
"Sshh, sakit,"
Grizelle meringis kesakitan saat Ia terjaga. Matanya mengerjap menatap sekeliling, kemudian Ia menoleh dimana Mumunya masih terlelap.
Grizelle menoleh pada jam. Jarum menunjuk angka tiga empat puluh. Anak itu beranjak duduk. Ia menatap kedua lututnya yang kini sama-sama memiliki luka. Yang satu lebih parah karena kemarin juga baru habis jatuh. Beruntung tidak robek. Saat dibawa ke ruang perawatan di sekolah, Grizelle cemas sekali. Bayangan-bayangan kalau Ia akan dioperasi atau segala macamnya sudah memenuhi kepalanya itu.
Grizelle membangunkan Mumunya sebab Ia ingin ke kamar mandi. Kalau kondisinya sehat, Ia akan melakukannya sendiri.
"Mu, aku mau ke toilet,"
Vanilla mengerjapkan matanya. Ia segera beranjak menatap anaknya yang kini duduk. "Kenapa, Sayang?" tanyanya cemas. Takut-takut Grizelle merasa kesakitan lagi hingga terbangun.
"Aku mau ke kamarrl (kamar) mandi,"
"Ayo, Mumu temani,"
Vanilla membantu anaknya untuk meninggalkan ranjang dengan hati-hati.
"Hah kenapa ada Pupu di bawah?"
Grizelle terkejut mendapati ayahnya tidur di bawah beralaskan bed cover.
"Iya, Pupu mau tidur dengan Griz tapi Pupu takut menyentuh luka Griz jadi tidur di bawah,"
"Ya ampun, padahal bisa tidurl (tidur) di atas dengan aku dan Mumu,"
"Iya, Mumu sudah bilang begitu. Tapi Pupu tetap tidak mau,"
Vanilla membantu anaknya melangkah ke kamar mandi dan Ia masuk juga ke dalam. Sebelumnya Grizelle ingin membangunkn Jhico dan memintanya tidur di ranjng tapi Vanilla tak mengizinkan karenn kata Vanilla tetap saja Jhico tidak akan mau.
Setelah Grizelle menyudahi keinginannya untuk buang air kecil, mereka keluar.
Keduanya menaiki ranjang lagi. Vanilla mengusap kening Grizelle dengan lembut. "Mumu ke dapur dulu ya?"
"Nanti saja, ini masih pagi sekali, Mu," rengek anak itu tidak mengizinkan Mumunya untuk beranjak meninggalkannya.
Vanilla akhirnya tidak jadi melakukan niatnya itu. Ia kembali berbaring di sisi Grizelle membalas pelukan Grizelle dengan hangat.
"Pupu kasihan tidurrl (tidur) di bawah,"
"Iya, Pupu keras kepala,"
"Sama dengan kita berrldua (berdua)," cetus Grizelle
Vanilla terlekeh pelan. Ia mencium puncak hidung anaknya yang kecil itu.
"Griz tetap ingin sekolah?"
"Iya, aku tetap sekolah,"
"Lukanya tidak apa?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku tetap mau sekolah,"
"Tapi jangan terlalu banyak melangkah ya,"
Grizelle mengangguk mendengar pesan Ibunya. Semoga di sekolah Ia tidak lupa dengan pesan yang disampaikan Mumunya saat ini.
*****
Lovi melihat layar ponsel suaminya yang menyala. Rupanya ada panggilan, saat ia akan memberikan ponselnya pada Devan, panggilan sudah terlanjur berakhir.
__ADS_1
"Papa," gumamnya pelan.
Ia segera bergegas ke ruang olahraga dimana suaminya tengah berjalan di treadmil.
"Papa telepon,"
"Kenapa?"
"Entah, mungkin penting. Coba di telepon lagi,"
"Nanti saja, Lov. Aku masih---"
"Sekarang, Devan. Orangtua lebih penting daripada semua yang kamu lakukan,"
Lovi sudah menganggap kedua orangtua suaminya adalah orangtua sendiri. Apalagi setelah kedua orangtuanya tidak ada. Ia kian menyayangi Raihan dan Rena.
Bila mereka menghubungi,pasti ada sesuatu dan harus cepat dutanggapi. Sekalipun hanya untuk bertanya kabar, sudah sepantasnya ditanggapi sebab orangtua akan sangat bahagia ketika mengetahui kabar mengenai anaknya.
"Hallo, Pa. Kenapa tadi telepon? maaf aku tidak menjawabnya. Sedang tidak pegang ponsel,"
"Kamu ya, semalam Papa telepon bukannya langsung ditelepon balik,"
"Maaf, Pa," Devan terkekeh meringis. Kini Ia menghentikan kegiatannya. Memilih untuk duduk di lantai dan menenggak air minumnya.
"Ke sini ya. Ajak Auris juga,"
"Auris saja? kakak-kakaknya tidak? tidak biasanya,"
"Maksud Papa ketiganya ajak ke sini. Tapi kalau yang dua tidak mau,tidak masalah. Yang penting Auris harus mau,"
"Memang ada apa, Pa?"
Devan terkekeh pelan mendengar seruan marah ayahnya di awal kalimatnya. Ia hanya bercanda menanyakan itu. Sebenarnya Ia memang sudah niat datang ke rumah orangtuanya hari ini kalau Ia bisa pulang lebih sore.
Tepat sekali dengan permintaan ayahnya ini. Ia akan berusaha untuk menyempatkan waktu ke sana.
"Iya, Pa. Aku akan ke sana nanti ya,"
"Jangan lupa ya atau pura-pura lupa!"
Devan terbahak keras. Ayahnya bisa saja menyindir karena Ia sudah sangat jarang datang ke sana apalagi tanpa anak-anaknya.
"Iya, Pa. Aku akan datang,"
"Ya sudah, terimakasih ya,"
"Ya, Pa,"
Lovi masih senantiasa memperhatikan suaminya yang kini menyudahi komunikasinya dengan sang ayah.
"Kenapa, Sayang?" tanya Lovi pada suaminya yang kini mengeringkan keringat dengan handuk kecil.
"Papa meminta aku dan anak-anak ke sana,"
"Kamu memang rencananya hari ini mau ke sana ya?"
"Iya, Papa mau menyerahkan berkas katanya,"
Devan bangkit, melakukan peregangan sebentar dan Ia keluar dari ruang olahraga diikiti istrinya
"Berkas apa?"
__ADS_1
"Papa mau menyerahkan berkas kepemilikan playground Auris,"
Devan berlalu ke meja makan. Di sana Ia melihat Andrean yang sudah bangun dan mandi tapi belum mengenakan pakaian sekolahnya.
"Woah Anak Daddy yang nomor satu sudah bangun, sudah mandi juga,"
Devan mengacak pelan rambut anak tertuanya yang sedikit basah. Andrean menatap ayahnya datar. Ia sudah menyisir rambutnya tapi malah diberantaki.
Devan terkekeh dan duduk di kursi yang berhadapan dengan putranya.
"Kedua adikmu dimana?"
"Entah, masih tidur mungkin,"
"Makan sekarang?" tanya Lovi pada Andrean yang langsung menggeleng.
"Coba Mommy lihat dulu kedua adikmu itu di kamar mereka,"
Lovi meninggalkan anak pertamanya dan sang suami di ruang makan sementara Ia menghampiri kedua anaknya yang lain.
Ia membuka pintu kamar Adrian yang sudah bangun dan kini akan memasuki kamar mandi.
"Oh belum mandi rupanya"
"Belum, aku baru bangun, Mom. Aku bangun juga karena jatuh dari tempat tidur,"
Lovi membuka lebar pintu kamar dan masuk guna mendekati putranya.
"Apa yang sakit?"
"Tidak ada, Mom,"
"Yakin tidak apa-apa?"
"Iya, aku baik-baik saja,"
"Maksud Mommy, tempat tidurnya tidak apa-apa 'kan?"
Adrian menatap Mommynya dengan sorot datar sementara Lovi sudah terbahak. Ia sudah mengerjai Adrian pagi-pagi begini.
"Tenpat tidurnya juga baik-baik saja, Mom. Bisa Mommy lihat sendiri,"
Lovi tersedak oleh tawanya kala Adrian menyuruhnya untuk melihat tenpat tidur. Kemudian anak itu masuk ke dalan kamar mandi dengan wajah tersungut.
"Mommy bercanda, Sayang. Yang penting kamu tidak apa,"
Adrian bergumam dan kedengaran masih kesal. Lovi terkekeh pelan, tak ingin menambahk kekesalan anaknya. Ia keluar dari kamar Afrian dan beralih ke kamar Auristella.
Beginilah jadinya kalau punya anak lebih dari satu. Harus mengabseni kamar anak satu persatu seperti Ibu pemilik yayasan anak.
"Auristella, hallo,"
"Enghh,"
Auristella rupanya belum bangun. Ia hanya melenguh saat Mommynya memanggil dan masuk ke kamar.
"Sayang, kenapa belum bangun? ayo, bangun. Sekolah, harus semangat,"
"Kepalaku sakit, Mom," keluhnya seraya menyentuh kepala. Lovi menatap anaknya. Ia mengerinyi nendapat mata anaknya yang sedikit merah. Ia meletakkan tangannya di kening sang putri.
"Badanmu hangat, Auris. Ya ampun, sejak kapan merasa demam, Sayang? semalam masih baik-baik saja,"
__ADS_1