
Grizelle menatap dua kuteks di tangannya lalu beralih pada Vanilla. "Mu, boleh beli dua?"
"Boleh, Sayang. Lebih dari dua juga boleh,"
"Tidak, ini sudah cukup, Mu. Nanti beli lagi lain waktu,"
"Mumu lupa kamu itu anak yang hemat,"
"Nanti mau beli make up juga,"
Grizelle beranjak mencari make up diikuti oleh Mumu nya. Dari mulai lisptick, blush on, eye shadow dan lain-lain, ditawarkan oleh Vanilla seperti Vanilla yang menjadi penjualnya. Tapi Grizelle hanya mengambil lipstik saja.
"Katanya ingin mengoleksi, Griz. "
"Iya, tapi belinya satu-satu, Mu. Nanti lain waktu, beli lagi."
Vanilla menatap barang-barang yang dibeli anaknya. Hanya tiga saja. Padahal Ia tahu Grizelle sangat ingin memiliki berbagai jenis make up tapi anak itu lebih memilih untuk mengoleksinya secara bertahap, tidak beli sekaligus.
"Benar hanya itu saja?"
"Benal (benar), Mu. Ini sudah cukup. Mumu menabung uang lagi, nanti aku minta lagi,"
Vanilla terkekeh kecil sembari mengusap rambut anaknya yang hari ini dibiarkan tergerai.
"Ini tidak seberapa, Griz."
"Tapi yang namanya belanja, pasti menggunakan uang, Mu. Nanti uang Mumu habis,"
"Tinggal minta pada Pupu,"
Vanilla menjentikkan jarinya. Jhico tidak pernah perhitungan pada siapapun. Apalagi untuk anak dan istrinya. Ia bekerja untuk mereka berdua. Jadi, hasil yang Ia peroleh pasti dipersembahkan nya untuk Vanilla dan Grizelle.
"Nanti kamu diejek-ejek oleh Auris karena koleksinya sedikit,"
"Nanti lama-lama banyak, Mu. Tenang saja,"
Grizelle mengikuti langkah kaki sang ibu untuk membayar semua belanjaan Grizelle yang sangat sedikit itu.
"Tadi semangat sekali ingin berburu alat make up dan kuteks. Ternyata yang dibeli hanya ini saja," ujar Vanilla menatap kuteks dan lipstik yang dibeli anaknya itu.
Ia kira Grizelle semangat karena ingin belanja sesuka hatinya. Ternyata tidak seperti itu.
"Aku senang kalena (karena) mau quality time dengan Mumu,"
"Kita sering jalan berdua, Griz."
"Ya, tapi sepeltinya akhil-akhil (sepertinya akhir-akhir) ini jalang (jarang), Mu."
__ADS_1
"Mumu sesibuk itu?"
Grizelle mengangkat bahunya. Ingin menjawab "ya" tapi Ia tidak ingin membuat Vanilla merasa bersalah. Ia tahu bahwa apa yang dilakukan Vanilla memang penting bagi Vanilla. Bekerja adalah keinginan Vanilla.
******
Salah satu teman Vanilla malam ini mengadakan pesta pernikahan. Ia terpaksa berangkat sendiri ke pesta itu karena anaknya yang sedang berada di klinik sang ayah belum bisa pulang sebab ayahnya masih sibuk mengurus pasien. Jhico tidak mau membiarkan anaknya pulang hanya dengan driver karena ini sudah malam.
Akhirnya Ia meminta Vanilla untuk pergi sendiri ke pesta itu walaupun tak bisa dipungkiri baik Jhico maupun Grizelle ingin sekali menemani Vanilla. Jhico juga tentu merasa khawatir dengan istrinya. Tapi beruntung ada Joana yang bisa menjadi teman Vanilla.
"Kalau tahu Pupu akan banyak pasien malam ini, lebih baik setelah pulang sekolah tadi aku langsung ke lumah (rumah) saja supaya malam ini bisa ikut belsama (bersama) Mumu ke pesta," gumam Grizelle sedikit kecewa karena Ia tidak bisa menemani Mumunya, Ia hanya diam di klinik, menunggu Pupunya selesai bertugas.
Saat Jhico menjemputnya yang baru pulang sekolah, Ia tidak ingin diantar ke rumah, melainkan ke klinik ingin menemani Jhico bekerja karena di rumah pun tidak ada Vanilla, Vanilla bekerja berangkat pagi tadi setelah memasak dan Vanilla mengatakan akan pulang sore.
"Griz, mau menjadi lawanku di game ini?"
Salah satu perawat tahu bahwa suasana hati Grizelle sedang kurang baik. Akhirnya Ia memanggil Grizelle dan mengajaknya bermain game di komputer.
"Memang sustel (suster) tidak sibuk?"
"Sudah ada yang bertugas. Kali ini aku ingin menemani kamu,"
"Nanti dimalahi (dimarahi) Pupu tidak?"
"Pupu Griz tidak pernah marah,"
Sebenarnya Ia baru saja lepas tugas. Tapi melihat Grizele yang diam saja dengan wajah bingung, sedih, bercampur aduk, akhirnya Ia memilih untuk menunda kepulangannya dan mengajak anak itu bermain.
*********
Vanilla menggunakan midi dress dan membawa clutch di tangannya. Ia sudah menunggu Joana di depan pekarangan rumahnya.
"Van, tidak mau diantar saja?"
"Tidak usah, Mr Joe. Aku akan pergi dengan Joana,"
"Baiklah, hati-hati ya,"
"Iya, terimakasih, Mr Joe,"
Vanilla menolak diantar oleh driver karena Ia sudah sepakat ingin berangkat bersama dengan Joana.
Tidak lama Ia menunggu, Joana datang dengan mobilnya yang baru ganti setahun lalu karena usaha waffle Ibunya yang semakin lama kian menjulang berkat dirinya juga yang dengan senang hati membantu, menjadi pengantar pesanan waffle sembari menjadi asisten pribadi Vanilla ketika bekerja.
"Sayang sekali si cantik Griz tidak ikut ya,"
"Iya, Pupunya sudah mengatakan bahwa Ia di klinik saja. Ya sudah, dia tidak akan membantah. Paling hanya sedikit cemberut," ujar Vanilla seraya tersenyum membayangkan anaknya sekarang. Jhico mungkin merasa lebih tenang kalau Grizelle bersama nya saja di klinik, menemaninya sampai selesai bekerja.
__ADS_1
"Ini sudah malam juga, Van. Mungkin Jhico khawatir. Dia mengizinkan kamu karena memang kamu harus hadir. Sementara Grizelle 'kan tidak ada kepentingan apapun,"
"Iya, aku pikir juga begitu,"
Yang saat ini menikah adalah rekan kerja Vanilla yang sudah cukup dekat juga dengan Vanilla. Oleh sebab itu Jhico tidak ingin Vanilla absen dari undangan meskipun sedikit berat juga membiarkan Vanilla hanya pergi sendiri malam ini.
*******
"Pu, masih lama kah?"
Grizelle mulai bosan bermain game bersama salah satu perawat. Akhirnya Ia memilih untuk menghampiri Jhico di ruangannya setelah satu pasien selesai diperiksa. Ia melihat tidak ada lagi yang ditangani Jhico. Oleh sebab itu Ia mendekati Pupunya.
"Sebentar lagi kita pulang,"
"Setelah itu kita pelgi (pergi) ke pesta ya, Pu?"
"Iya, kalau kita sampai di rumah, Mumu belum pulang, kita susul. Asal Griz tidak lelah,"
"Tidak, aku tidak lelah. Aku ingin menyusul Mumu,"
Jhico mengangguk dan meraih anaknya ke atas pangkuan. Bila Ia lelah, hanya dengan memeluk Grizelle dan Vanilla saja rasanya semua lelah itu hilang.
"Pupu baik-baik saja?"
"Ya, memang kenapa?"
"Sepertinya kelelahan sekali,"
"Kamu tahu sejak tadi banyak orang yang harus Pupu bantu,"
"Kalau aku bisa, sejak tadi aku sudah tulun (turun) tangan, Pu. Sayangnya aku tidak bisa,"
Grizelle yang sedang duduk menghadap meja Jhico bicara sambil memainkan bolpoin yang ada di atas meja lalu meraih bingkai kecil dimana ada fotonya dan Vanilla.
"Kira-kira sekarang Mumu sedang apa ya di pesta itu," gumam nya seraya mengusap bingkai dan menatap dalam-dalam foto Vanilla.
"Mengobrol dengan teman-temannya," jawab Jhico.
"Teman-teman Mumu yang pelempuan (perempuan) atau laki-laki?"
Jhico terkekeh mendengar ucapan anaknya yang semakin beranjak besar kian menunjukkan sikap posesif nya entah itu terhadap dirinya atau Vanilla. Ia pulang larut saja pasti banyak pertanyaan dari Grizelle yang terkadang menunggu kedatangannya bersama Vanilla.
"Kalau laki-laki memang kenapa? hanya teman,"
"Tidak apa, aku hanya ingin tahu saja. Makanya aku ingin menyusul Mumu,"
--------
__ADS_1
Haiiii maaf yaa baru up lg :( ada yg kangeun akyu? eh maksudnya kangeuuun Icelle si gemezzz?