
"Kakek, serrling (sering) ajak aku lagi ya. Aku senang ikut Kakek perrlgi seperrlti (pergi seperti) tadi,"
Thanatan mengangguk dan akan mengingat pesan cucunya itu. Ia harus memiliki rasa tidak keberatan lagi ketika Grizelle ikut. Sebab tidak salah mengajak Grizelle menghadiri acara pertemuan semacam tadi. Grizelle tidak mengganggunya, Ia tetap bisa fokus bekerja, dan tidak hanya ia sendiri, sebab temannya pun kerap membawa cucu kalau memang waktu maupun situasinya tepat.
"Iya, lain kali Kakek ajak lagi. Sekarang sudah sampai,"
Thanatan menyuruh cucunya turun dari mobil. Thanatan mengantar masuk anak itu agar bertemu orangtuanya supaya mereka dapat memastikan Grizelle pergi dan pulang dalam keadaan baik-baik saja.
"Terimakasih ya, Pa,"
"Ya, sama-sama,"
"Makan malam dulu, Pa,"
Thanatan menggeleng. Ia ingin langsung pulang ke rumah. "Jhico sedang di kamar mandi, tunggu sebentar, Pa. Aku panggil Jhico dulu,"
"Papa langsung pulang saja,"
"Hati-hati, Pa,"
"Kakek, hati-hati ya. Selamat sampai tujuan,"
Thanatan mengangguk dengan senyumannya. Ia meninggalkan kediaman putranya untuk kembali ke rumah. Kesibukannya hari ini selesai. Ia ingin langsung beristirahat ketika sudah sampai nanti.
"Ayo, Icelle harus istirahat,"
"Okay, Mu. Selamat malam, ya"
"Malam juga, Sayang,"
******
Vanilla sadar kalau selama mengandung Ia jarang sekali mengikuti kegiatan yoga. Maka pagi ini rencananya, Ia akan yoga. Jhico juga sudah mengatakan pasti akan mengantarnya. Kini Jhico tengah mandi. Sementara dirinya sudah selesai membuat sarapan dan kini tengah membuat susu.
Grizelle belum bangun karena hari ini adalah akhir pekan maka Vanilla membiarkan anaknya tidak dibangunkan. Tadi sebenarnya sudah sempat bangun pukul empat pagi dan mengetuk pintu kamarnya karena katanya mimpi buruk. Hal itulah yang membuat Vanilla juga bangun kemudian langsung melakukan kesibukannya. Seandainya sang putri tak mengetuk pintu kamar, mungkin Ia akan bangun lebih siang.
Grizelle akhirnya tidur di kamar orangtuanya, menguasai ranjang seorang diri disaat kedua orangtuanya sudah melakukan aktifitas masing-masing.
Jhico menghampiri istrinya. "Susunya sudah dibuat? padahal aku yang ingin membuatnya," kata Jhico melihat gelas istrinya sudah terisi dengan susu untuk nutrisi anak mereka dalam kandungan Vanilla.
"Sudah, ayo sarapan,"
Vanilla hanya meminum susunya saja, belum ingin makan apapun termasuk sereal.
"Icelle masih tidur 'kan?"
Jhico mengangguk, Sampai Ia selesai mandi, Grizelle masih terlelap nyaman di ranjang.
"Hari ini sepertinya Keyfa jadi datang dan mereka akan bermain. Jadi aku biarkan saja Icelle tidur. Lagipula libur juga,"
"Nanti dia bingung kita pergi kemana setelah bangun tidak ada kita berdua,"
Jhico dan Vanilla terkekeh membayangkan itu. Memang pastilah Grizelle bingung. Biasanya meskipun akhir pekan, kedua orangtuanya tidak pergi sekalipun pergi juga pasti bersamanya. Saat ini Ia tidak tahu apapun.
__ADS_1
"Dia pasti bertanya pada Bibi atau Nada. Kita beri pesan saja pada mereka,"
*****
Setelah diminta oleh Mommynya menyiapkan gelas sebab Aurislla yang minta diberi tuga sdaripada hanya mengamati Mommy dan maid saja yang sibuk. Kini Auristella diberi tugas untuk membangunkan ayah dan kedua kakak lelakinya.
"Aku saja bisa bangun pagi. Tadi aku bangun pukul lima,"
"Ya karena kamu juga mimpi buruk, Sayang,"
Padahal Auristella juga tidak jarang bangun sedikit siang apalagi kalau tidak sekolah. Pasti tidurnya lanjut terus dan akan berhenti ketika sudah dibanguni.
Auristella membangunkan ayahnya terlebih dahulu. Ia membuka selimut yang membalut tubuh sang ayah secara keseluruhan.
"Daddy, bangun," Auristella membangunkan dengan lembut seraya mengusap rambut ayahnya.
"Daddy, sudah malam ini, terlalu lama tidurnya dari malam sampai ketemu malam lagi. Ayo, bangun, Dad," katanya yang jelas saka berbohong karena sekarang ini pagi hari.
Auristella kini menarik kelopak mata ayahnya agar terbuka. Devan berdecak dan menolehkan kepalanya, menghindari gangguan yang diciptakan sang putri.
"Daddy, ayo bangun,"
"Hmm nanti. Tidak bekerja," gumam Devan tidak jelas. Maksudnya selagi tidak bekerja maka Ia bebas bangun nanti-nanti.
"Tapi sudah diminta Mommy untuk bangun. Makanya Dad, kalau sudah malam itu jangan bermain game atau bekerja. Biar waktu istirahatnya tidak terganggu,"
Devan meletakkan satu lengannya di kening seraya mencibir, "Berisik."
"Berisik mulutmu ya,"
"Dad, aku 'kan memberi tahukan hal yang benar,"
Devan berbalik memunggungi Auristella hingga anak itu mendengkus kesal.
"Daddy, ayo bangun," Ia mengguncang pengan Devan, Ia tak akan menyerah sampai Daddynya bangun.
"Daddy sayang, bangun, ayo,"
"Ya ampun, Auris," Devan mulai kesal dengan anaknya ini.
"Ayo bangun, siapa yang menyuruh Daddy bermain game sampai tengah malam dengan Ean dan Ian. Akhirnya pagi ini kalian bertiga seperti orang pingsan,"
"Iya, nanti bangun. Sudah, kamu banguni kakakmu saja,"
"Benar Daddy akan bangun?"
Devan mengangguk pelan. Begitu Auristella keluar dari kamar, Devan menarik kembali selimutnya hingga menutupi kepala.
Auristella mengetuk pintu kamar kedua kakanya, tak ada sahutan yang mengharuskan Ia untuk membangunkan secara langsung.
ia menghembuskan napas kasar. Beginilah kalau sudah tidur sampai tengah malam. Susah untuk dibangunkan. Lovi tidak berhasol membangunkan ketiganya, maka Ia lah yang diberi tugas.
"Ian, bangun, ayo bangun, cepat!"
__ADS_1
Ia mendekati Adrian dan langsung mencubit pipinya. Sampai Adrian sibuat geram.
"Auris diam! jangan mencari masalah denganku ya. Ini masih malam, aku masih mengantuk,"
"Malam apa?!"
Auristella menarik kelopak mata kakaknya agar mau terbuka, ia melakukan hal serupa dengan yang tadi Ia lakukan pada Devan.
"Ayo, bangun. Momny sudah memanggilmu itu,"
"Aku absen dulu lah,"
"Absen-absen apa?! hah? ini bukan sekolah," gerutu Airistella yang mendengar kakaknya menjawab asal.
"Diam, Auris!" titah Adrian seraya berbaring terlungkup agar Auristella tidak lagi bebas menjahili pipinya.
"Ayo, bangun. Jangan sampai aku siram pakai shower ya?!"
"Siram saja asal showernya sampai ke sini," tantang anak laki-laki dengan sifat kejahilannya yang selalu melekat itu.
"Oh menantangku dia ya,"
Auristella beranjak dari ranjang kakaknya dan ketika itu juga ibu jari kakinya ditarik oleh Adrian hingga Ia berseru kaget.
"Keluar, jangan ganggu!" tegas Adrian.
"Tapi Mommy sudah menunggu kita di bawah untuk sarapan. Ayolah!"
Adrian dian tak menyahuti lagi dan bisa Auristella pastika kakaknya itu kembali terlelap pulas.
Auristella menyisiri bulu mata Adrian dengan jari telunjuknya dan itu membuat Adrian merasa terganggu lagi.
"Kamu benar-benar mencri masalah ya,"
Adrian beranjak duduk dengan wajah marahnya dan saat itulah Auristella berlari keluar. Tapi sebelum itu Ia berteriak "BANGUN, TIDAK BOLEH TIDUR LAGI,"
Auristella ke kamar kakak pertamanya sekarang. Semoga kali ini tidak begitu menguras kesabaran. Itu doa Auristella.
Ia mengguncang lengan Andrean, "Ean, bangun ya. Sudah dipanggil Mommy,"
Andrean belum bergerak sama sekali tapi Auristella tidak menyerah. "Ean, Kakakku yang tampan, ayo bangun. Jangan sampai aku kesal padamu dan aku menjahilimu ya,"
"Iya-iya sebentar,"
"Ean, tidak ada kata sebentar. Kamu harus bangun sekarang juga, tinggalkan tempat tidur ini lalu ke kamar mandi sebentar setelah itu temui Mommy. Ayo!"
Auristella akhirnya menarik tangan kakaknya agar duduk. Melihat andrean sudah duduk dan matanya tak lagi terpejam. Auristella bertepuk tangan senang
"Akhirnya bangun juga,"
Andrean dengan wajah khas bangun tidurnya menatap adiknya dingin.
"Kamu pengganggu,"
__ADS_1