Nillaku

Nillaku
Nillaku 342 Cita-cita Grizelle banyak


__ADS_3

"Hallo, semuanya,"


Grizelle menyapa para asisten atau maid yang sedang bertugas di dapur. Anak itu masuk ke sana tentu langsung mendapat pertanyaan.


"Grizelle butuh apa?"


"Aku mau minum airrl (air) yang dingin,"


"Masih pagi, memang tidak apa?"


Mereka takut kalau memberikan Grizelle air minum dingin pagi-pagi seperti ini. Grizelle sudah siap ke sekolahnya dengan pakaian rapi nanti kalau sampai sekolah terjadi sesuatu karena minum air yang dingin, nasib mereka bisa bahaya di rumah ini. Grizelle, cucu satu-satunya keluarga ini.


"Tidak ap--"


"Tidak boleh. Akan Nay-Nay buatkan susu. Sebentar ya,"


Grizelle melipat bibirnya ke dalam. Ia mengeluh dalam hati, "Ya ampun, waktunya kurrlang (kurang) tepat. Padahal aku ingin sekali minum yang dingin-dingin pagi ini,"


Karina meminta cucunya untuk menunggu di meja makan. Karina akan menyiapkan sarapan serta susu untuk cucunya. Sarapan untuk suaminya juga. Ia tinggal menyiapkan ke dalam piring sebab sudah dimasak oleh maid nya yang bertanggung jawab pada masakan di rumah ini.


Grizelle memilih untuk ke kamar Kakeknya saja, dimana Ia tidur semalam. Nanti kalau makanannya sudah siap, pasti Ia akan dipanggil oleh neneknya.


"Kakek, aku mau sekolah," lapor anak itu dengan menggemaskan. Thanatan mengangguk. Lelaki itu kini tengah dikompres. Sebab demamnya hanya turun sedikit. Maka Karina memutuskan untuk mengompresnya selain minum obat nanti setelah sarapan.


"Diantar Pupu?" tanya kakeknya penasaran. Maksudnya, kalau tidak ada yang mengantar Grizelle, ada driver yang bisa dimintai tolong untuk membawa anak itu ke sekolahnya.


"Belum tahu,"


"Diantar driver,"


"Iya, Kakek,"


Grizelle menurut saja. Yang penting Ia bisa sekolah. Diantar siapapun tidak masalah. Semalam ayah maupun ibunya tidak mengatakan apapun mengenai rencana siapa yang akan mengantar Grizelle ke sekolah. Maka Grizelle menjawab kakeknya dengan kalimat 'belum tahu'


"Dimana Nay-Nay?"


"Menyiapkan susu dan makan untuk kita," jawabnya.


Grizelle melangkah ke hadapan cermin untuk memastikan penampilannya.


"Aku sudah cantik 'kan, Kakek?"


Thanatan mengangguk saja. Grizelle yang tak dapat jawaban dari mulut pun menoleh pada kakeknya.


"Aku tidak cantik?"


"Cantik," kata Thanatan yang membuat Grizelle tersenyum.


"Tadi rrlambutku (rambutku) diikat Nay-Nay,"

__ADS_1


"Iya, Kakek melihatnya,"


Grizelle berbalik kembali me dekati Thanatan. Ia mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan pada Thanatan.


"Aku pakai pewarrlna (pewarna) kuku darrli (dari) Aurrlis,"


"Memang diizinkan oleh pihak sekolah?"


"Boleh, ini juga bisa hilang. Tinggal di usap-usap saja. Pasti hilang. Yang tidak boleh itu mengubah warrlna rrlambut (warna rambut) dan make up,"


"Tentu saja, Grizelle. Tidak ada ceritanya sekolah menggunakan make up dan rambut berwarna. Datang ke sekolah itu harus tampil rapi dan sederhana,"


"Padahal aku mau mewarrlnai rrlambut (mewarnai rambut) tapi tidak diizinkan Pupu juga,"


Thanatan mendengkus. Grizelle ini ada-ada saja. Sekecil dia mau mewarna rambut.


"Dan menggunakan make up?" tanya Thanatan. Grizelle menggeleng.


"Tidak, kalau pakai make up di rrlumah(rumah) saja untuk foto-foto seperrlti (seperti) waktu di rrlumah (rumah) Trrliple A,"


"Foto-foto? kamu sudah tertarik menjadi model seperti Mumu?"


Sepetinya belum pernah Thanatan dan Grizelle terlibat obrolan semacam ini. Tanpa sadar obrolan mereka kali ini mengalir begitu saja.


"Iya, aku photoshoot waktu menginap di rrlumah trrliple A (rumah triple A) Tidak photoshoot sungguhan tapi aku dan Aurrlis yang membuatnya,"


Thanatan terkekeh lirih mendengar cerita cucunya itu. Bisa-bisanya anak seusia mereka berimjinasi seolah melakukan sesi photoshoot.


"Bagus, kata Aunty Lovi kami berrldua (berdua) sama-sama cantik,"


"Mau jadi model?" tanya Thanatan karena Grizelle bwlum menjawab pertanyaan itu yang sudah Ia ajukan sebelumnya.


Grizelle mengendikan bahunya. "Belum tahu, Kakek," jawabnya jujur.


"Kenapa belum tahu? memang belum ada gambaran akan menjadi apa di masa depan nanti?"


"Aku mau jadi macam-macam. Terrlkadang (terkadang) aku mau jadi dokterrl (dokter), jadi model, jadi gurrlu (guru). Pokoknya cita-citaku banyak,"


Thanatan kembali tergelitik untuk tertawa. Grizelle benar-benar hiburan untuknya yang kini dalam kondisi lemah tidak berdaya.


Dan Grizelle juga senang bisa membuat Kakeknya tertawa sehingga Ia bisa melupakan rasa sakitnya.


"Jadi belum tahu cita-citanya yang pasti ingin mejadi apa?"


"Belum, Kakek. Aku masih bingung. Karrlena (karena) semuanya bagus dan hebat," puji Grizelle tanpa mau menjatuhkan profesi apapun. Ia kagum pada semua profesi tanpa terkecuali.


"Kalau jadi seperti Kakek, Grandpa, dan Uncle Devan, mau?"


"Oh yang punya kantorrl (kantor) ya, Kakek?"

__ADS_1


Thanatan mengangguk. Penuturan Grizelle tak salah juga meakipun itu dalam artian sempitnya. Mungkin Grizelle tidak mengerti bahwa tak hanya memiliki kantor, tapi mereka juga memiliki perusahaan sendiri.


"Hmm tidak. Terrllalu (terlalu) sibuk seperrltinya (sepertinya),"


"Semua pekerjaan itu memiliki kesibukan dan risiko masing-masing,"


Grizelle menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan kakeknya. Kalau yang Ia lihat Kakeknya sibuk sekali, Grandpa dan Uncle juga. Maka Ia menyama ratakan. Tapi bertanya juga dalam hati. Apa memang benar semua pengusaha seperti itu?


"Punya tanggung jawab yang besarrl (besar) ya,"


"Dokter juga, guru pun juga. Semuanya punya tanggung jawab masing-masing,"


Grizelle menganggukkan kepalanya. Pikirannya sedikit terbuka sehingga lebih luas. Ia tahu bahwa semuanya memang pasti punya risiko dan tanggung jawab masing-masing. Kesibukan pun sesuai dengan profesi yang diambil alih tapi yang jelas tetap sibuk.


"Sayang, ayo sarapan,"


"Okay, Nay-Nay,"


"Kakek mau aku sua--"


"Tidak usah. Kamu harus sekolah. Kamu sarapan saja, setelah itu pergi ke sekolah,"


Grizelle mengangguk setelah dititah seperti itu oleh kakeknya. Apa yang dikatakan Thantan benar adanya. Ia mungkin akan terlambat kalau menyuapi Thanatan dulu. Sementara dirinya sendiri juga belum sarapan.


"Griz makan sendiri ya? Nay-Nay mau suapi Kakek,"


"Aku bisa makan sendiri," tukas Thanatan menolak untuk diperlakuakn seperti iu pada istrinya. Ia masih bisa makan sendiri.


Grizelle dan Karina saja yang terlalu berlebihan mau menyuapinya. Padahal untuk sekedar makan, Ia masih ada kemampuan untuk melakukannya.


"Aku akan suapi kamu," tegas Karina. Grizelle sudah bergegas ke meja makan untuk menyantap sarapannya.


Sementara Karina menyelesaikan kewajibannya dulu sebagai seorang istri terhdap suaminya yang tengah dalam kondisi lemah.


"Lebih baik kamu makan. Setelah ini akan bekerja 'kan,"


"Tidak, aku tidak kemanapun hari ini,"


"Memang kenapa?"


"Suamiku sedang sakit. Lagipula tidak ada yang harus aku urus,"


*****


Jhico sudah siap untuk bekerja. Pakaiannya sudah rapi dan Ia pun sudah sarapan. Namun sebelum ke klinik, Ia ingin menjemput anaknya duku di rumah Kakek dan neneknya kemudian ia antar ke sekolahnya.


"Aku pergi ya,"


"Iya, hati-hati, Jhi. Katakan pada Griz aku tidak bisa menemuinya,"

__ADS_1


"Iya, Nilla. Nanti aku sampaikan. Kamu istirahat ya, biar sakit kepalamu hilang,"


Vanilla mengangguk tersenyum. Ia melepas kepergian suaminya setelah itu kembali lagi ke dakam kamarnya. Kepalanya memang sakit sampai tak bisa menemui anaknya pagi ini. Jhico juga tidak mengizinkan, Jhico menyuruhnya untuk diam di rumah dan beristirahat. Sebab Jhico khawatir pada kondisi Vanilla. Lagipula Jhico yakin anaknya akan memahami kondisi Mumunya. Justru Ia bisa kesal kalau Vanilla tetap bersikeras datang ke rumah Thanatan dan Karina untuk menemuinya dan mengantarnya ke sekolah seperti saat di rumah Lovi dan Devan.


__ADS_2