
Vanilla sudah mengantar Grizelle ke sekolahnya. Hari ini Grizelle benar-benar ingin sekolah, Ia mengatakan sudah rindu dengan sekolah, teman-temannya, dan juga rindu dengan suasana belajar di sekolah.
Usai mengantar Grizelle, Vanilla bergegas ke rumah orangtuanya. Ia akan memberi tahu mengenai kabar yang Ia terima kemarin sore. Bahwa jenis kelamin anak keduanya adalah perempuan.
Sampai di rumah Rena dan Raihan, Ia melihat mobil yang biasa digunakan ayahnya untuk bekerja masih ada, artinya sang ayah belum berangkat bekerja.
Ia mempercepat langkah untuk masuk ke dalam. Begitu menapakkan kakinya di marmer kediaman orangtuanya, Vanilla tersentak karena licin dan Ia hampir saja terjerembab. Beruntung Ia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Astaga, hampir saja,"
Vanilla menatap ke bawah. Marmer atau lantai rumahnya sepertinya baru selesai dibersihkan dan belum terlalu kering padahal Vanilla melihatĀ alat pengeringnya di sekitar sana.
"Mama," Vanilla memanggil Mamanya.
"Nyonya sedang olahraga, Nona Vanilla,"
"Oh kalau Papaku?"
"Juga, Nona. Tuan dan Nyonya lari pagi,"
Vanilla mengangguk pelan. Pantas saja mobil Papanya masih ada. Ternyata mama dan papanya sedang berolahraga bersama.
*******
"Griz, akhirnya kamu masuk juga. Bagaimana kakimu?"
Grizelle tidak jarang datang pertama kali ke sekolah disaat tean-temannya belum ada yang datang. Ia akan menunggu mereka sembari melakukan apapun seperti membaca buku cerita yang disediakan pihak sekolah atau menggambar asal.
Abelle terkejut begitu memasuki kelas sudah ada Grizelle. Abelle berseru senang dan langsung penasaran dengan kondisi Grizelle yang terakhir kali masuk sekolah tetap mengikuti materi olahraga dan Ia terpaksa pulang ke rumah sebelum waktunya karena kembali mengalami luka.
"Sudah sembuh,"
Kini luka Grizelle dibalut lagi. Tidak seperti saat di rumah. Sebab kata Jhico anaknya akan keluar dari rumah dan beraktifitas maka harus dibalut agar tidak terlalu dihinggapi partikel yang kotor dan akan memperpanjang masa penyembuhannya.
"Coba aku mau lihat,"
Abelle mendekat dan Grizelle memekik tertahan. "Jangan, aku takut," Ia merengek padahal Abelle hnya ingin melihat. Grizelle takut bila Abele tidak sengaja menyentuh.
"Tidak, aku hanya ingin melihatnya,"
"Dibalut, jadi tidak bisa dilihat. Tapi sudah mulai sembuh karrlena rrlajin (karena rajin) diobati," kata anak itu.
"Selama di rumah kamu melakukan apa saja, Grizelle? kamu sakit lalu tidak sekolah. Pasti jenuh ya?"
"Iya, tapi kemarrlin (kemarin) Pupu ajak aku berlkeliling (berkeliling) aku beli cokelat,"
__ADS_1
"Oh, sudah mengerjakan tugas?"
Grizelle mengangguk cepat. Ia mengeluarkan tugasnya kemudian mempeihatkan kalau ia sudah selesai mengerjakan tugas.
"Hebat, sakit tapi masih mengerjakan tugas,"
"Yang sakit kaki, bukan tangan. Jadi masih bisa selesaikan tugas,"
Abelle tertawa membenarkan. Yang sakit itu kakinya sementara yang digunakan untuk mengerjakan tugas adalah tangan. Pantas saja Grizelle tetap bisa mengerjakan tugas.
"Tapi waktu kamu di rumah sakit, kamu juga tetap kerjakan tugas,"
"Ya, masih bisa, tugas harrlus dikerrljakan (harus dikerjakan) kecuali kalau sudah tidak bisa sama sekali. Ah tapi jangan sampai itu terrljadi (terjadi),"
******
Rena menunduk menyentuh lututnya seraya meraup oksigen banyak-banyak. Ia menatap ke depan dimana suaminya masih berlari.
Ia sudah lelah sekali tapi Raihan masih semangat. Rena memilih untuk duduk di pinggir lajur yang mereka gunakan untuk berlari pagi hari ini.
Rena berusaha mengatur napasnya agar tidak tersengal lagi. Setelah napasnya normal, Ia akan pulang ke rumah. Biar saja lah suaminya itu berlari sampai sore sekalipun. Rena bingung dengan staminanya. Sibuk bekerja tapi tetap saja bisa maksimal daam melakukan apapun.
Raihan menoleh ke belakang. Ia tak mendapati sosok Rena lagi. Ia berhenti dan mengedarkan pandangan sampai matanya berhasil menangkap sosok Rena yang sedang duduk kelelahan.
"Nanti dulu. Aku masih kelelahan," kata Rena pada suaminya agar ia diberikan waktu untuk istirahat sebentar.
"Setelah ini aku langsung pulang. Kamu mau lari sampai sore atau malam, silahkan. Aku sudah tidak kuat lagi,"
Raihan tertawa mendengar penuturan istrinya. Sekuat apapunĀ tidak sampai sore atau malam juga. Ia pun harus bekerja sehabis membakar kalori pagi ini.
"Ya sudah, ayo kita pulang,"
"Pulang juga?" Rena menautkan alisnya bertanya pada suaminya yang langsung mengangguk. Raihan rasa sudah cukup untuk melakukan kegiatan sehatnya hari ini.
Rena berdiri dengan bantuan tangan Raihan. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju rumah. Rena di belakang raihan sebab langkahnya terbilang lamban karena Ia masih lelah. Tapi dalam hatinya mengatakan lebih baik juga istirahat di rumah.
"Ayo, jalan yang cepat,"
"Tidak bisa, lelah," cetus Rena pada suaminya yang menyuruhnya melangkah dengan cepat. Ia benar-benar lelah dan payah kalau masalah ini.
"Makanya rajin lari, Sayang,"
"Aku olahraganya bukan ini!"
"Ya maka harus sering-sering berlari biar tidak mudah lelah,"
__ADS_1
Rena sering olahraga di rumah saja. Seperti yoga ataupun workout. Terbilang jarang berlari. Tadi suaminya mengajak lari pagi, dan Ia menyanggupi.
Tiba di rumah mereka disambut maid yang mengatakan bahwa ada Vanilla yang datang sejak tadi.
"Sayang, maaf lama ya,"
Vanilla tersenyum memaklumi. Menurutnya tidak lama juga. Ia bahkan nyaman-nyaman saja duduk sendirian di ruang tamu, tidak masuk ke dalam sebab tak ada kedua orangtuanya yang berarti sepi,lebih baik Ia menunggu di ruang tamu dan akan langsung bertemu kedua orangtuanya setelah mereka pulang. Benar saja, Ia langaung bisa melihat Rena dan Raihan sekarang.
"Sendiri saja? tidak bersama Grizelle?"
"Tidak, Ma. Mama yang meminta padaku kalau aku ingin datang ke sini tanpa Grielle tidak masalah. Tidak harus dengan Grizelle terus kata Mama,"
"Iya, Mama senang jadi ada waktu berdua dengan kamu,"
"Jadi Grizelle dimana sekarang?"
"Dia sekolah hari ini, Pa," jawab Vanilla pada ayahnya yang bertanya tentang anaknya.
"Dua hari diminta Jhico diam di rumah menunggu lukanya sedikit membaik,"
"Oh, sekolah. Tapi lukanya masih sakit? dia masih sulit melangkah,"
"Iya, masih. Tapi tidak rewel seperti waktu lukanya masih baru,"
"Jhico sudah berangkat?"
"Sudah, Ma,"
Vanilla mengikuti ayah dan ibunya yang berjalan ke meja makan. Ia diajak sarapan, tapi ia mengatakan sudah sarapan di rumah.
"Ma, Pa,"
Vanilla berhasil menghentikan Raihan dan Rena yang akan menyantap sarapan mereka.
"Kenapa, Sayang?"
"Ada yang mau kamu bicarakan?" Raihan bertanya demikian karena Ia melihat gelagat Vanilla yang seperti itu.
"Iya, aku mau memberi tahu sesuatu. Semoga Mama dan Papa senang ketika sudah mendengarnya,"
"Apa?cepat beri tahu. Jangan buat Mama penasaran," kata Rena yang kini mengalihkan seratus persen pandangannya terhadap sang putri. Raihan pun demikian.
Vanilla tersenyum melihat mereka berdua. Kelihatan sekali kalau keduanya sudah penasaran sehingga tidak sabar mendengarkan suatu kabar darinya.
"Anak keduaku perempuan. Mama dan Papa senang tidak?"
__ADS_1