kemudian bergegas ke kamar putrinya. Usai menyematkan kecupan di kening dua perempuan yang merupakan bagian dari hidupnya, dan melihat kondisi luka Grizelle, Ia ke ruang makan untuk mengisi perutnya.


"Vanilla masih sempat masak, memang Griz tidak rewel, Bi?" tanya Jhico mendapati rasa masakan yang Ia kenali adalah buatan istrinya.


"Tadi sempat masak sebentar. Tapi belum sampai matang, Griz memanggilnya,"


Jhico mengangguk pelan. Vanilla pasti lelah hari ini. Lelah pikirannya terutama. Ia harus memikirkan kondisi anak mereka lalu harus menjadi sosok istri yang baik juga. Vanilla tahu suaminya menyukai masakannya maka Ia selalu berusaha untuk memasak sendiri namun dibantu oleh Bibi dan Ariella.


Vanilla mengerang dan mengerjapkan matanya. Ia menatap Grizelle yang baru saja mengubah posisi menjadi berbaring miring membelakanginya.


Vanilla beranjak dengan pelan tidak ingin mengganggu istirahat putrinya.


kemudian Ia menoleh sebentar sebelum membuka pintu untuk keluar. Usai memstikan anaknya tidak terjaga, Vanilla keluar dari kamar dan menutup pintunya pelan.


Ia ke kamarnya untuk melihat Jhico sudah pulang atau belum. Dan Ia melihat ponsel Jhico di ranjang yang artinya Jhico sudah tiba di rumah.


Vanilla bergegas ke lantai bawah, tepatnya ruang makan. Ia tersenyum melihat suaminya yng sedang menekuri makan maam seorang diri.


"Jhi," sapanya dan lagsung duduk di samping Jhico. Lelakinya itu menoleh tersenyum.


"Kenapa bangun?"


"Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Aku tidak mau melakukan itu. Kamu pasti lelah ya? harus menghadapi Griz yang pasti manja sekali karena sedang sakit, lalu harus---"


"Ssstt tidak boleh bicara begitu,"

__ADS_1


Vanilla menggeleng tidak mengizinkan Jhico melanjutkan ucapannya.


"Griz menangis terus?"


"Tidak, hanya meregek ingin dekat denganku terus. Biasa, kalau sedang sakit memang begitu 'kan,"


"Sudah makan?"


"Aku tidak makan,"


"Kenapa tidak mau makan?"


"Kamu mau makan sesuatu? biar aku siapkan," imbuh Jhico yang langsung cepat bertanya mengenai keinginan istrinya. Ia akan berusaha memenuhi permintaan Vanilla.


"Tidak, aku mau minum susu saja,"


"Mual? hm?"


Jhico meneguk air minumnya lalu tangannya mengusap perut Vanila. Ia menunduk untuk mengecup perut istrinya yang mulai kelihatan membesar.


"Tidak, Jhi," jawab Vanilla seraya mengusap rambut suminya yang masih berada di depan perutnya.


"Ya sudah, aku buatkan susunya ya?"


"Aku saja,"


"Aku bisa melakukannya. Tunggu sebentar,"


Jhico bersikeras ingin membuatkan susu untuk istrinya. Ia kebetulan sudah selesai makan.


"Jangan terlalu panas ya. Biar bisa langsung aku minum,"


Vanilla beranjak ke pantry untuk melihat suaminya yang terbilang jarang membuatkan Ia susu sebab Ia lebih suka membuatnya sendiri. Ia lebih tahu takarannya yang tepat. Bila Jhico yang membuat, terkadang teralu panas.


Suaminya belum terlalu cakap membuat susu untuk nutrisi kandungannya.


"Ini, silahkan diminum, Tuan putri,"


Jhico mengaduk susunya dan memberikannya pada sang istri. Vanilla segera mneguknya.


"Tidak terlalu panas 'kan?"


"Tidak, ini pas,"


"Akhirnya. Berarti kalau aku mau buatkan lagi, kamu jangan menolak. Karena aku sudah bisa membuatnya,"


Vanilla mengangguk seraya menenggak susunya yang begitu masuk ke dalam perut rasanya hangat.


"Kamu tidak mau makan apapun, Nilla?"


"Tidak, My Jhi,"


Vanilla kelewat gemas dengan suaminya yang bertanya itu lagi untuk kedua kalinya.


"Jangan panggil aku seperti itu,"


Vanilla menyadari kalau suaminya pernah mengatakan seperti itu tempo lalu. Kini Ia terkekeh.


"Oh tidak mau disamakan dengan panggilan Renald ya?"

__ADS_1


"Kenapa menyebut namanya, Nilla? Erghh telingaku panas mendengarnya"


Vanilla yang sedang meneguk susunya hampir saja tersedak mendengar pengakuan suaminya yang memang kelihatan sekali tidak suka dengan Renald bahkan hanya dengan mendengar namanya.


Vanilla menghabiskan susunya kemudiam Jhico mencuci gelasnya.


Ia berdiri di depan meja pantry dan istrinya duduk di kursi. "Kita istirahat ya? besok kamu ada jadwal periksa kandungan,"


"Besok itu Griz sekolah atau tidak ya, Jhi? aku khawatir dia tidak bisa diam dan lukanya lama sembuh,"


"Kita tanyakan langsung pada Griz saja nanti ya. Khawatirnya dia tetap mau sekolah,"


"Kamu mau tidur dengan Griz lagi, Jhi?"


"Kita berdua saja tidur di sana. Sudah jarang juga kita bertiga tidur di kamar Griz,"


"Okay, ayo,"


Tiba di kamar Grizelle, Vanilla dan Jhico melangkah masuk dengan pelan. Jhico bahkan sangat pelan ketika mengunci pintu.


Vanilla naik ke atas ranjang Grizelle berusaha hati-hati dalam melakukan pergerakan. Ia sampai menggigit bibir bawahnya cemas takut Grizelle terjaga. Nanti anak itu akan lama lagi untuk terlelap.


"Aku tidur di bawah saja," bisik Jhico pada istrinya.


"Jangan, di sini masih cukup,"


"Takut Griz merasa sempit,"


Vanilla menggeleng tegas. Ranjang Grizelle masih cukup untuk ditempati Jhico. Memang sebesar apa badan Grizelle dan Vanilla sampai ranjang ini tidak cukup untuk Jhico.


Vanilla menatap Jhico yang mengambil bed cover lain dari dalam almari khusus kemudian menggelarnya di lantai.


"Jhi! tidur di sini,"


"Tidak usah, Nilla. Aku tidak mau kalian merasa sempit,"


Vanilla melotot tajam. Suaminya sulit sekali diminta untuk tidur bersama di atas ranjang. Mereka sudah biasa di ranjang itu bertiga.


"Kaki Griz 'kan sedang luka. Aku juga takut menyentuhnya,"


"Tidak akan, ini tempatnya masih lebih dari cukup. Ya ampun,"


Mereka masih dengan suara berbisik ketika berdebat agar sebisa mungkin tidak mengganggu istirahat Grizelle.


"Kalau begitu kamu tidur saja di kamar kita. Biar cukup,"


"Dengan kamu?" tanya Jhico dengan alis bertaut.


"Tidak, aku khawatir Grizelle mencari aku,"


"Kalau begitu aku di sini saja," pungkas Jhico dan kini berbaring di atas bed cover yang Ia gelar di bawah tempat tidur Grizelle.


Vanilla merasa geram, tangannya terulur untuk mencubit otot bisep suaminya dan juga pinggangnya yang membuat Jhico berjengkit.


"Jangan tidur di sana,"


"Nilla, tidak apalah aku tidur dimana pun. Aku tidak mau menyentuh luka Griz. Takutnya pergerakanku nanti menyentuh lukanya,"


Entah pergerakan seperti apa yang dimaksud Jhico. Padahal selama tidur bersama Jhico, Vanilla tidak pernah mendapati suaminya yang bergerak sembarangan ketika tidur.

__ADS_1


__ADS_2