
"Iya, Mumu suka berrlnyanyi (bernyanyi) di kamarrl mandi (kamar mandi) dan di dapurrl (dapur),"
Temannya menepuk dahi pelan dan itu membuat Grizelle terkekeh geli.
"Penyanyi di rumah maksudmu?"
Grizelle mengangguk masih dengan sisa tawanya. Ia sudah menebak reaksi temannya. Pasti mengira kalau Ia bicara serius padahal Ia ingin bercanda.
"Maksudku itu penyanyi yang punya lagu sendiri, Griz. Penyanyi yang tampil di acara-acara besar,"
"Mumuku juga bisa mengarrlang (mengarang) lagu sendirrli (sendiri),"
"Iya lah, Griz. Suka-sukamu saja,"
Suara guru menginterupsi obrolan ringan mereka. "Peralatan untuk pengobatan luka kecilnya sudah disimpan ya?"
"Sudah, Ms."
Tadi mereka langsung bergegas menyimpan alat-alat yang digunakan ketika praktik agar tidak rusak dan bisa digunakan lagi bila perlu.
*****
Raihan menghubungi Vanilla agar mengajak Grizelle ke rumahnya karena ada kabar gembira yang akan diterima anak itu.
Maka Vanilla menjemput putrinya di sekolah dan mereka langsung bergegas menuju kediaman orangtua Vanilla.
Di tengah perjalanan, Grizelle berbicara dengan Pupunya untuk menceritakan kegiatannya selama di sekolah tadi.
"Pupu, terrlimakasih (terimakasih) sudah ajarrlkan (ajarkan) aku ya. Aku jadi semakin bisa mengobati luka kecil karrlena (karena) sudah diajarrlkan (diajarkan) Pupu di rrlumah (rumah) lalu diajarrlkan (diajarkan) juga oleh gurrluku (guruku),"
"Iya, Sayang. Pupu senang mendengarnya,"
Ternyata apa yang Ia sampaikan semalam pada Grizelle bisa juga dipahami oleh anak itu. Ditambah dengan penjelasan gurunya, Grizelle jadi semakin paham kemudian langsung diterapkan.
Pada siang hari kemarin Grizelle minta disediakan peralatan untuk mengobati luka oleh ayahnya. Setelah Jhico pulang dari klinik, Jhico dengan senang hati menyediakannya sekaligus menjelaskan. Akhirnya semalam Grizelle belajar penanganan luka oleh ayahnya dan tiba di sekolah, Ia sudah tidak gugup lagi.
"Jangan lupa ilmunya," pesan Jhico yang diangguki Grizelle.
"Iya, Pu. Oh iya sekarrlang (sekarang) aku sedang menuju rrlumah Grrlandpa (rumah Grandpa),"
"Hati-hati ya dengan Mumu. Apa Mumu mengendarai mobil sendiri?"
"Iya,"
Vanilla yang di sampingnya menoleh dengan alis bertaut. Kenapa anaknya bohong?
"Oh, ya sudah katakan pada Mumu hati-hati. Kenapa tidak meminta tolong driver saja? apa Mumu tidak mau?"
Grizelle terkikik mendengar ucapan bertubi-tubi dari ayahnya. Vanilla menggeleng pelan melihat anaknya yang tengah mengerjai sang ayah. Grizelle ingin tahu reaksi Jhico bila tahu Vanilla mengendarai mobil sendiri. Sebenarnya tidak diizinkan oleh Jhico, namun Vanilla mengatakan tidak masalah karena Ia bisa hati-hati dan akhirnya Jhico memberi izin. Ia membiarkan istrinya bila ingin mengendarai mobil tanpa driver asalkan hati-hati.
Dan Jhico pikir hari ini Vanilla benar-benar melakukan ucapannya. Ia menyetir seorang diri dan Jhico merasa cemas.
"Bohong, Jhi. Ada Driver yang membawa mobilnya," sahut Vanilla pada suaminya di seberang sana.
"Oh syukurlah. Meskipun aku memberi izin tapi aku tetap khawatir, Nilla. Kalau bisa tidak usah lah membawa kendaraan dulu,"
__ADS_1
"Tapi aku bisa,"
Lagi-lagi Vanilla keras kepala. Jhico menghembuskan napas berat. "Ya sudah, tapi selalu ingat pesanku ya. Kamu harus hati-hati. Dengan driver juga begitu,"
"Iya, Jhi,"
"Pupu, sudah ya,"
"Kamu nakal ya, membohongi Pupu," ujar Jhico sebelum anaknya menutup panggilan.
"Biarrl (biar) Pupu khawatirrl (khawatir)," katanya seraya terkekeh.
*****
"Hallo semuanya,"
Grizelle menyapa maid yang menyambutnya begitu tiba di rumah Raihan dan Rena.
"Hallo, Grizelle. Baru pulang dari sekolah ya? masih pakai seragam,"
"Iya, setelah pulang sekolah aku langsung ke sini,"
"Grandpa sudah menunggu Grizelle di kolam,"
Grizelle mengangguk kemudian segera menghampiri kakeknya sementara Vanilla sudah masuk ke dalam untuk menghampiri Mamanya.
"Aduh wanita hamil ini semangat sekali kelihatannya. Pelan-pelan dalam melangkah, Vanilla,"
Vanilla yang mendapat teguran dari Ibunya langsung melangkah pelan.
Rena memeluk anaknya kemudian meminta Vanilla untuk duduk.
"Iya, padahal Mama tidak jadi berlibur dengan Karina dan teman-teman Mama yang lain karena rencananya ingin menemani Papa bekerja ke luar. Ternyata malah tidak jadi,"
"Memang kenapa tidak jadi, Ma?"
"Sebenarnya kata Papa diundur,"
Vanilla menganggukan kepalanya. "Kamu mau makan apa?"
"Aku belum mau makan apa-apa, Ma,"
"Ya sudah, kalau mau makan sesuatu katakan saja. Biar cucu Mama dituruti keinginannya,"
*****
"Grrlandpa (Grandpa), ada kabarrl gembirrla (kabar gembira) apa?"
"WOAAHHH ADA BUAYA,"
Grizelle berseru riuh saat melihat tak jauh dari kolam tempat ikan-ikan kakeknya berada, ada kolam lain yang isinya dua ekor buaya.
Belum sempat Raihan menjawab kabar gembira apa yang membuat Raihan sampai mengundangnya datang ke sini, Grizelle sudah histeris melihat buaya yang menjadi permintaannya pada sang kakek telah ada.
Melihat kakeknya menutup telinga, Grizelle terkekeh. Ia menutup mulutnya setelah sadar kalau suaranya telah membuat telinga Raihan pengang.
__ADS_1
"Maaf ya, Grrlandpa (Grandpa) suarrlaku (suaraku) menggelegarrl (menggelegar) ya?"
Ia menggaruk kepalanya merasa bersalah. Ia terlalu senang sampai suaranya tidak bisa dikendalikan.
"Tidak apa. Grandpa hanya terkejut sedikit. Ayo, kita ke sini. Kamu harus berkenalan dengan mereka,"
"Tapi dia tidak jahat 'kan, Grrlandpa?"
"Tidak jahat, Sayang. Dan kamu jangan memegangnya cukup lihat saja,"
"Oh tidak boleh dipegang?"
"Tidak, kalau kamu memegangnya, nanti tanganmu bisa hilang,"
Grizelle merengek kesal tahu maksud kakeknya. Maksud Raihan tangannya bisa hilang kalau memegang buaya karena buaya itu bisa menggigit tangannya.
"Maka jangan coba-coba menyentuhnya, ya?"
"Iya,"
Raihan menggendong Grizell lalu berdiri di dekat kolam tempat tinggal kedua buaya itu. Ada pengaman di sekeliling kolam sehingga Raihan merasa aman sebab buaya tidak akan keluar dari tempatnya. Tapi tetap saja Ia tak mengizinkan Grizelle sendirian menemui hewan buas itu.
"Yeaay jadi aku bisa melihat ikan dan buaya di sini,"
Grizelle menunjuk kolam tempat ikan dan buaya yang terpisah. Ia senang sekali kakeknya benar-benar mewujudkan keinginannya.
"Grrlandpa kenapa bisa peliharrla (pelihara) ini?"
"Grandpa urus izinnya dulu. Karena ini hewan yang tidak sembarangan bisa dipelihara. Lalu Kakek langsung siapkan tempat tinggalnya biar setelah kamu berlibur, kamu sudah bisa melihatnya,"
Grizelle mengeratkan lingkaran tangannya di leher sang kakek lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Raihan.
"Grrlandpa, terrlimakasih (terimakasih) ya sudah baik dengan aku,"
Raihan tersenyum. Ia mengusap punggung kecil dalam dekapannya ini dengan hangat.
"Sama-sama, Sayang. Griz senang tidak?"
Grizelle mengangguk tanpa berpikir panjang. Tentu saja Ia senang.
"Padahal aku minta ini tidak serrlius (serius) tapi terrlnyata (ternyata) Grrlanpa turrluti (Grandpa turuti),"
Raihan segera menoleh pada Grizelle dan Grizelle langsung mengangkat kepalanya dari bahu Raihan.
"Hmm? maksudmu?"
Gawat kalau Grizelle hanya bercanda dan tidak benar-benar menginginkan buaya itu. Raihan sudah berusaha keras agar bisa memenuhi keinginan cucunya.
"Aku ingin dan saat aku meminta, aku tidak yakin kalau akan dipenuhi. Tapi terrlnyata (ternyata) dipenuhi oleh kakek,"
"Tapi kamu serius menyukainya ya?"
"Iya aku suka, dan senang, Grrlandpa,"
----
__ADS_1
Rai lg hobi ngoleksi hewan ya jelas aja dia ga nolak pas Griz minta. Kira-kira apa lg nih yg diminta bocilnya Jhico?