
Jhico berusaha mengendalikan dirinya yang benar-benar kesal karena perilaku istrinya itu.
Ia sudah rela mengorbankan waktu istirahatnya dan tidak mempermasalahkan rasa lelahnya setelah menjelajahi satu persatu stand makanan di street food.
Sampai di apartemen, Vanilla sudah berada di depan pintu menyambutnya. Jhico tidak mengatakan apapun. Ia memendam daripada menyakiti. Ingin sekali membentak Vanilla, tapi Ia tahu itu salah. Lagipula Ia bukan orang yang seperti itu.
Jhico pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang telah dibelinya tadi. Yang terpenting sudah Ia masukkan ke dalam mangkuk, kalau Vanilla tiba-tiba menginginkannya, tinggal mengambil sendiri.
Selesai dengan urusan sang istri, saatnya Ia yang makan. Dengan lahap Jhico menyantap roti bakar miliknya. Rasa kesal bisa sedikit berkurang hanya dengan makan.
"Kamu kenapa beli itu?" tanya Vanilla dengan ketus setelah Ia memasuki ruang makan.
"Aku menginginkannya. Memang kenapa?"
"Kamu lama sampai nafsu makan ku hilang. Menyebalkan sekali kamu,"
Jhico fokus makan tak menjawab cibiran Vanilla. Hal itu membuat Vanilla berdecak kesal. "Jhico!"
"Apa, Vanilla? aku sedang makan, jangan ganggu."
Biasanya panggilan 'Vanilla' keluar dari mulut Jhico kalau Jhico sedang kesal atau malas berdebat dengan istrinya.
Vanilla duduk di depan mangkuk berisi soup kentang yang tadi diinginkannya. Tanpa mengatakan apapun, Ia menikmati soup kentang creamy yang katanya sudah tidak diinginkan lagi oleh dirinya.
Jhico yang melihat itu menahan senyum geli. Ia menggeleng pelan. Dan Vanilla menyadarinya. Ia segera meletakkan sendoknya dengan cukup keras hingga membuat Jhico terkejut.
"Tidak enak," komentarnya dengan ringan. Batin Jhico menggeram kesal,"Tidak enak, tapi saat dicoba tidak cukup sekali. Mungkin kalau tidak aku lihati, soup itu akan habis,"
"Mau coba punya aku yang barangkali enak menurutmu?"
Jhico mengangsurkan roti bakar miliknya. Vanilla segera mengambilnya tanpa menunggu waktu lama. Ia kesal tapi lapar juga. Menurutnya Jhico terlalu lama sampai nafsu makannya hilang. Setelah melihat soup kentang itu, rasa kesal kalah dengan laparnya. Tapi Ia sadar tengah diperhatikan oleh Jhico, jadi kesalnya meningkat tajam lagi.
Vanilla menikmati makanan miliknya, dan Jhico ingin mencoba makanan sang istri yang Ia beli sebanyak empat porsi itu.
"Ini enak. Aku suka," gumam Jhico seraya menghidu aroma dari soup tersebut, lalu memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya.
Punya Jhico langsung tandas oleh Vanilla. Jhico yang melihatnya terkejut, tapi Ia tidak mengatakan apapun, justru malah senang karena istrinya makan.
"Kamu kenapa makan punya aku?!"
"Minta satu, itu 'kan masih ada,"
"Padahal dia juga makan punya aku. Malah habis sampai tidak ada sisa," Batin Jhico lagi-lagi berbicara. Lelaki itu menahan agar tidak menjawab telak, takutnya Vanilla semakin kesal padanya. Menghadapi perempuan itu benar-benar sebuah kesulitan untuk Jhico. Lebih baik Ia menghadapi pasien yang sulit diatur daripada istrinya sendiri bila sedang menyebalkan seperti saat ini.
"Karena tidak ada makanan lain lagi---"
"Ada, kamu mau apa? biar aku buatkan,"
"Tidak mau, aku mau ini saja."
Vanilla mengambil satu mangkuk soup kentang dan tidak peduli lagi dengan tatapan Jhico yang Ia tahu sekali tengah memandang geli ke arahnya. Ia tahu Jhico sedang menahan tawa, tapi yang Ia peduli kan adalah rasa laparnya saat ini yang belum sepenuhnya hilang. Roti bakar milik Jhico masih kurang untuk dirinya.
"Aku khawatir tidak kuat menjalani ini semua selama sembilan bulan. Kamu luar biasa," gumam Jhico seraya mengacak pelan rambut Vanilla.
Vanilla juga tidak mau membuat orang kesal padanya. Tapi sesuatu dalam dirinya seolah mendorong Ia untuk melakukan apapun yang bisa membuat orang lain menggeram dalam hati ketika mendapati prilakunya.
Suasana hatinya benar-benar tak bisa ditebak. Vanilla sendiri bingung bagaimana harus menyikapinya. Ia belum bisa mengendalikan diri.
Vanilla mengusap perutnya dengan lembut seraya membatin. "Jangan ikuti apa yang Mommy lakukan ya. Karakter mu harus terbentuk dengan baik,"
__ADS_1
Vanilla pernah mendengar bahwa kondisi psikologi Ibu saat hamil bisa mempengaruhi tempramen anak yang akan lahir. Bila sang Ibu terlalu sering emosi atau marah-marah, anaknya bisa menjadi anak yang rewel dan lekas marah setelah lahir nanti. Terlepas benar atau tidaknya hal itu, Vanilla selalu berharap semua yang terbaik untuk anaknya.
"Bahaya juga untuk kondisi kesehatan kalian. Sebenarnya aku tidak masalah sama sekali kamu seperti ini walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa aku kesal. Justru aku khawatir pada kalian,"
"Aku tidak setiap saat seperti ini,"
"Iya, aku tahu. Menjelang trimester kedua, kamu jauh lebih baik dalam mengendalikan semuanya,"
"Benarkah?"
"Iya, daripada awal-awal kehamilan. Aku sampai disuruh tidur di luar karena pulang terlambat,"
"Aku tidak menyuruh kamu!"
"Tapi kamu tidak mengacuhkan aku. Bahkan di ranjang saja tidak mau aku peluk."
"Berarti bukan salah aku. Kamu yang mau tidur di luar kamar, bukan aku yang suruh,"
"Okay-okay, aku ganti kalimatnya menjadi seperti yang kamu ucapkan itu,"
Daripada emosi Vanilla dalam mode on lagi, lebih baik cepat-cepat menyerah dan mengalihkan pembicaraan.
"Tadi Mama bicara apa saja padamu?"
"Mama hanya bercerita tentang perjalanan nya ke Italia kemarin,"
"Lalu apa lagi?"
"Tidak ada, hanya itu saja. Oh ya, Papa kamu menginginkan cucunya laki-laki. Sementara Mama tidak ada keinginan khusus,"
Mendengar itu Jhico menghela napas dalam. "Memang seperti itu harapan Papa sejak tahu kamu hamil,"
Jhico terseyum tipis mendengar pertanyaan polos istrinya. Sederhana tapi mengandung rasa penasaran yang tinggi.
"Karena aku juga menutup diri. Sejak kecil sudah terbiasa sendirian, jadi saat Mama mendekat, aku akan menjauh tanpa disadari,"
"Kamu jahat,"
"Aku sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik, Nilla. Aku juga tidak mau hidup dengan rasa canggung ditengah keluarga. Tapi sulit sekali rasanya,"
Vanilla mengangguk paham. Ia memperhatikan wajah suaminya seraya menikmati soup yang tahu-tahu sudah habis.
"Aku mau lagi,"
"Apa?"
"Soup nya,"
Jhico segera menuangkan porsi lain ke dalam mangkuk yang tadi di pakai Vanilla. Tapi Vanilla berdecak dan merengek.
"Aku mau pakai mangkuk kamu. Kenapa tidak tanya dulu sih?"
"Oh okay, aku pindahkan,"
Jhico segera menuangkan soup yang ada di mangkuk Vanilla ke dalam mangkuk yang tadi dipakainya. Porsi untuknya sudah habis. Dan perutnya terasa sangat penuh. Ia sempat bingung dengan Vanilla yang nafsu makannya luar biasa tapi badannya tetap saja terlihat seperti biasa.
"Tidak terasa kamu sudah mau memasuki trimester kedua, Nilla."
"Iya, aku senang sekali."
__ADS_1
"Baby bump kamu sudah mulai terlihat sedikit,"
"Memang iya?"
"Iya, aku bisa melihat dan merasakannya,"
Vanilla menatap suaminya dengan pandangan takjub. Sedetail itu Jhico memperhatikan tubuhnya. Ia saja belum menyadari kalau perutnya mulai terlihat membesar. Sementara Jhico jauh lebih tahu darinya.
"Setiap malam aku selalu usap-usap dan aku perhatikan juga. Jadi aku tahu perkembangannya,"
"Aduh suamiku ini benar-benar perhatian sekali padaku,"
"Pada anakku, koreksi."
"Hih? pada aku lah. Kamu 'kan memperhatikan bentuk tubuhku. Bukan bentuk tubuh anak kita,"
"Iya, baiklah."
***
Vanilla memasuki kampus saat kampus masih sepi, belum banyak mahasiswa yang datang. Ia kembali bertemu dengan Renald yang selama ini dihindarinya.
"Hai, Van."
"Hai, juga." Vanilla tidak pernah secanggung ini bila berhadapan dengan Renald. Semenjak Ia kesal pada Renald karena Renald menuduh dirinya yang telah membuat Anneth terjatuh, Vanilla jadi malas berinteraksi dengan Renald dan pada akhirnya kaku seperti ini.
"Kamu hamil?"
"Ya, baru tahu?"
Sepertinya benar kata Jhico. Baby bump mulai terlihat di perutnya. Sepertinya Renald mengetahui kabar kehamilan dari perutnya yang mulai terlihat besar.
"Iya, selamat. Semoga kalian sehat selalu,"
"Terima kasih. Aku masuk dulu ke kelas,"
Setelah mengatakan itu, Vanilla benar-benar masuk ke dalam kelas. Ia sudah menyapa balik Renald dan tidak ada kepentingan apapun lagi. Lebih baik masuk ke kelas, karena melihat wajah Renald, jujur masih ada rasa kesal dan tidak terima. Renald yang dulu begitu baik padanya malah membela Anneth yang salah. Dan saat Vanilla menjauh, Renald pun demikian seolah Vanilla memiliki salah padanya. Padahal sebaliknya. Sekarang dia menyapa. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu.
"Renald, apa yang kamu lakukan di sini?"
Anneth menyapa Renald yang masih memperhatikan Vanilla dari luar kelasnya. Ia menggeleng seraya tersenyum.
"Tidak,"
"Kamu memperhatikan gadis itu ya? sebenarnya kamu dan dia ada hubungan apa?"
"Kamu selalu bertanya begitu. Aku sudah katakan kami berteman,"
"Cleaning service seperti kamu berteman dengan gadis seperti dia? aku tidak percaya,"
"Kami memang berteman. Walaupun pada awalnya dia menaruh perasaan lebih padaku,"
Mendengar ucapan Renald, Anneth terperangah. Renald menggenggam tangannya lalu mereka beranjak dari luar kelas Vanilla.
"Kalau aku jadi dia, aku tidak akan menyukai laki-laki yang levelnya tidak sama dengan aku,"
Hati Renald merasa tersinggung. Selama berteman dengan Vanilla, Ia tidak pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Vanilla. Saat Ia mengotori baju Vanilla dan di awal perkenalan mereka, Vanilla memang sempat merendahkannya. Tapi ketika mereka menjadi teman, sikap Vanilla berubah sangat drastis. Vanilla bisa menghargai dirinya.
Sekarang, Ia dan Anneth berteman. Tapi Anneth bisa berkata seperti itu pada temannya sendiri.
__ADS_1