
"Kakek, tidak boleh mengejek Nay-Nay ku,"
Alis Thanatan bertaut. Belum apa-apa Karina sudah mendapat pendukung. Dan Ia yang sedang sakit tak dibela.
"Ya memang Nay-Nay tidak bisa diandalkan,"
Thanatan pedas sekali menurut Grizelle. Padahal Grizelle rasa Nay-Nay nya handal dalam segala hal. Yang Grizelle tahu neneknya adalah wanita yang masih bekerja meskipun di usianya yang sekarang. Artinya Karina masih kuat, dan profesional.
Karina memasang bed cover kemudian setelah selesai Ia menyuruh suaminya itu untuk melihat sendiri hasil kerjanya.
"Aku bisa. Sempurna 'kan," senyum miring Karina berikan untuk suaminya yang kini membuang muka. Sementara Grizelle bertepuk tangan riang.
"Yeayy Nay-Nay hebat,"
"Ayo, istirahat, Sayang,"
Grizelle menaiki ranjang yang ukurannya lebih kecil dari milik Karina dan Thanatan.
Thanatan menunjuk Grizelle dan menatap Karina. "Tolong dibantu. Dia kesulitan naiknya," kata Thanatan pada istrinya yang baru sadar kalau cucunya memang kesulitan mencapai ranjang. Ia terlalu fokus menatap Thanatan dan menilik kondisinya.
Karina terkekeh geli melihat cucunya yang seperti ingin memanjat pohon.
"Aduh kasihan cucu Nay-Nay. Ayo dibantu,"
"Aku bisa. Hiyaa,"
Grizelle melompat dan berhasil menaiki ranjang. Thanatan dan Karin dibuat menggeleng pelan melihat kelakuan cucunya.
"Seperti anak laki-laki kamu ya,"
"Aku kan perrrlempuan (perempuan), Kakek,"
"Iya, tapi perilakumu seperti laki-laki terkadang,"
Thanatan menyuruh Grizelle untuk segera memejamkan matanya.
"Nay-Nay, di sini tidurrl (tidur)nya?"
"Iya, Sayang,"
Thanatan juga menyuruh Karina untuk segera berbaring dengan Grizelle.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir,"
Thanatan tahu kalau Istrinya seperti ingin menunda waktu tidurnya untuk menjaganya.
__ADS_1
"Tidurlah. Aku juga ingin tidur,"
"Aku menunggumu sampai tidur,"
"Tidak usah, untuk apa menunggu aku?"
"Aku ingin memastikan kamu benar-benar istirahat bukan nanti malah menyelinap ke dalam ruang kerja,"
Thanatan berdecak. Tidak mungkin Ia seperti itu. Kalau mau, sudah sejak tadi Ia melakukannya. Sayang, tubuhnya tidak cukup kuat untuk sekedar beranjak bahkan dari ranjang ke pintu sekalipun.
"Ayo, Nay-Nay kita tidurrl (tidur) biarrl (biar) kakek juga tidurrl (tidur),"
Karina akhirnya bergegss ke ranjang yang akan Ia tenpati bersama Grizelle malam ini.
"Selamat malam, selamat tidur," ujar Karina pada Grizelle dan suaminya. Thanatan hanya membalas dengan gumaman.
"Selamat malam, Nay-Nay. Mimpi yang indah ya,"
Karina memeluk erat tubuh mungil cucunya kemudian memejamkan mata.
Thanatan memang berbaring namun Ia belum terpejam hanya menatap langit-langit kamar. Ternyat Grizelle pun demikian. Tapi keduanya sama-sama terdiam. Hanya ada kesunyian saja di dalam kamar.
Karina sudah terpejam yang tidak lama kemudian benar-benar tenggelam dalam dunia mimpinya.
"Tuhan begitu baik padaku. Menciptakan Grizelle yang seperti malaikat. Tapi kenapa aku masih sulit menerima kehadirannya. Dan semakin ke sini, aku semakin takut kalau aku tidak memiliki cucu laki-laki," gumamnya dalam hati.
Thanatan menghela napas kasar, berusaha menghalau pikirannya yang berlayar ke arah yang seharusnya tidak sekarang Ia pikirkan sebab kondisinya saja belum memungkinkan.
"Kakek, belum istirrlahat (istirahat)?"
Grizelle bertanya pada Kakeknya untuk memastikan apakah Thanatan sudah tidur atau belum. Ia mendengar Kakeknya memghembuskan napas seperi tengah memikirkan sesuatu.
"Belum, ternyata kamu juga belum,"
Grizelle terkekeh lirih. Setelahnya menjawab,"Aku belum bisa. Aku belum mengantuk,"
"Pejamkan matamu. Nanti juga tertidur,"
Grizelle tidak bisa melihat kakeknya sebab posisinya kini dihalangi oleh Karina yang berbaring miring nemeluknya.
"Akan aku coba,"
Thanatan tersenyum jecil mendengar cucunya yang patuh seperti itu. Ia yakin sekarang Grizelle benar-benar tengah mencoba untuk tidur. Suaranya tidak terdengar lagi.
Grizelle memejamkan matanya, berusaha melepas semua hal-hal yang Ia dapat hari ini agar lebih mudah terbang menuju alam mimpi.
__ADS_1
Kira-kira sepuluh menit Grizelle berhasil terlelap. Tak kunjung mendengar suara dari cucunya lagi, Thanatan penasaran, ingin tahu apakah Grizelle sudah tidur atau belum. Maka Ia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Grizelle. Ia tidak bisa melihat Grizelle karena ada istrinya yang memeluk Grizelle sementara bisa Ia lihat Grizelle menenggelamkan kepalanya dalam pelukan hangat Karina.
Thanatan kembali berbaring. Ia senang Grizelle sudah terlelap. Ia tahu Grizelle pasti lelah membantunya untuk makan kemudian mengajaknya mengobrol sehingga Ia jadi nyaman di kamarnya sendiri tidak ada keinginan untuk keluar. Anak itu juga memijat kakinya, tangan, serta kepala demgan suka rela. Tanpa Ia meminta terlebih dahulu. Ketika Grizelle menawarkan, Ia sempat menolak sebab ia yakin Grizelle tidak benar-benar bisa memijatnya nanti bisa jadi malah membuat beberapa bagian tubuhnya sakit. Tapi ternyata dugannya itu salah. Pijatan Grizelle bisa membuat sendi-sendinya rilex dan terasa ringan.
Bahkan Grizelle menawarkan diri untuk menjadi ahli pijat Thanatan bila Kakeknya itu butuh jasanya.
"Grrlatis (gratis) tanpa dipungut biaya. Kakek tenang saja. Kalau Kakek sedang lelah, dan butuh dipijat, cukup panggil aku supaya datang ke sini, nanti akan aku pijat,"
Dengan tulus Grizelle mengatakan itu. Sepertinya baru kali ini Thanatan bertemu anak sebaik dan setulus Grizelle. Apa ada Grizelle lain di luar sana? Maka Thanatan mengucapkan selamat untuk orangtuanya yang telah beruntung melahirkan anak berhati malaikat seperti Grizelle.
*****
"Ingat nanti siang kita ke rumah Kakeknya Icelle,"
"Iya, Lov. Aku ingat. Siangku hari ini tidak padat. Aku bisa pulang,"
"Okay, aku ingatkan kamu supaya kamu jangan sampai lupa. kamu sering begitu. Terlalu sibuk sampai lupa dengan rencana,"
"Tidak akan. Kali ini tidak akan,"
"Iya, Dad. Jangan sampai lupa. Aku mau bertemu Icelle,"
"Siap, Princes kecil Daddy,"
Hari ini Devan mengantar ketiga anaknya ke sekolah dan juga istrinya ke butik.
Kini mobilnya tiba di sekolah tiga malaikat kecilnya. Mereka turun setelah mencium dan memeluk kedua orangtuanya.
"Hati-hati ya. Semangat belajar," pesan Devan dan Lovi pada mereka.
Kemudian Devan kembali melajukan mobilnya menuju butik sang istri.
"Kamu juga tidak sibuk di butik 'kan?"
"Tidak, memang kenapa?"
"Hanya memastikan. Nanti setelah aku menjemput mereka bertiga, aku menjemputmu di butik. Barulah setelah itu kita langsung ke sana,"
"Okay, aku tunggu ya,"
"Iya, Lov,"
Devan meraih tangan Lovi untuk Ia genggam. Tapi Lovi melepasnya. "Fokus mengendarai mobil. Jangan macam-macam,"
Devan terbahak mendmegar istrinya bicara seperti itu. Macam-macam bagaimana yang dimaksud Lovi? apa Ia mencium Lovi ketika berkendara? tidak! kenapa istrinya cemas sekali padahal Ia juga masih bisa fokus sekalipun menggenggam tangan Lovi.
__ADS_1