
"Padahal aku mau mengajaknya makan. Tapi malah tidur,"
"Aku saja yang sedang mengandung tidak mau makan terus, Jane. Tadi kita sudah makan di rumah Mama,"
Jane berdecak menggeleng tak setuju dengan anggapan Vanilla bahwa Ia makan terus.
"Pelampiasan untuk menghilangkan rasa sedih, Van,"
"Sudah tahu akan sedih kalau berpisah. Kenapa masih dilakukan?!" Vanilla menyindir sepupunya itu dengan terang-terangan.
Seandainya tidak berpisah jarak dengan Richard mungkin Jane tidak akan sedih. Salahnya sendiri yang meninggikan sifat keegoisan.
"Kira-kira dia sedih juga tidak ya?"
Vanilla berdecak geli. Melihat Jane yang seperti seorang gadis remaja yang tengah jatuh cinta membuat Ia tak habis pikir.
"Daripada tanya aku, lebih baik tanya Richard langsung,"
"Ah tidak," Jaje langaung menolak tegas. Selama ini Ia menghindar dsn tiba-tiba memghubungi lebih dulu? itu akan membuat Richard menertawainya.
"Sudahlah, jangan pikirkan apapun. Bahagia saja dulu. Masalah kamu dengan Richard dilupakan sementara waktu,"
"Iya! memang siapa yang tidak bahagia? aku bahagia sekali pulang ke sini,"
"Kamu kalau bicara bisa pelan tidak? anakku sedang tidur,"
Kalau tidak melihat Jane tengah fokus menyetir, sudah Vanilla pukul kepala sepupunya yang bicaranya tak pernah santai ini. Grizelle sedang terlelap dalam perjalanan. Kalau Jane bicara kers, Grizelle bisa bangun.
"Ya biar saja dia bangun. Kita langsung cari restaurant,"
"Makan terus, makan terus. Hati-hati dengan berat badan. Nanti kamu semakin sedih kalau sampai gemuk,"
Jane ini sama seperti Vanilla sebelum memiliki anak yabg begitu menjaga bentuk tubuh sebab pekerjaanya juga mengandalkan bentuk tubuh yang proporsional.
"Biarlah, aku bukan model sepertimu,"
"Tapi kamu saja dengan model. Sangat memikirkan berat badan,"
"Tapi itu ada gunanya juga, Van. Buktinya suamiku bisa bertahan enam tahun?" kata Jane seraya tertawa. Ia pikir mungkin salah satu faktor yang membuat Richard masih bertahan bersamanya karena fisikmya sangat menguntungkan siapapun yang memilikinya.
"Tidak usah terlalu percaya diri! dia bertahan padamu mungkin karena dia kasiham padamu. Takut kamu akan stres bila dia tinggalkan. Sekarang saja mulai stres setelah jauh dari dia,"
Jane menampar paha sepupunya hanya itu yang bisa Ia lakukan sebab Ia tengah menyetir. Ingin sekali membugkam mulut Vanilla.
"Sialan kamu!"
Vanilla terbahak mendapat makian itu. Ia sampai memegangi perutnya sendiri yang langsung terasa berkedut begitu Ia tertawa.
"Hah! anakmu tidak suka kalau kamu meledek Auntyny,"seru Jane yang menyadari kalau Vanilla tengah merasakan sesuatu dari perutnya.
"Tidak! anakku justru mendukung. Tadi dia sedang bertepuk tangan karena Mumunya berhasil membuat Auntynya kesal,"
"Brengsek sekali Vanilla ya. Minta aku tampar mulutnya,"
__ADS_1
Vanilla kembali tertawa puas. Perutnya malah tergelitik saat Jane berucap kasar padanya, alih-alih Ia marah.
"Dia akan menjadi pasukanku, Van,"
"Tidak! dia 'kan anakku. Maka akan jadi pasukanku,"
"Ya sudah, pasukanku Grizelle saja,"
Vanilla mempersilahkan. Biar adil, Ia satu dan sepupunya satu. Jadi kalau sedang berdebat dua-dianya ada kemungkijan bisa menjadi pemenang sebab ada pasukan.
"Nanti triple A menjadi pasukanku juga,"
"Oh tidak bisa. Mereka itu dekat dengan Grizelle, pasti akan ikut Grizelle dan otomatis akan ada dipihakku," Jane memasang raut jumawa yang menyebalkam di mata Vanilla.
"Apa-apaan. Anakku yabg satu sudah diambil alih lalu masih mau mengambil alih keponakanku juga,"
Jane terkekeh puas.Vanilla akan pikir-pikir kalau mau mencari masalah dengannya.
*****
"Hei, gayamu seperti bos saja ya. Tidur di atas sofa, banyak makanan, minuman,"
Auristella pulang berlatih piano disambut dengan kelakuan Adrian yang seperti bos menurutnya.
Adrian menoleh ke arahnya kemudiaj fokus lagi menatap layar iPad.
"Mengerjakan tugas!" sahut anak laki-laki itu pada adiknya dengan galak.
"Bilang saja kamu juga mau seperti aku ya? baru pulang sih, jadi--"
"Ya, aku tahu,"
Auristella mendengkus. Kemudiam Ia meneguk lemon tea kedua milik Adrian dan langsung menjauh karena kakaknya berseru kesal.
"MENGAMBIL MINUM ORANG SEMBARANGAN!"
"Memang kamu orang?"
Auristella berbalik dan mengajukan pertanyaan seperti itu. Adrian dengan cepat menjawab, "Bukan! aku hantu,"
Auristella menertawakan kakaknya. Saat melihat Adrian akan melemparinya dengan bantal sofa, Auristella berlari menghindar.
"Erghh Auris memancing emosiku saja. Lagi serius mengerjakan tugas, dia malah datang mengganggu,"
Adrian memilih untuk tidak mengejar adiknya. Tugas lebih pemtibg walaupun ingin sekali memyerang Auristella dengan bantal sofa bahkan sofanya sekalian, tapi sayangnya Ia tidak punya rasa tega untuk melakukan itu.
Auristella berganti pakaian dan kembali memghampiri kakak keduanya.
"Ean dimana?"
"Di kamarnya," sahut Adrian setengah hati. Jujur Ia kesal Auristella datang lagi.
"Dia masih sakit?"
__ADS_1
"Masih!" dengan galak Adrian menjawab lagi.
"Mommy di kamarnya juga ya?"
Kali ini Adrian mengangguk. Saat melibat tangan Auristella akan mengambil lemon teanya lagi, ia segera melarang.
"Jangan mengambil terus. Buat sana!"
"Ugh! tidak punya hati,"
Adrian merotasikan bola matanya. Tak peduli dikatakan tidak punya hati oleh adiknya.
"Kamu benar-benar kalap minum ice cream ya, Ian? sampai lima bungkus kosong ada di sini. Belum lagi yang masih baru belum dibuka,"
Semuanya tergeletak di atas meja. Auristella berdecak dan menggeleng pelan melihat banyaknya ice cream yang ada di atas meja baik yang tersisa kemasannya saja maupun yang belum dibuka.
"Kalau mommy melihat, pasti kamu dimarahi,"
"Tidak lah. Nanti aku bereskan,"
"Mandiri ya! jangan hanya bisa mengejekku tidak mandiri,"
"Ya!"
Adrian akan membereskan meja yabg telah Ia jadikan sebagai tempat meletakkan ice cream dan segala macam makanan ringaj yang sejak tadi menemaninya mengerjakan tugas.
"Olahraga tidak. Makan banyak iya,"
"Berisik kamu,"
"Aku hanya memberi tahu,"
"Tidak usah diberi tahu, aku juga sudah tahu. Besok aku lari pagi dengan Daddy,"
"Sekolah,"
"Bangunnya lebih pagi. Aku bisa bangun pagi. Memang kamu yang pemalas?"
Auristella menggertakan giginya kesal. Ingin sekali mengacak wajah kakaknya yabg sembarangan bicara itu.
"Bagaimana keadaan Ean?"
"Kamu lihat sendiri di kamarnya. Aku sejak tadi memgerjakan tugas, jadi belum melihatnya,"
"Tapi dia tidak sampai pingsan 'kan?" Auristella bertanya serius tapi dianggap sebaliknya oleh Adrian.
"Jangan bicara begitu! kamu menyumpahi Ean pingsan?"
"Mana mungkin!"
Tangan Auristella terangkat ingin memukul bahu kakak keduanya tapi Adrian segera beringsut menjauh ke ujung sofa yang lain..
"Kamu pergi saja. Jangan ganggu. Silahkan pergi!"
__ADS_1
Adrian dengan terang-terangam mengusir Auristella. Sangat tidak ingin diganggu sampai Ia mendorong pelan bahu adiknya agar Auristella menjauh darinya supaya Ia kembai fokus menyelesaikan tugas sekolahnya.
Auristella memilih untuk mencari tahu kondisi Adrean secara langsung sebab kakak keduanya tidak tahu tentang itu katanya, sibuk dengan tugas.