Nillaku

Nillaku
Nillaku 189


__ADS_3

"Icelle---"


"Mu, yang boleh memanggil aku seperti itu hanya Triple A,"


"Hah? oh--okay,"


Vanilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masalah panggilan saja, Grizelle bisa protes.


"Maafkan Mumu ya,"


"Kenapa Mumu meminta maaf? Mumu tidak salah apapun,"


"Kamu sepertinya merajuk pada Mumu karena Mumu tidak mau membawa kamu ke rumah Grandpa Thanatan,"


"Aku tidak merajuk. Sekarang aku tersenyum. Lihat, Mu."


Ia menggunakan kedua telunjuknya untuk menarik masing-masing sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan bulan sabit.


"Omong-omong kamu sudah lebih dari enam bulan tidak periksa gigi,"


"Memang gigi ku kenapa? apakah ada hitam-hitam nya? Hah? Astaga,"


Grizelle langsung berjalan cepat ke arah cermin. Lalu Ia membuka lebar mulutnya untuk melihat kondisi giginya.


"Masih bagus, syukulah (syukurlah),"


Vanilla memang sangat mementingkan semua hal tentang anaknya dari mulai yang kecil sampai yang besar sekalipun. Semua perawatan yang sekiranya bisa membuat Grizelle semakin cantik, dan sehat, akan Ia lakukan. Salah satunya dengan selalu membawa Grizelle ke dokter gigi, sesering mungkin.


Grizelle kembali ke hadapan Mumunya. Vanilla membuka mulut anaknya lalu menyentuh gigi depan Grizelle.


"Besok kita periksa ya," ujar Vanilla pada Grizelle yang langsung mengangguk antusias. Dengan Vanilla menemaninya periksa ke dokter gigi, artinya mereka punya waktu berdua lagi, sama seperti saat mereka menghadiri fashion show sebelumnya.


"Bagaimana kabar Grandpa dan Nay Nay?"


"Kenapa Nay Nay lagi? aku inginnya memanggil dengan sebutan Glandma saja,"


"Tapi Grandma maunya dipanggil Nay Nay,"


"Oh ya sudah,"


Grizelle masih kesulitan membiasakan diri memanggil Karina dengan sebutan Nay Nay, seperti keinginan neneknya itu agar tidak terdengar tua katanya. Padahal usianya sudah tiga tahun tapi belum terbiasa juga.


"Jadi Glandpa itu lagi sakit, Mu."


"Astaga, Sakit apa?"


"Kalena (karena) kelelahan bekelja (bekerja),"


"Ya Tuhan, lalu sekarang kondisi nya bagaimana?"


"Hmmm kalau yang aku lihat, sudah lebih baik. Tadi aku dan Glandpa belcelita (bercerita) selu (seru),"


"Cerita apa? si kancil dan buaya? atau cinderella dan pangeran nya?"

__ADS_1


"Ihh bukan, Mu."


Vanilla terkekeh melihat anaknya yang merengut kesal. Grizelle memang suka cerita-cerita seperti itu alias dongeng, tapi kalau dengan kedua kakeknya jarang sekali membicarakan itu. Karena terlihat sekali mereka tidak tertarik dengan cerita semacam itu. Akhirnya hal lain yang diceritakan Grizelle.


"Celita nya tentang sekolah aku, tentang yang lain nya juga. Aku lagi suka pakai kuteks saja, aku celitakan pada Glandpa,"


"Oh iya, kuteks yang aku minta belum dibelikan juga, Mu?" Grizelle langsung ingat permintaan nya tempo hari. Ketika Ia tahu Auristella semakin banyak mengoleksi kuteks, Ia tidak mau kalah. Berhubung Ia juga sedang gemar-gemar nya dengan kuteks, Ia minta dibelikan oleh Vanilla.


"Besok kita akan pergi ke dokter gigi. Sekalian saja beli kuteks,"


"YEEAYYY,"


"Sstt sudah malam," Vanilla menegur putrinya yang berseru riuh. Grizelle langsung menutup mulut kecilnya itu.


"Benal ya, Mu? besok Mumu tidak kelja?"


"Kalau ada callingan untuk kerja---"


"Yahh jangan, semoga tidak ada callingan dari managel (manager) Mumu untuk foto ini foto itu," celoteh anak itu. Ia berharap, semoga besok Mumu nya benar-benar tidak bekerja. Agar mereka bisa quality time berdua.


"Lagipula kenapa sih managel Mumu calling telus,"


"Karena ada pekerjaan yang harus Mumu selesaikan. Tapi biasanya, kalau ada kerjaan untuk besok hari, sudah diberi tahu dari malam. Sampai sekarang belum ada pemberitahuan. Mumu khawatirnya besok baru diberi tahu,"


"Hah semoga Mumu tidak kelja. Supaya bisa temani aku ke doktel (dokter)gigi dan beli kuteks,"


"Sekalian beli make up juga ya, Mu." lanjut anak itu.


Vanilla mengerinyit bingung setelah anaknya meminta make up. Grizele benar-benar sudah tertarik dengan hal-hal seperti itu dan mungkin Ia terbiasa melihat Mumu nya yang sering make up bahkan punya banyak jenis-jenis make up, dan Ia juga ingin seperti Auristella yang sudah punya koleksi nya sendiri.


"Hmm belinya sedikit saja, Mu. Nanti sayang uangnya. Aku hanya ingin punya. Make up yang untuk anak-anak, Mu. Bukan untuk Ibu-Ibu seperti Mumu,"


Vanilla membulatkan matanya saat Grizelle meledeknya. Ia memang sudah Ibu-ibu tapi kenapa harus diperjelas?


Vanilla menggelitiki perut Grizelle hingga putrinya itu tertawa terpingkal-pingkal. Vanila berhenti karena suara tawa Grizele cukup berisik.


"Ini sudah malam dan kamu tertawa begitu. Terdengar seram, Griz."


"Suara tawaku seperti yang di film-film horor ya, Mu?"


"Lebih seram dari film horor," Vanilla membalas ledekan anaknya. Grizelle tertawa saat dibilang lebih seram dari film horor.


Saat mereka sedang tertawa berdua, Jhico masuk ke dalam kamar buah hatinya. Ia berdehem hingga membuat mulut mereka langsung tertutup.


"Bercanda nya besok lagi ya. Ini sudah malam. Kalian tertawa dan suaranya sampai ke kamar sebelah,"


Grizelle mengangkat ibu jarinya lalu mengangguk cepat. "Okay, Pu."


Jhico mendekat pada Grizelle untuk memberikan ciuman sebelum tidur. Setelah Ia memberi kecupan di kepala Grizelle, Ia juga mengusap pipi Grizelle.


"Tidur, besok harus sekolah."


"Iya, setelah itu aku akan pelgi beldua dengan Mumu,"

__ADS_1


"Kemana? Pupu tidak diajak?"


"Pupu kan halus (harus) kelja (kerja),"


Jhico tersenyum mengangguk. Grizelle sudah mengerti rupanya bahwa Ia punya kegiatan yang penting dan harus dilakukan hampir setiap harinya.


"Ya sudah, Mumu dan Pupu tidur ya. Grizelle juga harus tidur," Vanilla juga melakukan hal yang sama seperti suaminya tadi. Jhico menggenggam tangannya dan akan membawanya keluar dari kamar Grizelle.


"Okay, Mu. Bye,"


Sebelum benar-benar keluar, Vanilla melambai pada buah hatinya yang sudah mulai berani tidur sendiri setelah sebelumnya Jhico terus membujuknya. Vanilla sempat berbeda pendapat dengan suaminya. Jhico ingin anaknya segera belajar mandiri, tapi menurut Vanilla nanti-nanti saja.


*******


Vanilla dan Jhico sedang terlibat pillow talk malam ini. Mereka sama-sama belum bisa tidur. Akhirnya memilih untuk berbincang berdua.


"Papa sakit, Jhi? aku dengar dari Grizelle tadi,"


"Iya, kondisinya masih lemah walaupun katanya sudah jauh lebih baik,"


"Diabetes dan hipertensi?"


"Iya, karena Papa juga kelelahan bekerja,"


"Ya Tuhan, terus sudah berapa hari?"


"Aku belum sempat tanya lebih jauh,"


"Memang kenapa?"


"Papa sepertinya tidak ingin diganggu. Jadi aku tidak ingin lama-lama di sana bersama Griz,"


"Apa Griz berbuat sesuatu di sana hingga Papa---"


"Tidak, Griz anak yang baik. Dia bahkan perhatian sekali. Dia langsung menemani Papa begitu sampai dan mereka sempat mengobrol,"


Vanilla menoleh pada suaminya yang bicara tapi seperti kosong pikirannya. Vanilla menyentuh lengan Jhico yang menjadi penopang kepala nya.


"Kamu kenapa? sedang memikirkan sesuatu yang berat? aku boleh tahu?"


"Aku merasa bersalah, Nilla."


"Merasa bersalah?"


Vanilla menjauhkan kepalanya dari Jhico. Ia berbaring miring, menatap fokus ke arah Jhico.


"Merasa bersalah pada siapa?"


"Grizelle,"


"Kenapa memangnya?"


"Papa yang sebelumnya terlihat hangat pada Grizelle, begitu aku datang langsung berubah. Aku merasa bersalah karena itu. Dan juga, Grizelle diam-diam menangis karena Papaku bicara sinis padanya,"

__ADS_1


 --------


Haii semuanyaaa. Apa kabar? baik kan? blm tidur? insom? sama! aku juga :) abis baca cerita ini, bobok ya kawan-kawan. Supaya bsk semangat weekend nya. PAPAYYYY 🙌


__ADS_2