
Vanilla yang belum lama selesai makan, dibuat terkejut saat membaca pesan dari sahabatnya. Joana sedang bertemu dengan calon suami dan keluarganya. Entah kenapa Vanilla senang mendengarnya walaupun Ia belum melihat langsung seperti apa sosok laki-laki beruntung itu. Ya, dia beruntung bisa mendapatkan perempuan sebaik Joana yang begitu sabar. Joana adalah perempuan penyayang. Vanilla saja bisa merasakannya. Dan Joana juga memiliki rasa tanggung jawab serta kepedulian terhadap orang di sekitarnya. Buktinya saja saat Vanilla gemar pergi ke kelab setiap malamnya, walaupun Vanilla tidak pernah minta ditemani, Joana selalu setia berada di samping Vanilla. Bahkan sudah diusir sekalipun, Ia tetap mendampingi Vanilla untuk memastikan Vanilla baik-baik saja.
Saat melihat selipan kalimat yang menyatakan bahwa Joana akan kabur saat hari bahagia itu tiba, Vanilla langsung menolak dalam hati. Ia tidak setuju dengan keputusan Joana.
Wow, selamaaaat berjantungan ria. Hey tidak boleh kabur. Mungkin dia memang jodohmu. Percaya padaku, kalau sampai hari itu tiba dan semuanya dipermudah, artinya kalian jodoh, Tuhan merestui kalian!
begitulah rangkaian kalimat yang Ia ketik sebagai balasan atas pesan dari Joana. Kemudian Ia kembali mengetik.
Kalau sudah selesai dengan pertemuan itu, cepat telepon aku ya. Aku ingin mendengar ceritanya darimu.
Vanilla menunggu, siapa tahu langsung dibaca oleh Joana. Tapi ternyata tidak. Mungkin sahabatnya yang dulu tidak diangapnya sebagai sahabat itu sedang sibuk membicarakan satu dan lain hal mengenai kelanjutan atas rencana perjodohan itu.
****
Hari ini Barvi datang ke rumah Fionna untuk memulai pendekatan dengan gadis yang menjadi sahabat kecil dari sepupunya itu.
Rumah Fionna nampak sepi. Penjaganya juga entah kemana. Barvi masuk ke dalam pekarangan dan mengetuk pintu kokoh yang menyambutnya. Tidak ada jawaban.
Ia berjalan ke sayap kiri rumah mewah itu, lalu dia mendapati seorang gadis tengah duduk di taman yang berada persis di samping rumah.
Gadis itu Fionna. Barvi mendekati Fionna yang sepertinya sedang menelpon seseorang.
"Astaga, aku senang sekali bisa bicara denganmu lagi. Kamu mendapat kontakku dari siapa?"
"Jhico,"
"Kapan kita bisa berkumpul?"
"Sebentar lagi aku kembali ke sana,"
"Okay, kabari kalau sudah sampai,"
Dion terkekeh dan menjawab, "Kamu bisa melihatnya sendiri nanti. Selama ini rumahku sepi setelah aku datang pasti ada perubahan,"
"Oh iya, tinggal melirik ke samping kalau rumahmu ada suara-suara ramai artinya kamu sudah datang ya,"
"Benar. Omong-omong bagaimana perasaanmu setelah kembali ke tanah kelahiran?"
"Senang, tapi sedih juga."
"Huh? kenapa?"
"Jhico sudah menikah," Fionna menjawab seraya tertawa kencang. Di seberang sana Dion diam beberapa saat. Begitupun Barvi yang dengan jelas mendegar semuanya karena Ia berdiri tidak jauh dari posisi Fionna saat ini.
__ADS_1
Dion tiba-tiba mendesah kecewa. "Aku tidak jadi kembali kalau begitu,"
"Kenapa? kamu tidak rindu dengan persahabatan kita dulu? Jhico sudah tidak tinggal di sini, aku kesepian. Dan sekarang kau pun tidak jadi kembali? ah kalau tahu akan begini, lebih baik aku menetap saja di negeri ginseng itu. Aku juga sudah nyaman berada di sana,"
"Ternyata gadis yang aku sukai sejak dulu masih menyukai Jhico,"
Fionna terkekeh tanpa sadar telah menyakiti dua hati. Barvi dan Dion yang sama-sama berharap padanya. Sementara dirinya menyimpan harapan untuk bisa bersatu dengan Jhico bukan hanya sebagai sahabat saja melainkan lebih dari itu. Tujuannya kembali ke sini yang paling utama sebenarnya adalah itu. Pikirnya mungkin Jhico akan menyadari perasaan yang Ia miliki untuk Jhico setelah Ia berusaha lebih keras untuk menunjukkannya. Dan Jhico mau belajar untuk membalas perasaannya tapi ternyata malah menikah dengan gadis lain.
*******
Jhico baru selesai menangani satu pasien dan ia terkejut saat sepupunya, Barvi datang ke klinik miliknya.
Tanpa basa-basi Ia duduk di ruangan Devan setelah diberi petunjuk oleh salah satu suster di sana yang bernama Ghea.
"Kau tidak ada niat untuk kembali tinggal di rumah Bibi Karina kan?"
Datang-datang langsung menanyakan itu. Tanpa dijawab seharusnya Barvi tahu kalau Jhico sudah nyaman berada di apartemen bersama Vanilla, Jhico tidak akan kembali menempati kediaman orangtuanya.
"Tidak, kenapa bertanya sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya?"
"Hubungan Kau dan Fionna pernah sejauh apa? karena yang aku lihat---"
"Sebenarnya tujuanmu datang ke sini untuk apa?" Jhico belum paham. Karena semuanya masih abu-abu.
Begitu Jhico bertanya, tanpa pikir panjang Barvi menjawab,
Tanpa keraguan Ia mengatakannya. Jhico yang mengetahui fakta itu sempat terperangah beberapa saat.
"Lalu urusannya dengan aku apa?" tanya Jhico yang semakin bingung. Ia tidak tahu kalau Barvi sedang cemas sekarang.
"Tapi Fionna memiliki perasaan lebih terhadapmu,"
Jhico berdecak seraya melepas snelli miliknya. Ia sampirkan pakaian khas seorang dokter itu di punggung kursinya lalu menatap Barvi dengan alis terangkat.
"Kau memikirkan apa tentang aku? menyukai Fionna? aku rasa itu adalah pertanyaan paling bodoh. Jadi, jangan tanyakan padaku,"
"Kau tidak---"
"Tidak," Jhico menggeleng tegas kemudian lanjut berbicara, "Aku mencintai Vanilla dan dia sedang hamil. Vanilla dan anak kami lebih penting dari segalanya. Kalau kau datang hanya untuk membahas perkara tidak penting seperti ini, lebih baik keluar dari klinikku. Karena jujur, Barvi, kedatanganmu sangat mengganggu,"
Barvi merasa tersinggung. Ia berdecak lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Jhico masih terngiang ucapan Barvi tadi. Ia rasa Barvi tengah bergurau. Tidak mungkin Fionna memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Mereka sudah terbiasa saling menjaga, dan itu layaknya teman biasa saja. Bagaimana bisa Barvi berpikir seperti itu?
******
__ADS_1
Barvi tadinya ingin mengajak Fionna untuk pergi berdua. Tapi mood nya langsung hilang begitu mendengar pengakuan Fionna tadi hingga akhirnya Ia berubah arah ke klinik Jhico untuk memastikan sendiri apakah Jhico juga menganggap Fionna lebih dari sekedar sahabat. Dan di klinik, Ia mendapat pengusiran.
"Kenapa kau?"
Barvi datang ke kantor sepupu dekatnya, Dinata. Ayah beranak satu itu sedang sibuk bekerja.
"Kau masih ingat Fionna?"
"Siapa dia?"
"Sahabat Jhico sewaktu kecil,"
"Oh yang sering membela Jhico saat kita membulinya?"
"Iya, aku menyukainya. menurutmu salah tidak?"
"Apa? kau menyukai dia? bukankah dulu kalian selalu bertengkar hebat karena dia tidak suka kau menyakiti Jhico?"
"Iya, tapi---"
Tawa Dinata meledak seketika. Lelucon macam apa ini? semudah itu Barvi menyukai perempuan. "Kalian baru bertemu lagi? yang Aku ingat, dia sempat pindah karena kuliah di negara lain,"
"Aku bertemu dengannya tempo hari. Dan langsung merasakan hal yang beda,"
"Astaga, kau terlalu cepat menyimpulkan. Bisa saja kau hanya kagum melihat perubahannya sekarang,"
"Dia menyukai sepupu kita. Jhico,"
"Sudah aku duga sejak dulu. Bersahabat dengan lawan jenis akan berakhir seperti itu. Janganlah menyimpan perasaan pada dia,"
"Tapi aku mengharapkannya. Dia begitu tulus pada Jhico. Kenapa dengan aku justru--"
Barvi mengacak pelan rambutnya. Sikap Fionna padanya sedingin dulu. Sementara dengan Jhico justru sebaliknya.
"Lalu kau mau melakukan apa?"
"Merebut hatinya. Karena Jhico tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya,"
"Seharusnya kau biarkan saja Fionna menyimpan rasa pada Jhico. Biarkan dia berjuang mendapatkan apa yang dia inginkan," ujar Dinata dengan seyum miringnya. Barvi melempar kalender di atas meja ke arah Dinata.
"Kau gila?! Jhico sudah hidup bahagia dengan Vanilla,"
"Kalau memang kau dan Fionna berjodoh, maka apapun yang Fionna lakukan untuk mendapatkan Jhico tidak akan berhasil. Begitupun sebaliknya. Tidak usah sibuk mengejar!"
__ADS_1
"Tapi baru kali ini aku memikirkan perempuan terus,"
"Oh ayolah, kau menyukai perempuan yang menaruh perasaan pada Jhico? siapapun yang mencintai Jhico, artinya dia berselera rendah. Sementara kau terlalu tinggi untuk dia,"