
Usai menghabiskan waktu bersama Rena, Karina memutuskan untuk pergi ke apartemen Jhico sebentar dan menyuruh seseorang di rumahnya untuk mengantarkan buah tangan dari Italia untuk Jhico dan Vanilla ke apartemen.
"Bye, Rena. Hati-hati ya. Lain kali kita harus seperti ini lagi,"
Rena melambai sebelum masuk ke dalam mobilnya. Mereka berpisah setelah mengucap salam perpisahan. Rena kembali ke mansion sementara Karina ke apartemen anaknya.
"Hallo, Jhico."
"Hallo, Ma. Ada apa?"
Setiap Ia menghubungi Jhico pasti yang keluar dari mulut anaknya pertama kali adalah kalimat tanya 'ada apa?' karena memang biasanya bila Ia atau Thanatan menelpon Jhico, pasti karena ada keperluan.
"Mama akan datang ke apartemen kamu. Ada Vanilla 'kan di sana?"
"Vanilla sedang pergi. Tapi sepertinya sebentar lagi sampai. Kalau Mama mau, tunggu saja di lobi, Ma. Memang ada hal yang penting?"
"Mama baru pulang dari Italia,"
"Iya, aku tahu."
"Mau memberikan sesuatu yang Mama beli dari sana untuk kamu dan Vanilla,"
"Oh, begitu. Terima kasih, Ma. Kalau Mama buru-buru, titipkan saja pada penjaga,"
"Mama belum sampai di apartemen. Semoga setelah sampai nanti Vanilla juga sudah datang,"
"Okay, aku tutup teleponnya, Ma. Bye,"
***
Jane berseru panik saat bahan bakar mobilnya tinggal sedikit lagi sementara perjalanan dari mall menuju apartemen baru dimulai. "Aku yakin itu cukup sampai di apartemen," ujar Vanilla menenangkan.
Saat ini mereka tengah berada di perjalanan pulang menuju apartemen usai membeli kado di mall. Rencananya setelah mengantar Vanilla, Jane akan langsung pulang.
"Kalau habis setelah sampai di apartemen bagaimana? Aku pulang naik apa?"
"Pakai mobil Jhico,"
"Tidak mau lah. Memangnya dia tidak ada kegiatan besoknya?!"
"Ya sudah, pakai mobilku."
"Tapi mobil kamu masih di kampus, Van."
"Pakai yang satu lagi,"
"Memang dibolehkan Jhico?"
"Boleh, itu mobil aku bukan mobil Jhico. Tapi kalau kamu pinjam mobil Jhico juga tidak masalah. Aku yakin dia mengizinkannya. Lagipula mobil dia bukan hanya satu,"
Jane berdecak seraya menggeleng pelan. "Sepertinya banyak sekali mobil Jhico. Tidak ada rencana untuk berbagi padaku?"
"Hmm belum ada niat untuk memberikan kamu mobil..." ujar Vanilla dengan santai.
"Kalau sewaktu-waktu perlu jadi bisa digunakan," lanjut Vanilla.
"Jhico punya berapa mobil, Van?"
"Tidak tahu, aku tidak pernah bertanya. Yang jelas kata Mamanya banyak. Di basement apartemen ada beberapa, di rumah orangtuanya juga ada. Dulu dia hobi koleksi,"
Jane baru mengetahui fakta itu. Ia terkejut, ternyata Jhico yang selama ini terlihat sederhana juga merupakan lelaki yang royal bila sudah berkaitan dengan hobi. Tapi dia tidak pernah menunjukkan kekayaannya itu. Selama ini hanya dua mobil yang sering terlihat dipakai oleh Jhico. Yang lainnya hanya keluar sekali-sekali saja. Misalnya saat hari libur dimana Jhico sering berjalan-jalan di sekitar apartemen. Kalau yang dirumah keluarganya, ada orang yang sudah ditugaskan oleh Jhico untuk merawat sekaligus menjaga mobilnya.
****
Karina sudah tiba di apartemen dan ketika menekan bel, tidak ada jawaban yang artinya apartemen tersebut kosong.
Ia menunggu seraya berdiri di depan pintu bersama satu orang penjaganya. Ia menelpon Vanilla dan langsung dijawab oleh Vanilla.
__ADS_1
"Hallo, Ma."
"Hallo, Vanilla. Kamu dimana?"
"Masih dalam perjalanan pulang, Ma."
"Okay, Mama tunggu ya,"
"Oh iya, Ma. Sebentar lagi aku sampai,"
Mendengar mertuanya menunggu, Vanilla merasa tidak enak hati karena pulang terlambat sampai membiarkan Karina menunggu. "Jane, Mama Karina ada di apartemen. Lebih cepat jalannya,"
"Kita sebentar lagi sampai,"
Benar saja, tidak sampai lima menit, akhirnya mereka melewati portal masuk apartemen setelah sebelumnya dibuat khawatir akan kehabisan bensin.
Belum sampai di basement, mobil Jane tiba-tiba mati. Rupanya bensin sudah habis. Vanilla bersiap keluar dari mobil sementara Jane kebingungan.
"Van, mobilku bagaimana?" tanya Jane pada Vanilla yang sedang sibuk mengambil tas dan kado yang dibelinya.
"Dorong sampai basement. Aku mau masuk dulu," pamit Vanilla selesai mengurus barang-barangnya agar tidak ada yang tertinggal di mobil sepupunya yang kehabisan bensin itu.
"Sialan mulutmu! memang kamu pikir aku raksasa?!"
"Ditinggal saja lah! begitu saja pakai bertanya segala,"
"Nanti kalau---"
Vanilla meninggalkan Jane yang langsung berseru kesal memanggil Vanilla tapi tak diacuhkannya. Vanilla harus segera bertemu dengan Karina.
Lagipula salah Jane juga yang ceroboh sampai tidak menyadari kalau jumlah bensin sudah sangat sedikit ketika dibawa ke mall. Terlalu bersemangat cari kado, sampai lupa dengan mobilnya yang krisis bensin.
Akhirnya Jane menyusul Vanilla setelah meminta bantuan pada security untuk menjaga mobilnya sebentar. Karena Ia harus meminjam mobil Vanilla untuk membeli bahan bakar, barulah ia bisa pulang dengan mobilnya sendiri.
"Vanilla, tunggu!" seruannya tidak didengar lagi oleh Vanilla karena perempuan hamil itu sudah dibawa oleh lift yang baru saja tertutup. Jane belum sempat naik. Vanilla berjalan sangat cepat. Jane harus berlari untuk menyusulnya. Terlihat sekali Vanilla sangat menghargai mertuanya. Ia tidak ingin Karina menunggu lama.
"Maaf sudah membuat Mama menunggu,"
"Oh hai, kamu sudah datang. Bagaimana kabarmu?" tanya Karina pada Vanilla yang tengah membuka pintu menggunakan card lock.
"Baik, Ma. Mama dan Papa juga baik 'kan?"
"Baik, Mama duduk sebentar ya,"
"Iya, Ma. Menginap sekalian juga sangat boleh,"
Karina duduk di ruang tamu. Jarang sekali Ia melihat suasana apartemen anaknya. Sejak awal kepindahan Jhico ke sini, sampai sekarang, bila ada keperluan saja Ia datang ke sini.
Karina menyuruh pengawalnya menyerahkan beberapa paper bag yang dia bawa pada Vanilla. Vanilla menerimanya dengan senyum bahagia lalu mencuri pandang ke dalam paper bag.
"Terima kasih, Ma."
Jane baru saja masuk tanpa permisi dan ia langsung tersenyum canggung saat Karina menatapnya. "Hallo, Jane."
Jane menunduk atas sapaan Karina dan melanjutkan, "sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya, dengan Vanilla saja jarang,"
"Ini apa, Ma?" tanya Vanilla mengalihkan perhatian Karina. Vanilla sudah melihat ke dalam paper bag tapi kurang terlihat isinya karena masih dikemas dengan plastik berwarna abu.
"Sedikit bawaan Mama dari Italia,"
"Aku buka ya?"
"Jangan, nanti saja. Mama malu isinya tidak seberapa,"
"Tidak seberapa tapi harganya?"
__ADS_1
"Tidak ada yang mahal,"
Vanilla terkekeh dengan raut tak percaya. Walaupun Karina terlihat tidak acuh, tapi Ia juga merupakan orang yang royal. Apalagi bila berurusan dengan anaknya, mungkin Vanilla saja yang tidak tahu seberapa keras keinginan Karina untuk membuat anaknya bahagia walaupun tidak semua kebahagiaan bisa hadir karena harta. Sejak dulu Jhico sudah terbiasa dilimpahi dengan hal-hal yang bernilai materi.
"Ada untuk calon cucu juga. Semoga kamu dan baby suka ya,"
"Wow, terima kasih, Ma. Aku pasti suka dan Baby juga,"
"Kapan ya bisa di ketahui jenis kelaminnya? Mama tidak sabar,"
"Van, dimana kunci mobilmu?"
Vanilla berdecak seraya menatap tajam sepupunya yang tidak sabaran itu. Ia sedang bicara dengan Karina, Jane mengganggu saja.
"Aku ambil dulu,"
Vanilla beranjak ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobilnya agar bisa dipinjam sebentar oleh Jane.
"Terjadi sesuatu pada mobilmu?"
"Bahan bakar habis," jawabnya seraya tertawa kecil.
"Lalu harus bagaimana?"
"Aku mau mencarinya, kalau tidak ada, aku pulang menggunakan mobil Vanilla,"
"Lain kali rajin-rajin di perhatikan jumlah bensin mu, Jane. Beruntungnya tidak kehabisan saat dijalan atau dalam kondisi genting,"
"Iya, aku terlalu semangat mau belanja jadi lupa cek,"
Karina menggeleng pelan. Kalau sudah seperti itu, Jane juga yang dibuat kesulitan.
Vanilla keluar dari kamar, lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Jane. "Hati-hati," pesan Vanilla pada sepupunya itu.
"Okay, thank you ya,"
Usai berpamitan pada Vanilla dan Karina, Jane segera pergi untuk menangani mobilnya yang kehabisan bahan bakar.
"Kamu masih bekerja, Van?"
"Iya, masih, Ma. Tapi sudah dikurangi agar tidak terlalu lelah,"
"Iya, itu harus. Bagaimana perlakuan Jhico padamu?"
"Dia bertanggung jawab sekali. Akan lebih berisik dari perempuan kalau aku kelelahan dan terlambat makan,"
Karina terkekeh mendengar ucapan Vanilla. Vanilla bercerita dengan wajah berseri.
"Dia begitu perhatian ya. Karena anak lah yang ditunggu-tunggu oleh Jhico untuk lebih mewarnai rumah tangga kalian,"
"Iya, aku senang mendapat perhatiannya. Tapi terkadang kesal juga karena Jhico jadi lebih protective dari biasanya,"
"Tentu saja, Van. Karena yang harus Ia jaga bukan hanya kamu..."
"Papa sangat menginginkan cucu laki-laki. Semoga dipenuhi Tuhan. Barangkali bisa membuat hubungan Papa dan Jhico menjadi lebih dingin,"
Vanilla terdiam. Ia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ternyata Ia dan Thanatan berbeda keinginan. Kalau Jhico sendiri selalu mengatakan Ia menginginkan keduanya, laki-laki atau pun perempuan, Ia akan sangat bahagia menyambutnya.
"Kalau aku, berharap perempuan, Ma. Dan Jhico tidak ada harapan khusus,"
"Mama sama seperti Jhico. Laki-laki dan perempuan akan membuat Mama bahagia. Yang terpenting kalian berdua sehat,"
------------
Heyy heyy akyu dtg bawa part baru nih. Boleh minta dukungannya? jgn lupa mampir ke sini yaaaa👇
__ADS_1