
Yang tak pernah disangka oleh Vanilla adalah Grizelle minta pulang ke rumah dengan diantar Thanatan dan Kakeknya itu memenuhi permintaan Grizelle. Wajar saja Vanilla terkejut. Sebab Ia tahu betul bagaimana kesibukan Thanatan. Vanilla yakin pekerjaan setelah makan siang masih bertumpuk di meja kerja Thanatan.
Tapi herannya Thanatan mau melakukan hal remeh semacam mengantar Grizelle pulang. Hal remeh yang membuat Grizelle senang sekali.
Akhirnya Vanilla pulang sendiri menggunakan mobilnya. Seusai makan siang Ia dan putrinya berpisah mobil. Dan saat ini mobil Ayah dari suaminya itu ada di belakangnya.
"Aku seperti dikawal oleh Papa. Dijaga dari belakang," gumam Vanilla mengungkapkan isi hatinya. Ia jadi teringat Raihan. Kalau Ia dan Raihan tengah mengendarai mobil bersama pun Raihan mengambil posisi di belakangnya dan selalu berkata 'Papa menjagamu dari belakang-
"Kakek, aku boleh ke tempat kerrlja (kerja) Kakek tidak?"
"Jangan banyak mau ya, Grizelle,"
Pecah tawa Grizelle mendengar kakeknya berkata seperti itu. Thanatan menoleh dengan kernyitan di dahinya. Bingung kenapa cucunya tertawa padahal baru saja Ia menegur.
"Hanya berrlcanda (bercanda), Kakek. Tapi memang tidak boleh kalau aku ke sana?"
"Itu tempat bekerja, bukan tempat bermain,"
"Aku tidak akan berrlmain (bermain), Kakek. Paling aku hanya mengobrrlol (mengobrol) saja,"
"Bukan tempat mengobrol juga," tambah Thanatan yang membuat Grizelle merengut.
"Aku ingin ke kantorrl (kantor) Kakek. Kalau ke klinik Pupu sudah serrling (sering), kalau ke kantorrl Grrlandpa (kantor Grandpa) sudah perrlnah (pernah),"
Thanatan tak memberi tanggapan apapun. Membawa cucu ke kantor tak pernah ada dalam bayangan Thanatan. Sekarang Ia langsung membayangkan kemungkinan yang terjadi apabila membawa Grizelle ke sana. Pasti kacau dan semakin membuatnya suntuk, penat, serta ingin marah-marah terus.
"Kamu datang?"
"Datang kemana, Kakek?" tanya Grizelle dengan polos.
Thanatan berdecak karena Grizelle tak langsung mengerti ucapannya.
"Datang memenuhi undangan cucu dari teman Kakek,"
"Oh itu undangan untukku?"
Thanatan mengangguk. Sepertinya Jhico belum memberi tahu pada anak itu bahwa undangan tersebut memang ditujukan untuknya.
"Saat Pupu berrltanya (bertanya) pada Kakek, kata Pupu, Kakek tidak menjawab. Maka aku kirrla (kira) Kakek salah kirrlim (kirim) undangan,"
"Datang?" sekali lagi Thanatan bertanya karena cucunya ini tak kunjung memberi jawaban malah bicara hal yang tak dia tanyakan.
"Aku akan datang,"
"Memang sudah diberi izin?"
"Sudah, aku tanya pada Pupu, kalau seandainya itu benarrl (benar) undangan untukku, apa aku diizinkan datang? lalu Pupu mengizinkan aku,"
"Memang kenapa, Kakek?" tanya nya pada Thanatan yang duduk di sampingnya, tengah fokus mengendarai.
__ADS_1
"Nay-Nay sepertinya akan menemanimu. Tapi entah jadi atau tidak,"
"Oh ya? yeayy aku datang dengan Nay-Nay,"
*******
Grizelle berinisiatif mengobati rasa lelah ayahnya dengan cara memijat agar otot dan sendinya rilex.
Jhico baru selesai mandi, Grizelle yang sebelumnya tengah melihat-lihat make up Ibunya, langsung meminta Jhico untuk duduk di atas ranjang dan Ia berdiri di belakang Jhico.
Ia mulai menggerakkan tangan-tangan kecilnya. "Ya Tuhan, pintar sekali anakku ini ya. Terimakasih, Sayang,"
"Iya, Pupu,"
Vanilla tersenyum melihatnya. Tidak ada yang menyuruh atau tanpa Jhico meminta, Grizelle dengan senang hati menghilangkan rasa lelah sang ayah.
Bukan sekali ini Grizelle melakukannya. Tapi memang Jhico sering menolak karena Ia tidak ingin Grizelle lelah. Memijat tubuhnya yang kekar dengan tangan kecil milik anak itu menurut Jhico pasti melelahkan.
"Kalau sudah lelah, berhenti saja,"
"Okay, Pu. Pupu boleh tidurrl (tidur),"
Jhico segera berbaring terlungkup. Dan Grizelle duduk. Kemudian melanjutkan kegiatannya sebagai bukti bahwa Ia begitu menyayangi lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Ya ampun, kamu kenapa bisa sehebat ini ya?"
"Padahal tadi sore, dia baru memijat kaki ku, Jhi,"
Mendengar penuturan istrinya Jhico segera memberi kecupan di puncak kepala anaknya.
"Terimakasih ya,"
"Pupu kenapa bilang itu terrlus (terus)? selalu begitu,"
Jhico tertawa, memang mulutnya ingin selalu mengucapkan kata itu untuk Grizelle. Karena Ia merasa tidak pernah cukup bila hanya satu kali berujar 'terimakasih'.
"Pupu, kata Kakek itu undangannya untuk aku,"
"Oh iya, Kakek membalas pesan Pupu di klinik dan Pupu lupa memberi tahumu,"
"Kapan acaranya, Jhi?"
"Besok lusa sepertinya. Coba lihat undangannya di ponselku," Jhico meminta tolong pada sang istri yang langsung dilakukan oleh Vanilla.
"Oh iya, acaranya besok lusa. Tadi kenapa kita tidak sekalian mencari kado ya, Griz?"
"Iya, Mu. Seharrlusnya (seharusnya) sebelum makan, kita beli kado dulu. Barrlulah (barulah) makan,"
"Ya sudah, besok masih ada waktu," ucap Jhico.
__ADS_1
"Besok Mumu temani carrli (cari) kado ya?"
"Okay, tapi boleh aku pergi besok, Jhi?"
Jhico mengangguk dengan kantuk yang mulai menyerang. Pijatan Grizelle menghadirkan rasa nyaman hingga Ia ingin tidur.
"Pupu sudah mengantuk ya?"
Lagi-lagi Jhico mengangguk. Ia bergumam, "Pupu mengantuk,"
"Ya sudah, tidurrl (tidur) saja, Pu,"
"Kalau Griz sudah lelah atau bosan, berhenti saja memijatnya ya,"
"Iya, Pu,"
"Mumu, itu jangan dirrlapikan (dirapikan) dulu ya," Grizelle berucap seraya menunjuk pouch make up Vanilla yang beberapa isinya Ia keluarkan karena Ia ingin melihatnya.
"Untuk apa? kamu mau make up?"
"Tidak, aku ingin lihat-lihat saja dan aku mau tahu namanya, nanti aku tanya-tanya Mumu lagi," Grizelle bicara pelan karena tak ingin menganggu ayahnya.
"Ya sudah, tapi nanti bertanggung jawab dikembalikan ke tempatnya ya?"
"Iya, mu. Tenang... aku akan berrltangung (bertanggung) jawab,"
******
Hawra dan Karina tengah makan malam bersama tanpa Thanatan yang tentu saja belum pulang sebab ini baru pukul tujuh malam.
"Ibu, check up tiga hari lagi ya?"
Hawra mengangguk yang langsung disambut senyuman dari Karina.
"Aku kira dua hari lagi,"
"Memang kenapa?"
"Salah satu rekan kerja Thanatan mengundang Grizelle untuk datang ke pesta ulang tahun cucunya. Pasti yang datang ke sana ditemani kakek atau neneknya, Ibu. Berhubung Thanatan tidak mau datang, jadi aku yang akan menemani Grizelle,"
"Oh begitu, memang kenapa dia tidak mau datang? bukankah seharusnya dia yang datang karena temannya yang mengundang. Kalau Vanilla atau Jhico yang datang, aku rasa mereka belum tentu mau karena undangan itu hanya untuk anak mereka saja,"
"Itu sebabnya aku menyuruh Thanatan datang, Ibu. Tapi dia tidak mau,"
Acara itu digelar khusus untuk para cucu dari rekan kerja Thomas selaku kakek dari Evelyn yang berulang tahun.
"Tidak mungkin aku membiarkan Grizelle sendiri. Lagipula kalau aku ikut, aku bisa menambah pertemanan juga, sama halnya dengan Grizelle," ucap Karina yang langsung disetujui oleh Ibunya, Hawra.
"Keputusanmu sudah tepat. Tidak usah lah memaksa suamimu itu. Percuma, daripada kalian berdebat, lebih baik kamu saja yang mengajukan diri untuk hadir,"
__ADS_1