Nillaku

Nillaku
Nillaku 145


__ADS_3

"Dua hari lagi kalau kondisi kesehatan ku semakin membaik, aku sudah diizinkan pulang, Nilla."


"Akhirnya, Ya Tuhan."


"Tapi pemulihan untuk cedera patah tulang masih lama,"


"Tidak apa, kamu harus tetap semangat. Aku akan menemani kamu menjalani itu semua,"


Senyum tipis hadir di wajah Jhico yang saat ini sedang melakukan panggilan video bersama Vanilla.


"Griz sedang bersama Mama. Dia rewel, sepertinya karena mengantuk,"


"Sore-sore begini dia mengantuk? tadi siang tidak tidur?"


"Tidur dengan Papa. Setelah bangun, Griz menemani Papa yang mengurus pekerjaan di ruang tamu. Sekarang dia mengantuk lagi,"


"Papa tidak bekerja di kantor?"


"Tidak, karena ada Griz. Griz manja sekali, ya ampun. Tadi pagi dia tidak membiarkan Papa sarapan. Griz mau digendong terus oleh Papa,"


Raihan begitu menyayangi Grizelle. Andai saja Thanatan juga begitu. Pasti Grizelle sangat bahagia karena memiliki dua orang kakek yang begitu menyayanginya.


Thanatan ada di dekat Jhico. Ia mendengar seksama apa yang dibicarakan Jhico dengan istrinya. Tujuan Ia datang ke sini tentu saja karena ingin terus memaksa Jhico sampai Jhico mau berobat dengan bantuan teman yang sudah banyak menangani kondisi seperti Jhico.


" Hari ini aku akan datang ke sana,"


Jhico senang sekali mendengar hal itu. Akhirnya Ia bertemu dengan Vanilla lagi. Baru dua hari yang lalu Vanilla datang ke sini. Nanti mau datang lagi karena Ia sudah merindukan suaminya juga.


"Dengar tidak apa kata Vanilla tadi? Griz manja dengan Kakeknya. Dan Raihan tidak masalah akan hal itu karena dia tulus menyayangi Griz," Karina menyindir suaminya yang sibuk dengan iPad di tangannya.


"Andai saja dia laki-laki, aku pasti akan memperlakukan dia lebih dari seorang raja,"


"Mau bagaimana lagi? anak Jhico perempuan. Nanti kalau Jhico punya anak lagi dan dia laki-laki, aku akan mengatakan padanya lupakan saja kakekmu yang bernama Thanatan itu. Karena dia menolak keberadaan kakakmu,"


Jhico menahan senyum saat Mamanya berucap seperti itu. Layaknya orang dewasa yang menakut-nakuti anak kecil. Sayangnya Thanatan tak peduli. Ia tetap saja bergelut dengan kegiatannya.


"Jhico, kalau cedera yang kamu alami membutuhkan waktu yang cukup lama, maka bagaimana caranya kamu bekerja? anak dan istrimu perlu kamu hidupi. Oleh sebab itu, Papa ingin kamu mencari jalan lain agar cedera mu cepat sembuh,"

__ADS_1


Jujur saja penjelasan dari Papanya itu membuat Jhico langsung kepikiran. Masalahnya bukan hanya tulang selangka saja yang cedera. Tangannya juga sempat terhimpit saat mengalami kecelakaan itu. Memang kecelakaan yang dialaminya cukup parah. Oleh sebab itu Jhico sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuknya kembali menjalani hidup bersama orang-orang terkasihnya sekalipun Ia mengalami sakit yang luar biasa.


"Jhico mempunyai klinik dan pemasukan tetap berjalan sekalipun Jhico sakit. Kamu tidak usah khawatir,"


"Tapi artinya, yang bekerja di sana hanya satu orang dokter yaitu Kenzo dan beberapa orang perawat. Apa tidak mempengaruhi kualitas pelayanan?"


"Pa, kamu jangan membuat Jhico khawatir seperti itu. Seharusnya kita dukung apapun yang menjadi keputusannya,"


"Kalau kualitas pelayanan menurun karena kekurangan tenaga kesehatan khususnya dokter, pemasukan bisa jadi menurun,"


Karina segera mencubit lengan suaminya yabg berkata seperti itu diwaktu yang tidak tepat. Jhico yang sedang sakit malah sengaja dibuat memikirkan hal selain kesehatannya.


"Jhico, kami sebagai orangtua tentu akan membantu kamu saat kamu merasa kesulitan. Tenang saja, tidak usah dipikirkan masalah itu,"


"Aku rasa, anak ini tidak akan mau kita bantu," ujar Thanatan yang ingat betul bagaimana anaknya selama ini. Jhico selalu optimis menjalani hidupnya sendiri. Entahlah dikemudian hari.


"Ada saat dimana manusia membutuhkan bantuan orang lain,"


"Oh aku rasa itu tidak berlaku pada anakmu itu,"


Plak


*****


"Vanilla, kalau kamu butuh apapun, jangan sungkan untuk meminta pada kami ya,"


"Maksud Mama?"


"Mama tahu, mungkin setelah kecelakaan itu Jhico tidak bisa bekerja penuh seperti sebelumnya. Mama percaya dia tidak akan membiarkan kamu dan Griz hidup kekurangan. Tapi kalau seandainya kalian butuh bantuan, jangan sungkan untuk datang pada Mama dan Papa,"


"Aku sudah memikirkan ini semalam, Ma. Kalaupun memang kami mengalami kekurangan terutama dalam hal materi, aku akan turun tangan. Sebisa mungkin aku dan Jhico tidak mau menyulitkan orangtua,"


"Hey, jangan begitu. Tugas orangtua memang membantu anaknya ketika mengalami kesulitan..."


"Mama tahu biaya pengobatan Jhico tidak murah. Ditambah lagi kondisinya yang seperti itu belum memungkinkan Ia untuk bekerja. Sebanyak apapun uang yang kalian tabung mungkin jumlahnya sekarang sudah menipis,"


Vanilla tertawa mendegarnya. Ia berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja jadi serius. "Jhico banyak uang, Ma. Dia rajin menabung juga. Jadi Mama tidak usah memikirkan kami ya,"

__ADS_1


Apa yang dikatakan Vanilla memang benar namun sebanyak apapun uang yang ditabung Ia dan Jhico tentu akan habis bila dipakai terus menerus disaat pemasukan tidak sebanyak biasanya karena Jhico tidak turun langsung ke klinik. Ia tentu mengutamakan pemasukan untuk perawat dan Kenzo yang sangat bekerja keras untuk melayani pasien yang datang ke kliniknya.


Oleh sebab itu, saat Jhico sudah pulang nanti Ia akan bicara empat mata dengan suaminya mengenai keuangan di dalam rumah tangga mereka.


Yang Vanilla yakini adalah, Jhico pasti akan melarang Vanilla untuk bekerja dengan tegas. Meski Vanilla tahu suaminya masih memiliki penghasilan namun Ia yakin tidak sebanyak dulu selain karena Jhico tidak turun langsung, jam buka praktik klinik juga sudah dibatasi mengingat dokter yang bekerja hanya Kenzo.


*******


Kenzo meminta kekasihnya, Alifia untuk datang ke klinik karena Ia tak bisa menjemput Alifia di rumah sakit tempatnya bekerja. Hari ini sangat melelahkan untuk Kenzo namun Ia tak mengeluh sedikitpun.


Alifia tahu bahwa Kenzo sedang sibuk-sibuknya karena Ia harus menangani pasien seorang diri tanpa Jhico. Biasanya mereka bergantian untuk menangani pasien, sekarang Jhico sedang di rumah sakit.


"Kamu lelah sekali kelihatannya," ujar Alifia saat melihat penat di wajah kekasihnya yang saat ini menyambut kedatangannya di depan klinik.


"Yang namanya bekerja pasti lelah, Sayang."


"Terlihat betapa besarnya peran Jhico selama ini. Meski ini kliniknya tapi dia tetap bekerja keras juga. Dan ketika dia tidak bisa turun tangan, kamu jadi kewalahan,"


"Besok ada dokter baru. Jhico tidak mau membiarkan aku bekerja sendiri,"


Setelah mempertimbangkan ucapan Papanya, Jhico memutuskan untuk menambah dokter yang bisa membantu Kenzo bekerja di kliniknya sementara Ia dalam masa penyembuhan. Jhico tidak ingin membuat pasien kecewa dengan kualitas pelayanan.


"Pengertian sekali dia,"


"Ya, kamu jangan mengaguminya ya!"


Alifia terkekeh menanggapi itu. Ia mengusap wajah kekasihnya sesaat lalu Kenzo membawa Alifia masuk ke dalam klinik.


"Tenang saja, aku hanya mengagumi kamu,"


Alifia terlihat memperhatikan suasana di dalam klinik itu. Beberapa perawat terlihat duduk sembari berbincang karena memang sedang tidak ada pasien. Tadi, ada lumayan banyak pasien beruntungnya tidak terlalu berat untuk ditangani oleh Kenzo karena perawat juga senantiasa membantu. Bersyukurnya selama tidak ada Jhico, mereka tidak pernah mengecewakan pasien.


"Hanya mengagumi? tidak mencintai?"


"Dua-duanya, Sayang."


 ---------

__ADS_1


Selamat tengah malam gaesss. Ada yg blm tidur sama kek aku? coba komen yg blm tidur.


__ADS_2