Nillaku

Nillaku
Nillaku 134


__ADS_3

"Terima kasih atas niat baiknya. Tapi kalau aku dengar dari suaramu, sepertinya kamu masih kecil dan yang aku tahu prosedur untuk pendonor darah harus berusia paling tidak tujuh belas tahun,"


Keyfa menangis terisak saat Rena bicara seperti itu hingga membuat Ibunya bingung.


"Keyfa, ada apa? kenapa kamu menangis?"


Rena sudah menyelesaikan panggilan. Ia tidak ingin mendengar siapapun menangis untuk saat ini karena kepalanya akan semakin pusing. Banyak hal yang sedang memberatkan pikirannya. Lagipula saat ini Ia tengah memberikan susu untuk Grizelle. Ia hanya ingin fokus dengan Grizelle.


Vivi menuntut jawaban dari anaknya. Ia tidak mengerti kenapa Keyfa tiba-tiba menangis setelah bicara di telepon.


"Ibu, Kakak dokter sedang dirawat dirumah sakit dan kakak dokter butuh darah. Aku memiliki golongan darah yang bisa didonorkan untuk kakak dokter tapi apakah benar kalau aku tidak bisa memberikan darahku karena aku masih kecil?"


Vivi mengerjapkan mata terkejut. "Dirawat di rumah sakit?" tanya nya tak menyangka. Ia menatap Keyfa dengan dalam. Keyfa mengangguk masih dengan isak tangisnya.


"Aku ingin mendonorkan darah untuk kakak dokter. Dia sangat baik padaku, sekarang saatnya aku berbalas budi,"


"Tentu saja tidak bisa, Keyfa. Selain usia, kondisimu juga tidak memungkinkan,"


Keyfa yang memiliki penyakit serius tentu menjdi pertimbangan yang lumayan berat. Lagipula usia nya juga belum cukup.


"Apa Ibu bisa menolong kakak dokter? aku mohon, Ibu. Kalau Ibu tidak bisa, aku akan coba minta bantuan pada ayah. Aku ingin kakak dokter sembuh dan bisa kembali bermain bersamaku,"


"Ibu akan bantu, pasti."


Keyfa segera memeluk Vivi dengan erat. Ia sangat berharap Tuhan benar-benar mengizinkan Ibunya untuk membantu Jhico tanpa harus ada kendala apapun.


" Ternyata mimpi buruk yang aku alami semalam benar adanya. Kakak dokter tidak bisa bermain denganku, semoga tidak selamanya,"


******


Lovi datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Jhico secara langsung. Ia hanya datang sendiri. Auristella di rumah bersama Senata sementara Devan dan kedua putranya sedang gathering perusahaan bersama dengan Lucas juga. Tapi mereka sudah tahu kabar mengenai kecelakaan yang dialami Jhico. Rencananya Devan dan Lucas akan datang begitu kembali dari gathering.


Lovi, Karina, dan Vanilla sedang menunggu proses donor darah dari Vivi, Ibunya Keyfa. Vanilla sangat bersyukur ketika Vivi dengan senang hati membantu suaminya.


Vivi keluar setelah donor berakhir. Vanilla langsung mendekatinya. Dan lagi-lagi, Ia mengucap 'terima kasih'


"Iya, sama-sama, Vanilla. Kamu dan suamimu adalah orang yang baik. Ibu senang bisa sedikit membantu Jhico,"


"Pertolongan Ibu sangat luar biasa. Sampaikan rasa terima kasih ku pada Keyfa juga,"


Vivi mengangguk dan mengusap bahu perempuan tegar di hadapannya ini. Meskipun suaminya sakit, anaknya juga demikian, namun Vanilla tetap terlihat kuat meskipun wajah sembab nya tak bisa diajak kompromi.


Setelah Vivi mendonorkan darahnya, proses transfusi darah untuk Jhico langsung dilaksanakan agar proses penyembuhan semakin cepat.


*****


"Keyfa, masuk ke dalam. Kamu ngapain di luar sejak tadi?"

__ADS_1


ferdy mengerinyit bingung saat putrinya berdiri di depan pintu rumah sejak beberapa menit lalu. Keyfa terlihat begitu gelisah.


"Aku menunggu Ibu. Aku sangat ingin tahu kondisi kakak dokter,"


"Tunggu di dalam saja. Ibu akan masuk ke dalam dan menjelaskannya padamu,"


"Tidak mau, Ayah. Aku mau di sini saja,"


"Berdiri terus memang tidak lelah?"


"Lelah, tapi aku sangat khawatir dengan kakak dokter, aku ingin cepat-cepat bertanya pada Ibu mengenai kondisi kakak dokter setelah Ibu tiba nanti,"


Akhirnya Ferdy ikut menemani anaknya di luar. Mereka berdua hanya berdiri sampai akhirnya Vivi pulang dari rumah sakit dimana Jhico mendapat perawatan.


Keyfa langsung mendekati Vivi lalu menggenggam tangannya kemudian menatap Vivi dan bertanya,


"Ibu, bagaimana kondisi Kakak dokter? apa dia baik-baik saja?"


"Ya begitu lah,"


"Maksudnya bagaimana, Ibu? jelaskan padaku,"


"Tadi sebelum Ibu pulang, Kakak dokter sedang melakukan transfusi,"


Vivi tidak lama berada di rumah sakit karena Ia juga khawatir dengan anaknya dan pesan anaknya juga Ia tidak boleh lama-lama di rumah sakit.


******


"Vanilla dimana?" tanya Devan pada istrinya.


"Di dalam, Jhico sudah bisa bicara walaupun masih sangat lemah,"


Devan membuka pintu ruangan Jhico. Di dalam sana, sang adik sedang beradu tatap dengan Jhico. Tangannya dengan setia menggenggam tangan Jhico yang kondisinya baik-baik saja. Tangan sebelah kiri Jhico sedang patah dan masih butuh pemulihan.


Devan berjalan menghampiri mereka berdua, istrinya mengikuti di belakangnya. "Bagaimana, Co? sudah lebih baik?"


Jhico hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan Devan. Vanilla menoleh pada kakaknya lalu mempersilahkan Ia untuk duduk. Vanilla tahu kakaknya baru saja pulang dari gathering dan langsung ke sini.


Tak lama Devan datang, Lucas pun masuk ke dalam ruangan Jhico. "Ayah darimana?" anaknya bertanya.


"Toilet,"


"Jhico, semangat untuk sembuh ya. Anakmu menunggu," ucap Lucas menatap Jhico dengan teduh.


"Tadi ayah bertemu Grizelle?" tanya Vanilla.


"Iya, setelah dari toilet. Dia tidak gelisah tapi ayah tahu dia kesepian,"

__ADS_1


Jhico hanya bisa mendengar. Ia belum banyak memberikan reaksi karena kondisinya saat ini masih cukup parah.


"Lawan rasa sakitmu. Kalian sedang sama-sama berjuang,"


"Iy--Iya, Ayah." jawab Jhico dengan suara yang begitu lirih dan sedikit tersendat.


"Istirahatlah agar kondisimu segera membaik," ucap Lucas dengan perhatian.


"Vanilla, jangan terlalu sering mengajak suamimu bicara,"


Vanilla mengangguk ketika kakaknya bicara seperti itu. Walaupun banyak sekali hal yang ingin Ia bicarakan, tapi Ia tahu kalau untuk saat ini kondisi Jhico masih belum memungkinkan.


"Kamu tidak datang ke ruangan Griz? coba lihat dulu keadaannya. Biar Jhico bersama kami,"


"Tadi pagi sudah," jawab Vanilla setelah kakaknya bertanya.


Sebenarnya Vanilla ingin terus berada di sisi keduanya. Tapi itu tidak bisa.


"Lihat Griz dulu," gumam Jhico menyuruh istrinya ke ruangan Grizelle.


Vailla mengangguk patuh. "Oh iya, nanti sore Grizelle sudah di izinkan pulang jadi aku akan mengantar dia dulu setelah itu ke sini lagi menemani kamu,"


"Aku bisa sendiri di sini. Lebih baik kamu dengan Griz," susah payah Jhico bicara. Melihat itu, Vanilla meringis.


Jhico mengisyaratkan istrinya agar ke ruangan Grizelle sekarang juga. Terakhir bertemu tadi pagi. Dan ini sudah siang. Mungkin Grizelle sedang tidur tapi Jhico ingin Vanilla tahu kabar anaknya.


Vanilla berjalan menelusuri koridor menuju ruang perawatan sang buah hati seorang diri. Sampai di depan pintu, bertepatan sekali dengan keluarnya perawat dari dalam ruangan Grizelle.


"Ada apa, suster?"


Pikiran buruk langsung menghantui Vanilla. Ia khawatir terjadi sesuatu pada anaknya hingga perawat masuk ke dalam.


"Tidak, hanya memastikan Grizelle sudah mengonsumsi obatnya atau belum,"


"Terimakasih, Suster."


"Baik, Nona. Saya permisi,"


Setelah perawat itu pergi, Vanilla memasuki ruangan Grizelle. Begitu melihat Mumu nya datang, Grizelle langsung mengulurkan tangannya meminta dipeluk Vanilla dan seolah tidak ingin Vanilla pergi lagi.


"Griz sudah minum obat, Ma?"


"Sudah, dia pintar meskipun beberapa kali rewel sepertinya karena tidak ada kamu dan Jhico di dekatnya,"


Vanilla memberikan banyak kecupan di wajah sang anak. Anaknya ini pengertian. Dia hanya rewel beberapa kali saja ketika ditinggal Vanilla, selebihnya Ia melepaskan kepergian Vanilla dari ruangannya dengan tatapan sedih tanpa menangis.


 --------

__ADS_1


Hai hai hai selamat siang semuanyaaa. Gimana kabar hari ini? baik kan? sehat-sehat ya kalian💙


__ADS_2