
"Besok pagi aku graduation. Kamu hadir ya,"
"Baru memberi tahu aku sekarang?"
"Ya baru ingat, Pu,"
Begitu tiba di kamar usai makan malam, Vanilla langsung memberi tahu pada suaminya bahwa esok hari adalah dimana Ia melepas masa sebagai pelajar.
"Apa yang harus aku persiapkan untuk menghadiri acara besar istriku ini?" tanya Jhico dengan senyum lembutnya. Ia bangga mendengar kabar bahagia yang disampaikan istrinya. Ia tahu bagaimana tantangan yang melintang berusaha menghadang keinginan istrinya untuk menyelesaikan pendidikan di universitas. Baik itu tantangan dari diri sendiri seperti rasa malas dan rasa jumawa karena sudah merasa memiliki semuanya sehingga tak butuh lagi pendidikan tinggi, hingga tantangan dari luar berupa berbagai macam anggapan orang yang sempat meragukan Vanilla serta banyaknya kesibukan yang berusaha menyita waktu Vanilla untuk belajar.
"Aku sudah pernah mengatakan ini belum ya?"
"Apa?"
Jhico mendekati istrinya yang kini melepas satu persatu kancing blousenya untuk berganti baju. Kemudian Jhico mengarahkan Vanilla agar menghadapnya. Lelaki itu merangkum wajah Vanilla. Menyentuh satu persatu titik yang membuat ia setiap saat berdecak kagum. Mulai dari hidung Vanilla, matanya, bibirnya, alisnya, semuanya sempurna dimata Jhico.
"Aku bangga memiliki kamu. Dan aku yakin, Grizelle pun bangga memiliki Ibu yang luar biasa seperti kamu, Mumunya,"
"Aku sangat berterimakasih pada Tuhan sudah mempertemukan kita berdua,"
Jhico mengecup kening sang istri dengan lembut yang membuat Vanilla memejamkan matanya.
"Aku juga berterimakasih pada kamu karena sudah bersedia menjadi teman hidupku, bersedia menjadi tempat bersandarku ketika merasa lelah, bersedia untuk mengorbankan hidup demi melahirkan buah hati kita, dan bersedia untuk---"
Jhico menelan ludahnya tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia merasa begitu lemah sekarang. Ia terlalu bahagia sampai rasanya ingin menumpahkan kebahagiaan itu melalui air mata.
Jhico menunduk, meraih kedua tangan Istrinya. Ia memberi kecupan di buku-buku jemari Vanilla.
"Terimakasih sudah bersedia menjadi penenangku disaat gundah dan amarah menguasai aku,"
Jhico mengangkat kepalanya, tersenyum semakin lebar hingga matanya sedikit menyipit. Ia menatap dalam mata Vanilla yang kini terdiam mengalihkan atensi sepenuhnya untuk mendengarkan semua yang Ia utarakan.
"Nilla, Terimakasih untuk semuanya,"
__ADS_1
Kata 'semuanya" Ia gunakan karena terlalu banyak hal yang Vanilla lakukan sehingga Ia merasa perlu berterimakasih untuk itu semua.
Vanilla tersenyum, memeluk suaminya sesaat. Ia menyelami mata Jhico yang kini menatanya penuh puja. Ia mencari cinta yang sama besar dengan miliknya di sana dan Ia menemukan itu. Mereka saling mencintai dengan cinta yang begitu besar.
"Dan aku pun tidak henti mengucapkan terimakasih pada Tuhan yang telah mempertemukan aku si perempuan yang memiliki hidup tak beraturan dengan kamu, laki-laki yang sempurna menurutku. Aku juga berterimakasih padamu untuk semua yang sudah kita lalui bersama. Harapan ku setelah bertemu kamu hanya satu, aku selalu meminta ini pada Tuhan dan aku harap Tuhan berbaik hati memenuhi permintaanku ini. Aku ingin, kita bisa berakhir dengan bahagia dan terus saling menggenggam, tanpa pernah melepaskan barang sedetikpun,"
Vanilla mengingat setiap kilas balik kisahnya bersama Jhico. Ia yang awalnya tidak menyukai Jhico bahkan di awal pernikahan pun dengan terang-terangan menolak kehadiran Jhico, justru dibuat tertegun dengan balasan yang diberikan lelaki itu. Jhico tetap menjadi lelaki terbaik versinya sendiri. Ia tetap memperlakukan Vanilla dengan baik padahal Ia bisa saja pergi meninggalkan Vanilla yang saat itu tidak tahu diri. Buta, tapi berusaha menendang lelaki yang menerima kekurangannya dengan keluasan dan kerendahan hatinya.
******
Tengah malam, Vanilla terbangun karena merasa kerongkongannya kering. Ia beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air minum.
Ia meneguk dengan tenang, sambil sesekali menoleh pada suaminya yang berbaring terlentang dengan kedua tangan yang menangkup kepalanya.
Berutung lelaki itu bisa tidur lelap setelah menenangkan Vanilla yang kembali menangis karena mendengar Jhico meminta maaf atas apa yang didengar Vanilla dari mulut Thanatan.
"Lagi-lagi aku minta kerendahan hati kamu untuk memaafkan Papa. Apa yang Papa katakan tadi, semuanya tidak benar,"
Vanilla merasa bahwa Jhico tidak perlu meminta maaf. Karena Ia saja yang mungkin terlalu berlebihan dalam menanggapi ucapan Thanatan.
Vanilla menangis karena merasa terharu memiliki suami seperti Jhico yang selalu berusaha memahaminya tanpa mau menghakimi.
Jhico menenangkan istrinya dengan pelukan hangat sampai akhirnya Vanilla terlelap dan saat itulah Jhico merasa lega. Vanilla sudah menangis lama sebelum makan malam. Lalu ketika akan tidurpun perempuan itu menangis. Jhico tidak ingin istrinya terlalu lama larut dalam kesedihan disaat penyebabnya -Thanatan- mungkin bisa menjalani hidup seperti biasa bahkan terlelap dengan nyenyak, istrinya malah dikungkung oleh perasaan bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Aku lapar lagi,"
Vanilla meringis seraya mengusap perutnya yang padahal sudah diisi tapi saat ini malah minta bagian lagi.
Vanilla akhirnya bergegas keluar kamar mencari makanan di kabinet dapur.
Ia menemukan cake. "Ah tidak peduli dengan berat badan,"
Makan malam nya tadi spaghetti bolognese lalu kini cake. Bobot badannya menjadi taruhan. Apalagi kini ia sudah terbilang jarang membakar kalori padahal sering di rumah dan tak melakukan apapun selain berbaring, menonton, dan makan. Begitu saja polanya bila Ia tidak ada pekerjaan.
__ADS_1
"Hmm manis nya tidak berlebihan. Aku suka," ujarnya seraya menatap cake ditangannya yang tersisa sedikit lagi karena Ia melahapnya tak sabaran.
Biasanya kalau bekerja, Ia akan mendapatkan snack. Ia jarang sekali mengambil bagiannya. Tapi Joana rajin menyimpan lalu diberikan padanya. Kalau Ia tidak mau, maka Joana akan dengan senang hati menerima.
Tadi Ia sempat menolak saat Joana memberikan bagiannya, tapi Joana mengatakan bahwa Ia sudah punya dua seraya terkekeh. Joana memaksanya untuk menerima itu. Ia meletakkannya di kabinet. Ia kira sudah dimakan oleh Bibi ataupun Nada karena setiap Ia punya makanan, dirinya selalu berpesan agar mereka tidak perlu sungkan untuk ikut menikmati jika memang menginginkannya. Tapi ternyata cake itu masih tersimpan di kabinet.
Vanilla membuka lemari pendingin mencari makanan lain. Ia menemukan puding buatannya yang masih ada.
"Astaga, baru dimakan sedikit ya,"
Puding itu baru dimakan sekali oleh dirinya, Jhico, dan Grizelle setelah mereka tiba di rumah usai berkunjung ke rumah Keyfa.
"Masih banyak ini. Griz mau lagi tidak ya?"
Ia memotong puding itu kemudian mengambil satu slice untuk Ia makan sekarang.
"Hmm masih enak walaupun sudah beberapa hari yang lalu dibuatnya,"
Tentu saja masih layak dimakan karena tersimpan di lemari pendingin. Justru menurut Vanilla semakin nikmat rasanya karena sudah beku.
Grizelle yang minta disimpan dalam freezer agar beku saat dinikmati sehingga rasanya seperti sedang menyantap ice cream.
"Mumu, sedang apa itu?"
"Astaga,"
Vanilla terlonjak saat dikejutkan dengan suara serak nan kecil menginterupsi kegiatannya.
"Sayang, kenapa bangun? haus? kan ada minum di kamarmu. Atau lapar? ada makan ringan juga di sana. Apa sudah habis?"
Grizelle menggeleng lalu memijat pelan lehernya sembari duduk di samping Ibunya.
"Tenggolokan (tenggorokan) ku sakit. Itu puding ya, Mu? Sudah beku ya? aku mau, Mu,"
__ADS_1
-----
Abis minum ice cream, trs udh mulai radang. Eh msh minta puding dr freezer pas malem. Si Icelle emg kadang nakal ya😆