
Saat membuka matanya, suara Joana terdengar menyambut kesadaran Vanilla. Ia menyentuh lengan Vanilla agar Vanilla tidak mencari sumber suaranya lagi.
"Aku di sini, Vanilla. Bagaimana kondisimu?"
"Aku ingin pulang, Joana."
"Iya, aku sudah izin pada dosen. Kamu akan diantar Kak Deni karena Renald sedang sibuk. Maaf bukan aku yang membawamu pulang karena setelah ini akan ada ujian,"
Vanilla menghela napas kecewa. Kenapa harus Deni yang mengantarnya pulang? keadaannya yang tidak baik ini membuat Ia malas sekali bertemu dengan Deni yang akan membuatnya semakin sakit kepala.
Sayangnya yang Ia harapkan justru sedang ada pekerjaan. Entah perasaannya saja atau bagaimana, akhir-akhir ini Renald memang jarang sekali menyapanya baik secara langsung ataupun melalui telepon. Vanilla mengerti bagaimana kesibukan lelaki itu apalagi bila kampus akan mengadakan sebuah acara. Renald sudah diangkat sebagai kepala cleaning service yang membawahi teman-teman sejawatnya. Namun dia tetap menjalani tugasnya dengan baik. Jabatan itu tidak menjadikan Renald berlaku seenak hati.
"Kenapa menghubungi Deni? aku bisa pulang sendiri,"
Vanilla bangkit dari posisi berbaringnya dan bersiap untuk turun. Namun Joana cepat-cepat mencegahnya.
"Aku benar-benar bingung tadi. Aku tidak memiliki nomor ponsel keluargamu. Yang aku ingat hanya Kak Deni dan kebetulan aku menyimpan nomor ponselnya,"
"Bukan hanya tersimpan, tapi nomor Kak Deni hampir setiap saat menghantuiku hanya untuk menanyakan kabarmu, Vanilla."
"Aku bisa pulang sendiri," tukas Vanilla yang tidak ingin dibantah. Ia menyingkirkan tangan Joana dari lengannya.
"Vanilla, itu tidak mungkin! kondisimu tidak memungkinkan. Kak Deni juga sudah dalam perjalanan,"
"Dimana tongkatku?"
Joana menyerahkannya. Ia membantu Vanilla untuk berdiri dan mereka keluar dari ruangan serba putih yang menjadi tempat para mahasiswa beristirahat bila sedang dalam kondisi sakit.
"Ya Tuhan, Vanilla, kamu membuat jantungku hampir lepas,"
Mereka hampir menubruk Deni yang akan masuk ke dalam ruangan. Lelaki itu mengusap dadanya. Ia sedang khawatir dan sekarang dibuat terkejut. Jantungnya benar-benar kacau.
Ia menghembuskan napasnya sejenak. Deni yang akan menjalani rapat langsung bergegas ke kampus Vanilla setelah ditelepon oleh Joana, sahabat gadis itu yang sudah seperti mata-mata untuknya.
Deni meminta sekretarisnya untuk mengundur jadwal rapat atau kalau pihak kliennya tidak mau, Ia minta digantikan oleh orang kepercayaannya di perusahaan untuk menghadiri rapat tersebut.
"Ayo, aku bantu."
"Aku bisa pulang sendiri, Deni. Kamu tidak perlu--"
Deni segera mengusap bibir Vanilla lalu menggeleng. Ia tersenyum saat gadis itu langsung bungkam.
"Kamu semakin cantik setelah menjadi milik orang lain. Ah sial, aku kesal melihatnya,"
Kalimat itu membuat kening Joana terlipat. Terdengar sangat ambigu. Vanilla sudah dimiliki oleh seseorang? apa dia Renald? Tapi Vanilla belum mengatakan apapun padanya. Vanilla pasti akan berbagi kabar bahagia tersebut bila memang Renald benar-benar telah meresmikan hubungan mereka.
Vanilla mendengus lalu memukul kaki Deni menggunakan tongkatnya. Lelaki itu meringis berlebihan.
"Adikku ini kenapa menyebalkan sekali ya?"
"Aku harus pulang sekarang. Kalau tidak, aku bisa gila. Ucapanmu semakin aneh,"
Vanilla sengaja mengatakan itu agar Joana tidak lagi fokus pada kalimat yang didengarnya tadi.
"Kamu harus pulang bersamaku. Aku sudah meninggalkan rapat hanya demi kamu, adikku yang cantik."
__ADS_1
****
Saat memasuki kediaman milik keluarga Jhico, para pelayan yang menyambut mereka sedikit kebingungan saat melihat Vanilla pulang bukan bersama dengan Jhico.
Namun sambutan mereka begitu baik. Setelah mempersilahkan Deni duduk, salah satu pelayan memasuki dapur dimana ada Hawra yang sedang melihat perawatnya, Shein, mengambilkan makanan untuknya.
"Membuat minuman untuk siapa?"
"Ada teman Nona Vanilla, Nek."
"Oh, Vanilla sudah datang,"
Hawra langsung berjalan keluar dari dapur untuk menghampiri Vanilla. Gadis itu sedang melepas tas yang dibawanya, sementara laki-laki yang dikatakan Shein sebagai teman Vanilla sedang menjelajahi rumah megah ini dengan matanya.
"Vanilla, pulang lebih cepat?"
Deni langsung menoleh dan menunduk singkat untuk sekedar menyapa Hawra. Wanita tua itu duduk di hadapan Deni yang tiba-tiba saja canggung karena ditatap sedemikian intens oleh Hawra.
"Temannya Vanilla?"
"I--iy--iya, Nek."
Suaranya terbata membuat alis Vanilla menukik. Kenapa lelaki itu berubah menjadi pendiam seperti itu? selama di perjalanan tingkahnya benar-benar luar biasa. Vanilla semakin sakit kepala saat Deni menyalakan musik di dalam mobil dengan suara yang sangat kencang bahkan gerak tubuhnya yang menghentak menikmati lagu, bisa didengar oleh Vanilla.
"Saya mengantar Vanilla ke sini karena tadi dia pingsan. Dan suaminya---"
"Jhico pasti peduli kalau Vanilla memberi tahu keadaannya,"
"Oh, bukan seperti itu maksudku,"
Jelas sekali Deni ingin menyalahkan cucunya. Rasanya tidak mungkin Jhico tak acuh bila Ia tahu Vanilla butuh bantuannya. Sesibuk apapun Jhico, kalau sudah menyangkut perempuan yang disayanginya, pasti Ia akan bertindak. Saat Vanilla ceroboh saja Ia begitu khawatir.
"Jhico, kenapa berlari seperti itu?"
"Aku ingin mencari obat, Nek."
Hawra yang berada di undakan terakhir dibuat mundur secara otomatis saat Jhico turun dengan setengah berlari lalu setelah mendarat di lantai dasar, Ia berjalan cepat mencari obat di dalam boks kecil yang tergantung di dinding dekat ruang keluarga.
"Milikmu memang dimana? biasanya selalu ada di kamar**,"
"Obat luka milikku habis,"
"Siapa yang luka?"
"Vanilla, dia membuka pintu rooftop terlalu semangat. Lalu jarinya terjepit,"
Hawra menggelengkan kepalanya. Vanilla dengan segala kecerobohannya kembali lagi. Padahal baru tadi pagi Ia salah menuangkan air minum. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ada kesamaan di antara Jhico dan istrinya. Jhico juga ceroboh dan terkadang tidak sengaja sampai melukai dirinya sendiri.
"Aneh-aneh saja istrimu itu,"
"Iya, aku khawatir melihat jarinya mengeluarkan darah,"
"Sudah diberi antiseptik?"
"Sudah, Nek."
__ADS_1
"Ya sudah, cepat obati!"
Deni benar-benar tidak nyaman berada di sana. Hawra terlihat tidak menyukainya, itu hanya perasaannya saja atau bagaimana?
Setelah berpamitan, Ia langsung pergi melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah keluarga Jhico.
"Padahal aku hanya ingin berbuat baik. Kenapa nenek tua itu malah tidak acuh padaku? dasar nenek tua yang menyebalkan,"
Deni memilih untuk langsung pulang ke rumah. Kembali ke kantor rasanya sangat tidak memungkinkan. Di samping Ia malas, pekerjaannya juga sudah selesai. Mungkin perkara rapat tadi akan Ia tanyakan pada sekretaris setelah sampai di rumah.
Entah mengapa akhir-akhir ini Deni mulai terbiasa dengan kehadiran istrinya. Ia akan berusaha pulang tepat waktu karena ingat Keynie akan banyak bertanya bila Ia pulang terlambat. Sebenarnya Ia tidak nyaman bila kehidupannya terlalu dikulik, namun ia sadar bahwa sudah seharusnya Keynie melakukan itu karena Deni bukan lagi sosok yang hidup sendiri dimana Ia bebas pulang kapanpun. Keynie tentu harus tahu alasannya bila memang Deni tidak bisa sampai di rumah tepat waktu.
"Kenapa pulang cepat?"
"Kamu selalu protes. Aku pulang terlambat diprotes, pulang cepat pun begitu,"
Ia kira sambutan istrinya akan hangat. Tapi kenyataannya malah terdengar menyebalkan. Antusiasnya langsung hilang seketika.
"Kamu sepertinya kelelahan jadi terlalu serius menanggapi ucapanku. Ya sudah, lebih baik kamu mandi lalu istirahat,"
"Aku memang lelah. Jadi jangan banyak bicara,"
Keinginan untuk bicara baik-baik sudah hilang. Niat hati ingin membalas pelukan Keynie yang biasanya menyambut kedatangan Ia di depan pintu, akhirnya malah seperti ini.
***
"Jhico sudah bergantung pada kamu. Jangan mengecewakannya, Vanilla."
"Maksud Nenek?"
"Nenek yakin kamu mengerti,"
Saat Vanilla memasuki kamar, Hawra mengikutinya. Lalu tiba-tiba saja berbicara seperti itu. Vanilla tidak mengerti sama sekali. Apakah ini semua karena...
"Laki-laki tadi? Nenek sedang membawa dia dalam pembicaraan ini?"
Vanilla berusaha menyembunyikan nada gelinya saat berujar seperti itu. Apa Hawra sedang memikirkan sesuatu yang bertentangan dengan fakta?
"Kalian benar-benar bersahabat? karena sepertinya kalian sangat dekat. Dan yang nenek tahu, bila laki-laki dan perempuan bersahabat, pasti salah satu diantaranya ada yang menyimpan rasa,"
Vanilla berpikir bahwa wanita tua ini sangat konservatif. Padahal sebelumnya Vanilla sudah mengatakan bahwa mereka hanya bersahabat baik. Ada yang aneh dengan kedekatan mereka? apa Ia dan Deni terlihat lebih dari sekedar sahabat? Vanilla memang sering mendengar kalimat itu tapi masalahnya adalah, Ia dan Deni sudah sama-sama menikah dan sedari awal mereka memang tidak pernah cocok, selalu bertengkar. Rasanya sangat tidak mungkin bila mereka lebih dari sahabat atau adik-kakak.
Ia sempat terbawa perasaan karena perilaku manis Deni. Namun seiring berjalannya waktu, Vanilla sudah lebih terbiasa berada di bawah kungkungan Deni yang terkadang lebih dari Devan. Apa lagi setelah Renald sudah masuk terlalu dalam ke sudut hatinya, Vanilla tidak pernah lagi menoleh pada laki-laki lain. Dan Deni tidak pernah masuk ke dalam list laki-laki idamannya.
"Rasa sayang memang ada, Nek. Tapi hanya sebatas itu saja. Tidak lebih. Aku tidak berani macam-macam,"
"Artinya kalau sudah muncul keberanian itu, kamu akan melakukan sesuatu di belakang Jhico?"
Vanilla ingin mengatakan 'ya' tapi itu sama saja cari masalah. Tidak ada perasaan apapun terhadap Jhico, jadi kalau sudah ada keberanian dan Vanilla sudah gelap mata, bukan tidak mungkin Ia berkhianat karena pada dasarnya ikatan yang sedang menjerat Ia dan Jhico bukanlah termasuk ke dalam keinginannya.
"Jujur, aku tidak mencintai Jhico, Nek. Untuk sekarang aku sedang berusaha menjalani apapun yang ada di depan mata. Untuk selanjutnya, aku tidak bisa memastikan apapun,"
-------
Waw waw waw Si Panil kapalnya mulai karam gesss. Si donat jeko gmn nih nnti? ttp santuy atau gaskeun? KOMEN KUY KELEAN BACA INI JAM BRP?
__ADS_1