Nillaku

Nillaku
Nillaku 90


__ADS_3

"Oh jadi selesai bekerja sudah ada planing untuk jalan berdua ya?"


"Tentu saja. Kau ada planing yang sama?"


"Aku tidak jalan berdua sekarang,"


"Oh iya, ada baby jadi bertiga ya,"


"Kurang menyenangkan kalau berdua,"


"Jadi kalau mau bertiga aku harus apa?"


Tawa Jhico meledak setelah mendengar pertanyaan Kenzo yang sekarang memasang tampang seperti orang bodoh.


"Nikahi, baru lakukan sesuatu supaya jadi bertiga,"


"OKAY, SIAP."


Jhico ancang-ancang melempari Kenzo dengan kalendar di mejanya. "Tunggu apalagi belum pulang?"


"Aku pulang kalau begitu?"


"Iya, sudah waktunya kau pulang. Aku tidak akan melarang,"


Kenzo berseru senang. Ia seperti bukan laki-laki dewasa. Begitu ekspresif menunjukkan kebahagiaannya. "Kau kapan pulang?"


"Malam, tapi sebentar lagi aku harus menjemput Vanilla,"


"Okay, aku pulang dulu kalau begitu,"


Kenzo menutup pintu ruangan Jhico dan Ia tersenyum pada gadis yang menunggunya sedari tadi.


Kenzo mengecup punggung tangan gadis itu. "Sudah diizinkan?" tanya kekasihnya. Kenzo mengangguk cepat.


"Tentu saja, sudah waktunya aku pulang. Lagipula Jhico tidak sejahat itu memforsir tenaga pegawainya. Aku hanya pamit saja tadi,"


"Enak kerja di rumah sakit atau di sini?"


"Jujur aku lebih nyaman di sini,"


Kenzo dan Alifia berjalan keluar dari klinik seraya berbincang. Hari ini mereka sudah punya rencana untuk makan bersama dan juga menonton di bioskop. Keduanya sibuk dengan bidang yang sama, sehingga jarang sekali bisa pergi bersama. Jangankan jalan berdua, komunikasi saja jarang terjadi. Hanya bila ada waktu kosong.


Dipertemukan dengan kesempatan langka seperti ini, Kenzo dan Alifia sangat bahagia. Dan Jhico juga sangat memahami mereka berdua. Ia tidak mempersulit Kenzo yang ingin sekali menikmati waktu berdua bersama kekasihnya.


***


"Kenapa lagi sih?"


"Tolong tutup zipper gaun aku,"


"Ada dia. Kenapa harus aku?"


Biarpun mencibir kesal, Deni tetap melakukannya. Ia menarik zipper yang berada di belakang gaun istrinya.


Keynie tidak mau fashion stylist yang membantunya. Ia ingin Deni lah yang melakukan itu.


"Tidak ada yang lebih terbuka lagi ya? harus pakai ini?"


"Ceritanya adegan kali ini aku sedang mandi dengan menggunakan produk kita. Kalau aku pakai baju panjang akan aneh jadinya,"


"Ada yang lebih terbuka. Mau pakai handuk?"


fashion stylist Keynie menawarkan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Deni.


"Aku saja yang pakai handuk," sahut Vanilla dengan ringan. Jane memiting kulit lengannya dengan geram. "Kamu sudah ada konsep foto sendiri. Tidak usah aneh-aneh lah,"


"Aku mau pakai handuk. Itu masih wajar 'kan?"


"Wajar? sinting kamu ya? sudah bersuami tapi kalau berpakaian tidak berpikir dulu," Deni memarahi Vanilla dengan posesif yang begitu terlihat. Ia peduli dan sangat menyayangi Vanilla. Ia tidak suka melihat Vanilla punya keinginan seperti itu.


"Aku mau konsepnya juga sedang mandi,"


Jane berdecak dan menggelengkan kepalanya. Ada yang aneh lagi dari Vanilla. Keynie menatap Deni dan mulai mencurahkan kegelisahannya.


"Kamu hanya peduli dengan istri orang lain. Istri kamu sendiri---"


"Aku sudah protes tentang pakaian kamu tadi. Siapa yang mengatakan aku hanya peduli pada Vanila? aku juga tidak suka melihat kamu pakai gaun ini,"


Deni duduk setelah mengacak rambutnya kesal. Ia duduk dan langsung memberikan instruksi untuk Keynie agar bersiap di depan kamera.


Vanilla masih membujuk Deni yang mulai mengarahkan istrinya untuk berekspresi di dalam bathup.


"Deni, aku boleh---"


"Vanilla, jangan mengatur aku ya! konsep foto untuk kamu sudah siap. Nanti kamu foto dengan adegan berdansa, bukan mandi."


"Daripada dansa lebih baik mandi."


"Memang kenapa?"


"Aku dansa dengan Ganadian. Kamu bayangkan akan serumit apa saat pemotretan nanti. Dia tidak pernah serius kalau bersama aku,"


Deni mengabaikan protes dari Vanilla. Gadis itu memang sempat menolak saat diberi tahu bahwa konsep foto dan video nya adalah suasana di malam dansa untuk iklan sabun mandi yang merupakan produk perusahaan Deni. Dan Ganadian lah yang akan menjadi prince charming nya.


"ASSSIK DANSA BERSAMA PEREMPUAN CANTIK,"


Vanilla kesal melihat kegembiraan Ganadian. Ganadian baru saja keluar dari ruang wardrobe dengan blazer yang menambah ketampanannya.


Vanilla mengusir tangan Ganadian yang menjawil dagunya. "Kamu benar-benar cari masalah dengan Jhico ya?!"


Mata Vanilla melotot tajam. Kata Ganadian tadi, Ia menyebalkan karena sampai hari ini Vanilla belum juga mencarikannya jodoh.


"Seharusnya kamu baik padaku. Masih berharap aku carikan jodoh 'kan?"


"Ah begitu terus jawabnya. Tapi tidak pernah dikenalkan dengan siapapun,"


"Dengan Joana saja, Ganadian."


Ganadian menatap Vanilla seraya menggertakan giginya karena gemas dengan ucapan Vanilla. "Kamu yang bergerak lebih dulu seharusnya, jangan aku."


Vanilla menatap Ganadian seraya tersenyum geli. Ia kira Ganadian akan menolak mengingat komunikasi Ganadian dan Joana terbilang sangat jarang walaupun mereka sering bertemu.


"Sayangnya Joana sudah mau menikah,"


Joana hanya bisa menjadi pendengar di sana. Ia diperbincangkan oleh sahabatnya. Biarkan saja yang terpenting Vanilla tidak mengatakan yang buruk-buruk. Ia memang sudah punya rencana untuk menikah.


"Huh? kamu serius?"


"Iya lah, makanya jangan terlalu dekat dengan Joana. Dia sudah ada yang punya," Vanilla memperingati karena tadi Ia sempat melihat keakraban antara Joana dan Ganadian yang sangat jarang terjadi. Mereka memang kerap berbincang tapi hanya satu atau dua kalimat dan itupun kalau sedang bersama-sama dengan model lain atau kru yang bertugas. Jarang sekali berbincang berdua seperti tadi.

__ADS_1


Ganadian menghela napas seraya mengacak pelan rambutnya. Ia bergumam, "Astaga, aku dibalap lagi."


Vanilla mengerjap dan menatap Gandian dengan serius. "Apa? dibalap lagi?"


Ganadian menggeleng tak ingin menjawab pertanyaan Lovi yang ingin memastikan pendengarannya.


"Key, yang benar ekspresi nya. Kamu masih saja kaku padahal sudah sering pemotretan,"


Keynie menggeram dalam hati saat suaminya lagi-lagi mengomentari apa yang dia lakukan. "Kaku bagaimana sih? aku--"


"Kamu tidak seperti Vanilla. Rileks saja, jangan kaku."


"Pada akhirnya aku dibanding-bandingkan,"


Keynie keluar dari bathtup yang menjadi properti foto karena menurut fotografer hasil foto yang tadi sudah bagus.


"Fotografer saja sudah mengatakan bagus. Memang pada dasarnya dia mau membanggakan Vanilla," sisi buruk dalam dirinya masih membatin kesal. Ia sendiri sudah santai setiap menjalani pemotretan. Tapi Deni malah mengatakan kalau Ia masih kaku. Ia juga sudah pernah menekuni dunia ini. Walaupun memang kemampuannya tidak bisa disandingkan dengan Vanilla yang sudah memiliki jam terbang tinggi meskipun masih terbilang belum lama berkarir sebagai model.


"Kau yakin sudah bagus?"


"Sudah, lihat saja ini."


Deni melihat hasil foto. Memang bagus sekali dan istrinya juga sangat cantik. Selain foto, ada juga video yang diambil untuk promosi produk sabun mandi nanti.


"Okay, untuk sesi kedua bersiap ya. Tapi kita istirahat dulu lima belas menit,"


"Van, kamu belum ganti baju?"


Ganadian terperangah saat baru menyadari kalau Vanilla sedang sibuk makan dengan rambut bagian depan yang di roll.


Vanilla menggeleng dengan santai. Ia menikmati makanan dengan lahap. "Sudah tahu kalau dandan lama, kenapa tidak siap-siap sejak tadi sih?"


"Aku tidak mengubah tema make up, tetap pakai make up seperti sebelumnya. Hanya ganti baju,"


"Tema make up kamu dirubah, Van. Konsep foto kali ni 'kan pesta. Sementara yang tadi---"


"No, aku tidak mau dirubah."


"Hey harus dirubah! jangan buat peraturan sendiri!"


Managernya, Jane sudah berkata dengan tegas. Mau tidak mau, Vanilla menurut. "Arrghhh ganti baju belum, make up belum, sekarang lagi makan. Aku harus menunggu kamu siap berapa lama?"


"Tenang, kenapa kamu yang berisik sih? mereka semua bisa bekerja dengan cepat." Ujar Vanilla seraya menunjuk make up artist dan fashion stylist nya.


"Ibu hamil perlu asupan makanan terus, Ganadian. Aku harap kamu maklum,"


Vanilla mengangguk setuju atas pembelaan yang dilakukan sahabatnya. Vanilla mengecup pipi Joana sementara dia baru saja menikmati ayam crispy dengan topping keju mozzarella. Joana sudah menghindar tapi tidak bisa. Vanilla menarik kepala Joana dengan cukup kuat hingga tiba juga bibirnya yang penuh dengan minyak dan keju itu di wajah Joana yang polos tapi tetap menawan.


"Vanilla sengaja ya?!"


"Hehehe,"


Joana mendengus dan akan meraih selembar tisu. "Pakai ini," Ganadian reflek saja mengambil benda yang dibutuhkan Joana. Vanilla yang melihat itu langsung berdehem keras.


"Aduh tenggorokan aku gatal, segatal Ganadian."


Kru yang mendengar langsung meledakkan tawa mereka. Bahkan tidak sungkan meledek Ganadian. Perilakunya pada Joana tadi juga tidak luput dari mata mereka. Dan Vanilla pintar sekali membuat Ganadian malu.


***


"Besok aku akan ke panti. Tolong siapkan semuanya, seperti biasa ya."


"Jam berapa?"


"Okay, akan aku siapkan dari sekarang,"


"Terima kasih,"


Jhico menutup teleponnya dengan seorang pemilik pusat penjualan kebutuhan pokok untuk sehari-hari yang sudah menjadi langganannya. Besok Ia akan ke panti bersama Keyfa. Saat Keyfa minta untuk ikut lagi ke panti, Jhico jadi kepikiran terus. Permintaan anak itu sederhana sekali. Kemarin anak itu datang dan besok mereka akan pergi ke panti. Tanpa menunggu waktu lama, Jhico akan memenuhi keinginannya itu.


*****


Keyfa baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Seperti biasa, wajahnya lesu dan takut padahal sudah bertemu dengan dokter.


"Keyfa, kakak dokter besok ke panti. Kamu diajak juga." ujar Vivy pada anaknya setelah Ia mendapatkan notifikasi pesan dari Jhico beberapa saat lalu.


"Benar, Bu?"


"Iya, Sayang. Kamu terima ajakannya?"


Keyfa memeluk Vivy dengan perasaan senang. "Tentu saja. Padahal baru kemarin aku bertemu dengan kakak dokter, tapi aku sudah rindu lagi dengannya,"


"Besok aku akan bermain bersama teman-temanku di sana. Aku merindukan mereka. Kira-kira mereka merindukan aku tidak ya? aku 'kan sudah lama tidak berkunjung,"


"Pasti rindu. Kalian saling merindukan dan besok akan bertemu. Keyfa senang?"


"Senang dan aku tidak sabar menunggu besok,"


"Ya sudah, ayo kita pulang. Ayah sudah menunggu di mobil,"


Setelah memastikan semuanya siap, Jhico langsung menyampaikan niatnya untuk besok. Ia tebak pasti Keyfa tidak menyangka kalau Ia akan mengajak Keyfa ke panti secepat itu. Mungkin Keyfa mengira Minggu depan atau akhir bulan nanti. Tapi Jhico tidak bisa tenang kalau belum memenuhi keinginan anak itu. Ia merasa ada tanggung jawab untuk memenuhi apa yang diinginkan Keyfa.


"Ayah, besok aku akan ke panti. Aku senang sekali,"


"Oh ya? Kakak dokter yang mengajak kamu?"


"Tentu saja. Kalau bukan kakak dokter, aku belum tentu mau,"


Ferdy terkekeh seraya mengusap pelan kepala putrinya. Lelaki itu mulai melajukan mobilnya, meninggalkan area rumah sakit yang sudah menjadi rumah kedua untuk anaknya.


Setiap masuk ke dalam sini, hati Ferdy dan Vivi pasti terasa hancur. Dengan bangunan tinggi itulah Keyfa akrab. Rumah sakit menjadi saksi bisu juga bagaimana perkembangan Keyfa sejak lahir hingga sekarang dimana kondisinya masih tetap sama.


****


Jhico sampai di studio foto. Beberapa orang kru yang sedang berada di luar menyapanya. Mereka tengah menikmati waktu istirahat bergantian dengan kru yang sedang bekerja di dalam.


"Sudah datang pangerannya Vanilla," sapa salah satunya yang tengah menghisap rokok elektrik. Jhico tersenyum, Ia melangkah masuk ke dalam.


Sampai di set foto, Ia melihat Vanilla dan Ganadian tengah saling memeluk tentunya di depan kamera. Tangan Ganadian mengikat pinggang istrinya. Mereka saling memandang. Ganadian menahan tawa mati-matian. Ia paling tidak bisa bila harus beradu tatap dengan musuh sekaligus teman barunya itu.


"Ganadian yang benar! kamu tertawa terus!"


"Kamu jangan menatap aku penuh cinta begitu. Aku jadi---"


Jhico berdehem dan duduk tak jauh dari fotografer yang sedang bertugas. Vanilla menyadari kehadiran suaminya.


"Hai, Jhi."


"Iya, Hai."

__ADS_1


Semua mata memandang mereka. Dan Jhico yang tidak suka menjadi pusat perhatian memilih untuk diam dan meraih ponsel di sakunya sebagai pengalihan.


"Lanjutkan. Kenapa melihatku begitu?" tanya Jhico pada Vanilla dan Ganadian. Alis Vanilla terangkat. "Kamu tidak cemburu melihatku dengan Ganadian?"


"Profesional, Nilla. Ini pekerjaan yang kamu pilih,"


"Dengar itu?!" Ganadian mendorong kening Vanilla dengan telunjuknya. Vanilla menggeram kesal. Fotografer menyuruh Ganadian untuk memeluk Vanilla lagi. Tapi kali ini posisi Vanilla membelakangi Ganadian.


"Ini untuk iklan apa sih?" tanya Jhico pada Jane yang duduk di dekatnya.


"Sabun mandi,"


"Konsepnya dansa?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Harus pelukan?"


Jane menahan tawa. Tadi gaya Jhico di depan Vanilla terlihat dingin sekali. Tapi di depannya, Jhico tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Mungkin tadi, Ia gengsi memperlihatkan rasa kurang nyaman yang ada di hatinya terhadap kedekatan Ganadian dan Vanilla.


"Iya, jadi ceritanya produk sabun mandi itu sangat harum sampai saat mereka berdansa, Ganadian dibuat terpesona."


Jhico berdecak seraya mengendikan bahunya. "Konsep foto apa itu? aneh," cibir suami Vanilla. Jane terbahak seraya mendorong lengan Jhico yang mengomentari konsep foto.


"Asal kamu tahu, tadi Vanilla mau menggunakan konsep foto yang berisi adegan dimana dia sedang mandi menggunakan handuk. Gila istrimu ya?"


"Lalu kenapa sekarang tidak jadi?"


"Kamu mau melihatnya hanya pakai handuk?!" mata Jane menatap Jhico tajam seolah ingin menelan Jhico hidup-hidup.


"Aku bertanya, kenapa sekarang konsep fotonya seperti ini?"


"Konsep untuk dia memang ini. Tapi tiba-tiba saja minta diganti. Beruntung Deni memarahinya,"


Alis Jhico terangkat mendengar nama Deni. Deni begitu posesif menjaga istrinya. Ia tidak cemburu, malah bersyukur. Karena untuk menghilangkan keras kepala Vanilla, memang perlu orang-orang yang sangat tegas.


Setiap adegan kemesraan mereka diabadikan dengan kamera untuk menjadi sebuah foto dan juga video yang nantinya akan dibuat semakin romantis.


"Okay, sekarang satukan kening kalian---"


"Belum selesai?" tanya Jhico yang mulai merasa hatinya gelisah dan terbakar. Sebenarnya fotografer juga sedang mengerjai Jhico yang nampak tidak acuh dan sibuk dengan ponselnya. Setelah mendengar Ia mengatakan seperti itu, perhatian Jhico langsung teralihkan.


"Biar cepat, aku saja lah yang melakukan pose terakhir,"


Mata Vanilla dan Ganadian membulat sempurna. Dengan kemeja yang sudah berantakan dan wajah penat, dengan percaya dirinya Jhico mengajukan diri untuk menjadi model, menggantikan posisi Ganadian di pose terakhir.


****


"Besok akhir pekan. Kita jalan-jalan mau tidak?"


"Hmm aku ada keperluan sebentar. Setelah selesai, kita langsung pergi ya."


"Keperluan apa?"


"Mau ke panti,"


"Huh?"


Jhico semakin mengeratkan pelukannya pada Vanilla yang berbaring di sampingnya. Meskipun Ia tengah menonton, tapi sebelah tangannya masih bisa mendekap tubuh Vanilla.


"Kamu ke panti? ngapain?"


"Menyapa mereka yang ada di sana,"


"Kamu sering melakukannya?"


"Bisa dikatakan iya. Sebelum kita menikah, aku sudah melakukannya. Karena di sana, aku bisa menemukan teman walaupun lebih banyak anak kecil,"


Vanilla mengangkat pandangannya. Tangan Vanilla terulur untuk mengusap dagu Jhico yang fokus menonton. Jhico langsung menunduk. Jhico memberikan senyuman karena Ia tahu Vanilla sedang sedih setelah mendengar ucapannya tadi yang sarat akan kesepian.


"Aku tidak bisa. Besok ada ujian di kampus,"


"Oh begitu. Ya sudah, tidak apa. Sudah belajar belum?"


"Sudah, dari kemarin-kemarin,"


Jhico tersenyum tipis lalu menepuk lembut kepala Istrinya seraya memuji, "Pintar."


"Sudah tidak pernah minta diajarkan lagi denganku,"


"Kamu sibuk,"


"Aku bisa melakukannya. Kalau kamu menemukan kesulitan, jangan ragu meminta bantuan." ujar Jhico setelah mencuri ciuman di bibir Vanilla. Vanilla yang merona langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Iya, aku mengerti."


Jhico tiba-tiba saja meraih ponselnya untuk melihat tanggal. Ia tersenyum seraya mengusap wajah Vanilla. "Hey, sebentar lagi kamu bisa USG dan kita bisa tahu jenis kelaminnya,"


"Kamu penasaran?"


"Tentu saja. Kamu tidak?"


"Hmm...entah kenapa aku takut,"


Jhico mengecilkan volume televisi dan memfokuskan pandangannya pada Vanilla yang bergumam pelan.


"Takut kenapa?"


"Kalau dia bukan laki-laki, Papamu akan---"


"Ssstt! Nilla, kamu jangan bicara begitu. Apapun jenis kelaminnya, kita harus terima. Masalah keinginan Papa, jangan dipikirkan. Papa saja yang aneh. Memangnya jenis kelamin bisa diatur?"


"Tapi aku takut dia tidak diterima di keluarga kamu,"


Jhico menghela napas pelan. Mendengar ucapan Vanilla, jujur ada kekhawatiran juga di hati Jhico. Dengan dirinya saja mereka tak acuh, apalagi dengan anaknya. Apa yang akan terjadi kalau ternyata anaknya perempuan? apakah Papanya akan menerima?


"Mereka tidak menerima? aku tidak peduli. Yang terpenting kita selalu menemani dia,"


Saat mengucap 'dia' tangan Jhico terulur untuk mengusap lembut perut Vanilla yang baby bump nya semakin terlihat.


"Diterima juga untuk apa kalau pada akhirnya tidak dihargai kehadirannya?"


"Aku tidak mau anakku merasakan hal yang sama seperti kamu, kesepian dan---"


"Tidak akan, Nillaku. Dia punya orangtua yang peduli. Anak kita tidak akan kesepian. Lagipula semua sepupu anak kita baik. Lihat Andrean, Adrian, Sandra, dan yang lainnya. Mereka senang mendengar kabar kehamilanmu dan juga tidak sabar menunggu kelahirannya. Mereka akan menjadi sepupu yang baik dan tidak akan saling menjatuhkan. Aku yakin,"


 


Aduuww Vanilla mulai panik gezz gegara mertuanya. Kira-kira nnti anaknya cewek atau cowok ya? Kl aunty di sini maunya apa? coba komen yuk

__ADS_1


Mampir yaaaw ;) 👇



__ADS_2