
Lovi menghubungi driver di lantai bawah namun tak ada jawaban. Maka Ia memutuskan untuk mengatakan keperluannya secara langsung.
Dengan langkah cepat Lovi keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah dimana drivernya berada.
"Tolong jemput anak-anak di rumahnya Grizelle ya,"
"Oh iya, siap, Nona,"
"Terimakasih ya, hati-hati,"
"Baik, Nona,"
Langsung bergerak sigap, driver memasuki mobil usai ditugaskan oleh tuan rumahnya.
Lovi kembali ke kamarnya. Mengeringkan rambut di depan cermin menggunakan hair dryer. Ia baru berkutat dengan taman. Maka setelah Ia harus mandi.
Suara aktifitas Lovi membuat Devan terbangun. "Lov," panggil lelaki itu yang membuat sang istri menoleh padanya.
"Kenapa bangun? tidur saja lagi. Bagaimana kepalamu? masih sakit?"
"Astaga, aku lupa belum jemout mereka,"
"Sudah, aku minta tolong tadi dengan driver,"
Devan berdecak, Ia sudah mengatakan tadi agar Ia saja yang menjemput dan Ia minta dibangunkan oleh istrinya tapi ternyata Lovi tak mengindahkannya.
"Aku tidak tega membangunkan kamu. Jadi aku biarkans aja kamu tetap istirahat. Lagipula tidak masalah kalau bukan kamu yang menjemput mereka,"
Devan kembali berbaring. Ia sulit bila tidur lagi karena sudah terjaga.
"Kepalamu masih sakit?" tanya Lovi mengulang sebab tadi sang suami belum menjawabnya.
"Tidak, Lov. Jauh lebih baik,"
"Okay, syukurlah,"
Lovi masih mengoprasikan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang sudah mulai setengah kering.
"Kamu mandi lagi, Lov?"
"Iya, tadi habis dari taman 'kan,"
"Ya ampun, pagi-pagi sekali sudah mandi, sekarang mandi lagi. Sakit nanti,"
Lovi terkekeh menoleh sesaat pada suaminya yang memperhatikan Ia dari cermin.
"Tidak, hanya sesekali,"
"Nanti sore mandi lagi. Bahkan terkadang kamu mandi setelah mulai masuk malam. Sakit nanti. Jangan begitu kebiasaanmu,"
"Tidak, biasanya hanya mandi dua kali. Ini karena habis mengurus taman,"
"Eh iya, tadi Papa ke kantor bertemu aku,"
"Oh ya? ada apa memangnya? masalah pekerjaan?"
"Bukan, Papa memberi saham. Aku terkejut, Lov,"
__ADS_1
"Saham?"
"Iya, untuk Ean dan Ian. Coba bayangkan, mereka masih kecil sudah berapa yang dihabiskan Papa untuk mereka,"
Lovi terperangah dan sepenuhnya menoleh pada sang suami bahkan Ia memutar arah duduknya.
"Ya ampun, aku bingung dengan Papa,"
Devan terkekeh mepuhat Lovi yang menggaruk tengkuknya singkat. "Sama, aku pun begitu,"
"Hanya sebentar di kantorku, Lov. Hanya ingin memberi itu saja,"
Lovi berdecak pelan dengan gelengan kepalanya. Tak habis pikir dengan royalnya Raihan terhadap cucu.
"Sudah mengucapkan terimakasih belum?"
"Ya sudah lah! tanpa kamu ajari aku pasti tahu, Lov. Anak-anakku saja pintar mengucapkan itu, masa aku tidak?" cibirnya yang mengundang tawa geli Lovi. Ia pikir Devan yang terlalu senang sampai lupa mengucapkan terimakasih untuk ayahnya yang sudah sangat baik pada anak mereka itu.
****
"Kenapa kita belum dijemput? Keyfa sudah,"
"Aku tidak tahu. Jangan tanya aku,"
Adrian tidak tahu menahu kenapa mereka bertiga belum juga dijemput.
"Apa kita disuruh menginap di sini?"
"Ah tidak mungkin. Kita tidak bawa baju,"
"Ya bisa jadi besok Mommy yang antar,"
"Tunggu saja," kata Andrean pada kedua adiknya agar tidak cerewet dan sabar menunggu jemputan.
Grizelle ikut menunggu mereka dijemput seraya bermain game di gadget.
"Itu sudah datang,"
"Aki kira Daddy yang menjemput," gumam Adrian setelah meluhat driver menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka masuk.
"Sebentar ya, aku izin pulang dulu dengan Aunty dan Uncle;"
Ketiganya masuk ke rumah untuk menghampiri Vanilla dan Jhico yang tengah mengobrol.
"Aunty, Uncle. Kami pulang dulu ya. Terimakasih,"
"Oh iya, Sayang. Sama-sama,"
"Sudah dijemput kah?" tanya Jhiico pada ketiganya yang langsung mengangguk.
Mereka berdua mengantar sampai ketiganya memaauki mobil.
"Hati-hati ya. terimakasih sudah bermain di sini dengan Icelle,"
"Iya, Uncle. Sama-sama,"
"Bye Icelle! sampai jumpa nanti ya,"
__ADS_1
"Bye, aku tunggu kalian datang lagi ke sini. Okay?"
Adrian mengangkat ibu jarinya ke arah Grizelle. Mobil yang membawa mereka bertiga sudah tidak terlihat barulah Grizelle masuk ke dalam rumah.
"Yah sepi lagi," katanya mengedarkan pandangan.
"Sebentar lagi tidak kesepian. Sudah ada adik,"
"Nanti aku mendengar tangisnya terus,"
"Hei, kamu sudah bisa!"
Grizelle dan Jhico sontak mengangkat alis. Tidak paham dengan Vanilla yang tiba-tiba berseru menunjuk Grizelle.
"Bisa apa, Mu?"tanya Grizelle dengan wajah bingungnya.
"Bisa bicara jelas,"
"Artikulasi R nya sudah jelas, Jhi," kata Vanilla dengan wajah sumringah sekali mengguncang lengan suaminya. Apapun kemajuan yang baik dalam diri Grizelle selalu membuat Vanilla bahagia.
"Memang iya?" Jhico belum mendengarnya tadi, maka Ia bertanya memastikan. Vanilla mengangguk cepat dan yakin bahwa pendengarannya tadi tidak mungkin salah. Grizelle sudah bisa bicara jelas.
"Coba ulangi kalimatmu tadi,"
"Kalimat apa, Mu?"
Grizelle menggaruk pelipisnya masih bingung. Vanilla sampai gemas menyuruhnya mengulang.
"Mendengar suara," ujar Vanilla menyuruh anaknya mengikuti.
"Mendengar suara,"
"AAA ICELLE SUDAH BISA," Vanilla sampai bertepuk tangan karena terlampau bahagia. Anaknya sudah sempurna dalam hal berbicara.
"Yeaayy Icelle semakin siap punya adik. Bicaranya sudah bafus sekali. Tidak ada kesulita saat mengucap kata yang terdapat huruf R nya,"
Jhico juga merasa sennag sekaligus bangga. Ia meraih anaknya dalam gendongan. Kemudian memberi kecupan bertubi di keningnya.
"Pintar anak Pupu ya. Akhirnya usia lima tahun bisa,"
"Aku kira sampai besar tidak bisa," kata Grizelle yang ternyata diam-diam sudah tidak percaya diri dengan kemampuannya.
"Tapi ternyata Icelle bisa. Pintar sekali anak Mumu ini. Mumu sudah pernha bilang, smeua oranga juga, kalau segala sesuatu itu butuh proses. Pertumbuhan dan perkembangan anak juga tidak bisa disama ratakan. Meskipun anak sesusia Icelle sudah bisa bicara R tapi Icelle belum, tidak usah malu. Syukurnya sekarang Icelle sudah bisa,"
Vanilla mencium anaknya yang sudah membuat Ia bangga setiap saatnya. Ini mungkin hal kecil tapi bagi ornagtua adalah hal yang sangat menyenangkan. Sama seperti ketika Grizelle bisa jalan, bisa memanggil untuk pertama kali, dam bisa hal-hal lainnya.
"Yeayy aku bisa Rrrrrrr," Grizelle sengaja menyebut huruf R dengan panjabg di akhir kalimatnya.
"Yeayy, Icelle hebat,"
"Grizelle anak Mumu dan Pupu hebat,"
Selama ini Grizelle sedikit sulit menyebut namanya sendiri. Kini Ia bisa dnegan mudah mengucapnya bahkan dengan sangat jelas dan lancar.
"Bagaimana sebagai perayaan kecil, kita staycation?"
"Mau-mau, tapi saat akhir pekan saja ya, Pu? kita cari waktu yang tepat dulu," pintanya agar tidak meninggalkan sekolah.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kita pilih hotelnya dulu sekarang,"
Jhico mengajak anaknya untuk memilih hotel mana yang ingin Grizelle jadikan tempat untuk bermalam sebagai bentuk perayaan kecil kata Jhico tadi karena anaknya sudah bisa bicara dengan artikulasi huruf R yang jelas.