Nillaku

Nillaku
Nillaku 321 Triple A + Grizelle ke rumah Grandpa dan Grandma


__ADS_3

Keluar dari rumah sakit, Vanilla harus menjalani pemeriksaan pasca dirawat. Untuk lebih memastikan bahwa selama berada di rumah kondisinya semakin membaik.


Dan sore ini suaminya sudah janji akan mengantar. Tadinya Vanilla ingin ke rumah Raihan bersama tiga keponakannya. Tapi sayang waktunya belum tepat.


"Bagaimana hari ini? dia menyulitkanmu?"


Jhico membukakan pintu mobil untuk Vanilla. Kemudian Ia masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia bertanya pada istrinya seraya memberi usapan di tempat tinggal anaknya saat ini.


"Tidak, dia tidak pernah menyulitkan aku,"


"Syukurlah. Kamu yang memang jarang mual, sekarang semakin tidak pernah mual lagi ya, Nilla?"


"Ya, aku bersyukur. Karena mual itu menyakitkan sekali. Aku jadi tidak bisa memasukkan makanan apapun ke dalam perut,"


Jhico tersenyum lembut mendengar keluhan istrinya yang beruntung hampir tak pernah terjadi lagi padahal kandungan Vanilla masih tergolong muda.


"Aku ingin menghubungi Lovi dulu. Ingin bertanya apa Griz dan triple A jadi ke rumah Papa,"


Jhico mengangguk membiarkan istrinya menghabiskan waktu selama di perjalanan untuk menghubungi Lovi dengan panggilan video.


"Hallo, Vanilla,"


Lovi menyapanya dan Vanilla bisa melihat kini Lovi berada di mobil. Grizelle dan Auristella berada di kedua sisi tubuh Lovi.


"Mumu,"


"Hai, Aunty. Mau kemana itu?"


"Mumu mau kemana?"


Keduanya, Auristella dan Grizelle mengeluarkan pertanyaan secara bersamaan.


"Ke rumah sakit. Periksa kandungan, Sayang,"


"Oh, aku sudah di jalan ke rrlumah Grrlandpa (rumah Grandpa), Mu,"


"Oh iya, hati-hati,"


"Aunty juga hati-hati ya,"


Terdengar suara Adrian yang berpesan begitu pada Lovi. Vanilla bisa melihat Andrean dan Adrian duduk di kursi belakang.


"Iya, doakan semoga kandungan Aunty baik-baik saja,"


"Iya, Aunty. Pasti baik-baik saja,"


"Ini periksa pertama setelah keluar dari rumah sakit ya, Van?"


"Iya, Lovi,"

__ADS_1


"Kamu diantar Jhico ke rumah sakit?"


"Iya,"


Vanilla mengarahkan sebentar kameranya pada sang suami yang tengah mengemudi.


"Ya sudah, aku tenang kalau begitu. Baik-baik ya,"


"Iya, terimakasih, Lovi,"


"Bye, Mumu,"


Vanilla melambai pada anaknya yang kembali menimbulkan wajah seraya melambai padanya. Panggilan Ia matikan. Ia menoleh pada Jhico.


"Griz sepertinya senang sekali bisa bersama dengan mereka ya. Layaknya berlibur saja,"


"Mereka dekat sekali. Pasti senang kalau sudah bersama-sama,"


"Oh iya, nanti malam Papa mau ke rumah. Entah jadi atau tidak,"


Jhico menoleh singkat padanya seraya bertanya, "Kenapa?"


"Mengantar berkas-berkas playground. Papa tidak menerima penolakan kita, Jhi. Papa mau kita yang memegang kendali itu,"


Jhico menghela bahunya pasrah. Kalau ayah mertuanya sudah berjata seperti itu, Ia harus bagaimana selain menyetujui. Grizelle kembali dijadikan prioritas sehingga mereka tidak diizinkan untuk mengatakan tidak.


"Dimana buaya nya?"


"Kita masuk dulu,"


Grizelle bingung kenapa Auristella langsung bertanya seperti itu begitu tiba di depan gerbang rumah kakek mereka. Tidak akan ada buaya di depan rumah. Yang benar saja Auristella ini. Grizelle sampak tak habis pikir.


"Aku tidak sabar melihatnya,"


"Di dalam, Aurrlis. Tidak mungkin dia diletakkan di depan rumah 'kan? kita masuk dulu,"


Gerbang terbuka dan mobil yang membawa mereka masuk ke palataran istana Raihan dan istrinya, Rena.


"Ayo, kita turun,"


Lovi mengajak keempat anak yang Ia bawa saat ini agar keluar dari mobil.


Grizelle mengikuti jejak Adrian yang melompat dari mobil. Alhasil Adrian mendapat peringatan dari Mommynya.


"Beri contoh yang baik. Kalau kamu seperti itu, Grizelle pasti akan mengikuti,"


Adrian tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang bersih dan kecil.


"Sayang,"

__ADS_1


Rena menyambut mereka begitu menginjakkan kaki di marmer mahal rumahnya.


"Grandma,"


Keempatnya memeluk Rena bersamaan. Lovi yang melihatnya tersenyum hangat. Bersyukur sekali ia bisa melihat pemandangan itu.


"Ayo silahkan masuk cucu-cucunya Grandma. Oh iya, sebelum kalian bertanya kemana Grandpa? kebetulan Grandpa belum pulang mungkin sebentar lagi sampai di rumah,"


Meja makan keluarga mereka memang tak pernah benar-benar kosong. Selalu saja hidangan hingga siapapun tamu yang datang tanpa bicara sebelumnya pun tetap akan terjamin penjamuannya.


"Mau makan apa kira-kira?"


"Sudah makan di rumah, Ma. Mereka ke sini sudah tidak sabaran mau bermain dan melihat binatang-binatang,"


"Oh itu di daerah belakang, Sayang. Nanti saja lah lihat binatangnya, tunggu Grandpa. Sekarang kita mengobrol dulu,"


Rena sudah benar-benar rindu apalagi dengan triple A yang habis meninggalkannya cukup lama. Tapi dengan Grizelle pun tak kalah besar rasa rindunya.


"Devan tidak ke sini ya? huh anak itu. Jarang sekali datang ke rumah orangtuanya,"


Lovi terkekeh meminta maaf kemudian menjelaskan, "Maaf ya, Ma. Memang kelihatannya Ia sibuk sekali setelah pulang."


"Ah dia memang selalu sibuk. Apa tidak rindu dengan Mamanya ya? Vanilla juga begitu. Kalau datang ke sini pasti selalu dengan Grizelle. Inginnya Mama tanpa anak pun, tidak masalah datang ke sini sering-sering,"


"Nanti aku suruh Devan sering ke sini, Ma. Tapi dia tetap saja jarang mau kalau tidak bersama anak-anaknya,"


"Iya, sama saja dengan Vanilla. Heran, padahal sesekali Mama juga ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak Mama tanpa cucu," Rena mengerling pada Lovi,menantu perempuannya yang begitu tulus mencintai putranya itu. Diperlakukan sangat buruk oleh Devan tak menjadikan Lovi menyerah dalam hubungan mereka dan Rena benar-benar dibuat salit dari dulu sampai sekarang terkadang tak habis pikir dengan besarnya ketulusan, kesabaran, dan segala sifat baik yang dimiliki Lovi.


Sama halnya dengan Jhico. Lelaki itu juga tidak mudah menjalani pernikahan dengan Vanilla. Sejak awal Ia tak goyah sedikitpun untuk menikahi Vanilla sekalipun Vanilla memiliki kekurangan akibat matanya yang tak bisa melihat. Jhico mendampingi sampai akhirnya Vanilla bisa kembali mendapatkan apa yang pernah hilang dalam dirinya yaitu penglihatan. Di awal pernikahan pun Vanilla sulit sekali menghargai Jhico. Vanilla tak mencintai Jhico namun Jhico dengan besar hati memahami bahwa semua butuh proses begitu pula dengan hati seseorang yang perlu waktu dan berproses ketika ingin melabuhkan hatinya pada cinta yang menurutnya paling sempurna.


Rena bersyukur kedua anaknya mendapatkan pasangan yang memiliki hati seluas samudra. Bisa menerima kekurangan putra dan putrinya dengan hati yang tulus. Dan yang Ia pinta setiap berdoa adalah mereka selalu seperti itu sampai akhir.


"Kamu tidak bawa apapun dari pergi?" tanya Rena pada Andrean yang sedari tadi diam saja seperti biasa tak antusias menceritakan tentang kepergiannya beberapa bulan karena perjalanan bisnis sang ayah.


"Astaga aku lupa. Ada, Ma,"


Lovi lupa minta tolong pada seseorang untuk mengeluarkan buah tangannya dari dalam bagasi mobil.


"Oh ternyata ada ya. Padahal Mama hanya bercanda saja dengan Ean tadi,"


"Benar ada, Grandma. Tenang saja. Kalau Mommy membelikan Grandpa dan Grandma baju dan yang lainnya tentang fashion. Kalau aku, Ean, dan Auris membawakan makanan saja untuk Grandma,"


Adrian mengeluarkan buah tangan khusus makanan dari tempat yang berbeda dengan baju celana atau sepatu yang dibelikan Lovi untuk Rena dan Raihan.


"Untuk Icelle mana?"


"Untuk Icelle diberikannya nanti kalau dia sudah mau pulang. Tapi dia sudah minum ice cream dan makan cokelat sepuasnya, Grandma. Tenang saja. Tinggal buah tangan yang lainnya saja yang belum. Lagipula Icelle tidak antusias kalau barang-barang sejenis ini. Kecuali cokelat dan ice cream. Ughh dia antusias sekali,"


Grizelle menatap sengit ke arah Adrian yang bercerita panjang lebar tentangnya.

__ADS_1


__ADS_2