
Auristella melakukan pembukaan resmi playground miliknya sengan simbolis menggunting pita yang berada tepat di depan pintu masuk tempat bermain miliknya itu.
Setelah itu, Auristella langsung bermain di sana. Puas bermain, Auristella diajak oleh kedua orangtua dan kakek neneknya untuk menyantap di restaurant yang letaknya tidak berjauhan dengan playground.
"Nanti habis dari sini, aku bermain lagi ya, Mom,"
"Iya, boleh. Tapi kami semua pulang, kamu bermain sepuasnya di sana ya,"
"Haaa kenapa aku ditinggal sendiri?"
Adrian yang memang semangat meledek adiknya tampak membenarkan apa yang dikatakan sang Ibu.
"Ya, nanti kita tinggalkan Auris sendiri,"
"Tidak boleh!"
"Sudah, makan itu cake nya. Jangan didiamkan saja dan malah memilih berdebat," Devan seperti biasa berhasil menengahi perdebatan kecil yang terjadi diantara kedua anaknya.
Vanilla yang berada di samping Andrean mengusap kepala anak lelaki itu.
"Lihat keponakan Aunty yang ini. Tenang saja dia. Tidak ribut seperti kalian,"
Raihan dan Rena terkekeh mendengar penuturan Vanilla yang langsung nendapat reaksi dari Adrian.
"Beda, Aunty. Tapi meskipun begitu, aku dan Auris juga keponakan Aunty,"
"Hmm keponakan bukan ya?" Vanilla pura-pura lupa, menatap keduanya dengan sorot jenaka.
"Iya, keponakan Aunty! kalau tidak, nanti aku bilang pada Icelle kalau Mumunya jahat tidak mau mengakui,"
Tawa Vanilla pecah. Anaknya yang bahkan kali ini tidak bersama mereka ternyata tetap disebut-sebut juga.
"Icelle parah ini. Masa dia tidak datang ke acara kakaknya,"
"Iya, padahal aku berharap ada Icelle. Aku ingin bermain dengan Icelle,"
"Kaki Icelle mungkin masih sakit," ujat Devan yang diangguki Vanilla. Ia membenarkan itu. Kalaupun Grizelle ke sini, sepertinya tidak bisa bermain. Paling hanya melihat saja dan itu membuatnya tidak tega. Anaknya pasti sangat ingin menjajal permainan di sana.
"Kaki Icelle belum terlalu sembuh. Dia masih sering merasa sakit,"
"Hah benar kata Daddy. Kasihan dia kalau kamu ajak bermain, Auris,"
"Lagipula Icelle 'kan punya playground juga,"
"Memang sama ya, Grandpa? permainannya sama semua?"
Raihan mengangguk, "Iya, tidak ada bedanya. Semua sama,"
__ADS_1
Aurustella menganggukkan kepalanya. Sekali lagi Ia mengucapkan terimakasih pada kakeknya. Ia bahkan memeluk Raihan dengan hangat.
"Ini benar tidak mau sarapan? hanya makan cake dan green tea saja?" Devan bertanya pada keluarganya yang diangguki mereka semua.
"Sudah sarapan di rumah,"
"Oh begitu, ya sudah,"
Devan beranjak ke tempat pembayaran atau bagian kasir untuk membayar nominal yang tercantum di dalam bill.
"Nanti kalau Icelle sudah sembuh, aku ajak ke playground ya, Aunty?"
"Iya, boleh. Icelle juga mau mengajak kalian bertiga tapi belum jadi karena waktu itu 'kan Icelle harus menginap di rumah kakeknya. Lalu setelahnya dia juga terluka dua kali,"
"Sekarang jadi kamu belum tahu Icelle sudah pulang atau belum, Van?"
"Belum, Ma. Jhico tidak membawa ponsel. Makanya aku jadi tidak bisa menghubunginya. Kakau tadi dia bawa ponsel, aku pasti langsung menghubunginya dan menyuruh mereka berdua pulang untuk menghadiri acara ini,"
"Tidak apa, Aunty. Icelle biarkan jalan-jalan dengan Pupunya," sela Adrian yang tadi bukan main memanasi situasi dengan mengatakan Grizelle parah tak menghadiri acara kakaknya.
"Ah tadi kamu menyalahkan anakku ya," Vanilla menatap galak Adrian yang kini terbahak.
"Iya memang parah sebenarnya. Tapi aku pikir-pikir Icelle tidak salah. Karena dia sedang jalan-jalan menikmati waktu dengan Pupunya selagi libur,"
"Iya lah, kamu dengan Daddy juga suka begitu. Nanti pulang dari sini saja sudah mengajak Daddy bermain golf,"
*****
"Mumu,"
"Mumu,"
"Mumu Nillaku,"
"Eh dimana, Mumu ya? tidak ada suarrlanya (suaranya),"
Grizelle menjejakkan kakinya di lantai rumah setelah jalan-jalan santai dengan sang ayah dan makan donut. Begitu masuk kendalam rumah, Grizelle berseru memanggil Mumunya.
Jhico menyusul usai memposisikan golf cart di tempatnya. Lelaki itu menggeleng pelan melihat anaknya yang seperti mencari Mumunya di hutan saja.
Bibi menghampiri setelah mendengar suara Grizelle. "Oh Griz sudah datang rupanya,"
"Iya, aku sudah datang. Mumu kemana, Bibi?"
"Mumu pergi menghadiri pembukaan resmi playground Auris,"
"Hah? kenapa aku tidak diajak? kenapa hanya Mumu sendirrli (sendiri)?" Grizele bertanya dengan wajah yang mendung. Jhico segera mencubit pipinya dengan gemas.
__ADS_1
"Karena Pupunya Griz tidak membawa ponsel jadi Mumu bingung bagaimana memberi tahu kalian. mumu baru diundang juga oleh Tuan Raihan dan Mumu langsung berangkat," jelas Bibi memberi tahu apa yang disampaikan Vanilla padanya.
"Oh pantas kita tidak tahu kalau Mumu akan pergi," kata Jhico. Ia juga haru sadar kalau tidak membawa ponsel. Pergi dengan Grizelle memang membuat Ia tidak sadar dengan hal-hal kecil seperti itu. Ia terlaku menikmati waktunya bersama sang putri.
Grizelle memeriksa saku ayahnya karena Ia benar-benar ingin tahu apa benar ayahnya tidak membawa ponsel. Jhico yang mengetahui itu terkekeh.
"Benarrl (benar) Pupu tidak bawa ponsel,"
"Iya, memang benar, Sayang,"
"Huh Pupu sih kenapa tidak bawa ponsel? aku 'kan jadi tidak ikut Mumu perrlgi (pergi),"
Jhico membulatkan matanya. Grizelle kini menyalahkannya? oh benar-benar anaknya ini.
Jhico meraih anak itu dalam gendongan dan menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya. Hingga membuat anak itu terkekeh geli.
"Kamu menyalahkan Pupu? hmm? benar-benar ya anak Pupu ini,"
Bibi menyaksikan itu juga tak bisa menahan senyumnya. Jhico beranjak ke kamar masih dengan mengerjai anaknya hingga Grizelle memohon ampun agar ia menghentikan serangannya.
"Ampun, Pupu. Aku tidak jadi menyalahkan Pupu. Aku minta maaf. Ampun, Pu,"
Jhico segera berhenti. Ia terkekeh melihat anaknya yang kini menghela napas lega.
Jhico akan membawanya ke kamarnya sendiri, tapi Ia menolak. Ia ingin ke kamar orangtuanya dan tidur di sana sampai Mumunya datang.
"Tidur lagi?"
"Iya, sampai Mumu datang nanti bangunkan aku ya, Pu,"
"Okay, siap,"
Jhico berbaring di samping anaknya yang terlungkup. Jhico menghidupkan televisi, memilih untuk menyaksikan siaran dari sana.
"Pupu jangan berrlisik (berisik) ya,"
"Iya, ini volume nya tidak besar,"
Grizelle hanya menggumam. Kemudian tangannya berlaih ke belakang untuk mengusap punggungnya yang gatal.
"Oh minta diusap-usap Pupu ini?" Jhico bertanya jahil karena merasa bahwa itu kode dari anaknya untuk mengusap-usap punggungnya agar cepat terlelap.
"Tidak, punggungku gatal. Tapi boleh juga Pupu usap-usap. Biarrl (biar) aku cepat tidurrl (tidur)," katanya yang langsung dipenuhi Jhico.
Lelaki itu segera mengusap lembut punggung anaknya sambil Ia menyaksikan siaran televisi.
Grizelle perlahan memejamkan mata. Karena perlakuan lembut ayahnya. Deru napasnya mulai teratur dan Jhico yang mengetahui anaknya sudah tidur tetap mengusap punggungnya agar sang anak benar-benar terlelap dulu.
__ADS_1