Nillaku

Nillaku
Nillaku 38


__ADS_3

Usai ditinggalkan begitu saja oleh Vanilla, esok harinya Renald mengunjungi kampus Vanilla untuk bekerja sekaligus ingin menemui gadis itu lagi. Sayangnya, Ia hanya bertemu dengan Joana.


"Aku juga menghubunginya sejak tadi, tapi tidak ada jawaban,"


Renald mengangguk setelah itu Ia kembali bekerja. Vanilla menghindarinya. Entah mengapa Renald merasa kalau saat ini Vanilla tengah menjaga dua hati. Tapi Renald masih berusaha berpikir positif. Mungkin saja laki-laki yang kemarin datang adalah sahabat atau saudara Vanilla. Semalaman Ia berpikir, Vanilla tidak mungkin berbohong padanya.


*******


"Jadwal kuliah sudah berubah sampai malam? atau kau dibohongi, Co?"


Vanilla sampai di apartement pukul delapan malam. Ia cukup terkejut begitu melihat kakek Jhico, Arlan, ada di sana tapi sudah bersiap untuk pulang sepertinya.


"Sudah dijemput, tapi ternyata tidak ada di kampus. Apa yang kamu lakukan, Vanilla? suamimu akan semakin menyedihkan setelah kamu bohongi," Arlan menatap Vanilla dengan sinis. Vanilla bisa menyimpulkan, rupanya Jhico masih memiliki keinginan untuk menjemputnya. Tapi sayang, Ia sedang menjalani sidang di mansion. Dimana Raihan menjadi hakim. Raihan dan Rena tahu karena Jane yang memberi tahu semuanya. Yang tidak disangka adalah, Jane merupakan penyebab Jhico datang ke kafe pada malam itu sampai akhirnya semua terjadi.


Vanilla jadi berubah dingin pada sepupunya itu setelah sebelumnya mengeluarkan umpatan kasar karena sikap Jane yang Ia anggap keterlaluan.


"Sebaiknya kakek pulang sekarang. Jangan terlalu ikut campur dalam hal apapun," tukasnya yang mengusir dengan terang-terangan.


Sejahat apapun Vanilla padanya, tetap saja Jhico tidak bisa melihat istrinya dicecar seperti tadi.


"Baik, kakek memang akan pulang sekarang."


"Jangan kembali lagi, Kakek. Sudah cukup untuk menyiksaku bukan?"


"Belum, sampai kamu mau bergabung dengan Kakek dan Papamu,"


Jhico memejamkan mata sesaat untuk menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya.


"Nikmatilah keseharianmu sebagai pengangguran, Co."


*******


Vanilla perhatikan sejak kepulangan Arlan, Jhico sibuk dengan laptopnya. Dan beberapa kali Ia mendapati Jhico sedang melihat-lihat rumah sakit yang membutuhkan tenaga dokter.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kalimat Kakek tadi?"


Meskipun penasaran tapi Vanilla tidak ingin bertanya. Melihat rautnya yang tampak kacau saja membuat Vanilla sangat takut untuk mengajak Jhico berbicara lebih dulu.


"Jadi... tadi kamu kemana? kenapa saat aku menjemput, kamu tidak ada? ada sesuatu lagi yang tidak aku ketahui? peresmian hubungan kalian, mungkin?"


Jhico menoleh sekilas karena bertepatan sekali dengan manik Vanilla yang menatapnya ketika Ia bertanya.

__ADS_1


"Aku sudah katakan kalau kita hanya teman. Jangan terlalu banyak bertanya,"


Entah darimana sisi jahatnya datang lalu mendorong Vanilla untuk mengatakan itu. Mungkin masih ada emosi terpendam yang belum tuntas usai kejadian semalam.


"Artinya, mulai sekarang kita hidup masing-masing saja. Seperti itu keinginanmu?"


"Ya, itu lebih baik. Dari pada kita diselimuti kehangatan tapi hati tidak menerima, buat apa?"


Vanilla memasuki kamar mandi lalu diam di depan cermin. Sedetik kemudian Ia membasuh wajah.


Jhico menatap sekilas punggung istrinya yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia membuka pintu rooftop kamar lalu menutupnya kembali.


Jhico berbaring di atas kursi kayu yang memanjang. Ia menatap langit malam agar merasa tenang. Sinar bintang dan bulan, deru angin malam membuat Jhico sangat nyaman berada di sini daripada dekat dengan Vanilla, yang hanya bisa menyakitinya.


"Apa yang harus aku lakukan sembari menunggu pekerjaan yang baru?" tanya Jhico pada hening malam.


*****


Sejak beberapa hari yang lalu Vanilla sudah aktif lagi di sosial media. Setiap pagi Ia memposting beberapa stok foto dengan berbagai model pakaian yang dikenakannya.


"Jangan lupa letakkan namaku sebagai fotografer-nya," begitu pesan Jane ketika mengabadikan fotonya.


Vanilla memilih sosial media dalam mengurangi kebosanan. Sejak dulu memang seperti itu selain karena untuk pekerjaan.


"Jangan terlalu banyak bertanya," Jhico mengulangi kalimat Vanilla semalam hingga membuat gadis itu menelan ludah kelat.


Vanilla menghela napas kasar. Lalu Ia sibuk membuat makanan instan. Sementara Jhico sudah beranjak ke taman kecil yang berada di dekat rooftop. Ia membersihkan bagian itu juga walaupun jarang sekali tersentuh.


"Jhico mungkin libur," Vanilla bicara sendiri dan tenggelam dalam kebingungannya sampai tidak sadar menyentuh penutup alat kukus dengan tangan tanpa pelindung. Ia terkejut karena sengatan panas dan langsung membanting benda tersebut ke lantai.


Gadis itu meniup-niup tangannya yang terasa terbakar. Kalau seperti ini Vanilla harus menyalahkan siapa? Vanilla sendiri bingung dengan hal yang menyebabkan dirinya kehilangan fokus.


"Ada apa? kamu mau mengacaukan apartemenku?" Jhico datang dan langsung menyampaikan rasa terganggunya atas suara berisik yang ditimbulkan sang istri.


"Aku tidak sengaja membanting ini karena panas saat dipegang,"


"Kenapa tidak menggunakan pelindung?!"


Jhico menyembur Vanilla dengan racauan amarah. Diam-diam lelaki itu melirik tangan Vanilla. Ia marah bukan karena alat masaknya di apartemen hampir rusak melainkan karena khawatir Vanilla terluka.


Jhico meletakkan satu kain pembersih yang ada di pundaknya ke meja pantry. Lalu pergi untuk mencari obat penghilang nyeri. Jhico tahu rasanya bila mengalami hal seperti Vanilla. Menurutnya itu hal biasa, tapi bagi Vanilla pasti cukup menyakitkan.

__ADS_1


"Obati tanganmu!" titahnya seraya menyerahkan 1 tube obat oles pada sang istri.


"Terima kasih, Dokter."


Jhico mendelik aneh ketika mendengar Vanilla memanggil dirinya seperti itu. Jhico akan kembali melanjutkan kegiatannya namun Vanilla menahan.


"Kamu terlihat aneh bila seperti ini,"


"Aneh bagaimana?"


"Ya, coba bersikap biasa saja seperti kemarin-kemarin. Tidak ada pertemanan yang dingin seperti kita,"


Jhico tersenyum miring mendengar istrinya menyinggung hal itu lagi. Ia menginginkan Jhico bersikap seperti biasa sementara kata-katanya menyakitkan. Memang mudah melakukan itu?


"Semakin sepi rasanya kalau kamu seperti ini, Jhico."


Vanilla meletakkan obat pemberian Jhico di meja pantry lalu meraih tangan Jhico untuk digenggamnya. Gadis itu menatap lurus manik Jhico yang memandangnya datar.


"Mulai sekarang, Kamu baik, akupun akan baik. Begitu peraturannya. Aku tidak ingin menjadi pihak yang dirugikan terus. Sudah bersikap baik, tapi dikhianati. Terdengar menyedihkan sekali,"


Vanilla menggeleng tegas. "Aku tidak mengkhianati siapapun, Jhico."


Jhico melepas tautan tangan mereka dan mengalihkan perhatiannya pada lemari pendingin di belakang tubuh Vanilla.


"Lucu," komentar Jhico membuat kening Vanilla mengerinyit.


"Lalu yang aku lihat malam itu apa? kamu dan dia sedang melakoni drama?" lanjutnya dengan kalimat dingin.


"Kamu tahu, aku tidak mengatakan apapun saat itu,"


Jhico menepuk lembut sisi kiri dan kanan wajah istrinya lalu menjawil hidung bangir gadis itu. "Karena aku sudah datang dan membawamu pergi. Kalau aku tidak datang, aku yakin drama akan berakhir dengan manis,"


"Jhico--"


Jhico meletakkan telunjuknya di bibir Vanilla. Ia menggeleng, tidak ingin lagi membahas masalah itu. Karena lukanya masih terbuka.


"Aku akan berusaha menjadi Jhico yang kamu kenal," Jhico mencuri kecupan di sudut bibir Istrinya. Lelaki itu meraih obat yang tadi di letakkan kembali oleh Vanilla karena akan mengajaknya bicara. Jhico menarik tangan Vanilla dan mulai mengobati area yang warnanya sudah memerah itu.


"Tapi tolong, kalau kamu masih ingin bermain di belakang aku, jangan sampai aku tahu. Lebih baik seperti itu, daripada aku melihatnya secara langsung. Sakitnya lebih terasa, Nilla."


-------

__ADS_1


AKU UP SORE MAAPIN YAKK :) JGN KASIH KENDOR DUKUNGANNYA


__ADS_2