
Vanilla mendengus dan Ia mencubit perut Jhico yang keras itu. Jhico tak meringis sakit, Ia hanya mengusap area yang menjadi korban Vanilla tadi.
"Aku tidak bisa membalas kalau begitu caranya, karena aku takut menyakiti kamu. Seharusnya kamu berikan aku ciuman, kalau itu aku bisa balas,"
Vanilla menutup telinganya, tak ingin mendengar suaminya beribisik. Ia benar-benar kesal karena keinginannya tidak dipenuhi.
****
Malam ini Karina dan Thanatan menghabiskan waktu terakhir di Italia sebelum besok lepas landas kembali ke negara asal.
Perjalanan bisnis mereka telah usai, besok harus kembali bekerja dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Karina sibuk dengan usaha fashion miliknya, sementara Thanatan sibuk dengan banyaknya bisnis properti.
Mereka sedang mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli buah tangan. Pandangan Karina terfokus pada baju anak perempuan yang sangat menggemaskan modelnya. Sebenarnya baju kecil itu hanya bisa dipakai saat dingin karena bahannya terbuat dari bulu-bulu yang begitu lebat. Model penutup kepalanya yang seperti kelinci menambah kecintaan Karina pada baju itu.
"Baju yang itu lucu sekali. Aku mau membelinya,"
"Untuk siapa?"
"Untuk cucuku nanti,"
"Memang perempuan? jangan menebak-nebak!" cibir suaminya yang tak diacuhkan Karina. Ibu satu anak itu segera memasukkan baju yang disukainya ke dalam troli belanja yang di dorongnya.
Thanatan yang melihat istrinya seperti itu lantas mengembalikan baju tersebut. "Anak Jhico belum tentu perempuan!"
"Apa salahnya membeli? kalau perempuan, itu buat dia."
"Kalau laki-laki bagaimana?"
"Mudah, nanti cari lagi yang lain. Kalau perlu sekarang juga aku beli buat yang laki-laki,"
Thanatan bersikeras, Ia mengindahkan panggilan istrinya yang melarang Ia untuk mengembalikan baju cantik itu.
Karina menghampiri Thanatan dan merebutnya kembali. Thanatan menatapnya marah.
"Silahkan kamu beli yang untuk laki-laki saja. Itu kembalikan!"
"Apa salahnya sih?!"
"Salah! karena itu sama saja kamu berharap dia terlahir sebagai perempuan sementara aku ingin anak Jhico berjenis kelamin laki-laki,"
"Aku menginginkan keduanya. Apapun yang diberikan Tuhan, aku turut senang dan pasti menerimanya,"
"Aku tidak menginginkan keduanya. Aku hanya ingin dia terlahir sebagai laki-laki,"
Karina menggeleng tak habis pikir. Ia segera pergi dari hadapan suaminya yang terlalu menginginkan cucu laki-laki hingga terlihat seperti tidak memiliki otak. Memang jenis kelamin bisa diatur? Itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Dan entah perempuan atau laki-laki yang akan terlahir nanti, sudah sepatutnya mereka terima dengan kebahagiaan yang luar biasa.
Karina menjelajahi bagian yang menampilkan banyak baju anak laki-laki dan seperti katanya tadi, Ia akan membeli salah satunya.
__ADS_1
***
Vanilla sudah mengabari Deni bahwa di pemotretan selanjutnya Vanilla sudah bisa menjadi modelnya.
Dan menurut Deni, siang ini akan ada pemotretan untuk produk keluaran lama namun restock kembali. Dan Deni ingin memakai foto yang baru walaupun barang tersebut keluar sudah satu bulan yang lalu.
Tanpa menunggu waktu lama, Vanilla segera beranjak ke studio foto. Jane dan Joana sudah menunggu di sana.
Ia mengendarai mobil tanpa sepengetahuan Jhico. Suaminya melarang, dan mengatakan bila Ia ada keperluan yang mengharuskan Ia keluar rumah, segera katakan melalui telepon biar dia sendiri yang mengantar Vanilla. Tadi Vanilla sudah menghubungi suaminya tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya Jhico sedang sibuk di klinik.
Tanpa memoles wajah sedikitpun karena ia malas, Vanilla datang ke studio dengan pakaian casual nya. Meskipun hamil Ia tetap tampil fashionable seperti jati dirinya selama ini.
Deni, Joana, Keynie, dan Jane menyambutnya dengan hangat. Mereka semua memberikan pelukan sebagai ungkapan rasa bahagia mereka karena Vanilla sudah bisa bergabung dengan mereka lagi.
"Berapa usia kandunganmu, Key?"
"Dua belas minggu,"
"Wow tidak terasa ya,"
"Kamu sendiri?"
"Enam minggu," jawab Vanilla seraya mengusap perutnya yang masih belum menampilkan baby bump.
"Kamu istirahat total sudah lama juga ya,"
"Iya, kurang lebih satu bulan,"
Joana ikut bicara di tengah kedua Ibu hamil itu. "Tiga kali Vanilla absen,"Deni yang menjawabnya.
"Sedikit sekali?"
"Ya, memang bulan kemarin hanya pemotretan tiga kali,"
Vanilla mengangguk pelan. Ia memperhatikan set foto yang sudah hampir jadi. Ia belum make up dan berganti baju. Saat Ia akan bangkit, Deni berucap,
"Aku juga membuat bisnis baru yang bergerak dibidang kecantikan. Akan ada body lotion, body scrub, dan facial wash. Kamu tertarik untuk menjadi brand ambassador nya , Van?"
"Milikmu?"
"Dan Keynie juga,"
"Wow pasangan pengusaha yang so sweet sekali kalian. Bekerja bersama-sama,"
Kalimat Vanilla membuat Keynie senang. Ia juga terkejut saat Deni mengatakan hal itu beberapa hari menjelang launching produk. Deni mengatakan bahwa mereka bekerja sama untuk membangun bisnis produk-produk untuk perawatan tubuh itu. Nama brand juga gabungan dari mereka berdua. Entah apa alasan Deni mengajak istrinya untuk turut serta terjun ke dunia bisnis. Tetapi yang jelas, Keynie senang karena selama hamil Ia jadi ada kegiatan. Deni tak mengizinkan dirinya memantau secara langsung bisnis yang tengah berjalan, Ia hanya melakukannya dari rumah melalui telepon.
"Aku mau, tapi produk sudah launching?"
__ADS_1
"Sudah, dan aku rasa kamu adalah orang yang tepat untuk menarik minat mereka agar membeli produk yang baru release itu,"
Vanilla menjawab tanpa pikir panjang. Ia menoleh saat sikunya didorong oleh lengan Jane.
"Kamu belum minta persetujuan dari Jhico. Jangan mengambil keputusan sendiri,"
Kalau pekerjaan Vanilla bertambah, artinya kegiatan pun bertambah sementara yang Jane tahu Vanilla tidak boleh terlalu kelelahan.
"Jhico pasti setuju,"
Jane berdecak malas melihat sikap sepupunya yang selalu seperti ini. Ia sudah menikah tapi kerap sekali memutuskan sesuatu sendiri. Seperti tidak menghargai Jhico sebagai suami. Mereka sudah menikah, artinya tidak ada lagi kehidupan independen. Semua harus berjalan dengan campur tangan berupa dukungan satu sama lain.
"Hari ini aku tidak foto bersama Ganadian?"
"Tidak, hanya dengan Aurora,"
Mendengar nama Aurora disebut, tiba-tiba Vanilla badmood. Ia jadi ingat saat dimana Ia melihat Aurora sangat akrab dengan suaminya. Sampai cek kesehatan saja ke klinik Jhico. Memang tidak ada yang salah karena tujuan berdirinya klinik adalah melayani kesehatan masyarakat tetapi kenapa Ia datang ke klinik Jhico sementara yang Ia tahu apartemen Aurora lumayan jauh jaraknya dari klinik Jhico. Memang tidak ada fasilitas kesehatan lain di dekat apartemen nya? pikiran-pikiran buruk itulah yang pernah melekat diotak Vanilla setelah mendapati Aurora berkunjung ke klinik suaminya.
"Dimana dia?"
"Belum datang. Mungkin sebentar lagi,"
***
"Dokter, istirahat saja dulu. Bergantian denganku,"
Jhico mengangguk pada Dokter Kenzo yang sudah sebulan bekerja di kliniknya, membantu Jhico dalam menangani pasien yang berobat di klinik Jhico.
Hari ini ada dua korban kecelakaan yang dibawa ke klinik tapi harus dirujuk karena ada bagian yang harus diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui kerusakannya. Pasien-pasien dengan keluhan lain juga banyak yang datang sehingga Jhico merasa lelah padahal ini masih tengah hari.
"Aku mau makan siang dulu,"
"Di luar?"
"Ya, kau mau menitip sesuatu?" tanya Jhico pada Kenzo. Rekannya itu menggeleng.
"Memang istrimu tidak menyiapkan makan siang untukmu?"
Saat kondisi Vanilla tidak berbadan dua saja Ia jarang sekali membiarkan Vanilla memasak, apalagi saat ini istrinya itu tengah mengandung. Ia begitu membatasi kegiatan Vanilla.
"Aku tidak mau Vanilla masak. Selain karena dia tidak bisa, aku tidak mau dia kelelahan. Selagi aku bisa melakukannya sendiri, maka akan aku lakukan sendiri,"
"Kau seperti single kalau begitu,"
"Iya, aku hanya tidak ingin memaksakan istriku. Dia masih belajar menjadi istri yang baik,"
-------
__ADS_1
Mampir di lapak triple A yaa. Terima kasih semuanya. Kusayang kalian😚