Nillaku

Nillaku
Nillaku 362 Karena kakinya terluka Grizelle tidak masuk sekolah


__ADS_3

Meskipun tidak datang ke kantor, Devan tetap bekerja seperti biasanya. Hanya saja, untuk hari ini ia bekerja dari rumah sebab anak terakhirnya tidak menginginkan ia untuk pergi bekerja.


Auristella terlelap kembali dan Devan memilih untuk sibuk dengan pekerjaannya tapi Ia tetap ada di samping putrinya.


Lovi menyudahi sarapannya bukan berarti kesibukannya usai. Ia yang memang punya tugas untuk dirinya sendiri yaitu mengurus taman, setelah sarapan, bergegas ke tempat cantik itu. Ia begitu menyukai taman dari dulu hingga sekarang. Maka sampai ekarang tempat itu tetap bertahan sekalipun Devan mengatakn hanya buang-buang lahar rumah saja,lebih djmnfaatkan untuk yang lain.


Lovi tentu tidak setuju. Dimanfaatkan untuk apa lagi? di rumahnya semua sudah cukup. Semua fasilitas ada. Ia tidak rela kalau tamannya hilang.


"Nona,"


"Hei, Sera, kemari,"


Maid yang setia menemaninya dari awal menjadi pendamping hidup sampai sekarang, Sera. Dia wanita yang begitu baik dan tulus. Sampai Ia sudah memiliki tiga anak, Sera masih mengabdi.


"Nona ingat tidak, dulu kalau sedang bersedih, suka menyendiri di tempat ini?"


Lovi mengangguk,tentu saja Ia ingat. Terlalu banyak ujin dala pernikahan membuat Lovi terkadang lelah dan hampir menyerah. Tapi Sera selalu ada untuknya, dan taman juga selalu siap menjadi tempatnya berbagi kesedihan.


"Ya, aku selalu ingat setiap momen yang terjadi dalam hidupku Sera,"


"Tidak terasa, sekarang, anak-anak Nona sudah tumbuh besar. Bisa menjadi teman untuk Nona juga, apalagi Auris. Jadi Nona sdah jarang menyendiri di sini, datang ke sini hanya untuk merawatnya,"


Lovi terkekeh membenarkan. Ia tidak pernah lagi berkeinginan untuk menangis sendiri. Sebab apa juga yang harus ditangisi? Ia sudah cukup bahagia dengan kehidupannya saat ini.


"Terimakasih ya, Sera. Selalu itu yang ingin aku ucapkan setiap menatapmu"


"Sama-sama, Nona. Aku senang bisa menjadi temanmu sejak awal sampai sekarang. Aku senang melihat perubahn yang terjadi dalam hidupmu. Dulu, Nona begitu dibenci oleh dunia, bahkan oleh suami Nona sendiri, tapi sekarang, Nona sudah mendapatkan balasan atas rasa sakit yang pernah Nona alami dulu. Nona sudah bahagia, dan aku berdoa agar selamanya Nona merasakan kebahagiaan,"


Tanpa sadar Lovi mengusap setetes liquid bening yang euar dari sudut matanya.


"Kamu orang baik,"


"Nona pun begitu,"


Lovi tidak canggung memeluk Sera. Hari ini ditaman, mereka jadi mengingat kilas balik yag pernah dilewati.


"Anak-anak Nona tidak terasa sudah mulai beranjak besar. Artinya tidak lama lagi Nona akan mendapatkan menantu," Sera mengatakannya seraya tertawa. Lovi melepas pelukan dan Ia juga tertawa.


"Kamu ada-ada saja, Sera. Mereka masih sekolah. Aku saja belum berpikir ke arah sana. Dan kamu? bisa-bisanya sudah memiknrkan itu,"


Sera kian tertawa. Ia tidak sabar melihat masa depan ketiga anak yang disayanginya itu. Mereka sukses, lalu mendapat pasangan yang mampu meengkapi mereka.


Ia yang bukan bagian dari mereka saja akan merasakan kebahagian yang berlimpah. Apalagi Lovi dan Devan.


"Nanti jangan melupakan aku saat mereka menikah ya, Nona. Undang aku,"


"Ya ampun, Itu pasti, Sera. Tapi jangan bahas itu sekarang,"


Lovi gemas dengan Sera yang bisa-biasanya membahas pernikahan ketiga anaknya di masa depan.


Mereka saja masih sekolah, apa-apa masih membutuhkan dirinya dan Devan, belum bisa mandri, tapi pikiran Sera sudah terlalu jauh.


****

__ADS_1


"Nilla, kamu belum jadi periksa kandungan. Bagaimana ini?"


Kemarin saat jadwal periksa yang seharusnya, Vanilla tidak datang


sebab dokternya berhalangan hadir dan diganti hari ini namun Vanilla sepertinya tidak mau meninggalkan Grizelle yang kebetulan tidak sekolah hari ini.


"Kamu periksa saja. Griz biar sama Nada. Aku temani aku ke sana,"


"Tidak mau, Jhi. Nanti aku ubah jadwalnya,"


"Tapi kamu---"


"Jhi, hari ini Griz tidak sekolah. Kalau aku tinggalkan, kasihan Griz,"


"Ya suudah,"


Jhico tidak bisa memaksa istrinya yang memilih untuk mengutamakan anak mereka. Padahal menurut Jhico, Grizelle bisa bersama Nada. Lagipula periksa kandungan Vanilla tidak akan sampai sore. Tapi Jhico harus menghargai keputusan Vanilla.


"Aku berangkat ke klinik ya,"


"Ya, hati-hati,"


"Okay,"


Jhico mendekati Grizelle untuk izin perg bekerja tapi Grizelle sudah mulai terlena dengan alam mimpi lagi. Terlihat dari matanya yang mulai terpejam tapi kemudian terbuka lgi.


Jhico menyentuh lengan anak itu yang langsung membutnya menoleh. "Pupu sudah mau perrlgi (pergi) ya?"


"Iya, Sayang. Griz di rumah baik-baik ya. Jangan banyak bergerak. Kalau perlu pakai kursi roda Mumu itu,"


Jhico tertawa melihat anaknya yang nenggeleng cepat. Kemudian Ia memgatakn bahwa sakitnya tidak parah.


"Tapi tadi sampai menangis kencang,"


Grizelle tersenyum malu. Ia memeluk Pupunya seerat yang Ia bisa kemudian Ia membiarkan ayahnya pergi bekerja setelah memberikannya kecupan kasih sayang di kening.


"Pupu sudah pergi bekerja. Sekarang Griz tidur lagi,"


"Masih pagi,"


"Nanti bangun untuk makan siang dan minum obat,"


"Aku mau makan makanan rlringan (ringan), Mu,"


"Apa? cookies?"


"Ya, aku mau,"


Vanilla mengangguk, Ia mengambilkan apa yang diinginkan anaknya itu.


"Aku mau menonton,"


"Iya, boleh,"

__ADS_1


"Di kamarrl (kamar) Mumu,"


Vanilla lagi-lagi menuruti. Ia menawarkan kursi roda pada anaknya yang ditolak langaung.


"Aku bisa jalan, Mu,"


"Iya, tapi biar lebih aman. Takut-takut lukanya menyentuh sesuatu ketika berjalan. Sekarang lukamu dibiarkan terbuka,"


"Tidak mau, aku mau jalan,"


"Ya sudah, hati-hati. Mumu bantu, ayo,"


Vanilla memapah anaknya yang ketas kepala ini. Ia yang ngilu melihat Grizelle berjalan.


"Sebentar,"


Vanilla membukakakn pintu kamrnya kemudian Ia langsung mempersilahkan Grizelle masuk.


"Aduh Mumu takut melihat lukamu, Sayang,"


"Tidak usah takut. Ini hanya luka kecil, Mu. Aku 'kan anak hebat dan kuat,"


Grizelle duduk di tepi ranjang. Saat akan meluruskan kakinya, Ia merasa sedikit nyeri.


"Anak hebat dan kuat tapi jatuh sampai dua kali,"


"Itu tidak disengaja, Mu,"


"Ya, ketidak sengajaan yang terjadi dua kali,"


Vanilla membaringkan anaknya. Ia menyerahkan remote televisi pada Grizelle yang tadi mengatakan ingin menonton.


"Griz mau dibuatkan sesuatu tidak? cake atau brownies?"


"Yang kedua, mau,"


"Apa? brownies?"


"Ya, tapi Mumu belinya nanti saja,"


"Oh mau beli? tidak mau Mumu buatkan?"


"Tidak mau, aku mau beli saja,"


"Kenapa memangnya? takut buatan Mumu tidak enak dimakan ya?"


"Bukan, aku tidak mau ditinggal Mumu untuk buat itu,"


"Nanti Mumu buatnya saat Griz tidur,"


"Hmm...ya sudah,"


Grizelle ingin sekali buatan Mumunya tapi Ia tidak ingin ditinggal Vanilla untuk membuat brownies. Tapi kata Vanilla, Ia akan membuatnya disaat Grizelle tidur. Itu sepertinya tidak masalah untuk Grizelle.

__ADS_1


"Tapi tidak boleh lama ya, Mu,"


__ADS_2