
"Anak itu terlalu dekat dengan Jhico dan aku merasa kurang nyaman,"
Thanatan hanya bisa mengatakan itu di dalam hatinya demi menjaga perasaan kedua orang yang belum dikenalnya yaitu Keyfa dan juga Ibunya.
"Sudah kenal dengan mereka belum?"
Jhico menunjuk kedua orangtuanya yang duduk bersama di sofa. Keyfa mengangguk namun sedetik kemudian menggeleng.
"Aku sudah kenal dengan Mama mu, Kakak Dokter. Tapi--"
"Itu Papa ku," ujar Jhico memperkenalkan Thanatan pada Keyfa.
Keyfa mengangguk dan tersenyum ke arah Thanatan yang hanya tersenyum tipis sebagai balasan dari salam perkenalan anak itu.
*****
"Makanan yang Aku siapkan tidak dibawa oleh Thanatan?"
"Tidak, Nek. Tadi Tuan langsung pergi,"
Hawra berdecak kesal karena makanan yang sudah disiapkan nya untuk Karina malah dibiarkan begitu saja di meja makan.
Karina meminta dibuatkan soup salmon oleh Hawra dan langsung dibuatkan oleh Hawra. Sebelum Hawra tidur, Ia sudah berpesan pada Thanatan agar membawa soup salmon itu ketika datang ke rumah sakit, namun rupanya malah diindahkan.
Setelah bangun, Hawra kesal mendapati soup salmon buatannya tidak dibawa oleh Thanatan. Padahal Karina jarang sekali minta dibuatkan makanan.
Hawra menelpon Thanatan dan tak lama langsung dijawab. Thanatan keluar dari ruangan Jhico untuk menjawab panggilan Ibu mertuanya itu.
"Ibu sudah pesan tadi, jangan lupa membawa soup salmon untuk Karina. Kenapa tidak kamu bawa?"
"Aku lupa,"
"Tidak mungkin lupa! maid pasti sudah mengingatkan kamu,"
Thanatan memijat kepalanya mendegar rangkaian kalimat bernada kesal yang diucapkan Hawra.
"Karina belum tentu sudah makan. Dia menunggu makanan itu, Thanatan."
"Ya sudah, nanti aku belikan makanan lain,"
Hawra menghembuskan napas pelan. Dari dulu sampai sekarang, menantunya itu jarang sekali menunjukkan perhatiannya pada Karina. Mungkin itu juga sebabnya Karina berperilaku sama. Akhirnya terbawa ke Jhico.
Karina keluar dari ruangan Jhico untuk mengetahui apa yang dilakukan suaminya. Ia melihat Thanatan sudah menyelesaikan pembicaraan dengan seseorang di telepon. Usai memasukkan gawai nya ke dalam saku, Thanatan akan pergi membeli makanan untuk sang istri.
"Mau kemana, Pa?"
Suara Karina membuat Thanatan menoleh. Ia segera menjawab, "Beli makan untukmu,"
"Oh iya, tadi aku minta dibuatkan soup---"
"Aku tidak membawanya ke sini,"
Karina berdecak kesal. Padahal Ia sudah menunggu soup itu tapi karena kedatangan Keyfa, Ia jadi lupa menanyakan soup yang harusnya dibawa oleh Thanatan.
__ADS_1
"Kamu bagaimana sih?! Kalau beli di luar, aku juga bisa. Tapi masalahnya, aku sangat ingin soup itu,"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Ambil ke rumah! aku hanya ingin makan dengan soup salmon buatan Ibu,"
Usai mengatakan itu, Karina berbalik dan kembali memasuki ruangan sang putra meninggalkan Thanatan yang terperangah bingung.
"Apa-apaan sih dia? aku dikerjai atau bagaimana? biasanya juga tidak seperti ini,"
Thanatan mengusap tengkuk nya lalu mengerang kesal. Tapi meski begitu, Ia tetap memenuhi keinginan istrinya. Lelaki itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit lalu tibalah di basement. Tanpa menunggu waktu lama, Ia menghidupkan mesin mobil dan bergegas kembali ke rumah untuk mengambil soup salmon buatan Hawra.
*****
"Papa dimana, Ma? kenapa tidak kembali lagi?"
Beberapa menit dari kembalinya Karina ke ruangan Jhico, Vanilla baru menyadari kalau Ayah mertuanya itu tidak memasuki ruangan suaminya lagi.
"Pulang,"
"Oh, aku kira sedang ada urusan di luar,"
"Iya, memang sedang ada urusan dengan Mama,"
Jhico dan Vanilla langsung adu tatap. Kemudian mereka kompak memandang Karina.
"Urusan apa, Ma?" tanya Jhico.
"Papamu lupa membawa makanan yang Mama inginkan. Tadi Mama minta dibuatkan soup salmon oleh Nenek dan Papa tidak membawanya ke sini,"
"Keyfa, kita pulang sekarang ya? Kakak dokter harus istirahat,"
Keyfa masih nyaman berada di samping Jhico. Ia menggeleng, menolak ajakan Ibunya.
"Aku mau menginap saja di sini berhubung tidak ada kakak manis yang menjaga kakak dokter,"
"Ada aku yang akan menjaga Kakak dokter mu," ujar Karina seraya menunjuk dirinya sendiri seraya tersenyum menenangkan Keyfa yang sepertinya benar-benar khawatir dengan Jhico.
Sedari tadi Ia terus bertanya pada Jhico bagian tubuh mana yang masih sering sakit dan biasanya sakit jam berapa saja. Jhico menjawab ketika malam tubuhnya terasa nyeri dimana-dimana. Mungkin karena itulah Keyfa berkeinginan untuk menjaga Jhico.
"Kamu masih kecil. Tidak boleh lama-lama di sini. Nanti monster berupa penyakit menyerangmu,"
"Tidak apa,"
Keyfa memeluk Jhico erat-erat dan tulang selangka Jhico yang sedang bermasalah lansung terasa nyeri.
"Keyfa, jangan begitu. Kakak dokter kesakitan," tegur Vanilla dengan lembut.
Saat Ia akan meraih tangan Keyfa agar melepas pelukannya terhadap sang suami, Keyfa berdecak dan menghempas tangan Vanilla.
"Aku mau memeluk kakak dokter!" geramnya pada Vanilla.
"Hey, jangan begitu pada Kakak manis!" Vivi menegur anaknya namun tak diindahkan.
__ADS_1
Jhico langsung mengalihkan perhatiannya pada Vanilla. Istrinya itu nampak mengalihkan perhatian karena matanya berkaca. Ia tak ingin Jhico melihatnya yang terlalu terbawa perasaan ketika diperlakukan seperti tadi oleh Keyfa. Ia hanya tidak ingin suaminya merasa kesakitan oleh sebab itu Ia menegur Keyfa.
Jhico mengusap punggung tangan istrinya dan berhasil membuat Vanilla menoleh padanya.
Jhico tersenyum tipis, menenangkan Istrinya yang Ia tahu saat ini sedang merasa sedih dan kesal secara bersamaan. Karena sikap Jhico itulah membuat Vivi menyadari bahwa Vanilla tidak baik-baik saja setelah anaknya memperlakukan Vanilla seperti tadi.
"Ayo kita pulang. Kamu harus ikut Ibu pulang. Nanti Ayah marah kalau kamu tidak ada di rumah,"
"Ibu, aku mau di si--"
"Tidak boleh, Keyfa. Kamu akan mengganggu Kakak dokter,"
Vivi menarik lepas tangan Keyfa agar tak lagi memeluk Jhico. Lalu Ia segera menurunkan Keyfa dari bangsal yang ditempati Jhico.
Wajah Keyfa merengut kesal. Ia juga bersedekap dada. Setelahnya, anak itu melangkah keluar dari ruangan mendahului Ibunya dengan langkah kaki yang menghentak-hentak.
"Maafkan Keyfa ya, Vanilla. Ibu dan Keyfa pulang dulu,"
Vanilla tersenyum tulus. Ia saja yang terlalu berlebihan pada Keyfa. Seharusnya Ia tidak seperti itu. Reaksinya tadi terlihat jelas oleh Vivi, oleh sebab itu Vivi semakin merasa tidak enak hati dengan Vanilla.
"Tidak apa, Bu. Aku baik-baik saja,"
Vivi beralih pada Jhico untuk pamit juga, "Jhico, Ibu pulang dulu ya. Semoga lekas sembuh."
"Terimakasih, Ibu. Hati-hati,"
Karina dan Jhico melihat Vanilla yang akan bergegas ke kamar mandi. Jhico ingat yang pernah terjadi saat Grizelle masuk rumah sakit beberapa waktu lalu. Vanilla ke kamar mandi untuk menumpahkan tangisnya.
"Nilla, kamu jangan kemana-mana. Aku lapar, apa kamu mau menyuapi aku? aku mau makan cake buatanmu lagi,"
Jhico menghalangi Vanilla ke kamar mandi. Ia berpikir Vanilla masih sedih karena sikap Keyfa tadi.
"Tapi aku mau ke toilet sebentar,"
"Mau apa?"
"Masak,"
Tahu bahwa istrinya sedang mengajak bercanda, Jhico berdecak seraya memutar bola matanya. Sementara Vanilla terkekeh.
Jhico padahal khawatir istrinya menangis lagi di kamar mandi. Tapi Vanilla malah bercanda di waktu yang tidak tepat menurutnya.
"Cepat suapi aku!" titah nya.
"Aku buang air sebentar,"
"Okay, buang air ya. Bukan buang air mata. Ingat itu!"
Alis Vanilla bertaut. Ia tidak ingin menangis. Ia sudah berhasil mengendalikan dirinya sendiri. Saat ini Ia benar-benar ingin ke toilet untuk buang air kecil.
"Memang Vanilla pernah buang air mata di kamar mandi?" tanya Karina penasaran.
"Pernah, Ma. Dan itu karena aku," aku Jhico dengan lugas. Jhico mengaku bahwa Ia pernah menyakiti Vanilla hingga membuat Vanilla menangis.
__ADS_1
---------
Hellawww epribadehh🙆selamat malam untuk keleaann yg di sana :) gimana hari ini? sudah kah kalian bahagia?