Nillaku

Nillaku
Nillaku 193


__ADS_3

Vanilla menggenggam tangan anaknya memasuki klinik dokter gigi. Seperti biasa, Grizelle memang antusias bila ingin memeriksa kan giginya. Grizelle sangat menyayangi giginya yang sekarang.


"Griz, nanti kalau gigimu sudah lepas dan ganti yang baru bagaimana?"


"Memang kenapa halus (harus) ganti? yang sekalang (sekarang) 'kan sudah bagus, Mu."


"Nanti gigimu yang sekarang itu akan ganti, Griz."


"Aaa aku tidak mau. Ganti jadi apa? jadi walna (warna) hitam sepelti dlakula (seperti drakula) tidak?"


"Tidak, makanya rajin-rajin membersihkan gigi,"


"Aku lajin (rajin) setiap pagi dan malam aku menyikat gigi,"


"Tapi habis makan cokelat pernah disikat giginya?"


Grizelle menggeleng seraya tersenyum. Setelah makan cokelat, dia mana mungkin ingat membersihkan gigi.


Vanilla menemani anaknya sampai selesai menjalani perawatan gigi. Grizelle dibuat sibuk dengan mainan dan tontonan televisi sementara dokter dengan telaten memeriksa kondisi di dalam mulut Grizelle.


"Sikat gigi nya pintar pasti. Tidak kotor sama sekali di dalam nya," ujar sang dokter perempuan yang memang sudah biasa menangani Grizelle.


"Beberapa hari lalu dia mengeluh nyeri, dokter. Itu kenapa ya?"


"Aku menemukan daging setelah mengadu pada Mumu. Ternyata daging itu tersangkut di gigi ku, Mu."


Grizelle lupa menceritakan lagi pada Mumu nya. Setelah Ia mengatakan bahwa gigi nya nyeri, Ia menemukan ada serat daging sapi di sela-sela gigi nya yang terasa nyeri. Setelah itu Ia angkat, nyeri nya hilang.


"Tapi setelah itu masih nyeri atau bagaimana?"


"Tidak, Doktel (Dokter). Langsung hilang nyeli (nyeri) nya,"


Dokter mengangguk setelah mendengar jawaban Grizelle yang meskipun sibuk dengan mainan di tangannya tapi tetap bisa diajak mengobrol.


"Bagaimana sekolahnya?"


"Aman, Doktel (Dokter),"


"Sudah selesai,"

__ADS_1


Grizelle segera meraih cermin kecil di dekatnya agar Ia bisa melihat giginya.


"Meskipun gigi nya sudah bersih, tapi tetap aku bersihkan biar makin bersih," ujar dokter itu setelah membersihkan sela-sela gigi Grizelle.


Vanilla menggunakan jarinya untuk membuka mulut anaknya lalu melihat gigi-gigi sang putri yang putih bersih meskipun sangat menyukai makanan manis.


"Ini untukmu,"


Setiap datang ke klinik itu, Grizelle selalu diberikan hadiah sebagai bentuk rasa terimakasih dari dokter gigi nya karena Grizele benar-benar pintar. Tidak rewel sama sekali ketika Dokter bekerja.


"Semua anak kecil yang datang dapat ini juga?" tanya Grizelle seraya mengangkat hadiah yang dibalut dengan kertas itu.


"Selalu dapat, tentu saja."


"Oh aku kila (kira) aku yang special," ujarnya berkelakar. Sontak saja dokter dan Mumu nya terkekeh.


"Langsung pulang habis ini?"


"Tidak, Doktel (Dokter). Aku ingin belanja make up dulu,"


Vanilla dan dokter perempuan itu saling melirik sembari tersenyum melihat Grizelle yang terlihat senang sekali saat ini.


"Belanja make up? masih kecil sudah mau pakai make up?"


"Oh begitu, okay baiklah. Hati-hati ya dan terimakasih sudah datang,"


"Sama-sama, Doktel ku (Dokter ku) bye,"


"Terimakasih ya, Dokter."


"Iya, sama-sama, Vanilla."


********


Vanilla dengan setia mengikuti kemanapun langkah kaki anaknya. Grizelle sedang sibuk memilih kuteks, sesekali anak itu akan meminta pendapat dari Mumu nya.


"Yang ini walna nya (warna nya) telalu celah (terlalu cerah) ya, Mu?"


"Tidak apa, bagus di kuku mu yang putih bersih itu,"

__ADS_1


"Siapa dulu yang merawatnya?"


"Mumu," Vanilla dengan bangga menyebut dirinya karena memang hampir semua tentang Grizelle, dialah yang mengurusnya.


"Tapi Mumu pelnah (pernah) membuat kuku aku berdalah (berdarah) karena Mumu sedang menggunting kuku milikku, lalu ada yang menelpon Mumu kalena (karena) masalah pekeljaan (pekerjaan) akhilnya (akhirnya) Mumu tidak fokus,"


Vanilla mengangguk lalu menunduk kembali merasa bersalah karena kejadian beberapa bulan lalu. Akibat menerima telepon ditengah kegiatannya yang sedang menggunting kuku Grizele, Ia berhasil membuat kulit jari Grizelle terluka dan mengeluarkan darah. Itulah sebabnya Jhico sempat menegur Vanilla karena mendengar Grizelle meringis.


Flashback On


Jhico baru saja pulang bekerja dan langsung mandi. Saat Ia pulang, Ia melihat Vanilla tengah merawat kuku anaknya.


Vanilla sedang fokus namun karena suara dari ponsel nya berhasil membuat fokusnya terbagi. Ia menerima panggilan dari manager nya lalu Ia meletakkan ponselnya diantara bahu dan telinga nya kemudian Ia tetap menggunting kuku Grizelle.


Baru bicara dengan sang manager, Ia berhasil membuat Grizele terluka karena kecerobohannya yang bicara melalui telepon tapi sambil menggunting kuku anaknya. Grizelle tidak menangis. Ia hanya meringis saja. Vanilla langsung menyelesaikan panggilan dan Ia terlihat sangat bersalah.


"Tidak apa, Mu. Ini lukanya tidak palah (parah)," ujar Grizele menenangkan sang Ibu.


Vanilla segera mengambil obat untuk diteteskan pada luka yang sudah Ia buat secara tidak sengaja itu. Sampai akhirnya Jhico keluar dari kamar mandi dan mengerinyit bingung melihat Vanilla sedang mengobati jemari anak mereka dan Grizele tak bisa menyembunyikan ringis kesakitan nya.


"Kenapa tangan mu, Griz?"


"Aku tidak segaja melukai kulit jarinya dengan gunting kuku," jelas Vanilla pada suaminya.


Jhico berdecak pelan dan matanya melirik ponsel Vanilla yang sedang dipangku oleh perempuan itu.


"Hati-hati, Vanilla. Jangan fokus dengan ponsel dulu kalau sedang sibuk mengurus anak apalagi yang sedang kamu gunakan itu alat tajam,"


"Iya, maaf, Jhi."


Jhico menggosok-gosok handuk di rambutnya yang basah karena baru selesai mandi kemudian lelaki itu berbaring di atas ranjang memperhatikan Vanilla yang sudah selesai mengobati Grizelle.


"Mu, kuku ini masih panjang,"


"Itu dekat dengan lukanya,"


"Tidak apa, digunting saja tapi pelan-pelan ya, Mu."


Flashback Off

__ADS_1


 --------


Bersambung. Siapa yg udh nungguin couple ReRai menyapa? kalian udh teror di komen blm? komen di lapak mereka yaaa. Aku tunggu.


__ADS_2