
Setelah Thanatan kembali ke kantornya, Karina masuk ke dalam toilet, Hawra menelpon cucu tersayangnya. Jujur, Ia masih memikirkan perkataan Thanatan. Ada ketakutan dalam dirinya kalau Jhico benar-benar sudah tidak menyayanginya lagi.
Biasanya Jhico akan segera datang bila tahu kalau neneknya sakit. Sekarang tidak sama sekali, jadi wajar bila Hawra terus berpikir seperti itu.
"Hallo, Nek? bagaimana kabar Nenek?"
Hawra tersenyum tipis. Didengar dari suaranya, Jhico masih sangat hangat. Bahkan hal pertama yang ditanyai oleh cucunya itu adalah kabar dirinya.
"Nenek tidak baik-baik saja,"
"Maksud Nenek? Nenek sakit?"
"Iya, dan kamu tidak ada di sini,"
"Astaga, aku akan ke sana sekarang. Maaf, aku terlambat mengetahui ini, Nek."
*********
Vanilla menyambut Auristella dengan bahagia. Ia meraih keponakannya itu dari gendongan Devan. Lalu menciumnya tanpa henti.
"Baru sembuh, Aunty." ujar Devan mewakilkan anaknya yang merengek karena Vanilla terlalu berlebihan dalam mencium dan memeluknya sampai Ia merasa sesak.
"Hobi sekali anak-anakmu tinggal di rumah sakit. Heran aku,"
"Iya, aku juga bingung." ujar Devan menimpali.
Mereka masuk ke dalam mansion. Lalu makan siang bersama. Setelahnya Devan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Lovi yang rencananya akan pulang besok bila kondisi semakin membaik.
"Kamu menginap di sana?"
"Ya, aku tidak mungkin membiarkan Lovi sendirian,"
"Di sana tugasmu menjaga ya. Bukan--"
"Ck! aku tahu tempat. Bangsal rumah sakit tidak nyaman,"
Vanilla terbahak begitu pun dengan Devan. Devan mengecup kening Auristella yang ada dalam gendongan Vanilla.
"Daddy pergi sebentar ya? hati-hati di sini. Jangan biarkan Aunty pulang, temani kamu di sini,"
"Hey! enak saja mulutmu kalau bicara,"
"Oh ya, sudah memiliki suami jadi tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah ya?"
Vanilla mendorong kakaknya dengan satu tangan agar segera pergi. Kalau Ia masih di sini, pembahasan tidak akan selesai. Dan itu selalu berkaitan dengan Jhico.
Vanilla mengangkat tangan Auristella untuk melambai pada Devan yang baru saja membunyikan klakson mobil mewahnya.
Kedua kakaknya sudah mengeluarkan mainan masing-masing padahal sebelumnya sudah berjanji pada Raihan kalau Auristella sudah kembali ke mansion, hibur dia atau ajak bermain. Sekarang mereka malah sibuk sendiri.
"Auris tidur saja dulu. Jangan bermain,"
Tapi Auristella ingin bergabung dengan kedua kakaknya. Ia tak mengindahkan kalimat Grandpa-nya.
"Auris, tidur kata Grandpa,"
"No,"
"Pintar sekali kamu. Sudah bisa bicara sedikit ya?"
"Bahkan bisa memanggil Devan. Kamu belum tahu itu?"
"Astaga, yang benar? aku baru tahu sekarang,"
"Yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah 'Daddy',"
Vanilla berseru riuh seraya menepuk tangannya. Menimbulkan suara bising sampai Jane yang tengah merancang puzzle melempar mobil kecil milik Adrian ke arahnya.
Adrian berseru marah ketika mainannya dilempar. Ia segera meraih puzzle miliknya dari tangan Jane.
"Tadi kamu yang meminta untuk disusun. Kalau tidak jadi, ya sudah. Aunty bersyukur," ujar Jane dengan santai lalu bangkit menuju meja makan.
__ADS_1
Vanilla menahan tawa saat melihat perdebatan itu. Vanilla selalu mengingat momen-momen indah tersebut kalau Ia sedang sendirian di apartemen. Ia terbiasa hidup bersama banyak orang di mansion lalu setelah menikah hanya tinggal berdua di apartemen. Awalnya Vanilla sangat tidak nyaman dan selalu ingin kembali ke mansion. Tetapi tidak mungkin, karena papanya sendiri pasti akan menganggapnya bodoh.
*******
"Nenek tidak apa-apa, Jhico. Kamu tidak perlu panik seperti ini,"
Jhico memasuki rumah sakit dengan perasaan kalut. Ia selalu seperti itu setiap kali neneknya sakit. Karena hanya Hawra yang menjadi penopangnya selama ini. Ia selalu menjadi dirinya sendiri karena dukungan dari Hawra.
"Kamu benar-benar baru tahu kalau Nenek sakit?"
"Ya, Aku baru tahu, Nek. Sumpah, aku tidak--"
"Nenek percaya,"
"Kenapa Nenek bertanya seperti itu?"
"Karena Papamu sudah menelpon kamu sebelumnya. Tapi yang menjawab Vanilla. Vanilla tidak menyampaikan apapun?"
Jhico terdiam membisu. Mengetahui kalau Vanilla lah yang membuat Ia terlambat hadir di samping neneknya ketika sakit, membuat darah Jhico tiba-tiba saja mendidih.
Apa salah Hawra sampai Vanilla tega, tidak memberi tahu Jhico bahwa saat ini Hawra butuh dukungan darinya.
"Pasti Papa baru saja menyakiti Nenek dengan membicarakan aku yang tidak-tidak,"
Hawra hanya tersenyum tipis tanpa menjawab 'ya' atau 'tidak'. Tetapi dilihat dari raut neneknya yang begitu Ia kenali disetiap perubahannya, Jhico yakin bahwa apa yang dikatakannya memang seratus persen benar.
Karina baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Ibunya setelah turun ke bawah mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di dalam mobil.
"Kapan kamu datang, Co? sudah lama?"
"Belum lama, Ma."
Karina mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di sofa yang begitu luas. Ia benar-benar lelah hari ini. Dibuat khawatir dengan kondisi Ibunya dan juga pekerjaan yang masih menimbun di otak.
Pintu kembali terbuka dan Thanatan masuk. Karina bangkit dan mengerinyit bingung. Melihat ada anaknya di dalam ruangan itu, Thanatan melirik sinis belum menegur.
"Berkasku ada yang tertinggal. Aku pulang malam, pekerjaan ini harus selesai hari ini juga," ujarnya pada Karina.
"Datang juga cucu Ibu. Apa katanya? kenapa datang terlambat?"
Berkas sudah ada di tangannya tetapi Ia sengaja belum keluar dari ruangan itu. Ingin mencecar Jhico yang kini fokus menatap neneknya.
"Semakin hari perilakumu jauh dari kata berbakti. Tidak pernah berkunjung ke rumah orangtua, diberi tahu yang terbaik malah keras kepala, sekarang datang terlambat di saat Neneknya sakit. Padahal Nenek selalu membela kamu. Tidak tahu balas Budi!"
Karina mendorong pelan tubuh suaminya agar cepat keluar. Sungguh, ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk berdebat mengenai hal kecil. Yang terpenting Jhico sudah datang, lalu kenapa harus dipermasalahkan lagi?
Setelah Thanatan dan Karina keluar dari ruang perawatan Hawra, pintu ditutup dan Karina menatap Thanatan dengan tajam.
"Ini rumah sakit, kamu juga seharusnya bekerja. Jangan memperkeruh suasana, Pa. Ibuku sedang sakit," geramnya tertahan. Tanpa mengatakan apapun lagi, Thanatan pergi meninggalkan istrinya.
Karina mengatur napasnya terlebih dahulu. Sebelum memutuskan untuk kembali bergabung bersama Ibu dan putranya.
Jhico menunduk sedih. Ini bukan kesalahannya, ini karena Vanilla. Tapi lagi-lagi Ia yang menjadi korban. Jhico selalu jadi pihak yang tersudutkan sekalipun Ia benar.
Astaga, kenapa istrinya bisa sejahat ini. Bukan hanya pada Hawra, tetapi padanya juga. Tidak tahukah Ia kalau kesalahan ini akan terus dibahas oleh Thanatan. Anggapan bahwa Ia tidak lagi berbakti pada keluarga akan semakin melekat pada dirinya.
******
Vanilla sedang menemani Auristella memperhatikan kedua kakaknya yang tengah memberi makan kelinci-kelinci mereka di taman. Sesekali keduanya akan bermain bersama kelinci masing-masing.
Auristella tentunya tidak ingin kalah. Ia juga ingin berkenalan dengan hewan peliharaan Andrean dan Adrian yang baru diberikan Raihan dua hari lalu untuk mereka agar tidak kebosanan.
"Auris baru sembuh, jadi tidak boleh dulu bermain dengan kelinci,"
Kali ini anak perempuan Devan dan Lovi itu mengangguk patuh. Ia hanya memperhatikan dari pintu penghubung taman dan ruang tamu.
Jhico datang untuk menjemput istrinya. Senata mengatakan bahwa Vanilla sedang menjaga Auristella yang belum diperbolehkan untuk bermain bersama hewan peliharaan di taman.
Jhico segera beranjak ke tempat itu. Usai menjenguk Neneknya dan dipaksa ribuan kali oleh Hawra agar segera pulang, barulah Jhico meninggalkan rumah sakit.
Ia sudah berhasil mengusir perasaan kacaunya. Agar selama di mansion Ia terlihat baik-baik saja di mata semua orang.
__ADS_1
"Uncle datang," bisik Vanilla pada Auristella yang langsung menoleh, mencari Jhico.
Jhico tersenyum pada anak itu setelah mengecup keningnya. "Bisa pulang sekarang?" tanya Jhico yang diangguki oleh Istrinya.
Senata datang untuk mengambil alih Auristella karena Ia tahu Vanilla harus segera pulang bersama Jhico.
"Masih ingin bersama kamu," ucap Jhico saat Auristella menolak untuk berpindah tangan. Ketika Jhico menjulurkan tangan untuk menggendongnya, Auristella tampak ragu. Jhico membujuk melalui tatapan lembutnya dan anak itu luluh juga.
"Uncle dan Aunty pulang dulu ya?"
Auristella mengeratkan tautan tangan di leher Jhico. Ia semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher lelaki itu.
"Besok Aunty datang lagi,"
******
Setelah sampai di apartemen, suasana hati Jhico yang tidak baik mampu dibaca oleh Vanilla. Awalnya Ia tidak ingin bertanya, tetapi melihat Jhico yang hanya diam saja sejak menginjakkan kaki di apartemen, mulut Vanilla gatal karena rasa penasarannya.
"Ada apa denganmu?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," Jhico tengah menyiapkan bantal untuknya tidur. Sementara Vanilla sedang menghadap cermin seraya memakai produk-produk yang menunjang kecantikannya.
"Aku tidak mengerti kamu bicara apa,"
"Kamu sudah lancang, Vanilla."
Vanilla semakin yakin ada sesuatu yang janggal. Ia segera menyelesaikan kegiatannya, masih duduk di tempat yang sama tetapi menghadap Jhico yang tidak jadi berbaring.
"Maksudmu apa?"
"Siapa yang mengizinkanmu untuk menjawab panggilan di ponselku?"
"Hanya karena itu kamu marah-marah seperti ini?"
"Apa yang Papa katakan padamu?"
Setelah tahu biduk permasalahannya, Vanilla terdiam sebentar. Ia mengerjap untuk berpikir sejenak.
"Papa tidak bicara apapun. Dia hanya menanyakan keberadaan kamu,"
"Bohong!"
"Papa juga meminta aku untuk menyampaikan pada kamu kalau Papa menelpon,"
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku saat itu?"
"Aku pikir, Papa hanya ingin menciptakan perdebatan lagi. Oleh sebab itu aku tidak jujur padamu,"
"Seharusnya kamu beri tahu aku dengan cepat! jadi aku tidak akan terlambat datang ke rumah sakit melihat kondisi Nenek,"
Mulut Vanilla terbuka karena terkejut. Ia menatap Jhico dengan pandangan khawatir, "Nenek sakit?"
"Dimana otakmu? kenapa itu saja tidak mengerti?!" sentaknya yang sudah dirundung emosi. Jhico sampai lupa dengan prinsipnya yang tidak ingin menyakiti Vanilla baik secara lisan maupun sikap. Nadanya terlalu tinggi untuk Vanilla yang tidak pernah dibentak.
"Maaf, Jhico. Aku pikir Papa hanya ingin mengganggu kamu saja. Aku tidak tahu kalau Papa ingin bicara dengan kamu Mengenai kondisi Nenek..."
Vanilla menunduk dengan tubuh gemetar. Ia membuat kusut pakaian tidurnya dengan tangan.
"Papa tidak mengatakannya padaku. Kalau aku tahu Nenek sakit, aku akan jujur padamu. Sayangnya pikiranku terlalu buruk, menganggap bahwa Papa hanya ingin menciptakan perdebatan. Maaf, Jhico."
Sejujurnya Jhico mengerti tujuan Vanilla melakukan itu karena Ia ingin melindungi Jhico dari serangan Thanatan yang tiada henti. Vanilla tidak harus disalahkan sepenuhnya. Thanatan memang sangat gemar mengajaknya berdebat disetiap kesempatan yang ada. Wajar kalau Vanilla berpikiran seperti itu.
Tetapi kalau sudah berhubungan dengan keterpurukan neneknya, maka semua yang dilakukan orang lain sekalipun untuk melindungi dirinya, itu akan tetap salah di mata Jhico.
-------
Ini panjang syekaleee. Ya kan? ya kan? makanya voment dong ;)
MCH udh up 2x lhooo. Udh mampir?
__ADS_1