Nillaku

Nillaku
Nillaku 316 Malam-malam Grizelle dan Auristella terbangun


__ADS_3

Jhico menerima kartu akses pintu dari petugas hotel kemudian langsung menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya ke dalam kamar mereka.


"Bagus sekali ya," takjub Vanilla menatap kamar mereka yang begitu luas dengan design yang classic.


"Griz pasti akan senang kalau datang ke sini,"


"Iya, dimanapun dia berada pasti akan senang,"


Grizelle kalau diajak ke suatu tempat pasti akan selalu senang apalagi bila bersama kedua oangtuanya. Menurut anak itu, kemanapun Ia pergi asal dengan Jhico dan Vanilla maka Ia akan bahagia.


"Aku tidak mengantuk lagi, Jhi,"


"Hmm? kenapa? kita sudah di hotel, tidurlah,"


"Rasa kantukku hilang, Jhi,"


Vanilla beranjak ke rooftop. Ia membuka tirai dan pintu yang menyambungkan kamar dengan rooftop. Ia berjalan menghampiri rooftop dan Jhico senantiasa mengikuti.


Vanilla berdecak kagum melihat pemandangan kepadatan kota di malam hari. Mereka bisa mellihat binar cahaya dari berbagai sumber.


"Kita minum teh hangat dulu di sini ya?" Vanilla mengajak suaminya itu untuk menghabiskan waktu di rooftop terlebih dahulu sebelum tidur.


"Iya, aku hubungi room service dulu agar dibuatkan teh ya?"


Vanilla mengangguk dan membiarkan suaminya menghubungi pelayanan hotel.


Vanilla duduk di salah satu kursi dari dua kursi yang berada di rooftop. Jhico pun duduk berhadapan dengannya.


Jhico menggenggam tangan Vanilla dengan erat lalu menatap Vanilla dengan senyum.


"Senang ke sini?"


"Senang sekali. Terimakasih ya,"


"Sama-sama, Nillaku,"


Vanilla menatap dalam mata Jhico. Dan Jhico langsung terkekeh pelan. "Jangan menatapku begitu, Nilla. Nanti kita tidak jadi minum teh di sini tapi malah berakhir tidur di kamar,"


Vanilla berdecak pelan. Ia mencubit tangan suaminya yang menggenggam tangannya.


"Maksudnya apa?"


"Ah jangan pura-pura tidak tahu, Nillaku. Mau kita masuk ke kamar sekarang?"


Vanilla berdecak melepas genggaman tangannya. Sementara Jhico terkekeh pelan berhasil membuat istrinya salah tingkah.


Jhico beranjak saat terdengar bel dari kamar mereka. Ia mengambil teh hangat yang telah dibuatkan petugas hotel.


"Terimakasih," kata Jhico ketika menerima baki berisi teh hangat dari petugas kemudian Ia kembali ke dalam.


"Ini teh nya, Nilla,"


"Yeayy, ayo kita minum di sini,"


Vanilla bertepuk tangan ringan dan itu terlihat menggemaskan di mata Jhico. Lelaki itu mencubit pelan pipi istrinya.


"Kamu seperti gadis kecil ya,"

__ADS_1


"Sudah punya anak, Jhi,"


"Iya, tapi kamu menggemaskan sekali seperti bukan ibu beranak dua,"


Vanilla mencibir kala suaminya bicara seperti itu seraya mengerlingkan matanya.


"Bisa saja kamu ini,"


******


Grizelle melenguh dan menggeliat seperti ulat hingga tak sengaja pelukan Auristella padanya terlepas.


Ia terjaga dengan raut wajah bingung sesaat. Matanya melirik kesana kemari.


"Oh, aku di kamarrl Aurrlis (kamar Auris) ya," gumamnya baru ingat kalau malam ini Ia tak tidur di kamarmya sendiri melainkan kamar sepupu perempuannya.


Grizelle beranjak duduk. Ia menggosok kelopak matanya agar mau terbuka sempurna.


"Aku haus," gumamnya pelan seraya menyentuh lehernya.


Ia beranjak meninggalkan tempat tidur untuk ke kamar mandi dan minum.


Auristella tiba-tiba membuka matanya karena merasa pergerakan di sampingnya.


"Icelle, kamu mau kemana?" tanya Auristella pada sepupunya itu yang kini tengah mengenakan alas kaki.


"Aku mau ke kamarrl (kamar) mandi dan minum. Aku haus,"


"Ini ada minum,"


Tunjuk Auristella pada gelas dan dispenser di kamarnya. Namun Grizelle menggeleng.


"Oh, boleh. Ayo, kita ambil di freezer," kata Auristella sembari beranjak dari ranjangnya.


Grizelle masuk ke kamar mandi terlebih dahulu kemudian setelah selesai menuntaskan keinginannya untuk buang air, Grizelle keluar. Auristella sudah menunggunya di depan pintu.


"Sekarang sudah jam dua belas," kata Auristella menatap arloji di dinding kamarnya. Kemudian Ia menggenggam tangan Grizelle dan mengajaknya keluar dari kamar.


"Sepi sekali,"


"Iya, sudah malam, Icelle,"


Grizelle dan Auristella turun ke lantai bawah. Mereka mengambil ice cream kemudian duduk di meja makan menikmati minuman dingin itu.


"Hmmm akhirrlnya (akhirnya) aku minum ice cream,"


"Kamu seperti tidak pernah menikmati ice cream saja,"


"Jarrlang (jarang) sekali, Aurrlis,"


"Kalau sering bisa sakit, Icelle. Kata Mommy ku begitu,"


Auristella dan Grizelle mengambil ice cream dengan cup tadi. Mereka menyesapi rasa dari ice cream seraya bercerita dengan nada pelan.


"Kamu waktu itu sakit karena minum ice cream ya?"


"Hmm tidak. Tidak tahu maksudku," Grizelle membantah padahal sudah jelas karena Ia terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang memacu radangnya menjadi kambuh dan batuknya juga datang diserta demam.

__ADS_1


"Aku dengar begitu,"


"Jangan salahkan ice cream, Aurrlis. Yang salah itu aku,"


"Iya, karena kamu yang tidak bisa mengendalikan dirimu,"


"Dan sekarang minum ice cream malam-malam," imbuh Auristella kemudian yang membuat Grizelle terkekeh seraya menutup mulutnya takut Ia kelepasan tertawa kencang.


"Tidak ada cokelat?"


"Ada, kamu mau?"


"Mau-mau,"


Auristella mengajak Grizelle menuju lemari pendingin khusus makanan dan minuman agar Grizelle bisa memilih sendiri.


"Ya ampun, banyak sekali," Grizelle menatap lapar semuanya. Andaikan di rumahnya ada sebanyak itu. Dipastikan Ia tak akan menjauh dari lemari pendingin. Pasti akan terus berada di dekatnya dan menikmatinya tiap saat.


"Aku mau yang ini,"


Grizelle mengambil cokelat dengan campuran crunchy yang akan terasa di setiap gigitannya.


Auristella pun mengambil yang serupa. "Aku suka yang ini. Kalau Ian yang ada almond nya. Kalau Ean suka yang full cokelat," kata Auristella seraya mengunyah cokelat dengan semangat sama seperti Grizelle.


"Kalau aku, suka semuanya,"


Auristella tersenyum memang sudah tahu bahwa Grizelle ini suka dengan cokelat apapun itu. Asal namanya cokelat, Grizelle pasti suka.


"Kamu mau bawa ke rumah, Icelle?"


"Mau, tapi nanti Pupu marrlah (marah) dan nanti aku sakit,"


"Kalau takut sakit kenapa sekarang mau?"


"Karena tidak ada Pupu dan Mumu" sahutanya pelan kemudian tertawa.


"Wah kamu bisa nakal juga ya"


"Bisa, aku 'kan masih kecil,"


Auristella menggeleng pelan melihat kepolosan di mata Grizelle.


"Kamu sama saja dengan aku ternyata. Sering sulit diatur,"


"Iya, kita sama,"


"Nanti kalau kamu sakit aku tidak mau tanggung jawab ya?"


"Tanggung jawab, harrlus (harus)!"


"Kenapa begitu? kamu yang mengajakku untuk makan ini lebih dulu,"


"Ya tapi kamu tidak melarrlang (melarang) aku, Aurrlis,"


Auristella mendengus kesal. Kalau Ia larang nanti Grizelle beranggapan bahwa Ia pelit atau tidak serius memberikan cokelat atau ice cream untuknya.


"Ini kamu beli buat aku semua?"

__ADS_1


"Tidak, buatku juga. Kamu tidak boleh terlalu banyak, Icelle!"


"Padahal kalau ini untuk aku semua, aku akan menginap di sini lebih lama. Tidak hanya tiga harrli (hari) saja,"


__ADS_2