Nillaku

Nillaku
Nillaku 317 Tidak ada Grizelle, Vanilla dan Jhico menggunakan kesempatan


__ADS_3

"Icelle, Auris?"


Lovi terkejut mendapati kedua anak perempuan itu yang sedang mengobrol atau lebih tepatnya berbisik-bisik di meja makan.


"Mommy,"


"Aunty,"


Keduanya tersenyum meringis. Kenapa mereka jadi seperti tertangkap basah ya?


"Kenapa di sini? tidak tidur?"


"Tadi sudah tidur, Mom. Lalu kami terbangun,"


"Kenapa minum ice cream malam-malam begini?" tanya Lovi mengerang kesal mendapati mereka yang bangun tidur malam-malam menyantap itu.


"Aku haus, Aunty,"


"Aku juga, Mom,"


"Minum air putih, Sayang,"


"Aku inginnya ice cream, Aunty,"


"Nanti sakit, Sayang. Sudahi minum itu. Sekarang kembali lagi ke kamar, istirahat,"


"Sebentar, Mom,"


Sehabis makan cokelat, mereka berdua menyantap ice cream kembali.


"Ayo, jangan sebentar-sebentar. Istirahat ke kamar," titah Lovi pada keduanya.


Auristella dan Grizelle segera menghabiskan ice cream ketiga mereka setelah itu barulah mereka mencuci tangan kemudian pamit pada Lovi akan kembali ke kamar.


"Mommy, aku dan Icelle mau lanjut tidur lagi,"


"Iya, Sayang. Jangan lupa sikat gigi lagi ya,"


"Aunty kenapa bangun juga?"


"Mau minum ice cream,"


"Haaa Mommy ternyata sama dengan aku dan Icelle,"


Lovi terkekeh dan kembali menyuruh mereka berdua untuk beristirahat.


Ia terbangun dan tiba-tiba menginginkan ice cream maka Ia bergegas keluar dari kamarnya. Meninggalkan sang suami dan anak keduanya yang tertidur di tengah mereka. Karena sepertinya Adrian tidak kuat lagi menahan kantuk dan enggan untuk bergegas ke kamarnya sendiri.


Auristella dan Grizelle menyikat gigi mereka lagi sebelum melanjutkan istirahat mereka.


Setelah itu barulah keduanya kembali membaringkan tubuh di ranjang.


"Hah, aku akan sulit tidurrl (tidur) lagi kalau sudah bangun,"


"Harus tidur, Icelle. besok kita sekolah,"

__ADS_1


Grizelle mengangguk patuh mendengar ucapan tegas Auristella. Memang sulit unuk kembali terpejam kalau sebelumnya sudah terjaga, tapi Ia harus tetap tidur karena esok Ia harus menuntut ilmu mulai pagi hari.


*****


Jhico dan Vanilla cukup lama diam di rooftop. Sampai pukul dua belas lebih barulah Vanilla menuruti suaminya yang sedari tadi sudah mengajaknya untuk istirahat.


"Tidur, Nilla. Ini sudah malam sekali,"


"Kamu juga harus tidur,"


"Ya memang aku akan tidur,"


Jhico memeluk erat istrinya yang kini sudah berbaring di sampingnya.


"Tidak ada ucapan selamat malam darimu, Nilla?"


"Selamat malam, Jhi,"


"Hanya itu?" tanya Jhico jahil.


"Apalagi? kamu menginginkan ucapan selamat malam dariku 'kan?"


"Lebih dari itu boleh?"


Vanilla menahan senyumnya tahu apa maksud suaminya itu. Ia berdecak melepas pelukan sang suami.


"Tadi menyuruh aku tidur,"


"Ya,"


Jhico tak menampik bahwa memang sedari tadi Ia menyuruh Vanilla agar kembali ke kamar untuk beristirahat. Tapi Ia juga tak bisa menampik bahwa saat ini pesona istrinya membuat ia jadi sulit tidur bahkan hanya untuk memejamkan mata sesaat saja.


"Aku belum mandi, Jhi," gumam Vanilla susah payah karena dirinya mulai terlena dan dibuat bergidik dengan hembusan napas sang suami di leher jenjangnya yang mulai tak jenjang menurutnya karena berat badan mulai bertambah.


"Nanti mandi nya setelah selesai berkegiatan dengan aku,"


Vanilla merasa pipinya disapu dengan kehangatan. Ia terkekeh pelan. Berusaha tak terlihat gugup.


"Kegiatan? ini sudah malam. Apalagi yang mau kamu lakukan dengan aku?"


"Oh yakin bertanya? hm?" Jhic menjauhkan kepalanya dari sang istri kemudian tersenyum miring menatap Vanilla yang bertaut alis menatapnya.


"Kegiatan apa yang sekiranya bisa kita lakukan sekarang ya?" Ia balik bertanya dan Vanilla hanya mengendikkan bahunya menjawab tidak tahu.


"Ya kegiatan ini lah,"


Jhico kembali beringsut semakin mempererat pelukannya dan Ia menjatuhkan kepalanya lagi di perpotongan leher serta bahu sang istri. Jhico mencium singkat bibir Vanilla.


"Hah, pada akhirnya kita menginap di sini karena ingin berkegiatan seperti ini ya, Jhi?"


Jhico mengangguk seraya terkekeh mendengar istrinya menghela napas namun tak menghalangi keinginannya sama sekali.


"Maka aku senang ketika kamu mau bermalam di sini. Suasana baru untuk istirahat dan--"


Jhico menggigit daun telinga istrinya dengan jahil dan Vanilla memekik pelan. Perlu diketahui, Jhico bisa mendengar ada desah pelan dari bibir istrinya.

__ADS_1


"---bercinta," lanjut pria itu seraya sedikit memaksa wajah Vanilla agar mau menatapnya dan Ia menautkan bibir mereka dengan sedikit tekanan hingga Vanilla melenguh pelan karena ia terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya usai berhasil meloloskan semua kancing blouse nya.


Bermalamnya mereka di hotel tanpa rencana sama sekali. Situasi dan kondisi sangat mendukung. Baik Jhico maupun Vanilla tak kuasa menolak hasrat yang sudah menggebu di tengah hening dan damainya malam ini.


Anak mereka bahagia menginap di rumah sepupunya tanpa mereka yang meminta. Lantas mereka menggunakan kesempatan itu untuk menghabiskan waktu berdua agar lebih intim dan lebih menghargai kebersamaan.


*****


Thanatan keluar dari kamar mandi mendapati istrinya baru masuk ke dalam kamar dengan membawa satu gelas berisi cairan berwarna hitam sesuai dengan keinginannya tadi, ia meminta dibuatkan americano yang hangat oleh istrinya.


"Yakin tidak mau makan malam?"


"Sudah makan. Lagipula jam berapa ini? kamu yakin menawari aku makan malam?"


Karina terkekeh pelan menatap jam. Pukul dua dini hari. Bukan makan malam lagi sebutannya.


"Kamu benar-benar sudah gila bekerja, Pa. Pulang di waktu seperti ini,"


"Ada permasalahan di akhir bulan ini,"


Karina menghembuskan napasnya pelan usai Ia meletakkan minuman suaminya di nakas.


"Sekarang masih mau bekerja lagi?"


"Tidak, aku ingin tidur. Lelah sekali,"


"Oh punya rasa lelah juga rupanya," sindir Karina dengan tajam. Jarang sekali Ia mendengar Thanatan mengeluh lelah dan langsung beristirahat setelah pulang. Biasanya masih menyempatkan waktu untuk bekerja sebelum memutuskan untuk tidur.


"Ya kamu bayangkan saja. Dari pagi sampai dini hari aku bekerja. Tidak mau lah aku bekerja lagi begitu sampai di rumah,"


"Biasanya seperti itu," Karina menyahuti. Ia menatap suaminya dengan seksama. Suaminya itu kini meneguk minuman hangat yang Ia buat tadi.


"Beruntungnya Jhico tidak segila kamu dalam bekerja ya, Pa. Kalau tidak, kasihan juga Vanilla dan Griz,"


"Dia bekerja di klinik tak banyak juga orang yang hidupnya bergantung pada dia,"


"Kata siapa? banyak juga. Dia sudah memiliki cabang bahkan,"


"Tetap saja berbeda,"


"Karena dia bukan pengusaha sepertimu yang punya perusahaan raksasa?"


Thanatan mengangguk dengan jumawa. Ia tak mengakui kalau anaknya terbilang sukses dengan jalan yang Ia pilih sendiri.


"Tapi pada intinya dia bisa berguna juga untuk orang banyak. Dia dokter dan berhasil menciptakan lapangan pekerjaan. Sama saja dengan kamu. Mungkin hanya berbeda pada bidang saja. Kamu bukan dokter dan kamu tidak bisa juga mengobati orang lain. Kalau anakku bisa," Karina menatap suaminya dengan senyum sarkas. Suaminya pemimpin di perusahaannya sendiri, sementara Jhico juga pemimpin di klinik yang Ia buat. Sekaligus praktik juga di sana. Jhico tak kalah hebat.


"Vanilla sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Thanatan mengangkat topik lain.


Karina berdecak mendengar pertanyaan suaminya. Apa selama ini telinga suaminya masih berfungsi?


"Kamu lupa atau tidak dengar kalau aku langsung memberi tahu kamu saat Vanilla sudah keluar dari rumah sakit,"


"Aku langsung mengabari kamu," ujar Karina lagi dengan kesal.


"Oh ya? baguslah. Jadi dia sudah sehat?"

__ADS_1


"Sudah, makanya diperbolehkan dokter pulang. Kalau belum sehat, pasti masih berada di rumah sakit," Ia menjelaskan dengan tenang namun ada jengkel di hatinya.


"Terlalu sibuk, sampai tidak tahu kalau menantunya sudah sembuh. Padahal jelas-jelas aku langsung mengabari kamu,"


__ADS_2