Nillaku

Nillaku
Nillaku 214 (Grizelle di rumah Thanatan dan Karina)


__ADS_3

"Besok jangan lupa ada graduation,"


"Iya,"


Vanilla bisa tertawa bahagia sekarang. Karena setelah sekian lama akhirnya Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ia sempat menjadi mahasiswa yang begitu mencintai kampus karena terlalu lama berada di sana. Ia malas sekali belajar. Terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.


Setelah menikah dengan Jhico barulah ada niat untuk serius menuntut ilmu. Saat mengandung Grizelle sempat berhenti sementara. Kemudian Ia melanjutkan lagi. Dan akhirnya, Ia sampai di titik ini. Setelah melepas masa sebagai seorang mahasiswa, Vanilla merasa satu beban hidupnya hilang. Setidaknya Ia tidak membuat malu keluarga, terutama anak dan suaminya bila Ia tidak selesai-selesai kuliah seperti dulu. Kalau sudah lulus, Ia menjadi semakin percaya diri menjadi pendamping Jhico yang seorang dokter. Sudah menikah cukup lama dengan Jhico kemudian memiliki anak, apa kalian berpikir Vanilla selalu percaya diri? Tidak, ada kalanya Ia merasa kurang pantas menjadi istri Jhico dan Ibu dari Grizelle mengingat pendidikan kuliahnya belum usai.


Vanilla dan Joana yang seperti biasa, membantunya bekerja seharian ini, berpisah ketika sudah sampai di tempat memarkirkan mobil mereka masing-masing. Vanilla akan segera menuju kediaman Karina dan Thanatan, orangtua Jhico. Sementara Joana pulang ke rumah.


******


"Tidak biasanya ada anak kecil di sini,"


Grizelle tersenyum menyapa tamu yang datang ke rumah kakek dan neneknya. Ia mengikuti Karina menuju ruang tamu untuk menyambut tamu Thanatan.


"Ini cucu ku. Namanya Grizelle,"


"Hai Grizelle. Panggil aku Kakek Theo saja ya,"


Grizelle mengangguk sopan masih dengan senyumnya. Ia sedari tadi berdiri di belakang Neneknya sembari memilin baju Karina.


"Oh malu-malu si cantik ini," ujar Theo saat melihat Grizelle hanya menimbulkan kepalanya saja dari balik baju Karina.


"Iya, baru kali ini menyambut tamu Kakek nya," ujar Karina terkekeh kemudian Ia memanggil maid untuk menyiapkan sajian.


"Kebetulan Thanatan sedang ke Jepang,"


"Oh begitu rupanya? sejak kapan?"


"Sejak--hari apa ya, aku lupa. Tapi memang ada hal penting apa? nanti akan aku sampaikan,"


"Ya, hanya mau berbincang santai saja dengan dia sebenarnya. Ternyata dia tidak ada,"


"Pasti merayu untuk masalah bisnis ya?"


Theo tertawa mendengar tebakan Karina. Memang benar, Ia ingin membujuk Thanatan yang untuk kali ini tak mau terikat dengan salah satu anak perusahaannya.


"Ada pertimbangan yang membuat dia begitu. Jadi, anak perusaahan ku ini sempat akan jatuh. Tapi sekarang sudah stabil. Mungkin Thanatan takut tidak ada keuntungan kalau kerja sama dengan anak perusahaan ku yang ini," ujar Theo kembali tertawa. Karina membawa cucunya ikut duduk bersamanya. Seperti biasa, Grizelle selalu pandai membawa diri. Ia menjadi pendengar saja tanpa menganggu sedikitpun. Ia tak bisa berlari menjauh dari ruang tamu karena Ia sudah lelah bermain dan lagi pula Hawra sedang beristirahat. Ia tidak ingin mengganggu, jadi akan lebih baik ikut bersama Neneknya ketika tahu bahwa ada tamu kakeknya yang datang.


"Griz sudah sekolah ya? usianya berapa sekarang?"


"Kata Mumu, aku sudah sekolah sejak usia enam bulan. Sekalang usiaku hampil empat tahun,"


Meski dengan gaya bicara anak kecil pada umumnya, bahkan artikulasi huruf R belum terlalu jelas, namun Grizelle menjawab dengan lugas dan sopan.


"Oh ya? enam bulan itu belajar apa? masih ingat?" Theo jahil menggoda Cucu Thanatan yang cantik itu. Ia pun ingin tahu seberapa pintar Grizelle. Biasanya hanya dari cara berbicara pun, Ia bisa menilai.


"Belajal motolik. Belajal mengenal suala, bentuk, dali yang mudah-mudah dulu, Kakek. Belum belajal belhitung dan membaca,"

__ADS_1


Theo menganggukkan kepalanya, menatap anak di hadapannya ini dengan pandangan memuji.


"Sekarang sudah bisa berhitung dan membaca?"


"Sudah. Aku juga sudah bisa membuat mobil mainan dali batelai kemalin,"


Grizelle menceritakan kegiatannya di sekolah. Ia ditugasi membuat mobil mainan berukuran kecil kemudian disambungkan melalui beberapa kabel ke sebuah baterai. Sebenarnya sudah dua kali ia membuatnya di sekolah. Saat pertama kali membuat, begitu tiba di rumah, Ia langsung berteriak memanggil Vanilla yang Ia tahu tidak bekerja pada hari itu kemudian Ia langsung menunjukkan hasil karyanya. Saat Jhico pulang bekerja pun, Grizelle melakukan hal yang sama. Dengan antusias Ia memberi tahu pada kedua orangtuanya bagaimana proses pembuatan mobil itu. Vanilla dan Jhico pun antusias mendengarkan anaknya yang menjelaskan dengan detail.


"Nanti, aku mau buat loket (roket), Kakek. Loketnya kecil, bukan Loket yang besal sepelti (besar seperti) di lual (luar) angkasa itu,"


Theo tidak kuat menahan gemasnya pada Grizelle yang tadi nampak malu-malu kini malah terlihat semangat sekali bercerita dengannya.


"Nanti kalau aku sudah buat, aku beli tahu Kakek Theo ya,"


"Ah yang mobil saja Kakek belum lihat hasilnya,"


Bibir Grizelle melengkung, "Aku tidak bawa mobil nya. Tapi benal, aku bisa buatnya," ujarnya meyakinkan Theo yang pura-pura kurang percaya dengan hasil karya Grizelle.


"Nanti---"


"Theo, ada apa datang ke sini?"


Grizelle berhenti bicara saat suara Thanatan menginterupsinya. Anak itu terlihat kaget dengan kedatangan kakeknya begitupun dengan Karina yang tidak menyangka suaminya akan pulang sekarang.


"Astaga, kau datang sekarang rupanya? Berutung aku tidak langsung pulang tadi, mendengarkan cucumu yang pintar ini bercerita,"


"Ayo, Sayang. Ceritanya disambung lain kali. Kita minum ice cream ya? Nay-Nay punya ice cream banyak,"


Grizelle mengangguk semangat. Sebelum Ia mengikuti langkah neneknya, Theo bicara padanya, "Nanti cerita-cerita lagi ya. Kakek salut padamu. Pintar sekali kamu,"


"Semoga aku benar pintar ya, Kakek. Telimakasih sudah mau dengal celita aku tadi," Grizelle justru tidak membenarkan bahwa dirinya pintar malah berdoa kalau ucapan Theo akan menjadi kenyataan.


"Sudah, jangan banyak omong. Masuk, ikuti Nay-Nay," lugas Thanatan.


Grizelle mengulum bibirnya saat ditatap dingin oleh Thanatan. Ia menunduk, meremat jemarinya kemudian menjauh dari ruang tamu.


"Tidak apa dia banyak bicara. Yang penting bicara nya berbobot, menandakan kalau dia pintar,"


Thanatan hanya diam, tak menanggapi Theo bicara. "Jadi, bagaimana? kenapa kau datang ke sini?"


"Ya, mau membujukmu lah. Aku bisa meyakinkan mu bahwa anak perusaahanku ini tidak akan merugikan,"


"Tapi sempat akan jatuh 'kan?"


"Sekarang sudah stabil. Lihat ini,"


Theo mengeluarkan berkas-berkas dari tas yang Ia bawa. Kemudian menunjukkan rekam jejak anak perusaannya pada Thanatan.


*****

__ADS_1


Karina membuka lemari pendingin berisi ice cream yang Ia persiapkan sebelum kedatangan cucunya.


Ia menoleh dengan antusias ingin menunjukkan pada cucunya bahwa banyak varian rasa ice cream namun Ia tak mendapati sang cucu.


Ia akan melangkah kembali menuju ruangan dimana sebelumnya Grizelle berada. Mungkin anak itu masih bicara dengan Theo.


Ia bertemu langkah dengan Grizelle yang berjalan menunduk. Ia segera menopang lututnya di lantai untuk melihat wajah Grizelle.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Tidak apa, Nay-Nay,"


Grizelle menjawab seraya mengangkat kepalanya. Ia tersenyum seraya merangkum wajah Karina.


"Kamu---dimarahi Kakek? atau---"


"Tidak, Kakek tidak marah padaku,"


"Lalu, kenapa kamu tidak langsung menyusul Nay-Nay ke sini?"


Grizelle tersenyum memperlihatkan giginya, riang sekali kelihatannya. Padahal Ia sedang tidak baik-baik saja saat ditegur oleh kakeknya. Walaupun tidak dengan nada yang keras, tapi raut wajahnya Thanatan dingin sekali ketika memperingatinya. Nada suara kakeknya itu juga sama.


*****


"Grizelle itu cucumu satu-satunya 'kan? beruntung kau memilikinya. Aku suka melihatnya. Cantik, banyak bicara tapi menurutku dia pintar,"


"Ah percuma pintar kalau tidak bisa diandalkan memegang apa yang aku punya di kemudian hari. Nanti seperti ayahnya. Pintar tapi kepintarannya itu malah dipakai untuk membangkang,"


Theo terkekeh mengerti. Memang sepertinya hanya dua dari sepuluh anak pengusaha yang tidak berakhir di kursi kekuasaan perusahaan milik orangtuanya. Jhico termasuk salah satunya.


Jhico berhasil menjadi apa yang diinginkannya. Tidak seperti kebanyakan anak pengusaha yang pada akhirnya terpaksa mengikuti apa kemauan orangtua mereka.


"Memang kenapa kau seyakin itu Grizelle tidak bisa menjadi penerusmu?"


"Dia perempuan. Apa yang dia bisa?" Thanatan berdecih tak sedikitpun yakin bahwa Grizelle ada kemungkinan bisa menjadi penerusnya.


Yang laki-laki saja, contohnya Jhico, tidak bisa diandalkan. Apalagi Perempuan? maka harapan Thanatan Ia punya cucu laki-laki yang mungkin berbeda dengan putranya itu. Bisa diatur, tidak membangkang membawa kemauan sendiri.


"Tapi kalau hanya dia satu-satunya cucumu, apa yang akan kau lakukan?"


"Seharusnya dia bukan satu-satunya. Ada kemungkinan aku punya cucu laki-laki. Tapi sayang, sebelum lahir, dia sudah pergi untuk selamanya,"


Theo terperangah, "Oh Astaga. Jadi Jhico akan memiliki anak kedua?"


Thanatan mengangguk pelan, "Ya, tapi meninggal karena Ibunya yang sibuk berkarir. Bahkan keberadaannya pun tidak disadari oleh Ibunya itu,"


 


Heyooo met pagii dunia NT. Udh follow akun ini blm? follow yaa trs like, vote, komen jgn lupa. Follow Instagram aku juga👉arzeemhrn

__ADS_1


__ADS_2