Nillaku

Nillaku
Nillaku 40


__ADS_3

Belum ada pekerjaan membuat Jhico cepat merasa bosan. Terutama bila tidak ada Vanilla di apartemen, Ia akan kesepian.


Jhico sudah berusaha menyibukkan dirinya. Seperti memasak, membersihkan apartemen, olahraga, dan masih banyak lagi. Itu semua Ia lakukan sembari menunggu waktu sore untuk menjemput Vanilla.


"Kabarmu bagaimana? baik-baik saja bukan? entah kenapa Nenek merasakan sesuatu telah terjadi padamu,"


Hawra menghubungi Jhico yang tengah membuat cookies di dapur. Mendengar Neneknya yang khawatir, Jhico berusaha menenangkan. Rupanya ikatan batin antara dirinya dan Hawra begitu erat sampai apapun yang dialami Jhico bisa dirasakan juga oleh Hawra.


"Sebelum datang ke kampus Vanilla nanti, aku akan datang ke rumah menemui Nenek. Mama dan Papa ada di rumah?"


"Baru saja pergi. Biasa, masalah pekerjaan."


"Cepat, aku tidak punya banyak waktu. Kamu bisa melakukannya atau tidak?!"


Jhico mendengar suara lain yang sedang berbicara pada Neneknya. Jhico mengenali betul suara milik siapa itu.


"Jhico, sebentar ya. Kebetulan, kakekmu datang ke sini,"


Panggilan diputuskan secara sepihak. Jhico menatap layar datar ponselnya dengan perasaan cemas. Maksud kedatangan Arlan pasti berkaitan dengan dirinya.


Jhico hafal kebiasaan kakeknya itu bila rencananya belum berhasil. Pasti akan menekan Hawra.


Jhico melepas cook gloves nya dengan cepat lalu kembali menghubungi neneknya. Tapi tidak ada jawaban.


******


"Vanilla, kamu lama sekali di toilet? mual?"


"Huh? tidak,"


Vanilla mengerinyit saat melihat raut Joana yang tersenyum menggodanya. Joana sudah tahu mengenai pernikahan Vanilla. Reaksinya begitu mendengar kabar bahagia itu tentu saja langsung riuh.


"Kenapa baru memberi tahuku sekarang?"


"Maaf, aku ragu memberi tahumu karena---"


"Ya, ya, aku mengerti. Tapi Vanilla, kenapa tidak kamu sebar saja beritanya? dengan begitu, kabar miring tentang alasan kamu menikah tidak ada,"


"Aku belum ingin mereka semua tahu,"


"Yang aku khawatirkan, kalau kamu hamil, lalu kamu tidak bisa menutupinya lagi. Bagaimana tanggapan mereka? pasti banyak yang menilai kamu sangat buruk,"


"Aku belum berpikir ke arah sana,"


"Maksudmu? kamu belum siap hamil?"


Vanilla menggeleng jujur. Masalah rumah tangganya yang selalu datang bertubi-tubi saja sudah membuat Vanilla tertekan.


"Kalaupun hamil, Jhico pasti tidak akan membiarkan aku kuliah lagi. Paling tidak, sampai aku melahirkan,"


"Sayang sekali kabar ini tidak bisa didengar oleh banyak orang. Padahal aku yakin, mereka semua akan senang. Kamu menutupi ini hanya karena belum siap mereka tahu?"


Vanilla terdiam, bingung ingin menjawab apa. Bila dikatakan malu memiliki suami seperti Jhico, Vanilla tidak pernah merasa seperti itu. Tapi Ia belum yakin untuk terbuka pada semua orang.


"Tadi aku membersihkan wajah dulu," ujarnya seraya menunjukkan facial wash yang dibawanya.


Joana terkekeh melihat botol di tangan Vanilla. "Vanilla yang dulu sudah kembali lagi,"


"Iya, sekarang aku tidak buta. Jadi bisa merawat wajah lagi,"


"Saat matamu sakit kamu tetap perawatan. Kamu punya banyak uang untuk melakukan itu,"


"Tapi saat itu aku hanya bisa membersihkan wajah ketika sudah pulang. Kalau sekarang, di kampus pun bisa,"


"Ya, sudah. Ayo, kita makan siang,"


Mereka kembali ke kelas untuk menyantap menu makan siang yang sudah dibawa. Vanilla dimasaki oleh suaminya dan Joana oleh Ibunya.


"Nikmatnya masakan suami," Joana berbisik seperti itu hingga mengundang senyum tertahan dari Vanilla. Wajah gadis itu merona.

__ADS_1


"Kamu pernah memasak apa untuk dia?"


Vanilla menggeleng dengan pelan. Sedikit malu, mengakui ketidak sempurnaannya sebagai istri.


"Sepertinya suamimu baik. Aku penasaran dengan sosok yang bisa membuat sahabatku ini tergila-gila,"


Dengan mulutnya yang penuh, Vanilla menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri. "Aku tidak tergila-gila. Sembarangan saja mulutmu,"


******


"Ya, okay."


Vanilla menjauhkan ponselnya dari telinga. Jhico baru saja memberi tahu bahwa Ia tidak bisa menjemput Vanilla karena ada sesuatu yang harus diurus.


Akhirnya Vanilla pulang sendiri menggunakan taksi. Ia mengajak Joana dan tentu saja temannya itu menolak.


"Kita jarang sekali pulang bersama. Ayolah,"


Joana berbicara pelan, "Aku takut uangku tidak cukup untuk membayar taksi. Semuanya sudah diperhitungkan untuk makan sebulan, Vanilla."


Hati Vanilla tergores mendengarnya. Joana, sahabat yang sempat tidak pernah dipedulikan olehnya ternyata memiliki hidup yang kurang beruntung seperti itu. Vanilla bisa memberikan apapun tapi sayangnya sudah tertutup oleh rasa tinggi hati, dulu.


"Kamu tenang saja. Semuanya urusanku,"


Vanilla segera mengajak temannya memasuki mobil kecil itu. "Bagaimana kalau kita perawatan?"


"Kita? kamu saja, aku temani."


"Kamu juga, aku merasa sepi kalau hanya sendirian,"


"Di klinik perawatan atau salon, ada pengunjung, bukan hanya kamu saja. Jadi tidak mungkin kesepian,"


"Kalau kita perawatan berdua, aku ada teman berbicara. Terkadang saat perawatan akan merasa bosan. Kamu pasti tahu itu,"


Vanilla menatap Joana yang masih menunggu kelanjutan ucapannya.


"Kamu juga pernah sama seperti aku. Bahkan lebih sempurna. Baik, cantik, punya banyak uang, itulah kamu dulu,"


******


"Datang-datang langsung bicara tidak sopan. Keluar, kamu!"


"Kakek, seharusnya bukan aku yang keluar dari sini,"


Hawra mengusap lengan cucunya yang begitu sampai langsung berseru marah. Walaupun tidak membentak, tapi sorotnya terlihat begitu garang setelah melihat kakeknya datang ke sini, dan mendengar sedikit pembicaraan Arlan.


"Kalian sudah berpisah, jangan ganggu Nenek lagi!"


"Kakek datang ke sini ada tujuan dan itu tentang kamu,"


"Bagaimana menjadi seorang pengangguran?" lanjut Arlan seraya tersenyum miring.


"Aku menikmatinya dan menggunakan waktu kosong itu untuk memikirkan sesuatu agar lebih matang. Aku memutuskan untuk membuka tempat praktik sendiri," ujar Jhico kemudian menatap Arlan yang semakin menampilkan raut berang.


"Kamu tidak ingin menjadi bagian dari Kakek tapi memutuskan untuk membangun sendiri?"


"Ya, tepat sekali! untuk apa bergabung dengan rumah sakit milik kakek? di sana aku akan dijadikan sebagai robot,"


Arlan bangkit seraya mengepalkan tangan-tangan keriputnya. Ia meraih tas kerjanya, bersiap untuk pergi dari sana. Kedatangan Jhico benar-benar membuat kadar emosinya melonjak pesat.


"Tempat praktik yang akan kamu dirikan tidak akan maju. Lihat saja nanti!"


Jhico mengangguk tanpa mengatakan apapun. Ia membangun tempat praktik yang kecil sementara kakeknya sudah menjadikan rumah sakit besar sebagai miliknya. Tentu saja rumah sakit itu akan lebih unggul dari segala aspek.


Jhico menggusar wajahnya dengan cemas. Ia menatap Neneknya untuk memastikan Arlan tidak melakukan apapun tadi.


"Kakek melakukan apa pada Nenek?"


"Tidak, dia tidak pernah melakukan apapun. Hanya mulutnya saja yang jahat," jawab Hawra menenangkan. Ia mengusap wajah sang cucu yang begitu menunjukkan gurat khawatir.

__ADS_1


"Jadi... itu yang terjadi padamu? sejak kapan?"


"Hmm..." Jhico ragu ingin cerita atau tidak. Sejujurnya Jhico belum ingin terbuka pada Hawra. Tapi karena tadi Ia membahas permasalahan itu dengan Arlan, pasti Hawra paham.


"Sejak kapan kamu tidak bekerja lagi?"


"Hampir satu minggu, Nek."


"Ya, Tuhan. Kamu tidak mengatakan apapun pada Nenek?"


"Belum saatnya, Nek. Dan aku pikir Papa sudah mengatakan semuanya pada Nenek dan Mama,"


"Thanatan ikut campur di dalamnya?"


"Sepertinya iya. Papa dan Kakek adalah dua orang yang begitu senang ketika melihat aku kesulitan,"


Hawra membawa cucunya untuk duduk. Ia bisa merasakan betapa beratnya beban yang dipikul Jhico saat ini.


"Sebenarnya Thanatan begitu menyayangimu,"


Jhico tersenyum lirih. Hawra masih saja berusaha membuat hatinya tidak membenci siapapun.


"Ya, tapi sikapnya seperti menunjukkan hal yang sebaliknya,"


*****


"Akan sangat tepat kalau rumah sakit dipimpin oleh seorang dokter. Dan Jhico adalah orang itu,"


Begitu masuk ke dalam mobil, Arlan langsung menghubungi Thanatan yang baru Ia ketahui tidak ada di rumah.


"Rencanaku setelah berhasil membawa Jhico, aku akan memintanya untuk melanjutkan pendidikan spesialis agar semuanya semakin sempurna,"


"Tapi kenyataannya belum bisa,"


"Ya, bagaimana caranya membujuk anakmu itu?"


"Masih banyak cucumu yang lain. Jujur, aku lelah memaksa Jhico,"


"Hey! semua cucuku sudah mendapatkan bagiannya masing-masing. Mereka bekerja dengan sempurna dan itu berkat tanganku. Aku juga menginginkan hal itu terjadi pada Jhico,"


"Dia malah memutuskan untuk membuka tempat praktik sendiri. Benar-benar anak itu. Sulit sekali diajak sukses bersama kakeknya,"


Arlan memutuskan sambungan telepon setelah mencibir kesal. Ingatannya kembali terlempar pada kejadian tadi. Jhico sangat menjaga dirinya sendiri agar tidak menyentuh sedikitpun bisnis milik keluarga.


"Ada apa dengan Jhico? kalian membicarakan dia?"


Karina dan Thanatan sedang berada di bandara untuk melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara. Belum juga dua jam mereka meninggalkan rumah, rupanya Arlan datang dan membawa kabar tidak menyenangkan itu.


"Jhico akan membuka lapangan pekerjaan sendiri,"


"Maksudmu?"


"Ya, setelah mengundurkan diri dari rumah sakit itu, Ia akan mendirikan tempat praktik,"


Karina menggeleng antara takjub dan heran. Putranya benar-benar tidak terduga. Apakah dia sudah begitu lelah menghadapi kakek dan ayahnya sampai memutuskan untuk semakin mandiri?


"Dia menganggap keluarga seperti musuh. Padahal hanya keluarga yang bisa membantu ketika Ia kesulitan nanti,"


Karina diam saja mendengar kata demi kata keluar dari mulut sang suami. Ia tidak membenarkan dan juga menyalahkan sikap Jhico. Kalau Ia berkomentar terlalu banyak, takutnya malah salah di mata Thanatan juga ayahnya sendiri.


Karina tahu betul rasanya menjadi Jhico. Memang sangat tidak nyaman ketika ruang gerak dalam hidup ini dibatasi. Padahal keinginan diri sendiri adalah mencoba hal-hal baru yang terlintas dalam benak.


Karina yakin anaknya tahu apa yang terbaik. Kalau Ia terlalu ikut campur, rasanya akan aneh dan Jhico tidak akan peduli sama sekali dengan perhatiannya itu. Karina dan Thanatan sudah dinilai buruk sebagai orangtua.


--------


SELAMAT LIBURAAANN. CUSS RAMEIN KOMEN YAA. LIKE & VOTE JGN SAMPAI LUPA.


MCH UP. BURUAN MAMPIR

__ADS_1



__ADS_2