Nillaku

Nillaku
Nillaku 315 Vanilla dan Jhico merasa sepi malam ini


__ADS_3

Vanilla dan Jhico benar-benar menikmati waktu mereka tanpa kehadiran Grizelle.


Mereka berdua hanya menyusuri jalan menggunakan mobil dengan kecepatan yang rendah. Sebab mereka juga tak ada tujuan selain menikmati suasana malam.


"Sepi kalau tidak ada Icelle ya,"


Vanilla mengangguk setuju mendengar penuturan suaminya. Tak ada kehadiran Grizelle membuat situasi ditengah mereka terasa berbeda. Walapun jadi lebih intim atau romantis, tapi tetap saja ada yang hilang bila mereka tanpa Grizelle.


Vanilla tiba-tiba saja membaringkan kepalanya di bahu sang suami. Seraya fokus menyetir, Jhico melingkarkan salah satu tangannya yang terbebas dari stir di bahu sang istri dan mengusap pipi Vanilla tanpa mengalihkan pandangan sama sekali dari jalanan.


"Pulang saja? kamu mengantuk?"


Vanilla mengangguk pelan. Mereka sudah makan malam di sebuah restaurant tadi. Dan sekarang Vanilla mulai merasakan kantuk. Padahal sebelumnya begitu antusias dan akan berencana pergi dengan Jhico sampai tengah malam. Tapi Ia rasa matanya tak bisa diajak kerja sama lagi.


"Ya sudah, kita pulang ya?"


"Pulang kemana?"


"Ke rumah, Nilla. Memang kemana lagi?"


"Oh aku kira ke hotel,"


Jhico tertawa mendengarnya. Vanilla sedang mengajaknya bercanda buktinya Vanilla juga tertawa kecil ketika mengatakannya. Jhico mencubit gemas pipi istrinya.


"Mau ke sana saja?"


"Tidak menolak,"


Kali ini Jhico bingung istrinya serius atau tidak karena jawaban Vanilla terdengar serius.


"Benar, Nilla? ayo, kalau kamu mau. Kita bermalam di tempat yang suasananya berbeda,"


"Ayo, aku tidak keberatan,"


Sebelumnya Jhico dan Vanilla tidak memiliki rencana untuk bermalam di hotel.


Ini benar-benar gagasan yang tak disangka akan terpikirkan oleh mereka berdua.


"Kita perlu juga mencari suasana yang berbeda, Nilla,"


"Iya, pilihan yang tepat untuk menginap di hotel,"


"Hanya semalam?" tanya Jhico pada istrinya. Meminta pendapat Vanilla yang memang kelihatan sekali ingin menginap di luar rumah mereka.


"Terserah padamu," Vanilla menyerahkan semua keputusan pada suaminya. Kalau bertanya padanya, maka Ia akan menjawab satu minggu. Tapi tidak mungkin 'kan? karena Grizelle membutuhkan mereka dan lagipula Grizelle hanya tiga hari di rumah sepupunya. Bagainana reaksi anak itu kalau tahu Ibu dan ayahnya memilih untuk berdiam di hotel saja bukan di rumah?


Tapi tentu itu tidak akan terjadi sebab kalaupun satu minggu di hotel, Vanilla akan mengajak serta putrinya. Tak mungkin Ia membiarkan Grizelle di rumah tanpa kedua orangtuanya.


"Kamu saja yang memutuskan. Aku rasa kamu yang sangat perlu ketenangan di suasana yang berbeda, Nilla,"

__ADS_1


"Ya sudah, semalam saja cukup,"


"Hanya semalam?"


Vanilla mengangguk dan ia menjelaskan alasannya, "Di rumah saja aku merasa kesepian karena tak ada Griz padahal masih ada asisten di rumah. Sementara di hotel hanya kita berdua saja. Itupun saat pagi kamu harus pergi bekerja. Aku tidak ada teman mengobrol nanti. Kalau di rumah, ada Nada, Bibi, Ariella yang bisa menjadi temanku,"


Jhico mengangguk pelan. Apa yang dikatakan Istrinya memang benar. Mereka tak perlu berlama-lama ada di hotel. Cukup semalam saja yang terpenting sudah mendapat ketenangan dalam satu malam ini.


Jhico mencari hotel yang tak jauh dari posisi mereka saat ini kemudian akan bermalam di sana. Beristirahat dengan tenang walaupun tak bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang putri mereka yang malam ini berjarak dengan keduanya.


****


"Daddy kenapa tidak bekerja di ruang kerja saja?"


"Inginnya di kamar, memang kenapa?"


"Aku ingin menonton dengan volume besar, nanti mengganggu Daddy,"


"Bukannya istirahat malah menonton,"


"Sebentar saja, Dad,"


Adrian membujuk ayahnya agar tidak mempermasalahkan dirinya yang ingin menonton televisi saat ini.


"Ya sudah, menonton lah,"


"Tapi Daddy tidak terganggu?"


"Ya sudah, Daddy di ruang kerja saja ya?"


Devan mengangkat kepalanya yang sedari tadi fokus menatap layar latop kemudian menatap anaknya dengan alis bertaut.


"Jangan mengusir Daddy ya, Ian," ujarnya dengan tegas dan itu membuat Adrian tersenyum meringis.


"Maaf, Dad. Aku tidak bermaksud mengusir Daddy. Hanya saja aku takut mengganggu Daddy. Ya sudah, aku menonton saja,"


Devan mengangguk membiarkan anaknya menyalakan televisi sementara Ia kembli berkutat dengan pekerjaannya di sofa yang terletak di sudut kmar.


Lovi memasuki kamar dengan kamera anaknya di tangan. Ia duduk di sofa yang sama dengan Devan namun berjarak. Ia dan Devan sama-sama berada di kedua ujung sofa.


Lovi duduk dengan tenang, melihat-lihat kembali foto anak dan keponkannya. Ia ingin menyimpan semuanya di ponsel tapi sepertinya terlalu banyak. Auristella dan Grizelle seniat itu mengambil gambar mereka berdua. 


"Kamu sedang apa?" tanya Devan melirik istrinya sesaat. Lovi menaikkan alisnya menatap Devan, "Lihat hasil foto Icelle dan Auris,"


Devan menganggukan kepalanya. Rasa pensarannya sudah terjawab maka Ia kembali fokus.


"Bagus hasilnya, Mom?"


"Bagus semua, Ian. Kamu mu lihat?" tawarnya pada sang putra.

__ADS_1


"Tidak, kepalaku akan pusing karena terlalu banyak,"


"Tahu banyak darimana?"


"Biasanya Auris kalau foto begitu, Mom. Tapi Mommy juga,"


Lovi mendengus saat anaknya dengan terang-terangan sedang menyindirnya.


"Perempuan memang rata-rata begitu,"


Lovi memukul lengan suaminya saat ikut berbicara mendukung penuturan Adrian.


"Kalau berfoto itu harus benar-benar maksimal hasilnya, maka membutuhkan waktu lama,"


"Iya-iya, aku mengerti, Lov," tak ingin berdebat dengan istrinya yang jelas tersinggung ketika Ia bicara seperti tadi. Padahal apa yang Ia ucapkan memang benar adanya. Auristella maupun Lovi kalau foto memang lama. Maka Devan berpikir sebagian besar wanita seperti mereka berdua yang membutuhkan waktu lama kalau foto.


Beberapa menit Devan fokus dengan pekerjaannya, Devan beringsut mendekati istrinya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lovi dan ikut melihat-lihat gambar Auristella dan Grizelle.


"Kamu mengantuk? tidur lah," Lovi sedikit menggerakkan bahunya dimana kepala sang suami berbaring.


"Belum, masih belum selesai," Ia menunjuk laptopnya.


"Ya sudah, selesaikan biar cepat istirahat,"


Devan menghembuskan napas pelan. Ia memejam sebentar sebelum akhirnya menegkkan tubuhnya.


"Istirahat, Devan. Jangan dipaksakan,"


"Daddy, tidurlah,"


Adrian ikut meminta ayahnya agar segera beristirahat. Ia bisa melihat Devan sudah penat sekali.


"Aku butuh americano satu mug,"


"Ck! jangan menahan kantuk dengan minuman kafein itu. Tidur, nanti kalau memang kamu terbangun, bisa dilanjutkan lagi pekerjaan itu,"


Devan ahirnya mengangguk. Sebenarnya Ia tidak mengantuk hanya saja terlena juga ketika diminta istirahat oleh istri dan anaknya. Tubuhnya sudah meronta agar rasa lelah yang menyerangnya segera disingkirkan.


Akhirnya Ia menutup laptop dan segala dokumennya. Kemudian beranjak ke ranjang. Ia memeluk Adrian dengan erat hingga anaknya itu meronta.


"Ya ampun, Dad. Aku bukan boneka yang bisa dipeluk seperti ini," keluhnya sangat merasa tidak terima ketika ayahnya memeluk erat sekali.


Devan terkekeh melepaskan pelukannya. Ia mencium kepala anaknya sebelum memejamkan mata.


"Ean dimana?" tanya Lovi pada anak keduanya.


"Sudah tidur sepertinya, Mom,"


"Kamu kenapa belum tidur?"

__ADS_1


"Nanti saja,"


"Lima menit lagi masuk ke kamar dan tidur ya," tegas Lovi yang diangguki oleh anak laki-lakinya yang nomor dua itu.


__ADS_2