Nillaku

Nillaku
Nillaku 418 Auristella dokter pribadi Andrean


__ADS_3

"Enghh,"


Grizelle berguling di atas ranjang yang nyaman. Ia merasa lega selali tanpa ada orang di sampingnya.


Anak itu mengerjapkan matanya dengan pelan dan berangsur membuka mata. Keningnya mengerinyit. Ini bukan kamarnya,bukan kamar orangtuanya juga.


"Oh aku sudah sampai ya? tadi masih di mobil," gumamnya pelan. Ia beranjak duduk dan mengedarkan pandangan.


"Iya, ini benarrl (benar) sudah sampai di rrlumah Grrlandpa (rumah Grandpa)," Ia masih bermonolog sendiri.


"Tapi kenapa sepi, tidak ada orrlang (orang) apa aku ditinggal? tapi ditinggal kemana?" batinnya bertanya-tanya. Ia beranjak dengan cepat meninggalkam tempat tidur. Kemudian melangkah cepat membuka pintu kamar.


"Aunty Jane,"


"Grlandma,"


"Grlandpa,"


Ia memanggil-manggil. Kemudian melihat ke lantai bawah dari posisinya saat ini.


Ketiganya menoleh ke atas dan menatap Grizelle yang sedang berdiri menatap mereka juga. "Oh sudah bangun? kemari, Sayang," Rena memanggil anak itu agar segera turun.


Grizelle langsung turun menghampiri ketiganya. Ia tersenyum riang dengan wajah khas bangun tidur yang membuatnya kian menggemaskan.


"Kenapa bangun?"


"Tidak tahu tiba-tiba aku bangun saja dan aku kaget tidak melihat siapapun di kamarrl (kamar) aku pikirrl (pikir) aku ditinggal. Tapi aku pikirrl (pikir) lagi ditinggal kemana? ini 'kan rrlumahnya Graldnma dan Gralndpa (rumahnya Grandma dan Grandpa),"


"Icelle sudah sampai di sini. Tadi tidur di dalam mobil jadi Aunty bantu dan Aunty bawa ke kamar,"


"Heem, tapi aku tidak bangun saat digendong ya?"


"Kamu pulas sekali tidurnya,"


"Aku ingin berrli (beri) tahu Mumu kalau aku sudah sampai,"


"Aunty sudah memberi tahu Mumu tadi,"


Grizelle mengangguk pelan. Mumunya sudah tahu Ia tiba dengan aman di rumah kakek dan neneknya. Jadi tidak perlu mencemaskannya lagi.


*****


"Icelle sampai kapan di sana, Nilla? sehari saja katanya tadi ya?"


"Iya, besok pagi sekolah,"


"Hmm, oh iya, bagaimana rumahnya Jane? sudah ketemu dengan yang cocok?"


"Sudah, tapi Jane belum bicara lagi pada Richard sebelum benar-benar membelinya,"


Jhico mengangguk pelan. Ternyata Vanilla dan Jane jadi melihat rumah secara langsung.


"Semoga saja belum dibeli orang ya,"


"Sudah diberikan uang muka oleh Jane,"


Vanilla kini menghidupkan layar ponselnya. Topik kbrolannya dengan sang suami di rooftop untuk semenyara habis. Jadi Ia memilih untuk bermain ponsel.

__ADS_1


Ia mendapatkan pesan dari Renald yang memgingatkan Ia untuk hadir ke acara pernikahannya.


Vanilla memperlihatkan layar ponselnya kepada Jhico yang menampilkan pesan Renald.


"Kita datang?"


Jhico membaca sebentar sebab Ia belum paham pertanyaan istrinya. Datang ke acara apa Ia lupa kalau saja tidak membaca nama Renald di ponsel Istrinya.


"Oh pernikahan Renald?"


Vanilla mengangguk. Kemudian ia diam menantikan jawaban suaminya.


"Ya, datang saja. Besok sore 'kan?"


"Iya, Grizelle ingin ikut,"


Grizelle antusias sekali begitu Mumunya mendapat undangan. Ia selalu senang kalau diminta hadir ke acara apapun itu.


"Ya, dia mau sekalian mengawasi Mumunya barangkali melirik-lirik Renald," kekeh Jhico yang disambut tawa Vanilla. Perempuan itu mencubit otot bisep suaminya.


"Tidak akan lah. Kita bersikap formal saja. Datang untuk memberi selamat atas kebahagiaannya yang sudah melepas masa kesendirian, kemudian kita pulang,"


"Besok aku pulang lebih cepat. Siang aku sudah pulang,"


"Memang tidak apa?"


"Aku praktik tidak sampai sore besok,"


"Okay, aku dan Icelle akan bersiap,"


******


Auristella usai mengganti bajunya sehabis pergi langsung bercerta pada kakak pertamanya itu. Sekaligus menemani Andrean yang paati merasa bosan hanya di kamar saja sementara dirinya tadi bermain dengan puas.


"Mommy dan Ean tidak dibelikan?"


"Kalau Ean lagi sakit jadi tidak dibolehkan Daddy. Kalau Mommy, gelato nya takut mencair,"


"Hmm iya juga,"


"Makanya tidak dibelikan. Mommy tidak ikut sih. Jadi tidak ikut menikmati gelato yang enak sekali itu. Segar! habis berkain minum itu,"


"Mommy lebih baik menemani Ean di sini,"


Lovi melirik anak tertuanya yang suhu tubuhnya masih lumayan tinggi.


"Ean tidak dikompres lagi?"


"Baru di lepas," kata Lovi kemudian melanjutkan, "Ean tidak mau pakai itu lagi katanya,"


"Ean harus dikompres!"


"Sudah dikompres terus dari kemarin,"


"Ya harus dikompres sampai sembuh!" Auristella menatap tajam kakaknya yang menolak melanjutkan pasang kompres penurun demam di dahi.


"Ayo, Mommy pakaikan yang baru,"

__ADS_1


Lovi akan mengambil kompres instan di nakas anaknya tapi Andrean menggeleng. "Nanti saja, Mom. Keningku tidak nyaman pakai itu,"


"Ean, yang namanya sakit itu pasti tidak nyaman. Kamu harus mendengarkan apa kataku. Aku ini dokter pribadimu mulai sekarang!"


Auristella berkacak pinggang masih menatap tajam kakaknya. Biar Andrean menurut maksudnya.


Lovi terkekeh melihatnya sementara Andrean menatap adiknya masih dengan datar seperti biasa.


"Tidak ada dokter yang galak sepertimu,"


Auristella tertawa menutup mulutnya. Andrean benar, tidak ada orang bergelar dokter yng kejam sepertinya. Yang ada juga orang sakit akan ketakutan  melihatnya apalagi diobati.


"Okay, aku akan bersikap lembut,"


Auristella berdehem kemudian tersenyum hangat menatap kakaknya.


"Kakak Andrean, atau yang biasa aku panggil Ean. Dimohon untuk memakai kompres lagi dan juga mendengarkan ucapan Mommy,"


"Kenapa ucapan Mommy yang didengar? doternya itu kamu," sela Lovi membuat Auristella menggeleng.


"Tapi Mommy juga dokternya Ean. Kalau Mommy tidak mau dituruti, maka Dokter Auris yang akan membujuk,"


Lovi terkekeh mendengar jawaban anaknya sementara Andrean tersenyum menggeleng pelan.


"Ayo, Ean. Turuti apa kata Mommy kamu,"


Lovi melektkan kompres lagi di kening Andrean setelah anaknya mengangguk. Lovi tertawa dan bertepuk tangan sebagai pujian untuk Auristella.


"Dokter Auris berhasil membujuk pasien,"


"Iya, Ean pasti menurut, Mom. Dia anak yang baik,"


"Semua anak Mommy baik,"


"Apalagi aku" sahut anak perempuan itu dengan cepat dan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. Ia bangga sekali mengakui kalau Ia anaknyang baik. Memang kenyataannya begitu seperti kata Lovi tadi. Walaupun terkadang suka bertengkar dengan Adrian dan tidak jarang juga sulit diatur.


"Kenapa tertawa?"


Devan tersenyum aneh menatap istri dan anak bungsunya yang kini tertawa begitu ia tiba di kamar dari ruang kerjanya.


"Aku mulai sekarang jadi Dokter Ean, Dad,"


"Oh ya? memang Ean mau dirawat olehmu?"


"Jadi kalau dia tidak menurut pada Mommy aku yang akan maju membujuknya. Mommy juga dokter untuk Ean. Jadi Ean punya dua Dokter,"


Lovi dan Devan terbahak melihat Auristella yang semangat sekali menjelaskan apa statusnya kini unuk Andrean yang sedang sakit.


"Aku tidak sakit parah,"


"Memang harus sakit parah dulu kalau mau punya Dokter sendiri?"


"Maksudku, aku bisa sembuh tanpa kamu, Auris. Cukup Mommy saja yang menjadi Dokter untukku,"


"Ean kenapa bicara begitu?! niatku baik, Ean!"


"Memang impianmu ingin menjadi dokter?" Devan menatap anak perempuannya sesaat sebelum Ia menutup pintu yang penyanbung kamar dengan rooftop kamar.

__ADS_1


"Hmm iya. Tapi tidak tahu nanti jadi apa. Benar Dokter atau dokter-dokteran,"


__ADS_2