
"Mommy Daddy lama sekali,"
"Kamu saja baru pulang, Sayang,"
Auristella tersenyum lebar. Ia tidak serius ketika mengatakan bahwa kedua orangtuanya lama menjemput. Nyatanya begitu Ia selesai belajar, Ia sudah dipersilahkan pulang karena orangtuanya sudah menjemput.
"Ean dan Ian belum selesai ya?"
"Belum, kalau lama bagaimana?"
"Ya kita tunggu, Sayang,"
"Hah berarti kita lama juga sampai di rumah Kakek Thanatan,"
"Tidak mungkin kita meninggalkan kedua kakakmu. Yang benar saja kamu, Auris,"
"Biar saja mereka dijemput Driver dan diantar ke sana,"
"Janganlah. Biar kita pergi sama-sama. Kamu yang sabar,"
Auristella bersandar pada kursi mobil kemudian meniup rambut bagian depannya hingga terbang.
Ia sebal karena Daddy dan Mommy nya tidak mau segera membawnaya ke tempat Grizelle. Suasana hatinya sekarang lumayan buruk. Entah kapan kakaknya pulang. Ia kurang tahu jadwal belajar mereka berdua.
"Habis bekal makan siangnya?"
"Habis, Mom,"
"Sudah lapar lagi? kalau lapar, kita cari makanan dulu,"
"Tidak mau. Aku maunya ke rumah Kakek Thanatan sekarang,"
Sekali lagi ayahnya meminta Ia sabar. Auristella menghembuskan napas pelan. Diminta menunggu itu adalah hal yang tidak Ia sukai. Tapi Devan tidak mau anaknya egois. Auristella harus setuju dengan keputusan orang lain.
__ADS_1
*****
"Pa, makan ya? setelah itu minum obat. Ini sudah pukul dua belas,"
Thanatan menggeleng menolak tawaran istrinya yang kini duduk di sampingnya.
Ia masih berada di halaman. Entah apa yang Ia tunggu di sana, yang jelas Ia nyaman lama-lama di sana.
"Makan dengan Griz saja ya?"
"Aku bisa makan sendiri. Tidak perlu di--"
"Ya aku tahu. Aku tidak menyuruh Griz untuk menyuai kamu. Memang dia sendiri yang ingin membantu kamu untuk makan. Maksudku, kita makan bersama Griz saja nanti,"
"Dia belum pulang,"
"Kamu juga belum ingin makan sekarang 'kan?"
"Aku senang sekali dengan sikapmu belakangan ini pada Grizelle. Aku bahagia melihat kebersamaan kalian. Tetap seperti itu ya? sekalipun nanti memiliki cucu lagi,"
Thanatan merasa tersentuh dengan kalimat sederhana Karina. Selama ini sepertinya Ia sudah berlebihan sekali sampai sikapnya pada Grizelle sejak kemarin dianggap begitu istimewa oleh Karina sampai Karina mengucapkan terimakasih untuknya. Padahal ia merasa sikapnya pada Grizelle biasa saja. Tidak hangat tapi tidak dingin juga.
"Dia juga kelihatan senang sekali diterima kedatangannya di sini. Apalagi sikapmu padanya tidak seperti biasa. Kamu tidak mengusirnya, biasanya kamu menyuruh Grizelle pergi bila Grizelle menghampiri kamu di ruang kerja atau kamu ketus sekali menanggapi celotehannya,"
"Aku akan mengusir siapa saja yang mengganggu aku ketika bekerja," Thanatan mengoreksi ucapan isrinya. Perlu diketahui siapapun akan Ia suruh pergi kalau sudah datang ke ruang kerjanya tanpa Ia minta. Apalagi Grizelle yang anak kecil sering datang ke ruang bekerjanya dan mengajak bermain. Ia yang memang tidak sabaran dan juga tidak begitu menerima kehadiran Grizelle, akhirnya menyuruh Grizelle keluar dari ruangannya yang tentu menyebabkan anak itu sangat kecewa. Tapi tidak pernah sekalipun Grizelle mengungkitnya. Ia anggap semua yang diterimanya dari sang kakek adalah angin lalu atau menganggap bahwa kakeknya sedang lelah maka tidak mau bermain dengannya atau kakeknya sedang tidak dalam suasana hati yang mendukung bila Ia ajak bicara dan jawabannya singkat ditambah dengan tatapan dingin dan datar. Bahkan tak jarang nada bicara Thanatan juga terdengar ketus.
"Tetap seperti ini ya. Kamu itu sebenarnya baik. Tapi karena sifat egois yang kamu miiki, membuat Grizelle yang sebenarnya tidak salah jadi seakan-akan bersalah. Kamu mau punya cucu laki-laki, aku pun begitu. Tapi Tuhan menurunkan Grizelle ke dunia ini. Kita harus syukuri itu. Dan jangan pernah ikut campur masa depannya nanti. Berdoa saja semoga cucu kedua kita nanti laki-laki dan dia bisa menjadi pewaris untukmu,"
Thanatan menunduk dalam. Ia terasa keaulitan menghela napas. Dulu, Ia akan meradang bila dinasihati seperti itu. Tapi sekarang justru mendengarkan dengan baik kemudian memorinya memutar bagaimana momennya selama ini bersama Grizelle. Kenapa Ia tidak menyukai anak itu? apa alasannya? karena Ia tidak terlahir sesuai dengan keinginannya? tapi itu bukan kesalaham Grizelle. Tuhan yang menjadikan Grizelle sebagai cucu pertamanya. Ia gagal memiliki cucu seorang laki-laki yang sudah dalam rancangannya akan Ia jadikan pewaris. Benar apa yang dikatakan Karina. Dia egois, dan---jahat? karena menyalahkan Grizelle yang tidak bersalah sama sekali.
Justru seharusnya Ia bersyukur karena kehadiran Grizelle lambat laun membuat hubungannya dengan Jhico sedikit melunak. Walaupun masih belum seperti hubungan anak dan ayah pada umumnya dimana bertemu dan saling sapa setiap hari adalah hal yang wajar. Tapi paling tidak, ia dan Jhico tidak sering lagi adu mulut. Grizelle juga berhasil membuat Ia dan Karina semakin merekat hubungannya. Yang sebelumnya saling tidak peduli, menjalankan pernikahan dengan dingin walaupun dengan cinta yang besar, sekarang perlahan berubah. Pernikahan yang normal mulai mereka jalani tanpa mereka sadari. Perhatian, peduli, sudah seharusnya ada dalam sebuah hubungan rumah tangga. Sementara dulu, Ia dan Karina layaknya orang tidak saling mengenal padahal dibawah naungan atap yang sama, bahkan di atas ranjang yang sama sampai terkadang Ia bingung sebenarnya pernikahan apa yang Ia dan Karina jalani. Sering berdebat hal tidak penting, dan tidak pernah saling mengungkapkan perasaan melalui tindakan, itulah Ia dan Karina.
"Nay-Nay, Kakek. Eh Kakek kenapa keluarrl (keluar),"
__ADS_1
Grizelle berseru memanggil kakek dan neneknya dan Ia baru ingat kalau kakeknya sakit tapi kenapa malah di halaman? bukannya istirahat di kamar.
Grizelle memeluk Neneknya tapi Ia tidak berani memeluk Kakeknya.
"Nay-Nay kenapa mengizinkan kakek keluarrl (keluar)?"
"Kakek yang ingin, Sayang. Sudah Nay-Nay larang, tapi masih saja Kakek mau ke sini,"
"Aduh Kakek. Kenapa begitu?" tanya Grizelle menatap kakeknya dengan sorot menuntut jawaban.
"Kakek bosan di kamar terus. Kenapa tidak mau memeluk Kakek?"
"Hmm? aku---aku--"
Grizelle menatap neneknya. Ia ragu ingin menjawab atau tidak. Tapi kalau Ia jawab, apa Kakeknya tidak tersinggung?
Apa Ia bohong saja? Iya! itu pilihan yang tepat. Ia jawab tapi dengan kebohongan.
"Aku belum mandi,"
"Tapi memeluk Nay-Nay mau?"
Grizelle mengerjap dan menggigit bibir bawahnya cemas. Ia salah menjawab. Seharusnya bukan itu alasannya.
Karina terkekeh melihat cucunya yang salah tingkah. "Griz takut kalau memeluk, Kakek. Griz takut Kakek marah atau tidak suka Griz peluk. Katakan dengan jujur, Sayang. Biar Kakek tahu,"
Thanatan tersenyum tipis. Memang Ia rasa ucapan Karina benar seratus persen. Melihat raut Grizelle, Ia tahu kalau Grizelle memang takut memeluknya.
"Ya sudah,"
Thanatan beranjak dari kursi. Ia berjalan menjauh dari Karina dan Grizelle. Mereka berdua saling tatap. Kemudian tanpa Karina dan Thanatan duga, Grizelle berlari cepat menyusul kakeknya kemudian memeluknya dari belakang dengan erat.
"Aku tidak takut memeluk Kakek. Sekarrlang (sekarang) aku peluk Kakek,"
__ADS_1