
Vanilla dihubungi oleh pihak sekolah Grizelle agar menjemput Grizelle yang keras kepala ingin mengikuti pelajaran olahraga dan akhirnya terjatuh lagi saat latihan keseimbangan berdiri di atas satu kaki.
Vanilla berusaha menekan kesabarannya menghadapi Grizelle ini. Padahal sejak pagi sudah mengatakan tidak ingin mengikuti materi olahraga dulu dan Vanilla pun sudah bicara pada pengajarnya. Ternyata Grizelle masih melakukannya.
Usai jatuh lagi, tentu saja Grizelle menangis. Luka yang kemarin belum sembuh, kini diperparah oleh dirinya sendiri.
Pihak sekolah juga sudah memaklumi kondisi Grizelle dan mengizinkan Grizelle untuk tidak mengikuti dulu. Tapi sepetinya karena Grizelle melihat seluruh temannya melakukan materi olahraga tersebut, maka Ia tidak ingin kalah. Ia menginginkan hal serupa.
Vanilla dua hari dibuat pening dengan tangis putrinya. Beruntung saat duhubungi oleh pihak sekolah, Ia tengah berada di cafe dekat sekolah Grizelle. Usai mengantar Grizelle, Vanilla singgah di sana. Dan Vanilla bisa tiba dengan cepat.
"Sudah, berhenti menangis,"
Vanilla mengusap-usap dada Grizelle yang kelihatan sesak sebab sulit mengendalikan tangisnya sendiri.
"Sakit, Mu,"
"Ya, jadi Mumu harus salahkan siapa?"
Vanilla tersenyum singkat pada anaknya, Ia tidak marah, tapi kepanikannya membuat Ia kesal memang. Ia kesal juga dengan sifat Grizelle lagi-lagi keras kepala dan sulit diatur.
Ponsel di dalam shoulder bag Vanilla berdering. "Tolong jawab panggilannya, Sayang,"
Grizelle mengeluarkan ponsel ibunya kemudian menjawab panggilan yang masuk.
"Siapa?"
"Pupu,"
"Griz yang bicara," suruh Vanilla pada anaknya.
"Tidak mau, Mumu saja,"
Vanilla segera meletakkan ponselnya ke atas pangkuan. Ia mengerti putrinya mungkin sedang tidak bisa bicara disela isakannya.
"Griz menangis. Dia tidak sekolah, Nilla?"
Jhico langsung bisa menebak anaknya menangis padahal Grizelle sudah berusaha menahannya.
"Iya, dia mengikuti materi olahraga hari ini lalu jatuh lagi. Aku dihubungi oleh pihak sekolah. Sudah diobati juga oleh mereka tapi mungkin masih terasa sakit,"
"Ya Tuhan, Griz...Sayang, kenapa masih olahraga? sudah tahu kondisinya tidak memungkinkan,"
Vanilla menoleh pada putrinya singkat. Ia mengusap rambut anaknya yang basah karena air mata dan juga bercampur dengan keringat.
"Parah tidak?"
"Tadi sudah dilihat dokter sekolahnya. Dokter mengatakan tidak, Jhi,"
Jhico terdengar menghembuskan napas berat. Mendengar Gruzelle menangis ditambah lagi kabar mengenai anaknya yang terluka lagi, Jhico benar-benar dibuat cemas ditengah pekerjaannya.
"Ya sudah, kamu tidak perlu khawatir ya. Kami sudah diperjalanan pulang,"
"Ya, hati-hati kalau begitu,"
__ADS_1
"Griz, tolong istirahat ya, Sayang. Tolong dengarkan ucapan Pupu. Jangan sulit diatur. Jangan banyak berjalan. Mengerti? hm?"
"Iya, Pu,"
Isak tangis sudah tak begitu terdengar. Tapi dadanya masih naik turun. Anak kecil kalau sudah jatuh memang histeris bukan main. Sama halnya dengan Grizelle. Sampai membuat Vanilla kalang kabut. Apalagi kemarin ketika Vanilla menyaksikan secara langsung Grizelle terjatuh dan Ia yang mengobati juga.
"Tolong dengarkan ucapan Pupu," pesan Jhico untuk kedua kalinya.
"Kenapa bisa tepat sekali pupu menghubungi disaat kamu habis jatuh ya? ikatan batin kalian kuat sekali," batin Vanilla baru sadar kalau Jhico menghubungi disaat yang tepat. Mungkin di sana Ia tiba-tiba merasa cemas maka menelpon Vanilla. Biasanya kalau masih pukul sepuluh begini, Jhico hampir tidak pernah menghubungi. Paling-paling saat waktu makan siang.
*****
Tak hanya Vanilla, Nada pun ketika melihat kondisi Grizelle turut merasakan cemas.
"Mau ganti baju dengan Mumu," Grizelle menggenggam tangan Mumunya yang baru saja meminta tolong pada Nada untuk membantu Grizelle berganti baju sebab Vanilla juga harus mengganti bajunya.
"Ya sudah, biar aku saja, Nad,"
"Iya, Nona,"
Seperti biasa, Grizelle memang akan manja kalau sedamg tidak baik-baik saja. Tapi Vanilla tidak pernah menjadikan itu sebagai masalah.
Vanilla mengajak anaknya untuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
Vanilla membantu anaknya untuk duduk di ranjang, baju untuk Grizelle sudah disiapkan Nada.
Kemudian Vanilla melepas pakaian sekolah anaknya. Saat akan menanggalkan seragam di bagian bawah, Grizelle berseru, "Pelan-pelan, Mu."
"Iya, ini sudah pelan,"
Grizelle terkekeh kecil. Vanilla mendengkus pelan. Anaknya itu sudah bisa tertawa. Tadi sejak di sekolah dan sekama perjalanan, menangis terus.
"Masih sakit tidak? kalau masih sakit, kita ke rumah sakit saja,"
"Tidak, hanya sedikit saja. Aku 'kan anak hebat,"
"Anak hebat tapi tadi menangis kencang. Kemarin juga,"
"Sakit, Mu. Makanya aku menangis,"
"Apa yang dirasa? perih?"
"Iya, sakitnya berdenyut,"
Vanilla terkekeh, ia menyelesaikan kegiatannya. Setelah sang anak sudah terlepas dari pakaian formalnya, Vanilla izin mengganti pakaiannya sendiri.
"Nanti ke sini lagi ya, Mu. Temani aku, kalau aku mau ke toilet aku tidak bisa sendirrli (sendiri),"
"Iya, pasti Mumu temani,"
Vanilla ke walk in closetnya untuk berganti pakaian, hanya sebentar, setelah itu kembali lagi ke sisi putrinya.
"Aku mau tidurl (tidur),"
__ADS_1
"Ya sudah, tidurlah. Mumu kira kamu mau berlari lagi," Vanilla menatapnya dengan sorot jenaka
"Sakit, Mumu. Untuk apa aku berlarli (berlari),"
"Ya barangkali saja, Griz mau berlari lagi. Nanti luka lagi, menangis lagi," kini Vanilla habis-habisan menggoda anaknya yang merengek tersipu.
"Ah kurang hebat anak Mumu ini,"
Vanilla mengusap kening malaikat kecilnya yang kini memeluknya.
"Yang benar tidurnya. Jangan berbaring miring seperti itu,"
"Tapi aku mau memeluk Mumu,"
Vanilla melepas tautan tangan anaknya di pinggangnya. "Biar Mumu saja yang memeluk Griz," Vanilla yang kini menautkan tangannya dengan badan mungil putri kecilnya.
******
Jhico terkekeh pelan saat tak sengaja menjatuhkan gelas dari meja kerjanya. Ia mengeleng pelan.
"Aku ini kenapa sih? tadi sudah memecahkan gelas, sekarang juga begitu,"
Cklek
"Co, makan malam bersama?"
"Tidak, Ken. Sebentar lagi aku ingin pulang," tolak Jhico pada dokter Kenzo yang juga praktik di kliniknya.
Tatapan Kenzo beralih pada gelas yang tergeletak di lantai. Kemudian Ia menatap Jhico.
"Lagi tidak fokus kau ya?"
"Ya, tadi sudah memecahkan satu gelas. Beruntungnya ini bukan gelas dari kaca lagi,"
Jhico mengambil gelas yang jatuh itu dari lantai kemudian di letakkan di meja kecil yang ada di sudut ruangannya.
"Kenapa?"
"Ya...biasalah,"
"Biasa kenapa? memikirkan perempuan lain?"
Jhico memberi tatapan mematikan pada Kenzo yang langsung terbahak setelah berkata seperti itu.
"Becanda, Co. Aku tahu kau setia pada Vanilla. Tapi aku bingung kenapa bisa sampai dua kali menjatuhkan gelas?"
"Aku memikirkan anakku terus,"
"Memang Griz kenapa? masuk rumah sakit lagi?"
"Tidak, dia jatuh lagi padahal baru kemarin jatuh,"
"Ya ampun, lalu bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Tadi sudah diobati oleh dokter di sekolahnya. Griz baik-baik saja. Tapi tetap aku tidak bisa tenang apalagi aku sudah mengingat suara tangisnya tadi,"