
"Aku menunggu di sini saja sampai model perempuan nya datang,"
"Tapi mungkin akan lama,"
"Tidak apa,"
Nein langsung bungkam begitu dijawab ketus oleh lelaki yang akan menjadi teman Vanilla dalam pemotretan beauty shoes hari ini.
"Memang seberapa lama?"
"Aku juga tidak tahu pasti kapan dia selesai mengurus anaknya,"
Lelaki itu berdecak kesal. Ia duduk sembari menumpukan satu kakinya di kaki yang lain. Ia sudah terlanjur sampai di sini. Daripada Ia pulang lalu kembali lagi ke sini, lebih baik Ia tetap menunggu kedatangan Vanilla di sini agar mereka bisa segera pemotretan.
Xendi menghampiri Varo, model lelaki itu. Ia akan mempersilahkan Varo untuk pulang saja kalau memang tidak ingin menunggu kedatangan Vanilla di studio pemotretan ini. Vanilla saja bisa seenaknya meninggalkan studio, maka Varo pun Ia beri hak untuk melakukan itu. Sampai nanti Ia yang akan mengubah jadwal yang seharusnya terlaksana hari ini.
"Tidak apa aku menunggu di sini saja, Xendi,"
"Kau serius? Aku belum tahu kapan Vanilla akan datang,"
"Tapi sudah kau hubungi?"
"Itu urusan manager nya, bukan aku," ujar Xendi seraya melirik Nein.
Nein yang mendengar itu langsung menjawab cepat, "Sudah, sudah aku hubungi. Tapi Vanilla belum menjawab. Mungkin dia belum selesai,"
Xendi semakin kesal saja mendengar ucapan Nein. Apakah sesulit itu menjawab panggilan sekalipun Ia tengah disibukkan dengan urusannya?
*******
Vanilla keluar dari ruang kelas Grizelle. Putrinya itu sudah menyambutnya. Ia terkejut ketika melihat Jhico. Jhico benar-benar hadir, seperti katanya tadi untuk menggantikan dirinya.
"Kamu datang?"
"Tentu saja,"
"Mu, aku pulang dengan Mumu ya? Pupu pasti akan kembali ke klinik,"
"Mumu harus kembali ke studio pemotretan secepatnya, Griz."
Senyum Grizelle pudar sedikit, namun Ia mengangguk pengertian. "Okay, aku akan dijemput oleh Mr Joe nanti,"
"Memang kapan Griz pulang? Sekarang?" Tanya Jhico pada putrinya.
__ADS_1
"Tidak, aku akan belajal sebental (belajar sebentar). Pulangnya nanti, Pu."
"Ya sudah, Pupu tunggu Griz sampai pulang,"
Vanilla segera beralih pada suaminya yang langsung mengajukan dirinya untuk menunggu Grizelle pulang. Setelah Ia mengatakan harus kembali ke studio pemotretan.
"Kamu boleh pergi sekarang. Biar Grizelle pulang bersamaku," ucap Jhico pada istrinya.
Mau tidak mau, Vanilla memang harus segera bergegas ke studio sebelum pihak beauty shoes kecewa padanya.
Jhico dan Grizelle menatap kepergian Vanilla. Jhico menghembuskan napas pelan, lalu beralih menatap buah hatinya.
"Pupu akan menunggu Grizelle sampai selesai belajar, setelah itu kita pulang bersama,"
"Memang Pupu tidak ada pasien di klinik?"
"Ada, tapi sepertinya Uncle Kenzo sudah datang,"
"Segera ke kelasmu, kamu sudah dipanggil," ujar Jhico saat Ia melihat ke belakang Grizelle, sudah ada perempuan yang memanggil Grizelle agar masuk ke kelas dan kembali belajar.
Setelah memastikan anaknya kembali belajar, Jhico memutuskan untuk masuk ke dalam mobil yang Ia tempatkan di basement sekolah Grizelle. Kemudian lelaki itu diam di sana sembari memainkan ponselnya.
********
"Kita jadi pemotretan 'kan?"
Sebelum Nein menjawab, Xendi yang melihat kedatangan Vanilla langsung bergegas menghampiri Vanilla, Ia meninggalkan tim yang saat ini menggusur set foto.
"Untuk apa datang ke sini? bukankah kamu sudah dikabari oleh Nein kalau pemotretan hari ini diundur?"
Vanilla kaget, Ia beralih menatap Nein sekilas, kemudian Nein memberikan isyarat menggunakan matanya menunjuk sling bag yang dikenakan Vanilla. Vanilla mengerti maksudnya. Ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag nya, lalu melihat riwayat panggilan serta pesan di ponselnya.
Vanilla meringis pelan. Ternyata Nein beberapa kali menelponnya dan mengirimkan pesan tapi Ia tidak bisa mengeceknya karena Ia fokus dengan tujuannya ke studio ini.
"Maaf, Xendi. Aku tidak bermaksud untuk hengkang dari jadwal hari ini, tapi----"
"Ya sudah, tidak usah dibahas,"
"Lalu diubah menjadi hari apa?"
"Lain kali, kamu harus bertanggung jawab, Vanilla. Jangan asal meninggalkan," Tidak menjawab pertanyaan Vanilla, Xendi justru memperingati Vanilla.
Vanilla menunduk ketika diperingati dengan tegas oleh Xendi. Terlihat sekali lelaki di hadapannya ini tidak suka dengan apa yang Ia lakukan tadi. Ia sudah dihubungi untuk melakukan pemotretan, kemudian Ia datang, setelah itu malah pergi begitu saja. Wajar kalau Xendi kesal padanya. Karena bukan hanya rugi waktu, mereka semua yang bekerja juga telah mengeluarkan tenaga nya untuk hari ini, tapi Vanilla malah menggagalkan semuanya.
__ADS_1
******
Jhico mengantuk karena hanya diam di dalam mobil, tanpa melakukan apapun selain sibuk dengan ponsel.
Lelaki itu duduk dengan tegap lalu bersiap untuk mengendarai kendaraan roda empatnya. Ia akan mencari kafe sembari menunggu Grizelle selesai belajar.
Matanya melihat-lihat ke sekitar untuk mencari keberadaan kafe agar Ia bisa menghentikan mobilnya di sana, lalu Ia masuk ke dalam nya.
Drrttt
Drrttt
Getar ponsel di atas dashboard mobilnya membuat Jhico melirik ponselnya sejenak. Ia meraih benda tipis itu lalu menggeser panel hijau.
"Ada apa, Nilla?"
"Aku tidak jadi pemotretan hari ini,"
"Oh,"
"Kenapa hanya 'oh'?"
"Lalu aku harus menanggapinya bagaimana, Nilla?"
"Aku merasa bersalah karena sudah bersikap tidak profesional,"
"Lalu kamu menyalahkan Grizelle yang telah menyita waktumu hingga akhirnya kamu tidak jadi pemotretan?"
"Aku tidak menyalahkan. Aku hanya cerita saja, Jhi."
Vanilla mengerinyit bingung saat suaminya tiba-tiba menggerutu. Ia hanya bercerita tapi Jhico malah menganggapnya telah menyalahkan Grizelle.
"Aku sedang menyetir,"
"Ya sudah, aku tutup teleponnya. Kamu jadi pulang bersama Griz?"
"Jadi, tapi sekarang aku sedang mencari kafe, Griz belum selesai belajar,"
"Oh baiklah, kalian hati-hati ya. Aku tunggu di rumah,"
 ----------
Hai manteman onlen kuu. Gmn kabarnya? sehat selalu yaađź’•salam dr pink girl
__ADS_1