Nillaku

Nillaku
Nillaku 176


__ADS_3

"Kenapa kamu harus meminta maaf? kamu tidak salah apapun, Jhico."


"Seharusnya keluargaku terutama Papaku tidak bersikap seperti itu padamu dan Griz. Cukup padaku saja,"


"Mereka sangat baik padaku dan Griz. Aku yakin itu,"


Vanilla tidak pernah menganggap keluarga Jhico tidak baik sekalipun reaksi mereka setiap bertemu Vanilla tidak selalu baik dan ketika anaknya lahir pun mereka jelas sekali kurang menerima. Ketika sepupu Jhico yang lain memiliki anak, semuanya pasti menyambut dengan suka cita. Berbanding terbalik dengan kehadiran Grizelle ke dunia ini beberapa waktu lalu.


******


"Aku ingin mengundang Keyfa untuk datang ke sini ya?" Jhico bertanya pada Vanilla yang sedang melakukan workout pagi ini.


"Iya, silahkan. Aku tidak melarang," ujar Vanilla.


Jhico segera menelpon Keyfa, tidak ada jawaban sampai tiga kali Ia menelpon. "Kenapa tidak dijawab ya? apa Keyfa drop lagi sampai Ibunya tidak bisa menjawab panggilanku," gumam lelaki itu ketika tidak kunjung mendapat jawaban atas panggilannya.


"Mungkin Ibunya sedang sibuk, Jhi."


"Iya, aku sudah telepon tiga kali tidak dijawab,"


"Seperti nya hari ini Triple A akan datang,"


"Hari ini? kalau Keyfa datang, Keyfa dan Adrian akan bertemu,"


"Ya, memang kenapa? itu bagus karena rumah jadi ramai,"


"Tapi Adrian pernah mengatakan padaku, jangan sampai kalau dia datang ke rumah kita, Keyfa juga datang. Ia tidak mau bertemu dengan Keyfa,"


"Hah? memang dia pernah bicara begitu?"


"Pernah, belum lama ini."


"Ya sudah biarkan saja dia mau bicara apa. Namanya juga Adrian, kalau bicara terkadang---"


"Tapi dia terlihat serius mengatakannya, Nilla. Sepertinya dia benar-benar tidak mau kalau bertemu dengan Keyfa,"


"Lalu harus bagaimana?"


Vanilla sedang melakukan gerakan workout dan sambil bicara sehingga napasnya semakin tersengal. Jhico yang melihat itu langsung mengatakan, "Dibicarakan nanti saja. Kamu fokus dulu dengan kegiatanmu,"


Melihat istrinya kesulitan mengatur napas saja sudah membuat Jhico cemas. Sementara Vanilla sempat-sempatnya menoleh ke arah Jhico lalu terkekeh.


"Kenapa, Nilla? kamu bahagia sekali pagi-pagi sudah tertawa,"


"Kenapa sih? aku tidak boleh tertawa?"

__ADS_1


"Boleh, tertawa saja sepuas mu. Aku tahu kamu sedang bahagia,"


"Aku setiap saat bahagia, Jhi."


"Hmm..."


Jhico tersenyum seraya mengangkat dua alisnya pada sang istri yang kembali menoleh padanya. "Fokus dulu, Nilla. Kamu jangan menoleh terus padaku. Aku tampan, aku tahu kamu terpesona,"


Vanilla memutar bola matanya setelah mendengar kalimat suaminya yang terlampau percaya diri itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, Jhico memang tampan, oleh sebab itu Vanilla bersyukur sekali memiliki Jhico karena selain memiliki rupa yang menawan, Jhico memiliki hati yang begitu tulus menerima semua hal yang ada dalam diri Vanilla baik itu kekurangan maupun kelebihan nya.


*******


"Tiba-tiba saja Kakak dokter menelpon Ibu, Keyfa."


"Ada apa memangnya?"


"Sebentar---"


Vivy membuka pesan yang dikirim oleh Jhico tak lama setelah Jhico menelpon dan tidak sempat Ia jawab karena Ia baru saja selesai memasak dan saat ini Ia dan Keyfa tengah makan bersama.


"Kakak dokter mengundang mu untuk datang ke rumah barunya. Ini sudah diberi alamatnya,"


"Woahh yang benar, Ibu?"


Keyfa segera mendekati Ibunya untuk membaca pesan Jhico juga. Anak itu sampai meninggalkan kursi dan makanan nya.


"Yeayy Aku diundang dan akan bertemu dengan Griz,"


"Sudah jangan lompat-lompat begitu, habiskan makanan mu segera,"


"Iya, Ibu."


Keyfa segera menuruti ucapan Ibunya agar segera menghabiskan makanan nya. "Kapan aku ke rumah Kakak dokter, Ibu?"


"Terserah padamu. Ibu tidak ikut ya. Kamu diantar oleh driver saja,"


"Hmm tidak ikut? kenapa?"


"Iya, lain kali saja Ibu datang ke sana,"


"Aku akan berangkat setelah makanan ku habis ya?"


Vivy mengangguk, Ia turut senang melihat anaknya juga senang hanya karena pesan Jhico. Tapi Ia juga merasa cemas anaknya akan berbuat hal kurang baik di kediaman Jhico.


"Jadilah anak yang baik, Keyfa. Jangan nakal dengan Griz,"

__ADS_1


"Ya, aku tidak pernah berbuat nakal pada siapapun,"


******


Auristella datang terlebih dahulu daripada kedua kakaknya yang sedang olahraga sepak bola bersama kedua kakek mereka.


"Icelle,"


Auristella dalam gendongan Lovi. Anak itu membawa tas kecil di punggung nya sehingga terlihat sangat menggemaskan.


Auristella berseru memanggil Grizelle, Ia pun melambai. Telinga Lovi sampai merasa sakit karena suara anaknya.


"Hallo, Auris." sapa Vanilla.


Auristella mencium pipi Grizelle bertubi-tubi namun Grizelle tidak merasa terganggu sama sekali. Lovi menegur anaknya, lalu berniat untuk menurunkan sang anak dari gendongan agar benar-benar selesai mencium Grizelle yang sedang nyaman digendongan Mumu nya.


"Ahh Mom," protes Auristella ketika Lovi menurunkan nya. Anak itu akhirnya berdiri lalu mendongak ke arah Vanilla yang berdiri dihadapannya.


"Ty, Aku awu cium Icelle agi,"


"Makan dulu ya. Aunty buatkan sushi mentai untukmu,"


"Ndak ucah, kenyang,"


"Ck, kenyang? bukan kenyang, tapi memang kamu sudah tidak sabar mengajak Griz bermain. Iya 'kan?" tanya Vanilla tak percaya.


"Yup," akunya dengan jujur seraya mengangguk lucu.


"Griz sudah makan, Vanilla." ucap Lovi memberi tahu.


"Oh ya?" wajah Vanilla cemberut seketika,


"Padahal aku sengaja membuatkan---"


"Tenang, dia pasti akan menikmati masakan yang kamu buat," ujar Lovi dengan senyum hangat nya.


"Auris, kedua kakakmu dimana?"


"Ain ini,"


Ia menjawab seraya menggerakkan kedua kakinya ke depan secara bergantian, memberi tahu bahwa Andrean dan Adrian sedang bermain sepak bola.


ย ------


Auris gemes bgt yaa. Kl ada di dunia nyata, fix bakal aku cubitin mulu dia๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ btw, makasih yaaa masih setia baca, komen, like, dan vote. ADDICTED UP๐Ÿ‘‡

__ADS_1



__ADS_2