Nillaku

Nillaku
Nillaku 295 Perhatian Auristella


__ADS_3

Grizelle dan kedua orangtuanya memutuskan untuk mengunjungi sebuah taman yang luas. Mereka menemukan taman tersebut ketika menyusuri dengan mobil. Lalu anak itu minta diturunkan di sana karena Ia akan bermain.


Di sana banyak bunga yang cantik dan Ia menyentuhnya kemudian berfoto.


"Aku sudah cantik di foto itu, Mu?"


"Sudah, cantik sekali,"


Vanilla menunjukkan hasil fotonya pada sang anak. Grizelle tersenyum menatap wajahnya sendiri.


"Sekarrrlang (sekarang) aku mau foto dengan Pupu,"


Ia mengajak ayahnya agar mau foto dengannya. Anak itu menarik tangan ayahnya dan berdiri di hadapan kamera.


Jhico yang memang tak pandai bergaya selain tersenyum, tentu hanya bisa memamerkan senyumnya saja. Sudah tiga kali potret dan gayanya belum ada yang berubah sehingga Grizelle merengek pada ayahnya.


"Pupu, jangan senyum terrlus (terus),"


"Pupu harus bagaimana?"


"Berrlgaya (bergaya), terrserrlah (terserah) seperrlti (seperti) apa,"


Jhico menggendong anaknya saja sehingga Ia tak harus banyak bergaya.


"Sudah, Pupu tidak pandai bergaya di foto,"


Grizelle mendengus kesal. Padahal Ia ingin foto yang banyak dengan ayahnya.


"Pupu kaku sekali,"


"Tidak, Sayang. Tadi Pupu sudah senyum, artinya tidak kaku 'kan?"


"Tapi Pupu senyum terrlus (terus) tidak ada gaya yang lain,"


Vanilla terbahak melihat anaknya yang protes pada sang ayah. Grizelle benar-benar menggemaskan sekali ketika merajuk.


"Foto dengan Mumu saja ya? Pupu yang fotokan,"


Grizelle mengangguk, lebih baik juga foto dengan Mumunya yang tak pernah kehabisan gaya mengingat memang pekerjaannya bergaya terus di depan kamera.


Jhico menjadi fotografer kali ini dan hasilnya juga tak kalah bagus dengan Vanilla.


"Kalian kalau sudah foto, tidak pernah gagal," nilai Jhico memperhatikan hasil potretnya.


Vanilla dan Grizelle melihatnya juga. Mereka tersenyum senang dengan hasilnya.


"Nanti kalau aku sudah besarrl (besar) itu jadi kenangan. Liburrlan (liburan) sebagai hadiah ulang tahun," gumam Grizelle.


Anak itu meminta untuk mencari tempat lain yang bisa dikunjungi untuk bermain.


Lantas mereka keluar dari taman itu. Dan menaiki mobil untuk mencari tempat lain untuk bersenang-senang sebelum akhirnya kembali ke penginapan dan akan pulang esok pagi.


*****


"Mommy, sedang apa? mau aku bantu?"

__ADS_1


Lovi yang sedang duduk di bawah almari mengemasi pakaian untuk dibawa kembali ke tempat asal, mengangkat kepalanya ketika Auristella menghampiri dan kini duduk di sampingnya.


"Tidak usah, Sayang. Mommy saja yang mengemasi biar cepat selesai,"


"Memang kalau aku bantu tidak cepat selesai ya, Mom?"


"Tidak, Sayang," sahut Lovi seraya terkekeh pelan.


"Huh, jadi aku harus bagaimana?"


"Kamu kenapa tidak tidur? sudah pukul berapa ini? besok masih sekolah,"


"Pukul delapan. Aku baru saja selesai mengerjakan tugas danĀ  sekarang aku bosan, Mom. Maka biarkan aku membantumu,"


Lovi menggeleng menolak bantuan anaknya. Ia mengusap rambut Auristella dengan lembut.


"Auris lebih baik istirahat. Pakaian dan perlengkapan kita itu biar Mommy yang urus, supaya benar-benar tidak ada yang tertinggal,"


"Hmm....baiklah. Tapi aku tidurnya nanti saja. Aku ingin melihat mommy mengemas,"


Lovi mengangguk, membiarkan putrinya duduk di dekatnya menjadi pengamat. Suami dan kedua anak laki-lakinya mungkin sedang di kamar, sementara dirinya sedang di walk in closet bersama Auristella.


"Ean dan Ian sudah tidur?"


"Tadi aku ke kamar Ean dan Ian, mereka sedang mengerjakan tugas juga sepertinya,"


"Oh, kalau Daddy?"


"Biasa,"


"Oh dimana?"


"Di balkon, Mom. Dengan satu mug americano," kata Auristella.


Lovi mengangguk pelan. Ternyata malam ini suaminya menghisap rokok dan minum kopi lagi padahal semalam juga begitu sementara Ia sudah mengatakan agar mengurangi kedua hal itu. Biasanya dalam seminggu hanya tiga kali Devan merokok dan meneguk kopi malam-malam seperti ini. Tapi seingat Lovi sudah enam hari berturut-turut Devan seperti itu.


Auristella menatap Lovi sebentar. Ia bisa melihat Lovi yang nampak cemas usai Ia mengatakan hal tadi.


Ia tahu Mommynya khawatir karena pola hidup ayahnya memang buruk sekali. Makan sering terlambat, istirahat kurang, merokok dan meneguk kopi yang pekat juga masih sering padahal tidak jarang batuk dan perutnya sakit.


Auristella beranjak meninggalkan Mommynya sebentar. Ia memutuskan untuk menghampiri ayahnya yang tampan itu.


"Daddy, aku boleh di sini tidak?" Auristella izin dulu sebelum bergabung dengan ayahnya yang terlihat menyendiri, memang seperti itulah Devan. Bila sudah bosan menyendiri, biasanya Ia akan bergegas ke ruang kerja.


"Silahkan, Auris mau bicara sesuatu pada Daddy?" tanya Devan pada anak perempuannya yang jarang sekaki ingin bersamanya di balkon malam-malam begini, karena biasanya Auristella sudah tidur atau ia sedang belajar. Ia seperti melihat anaknya akan bicara dengannya.


"Dad, jangan merokok dan minum kafein terus," nasihatnya dengan nada sopan dan tersenyum lembut.


Devan terkekeh pelan. Ia mengacak pelan puncak rambut putri tunggalnya.


"Khawatir pada Daddy ya? tenang saja, Sayang. Usia Daddy 'kan belum tua,"


"Daddy, sakit itu tidak mengenal usia. Aku tidak mau Daddy sakit karena pola hidup yang tidak sehat,"


Devan terkekeh pelan mendengar anaknya yang semakin pintar. Menasihatinya dengan kata-kata yang lembut dan tak ingin mendominasi.

__ADS_1


"Iya,"


"Daddy jangan 'iya' saja. Kasihan Mommy dan aku. Kami khawatir pada Daddy,"


"Maaf, Sayang ya? Daddy masih terus belajar untuk menerapkan hidup sehat,"


"Daddy juga sudah jarang olahraga ya?"


Devan nampak berpikir dulu. Ia mengingat-ingat terakhir kali Ia berolahraga.


"Tidak, Sayang. Baru tiga hari yang lalu,"


"Memang iya?"


"Iya, seingat Daddy. Besok pagi rencananya ingin lari pagi. Karena Daddy ke kantor sedikit siang,"


"Aku ikut," Auristella mengacungkan jari telunjuknya.


"Kamu sekolah,"


"Oh iya," Auristella merengut seketika. Padahal Ia ingin sekali lari pagi dengan ayahnya.


"Aku meliburkan diri saja,"


"Hei, tidak boleh. Selagi bisa sekolah, kamu harus sekolah," tegas Devan tak ingin anaknya meninggalkan kewawajiban menuntut ilmu.


"Hmm...ya sudah, aku tidak ikut lari pagi,"


"Lain waktu ya,"


Auristella tersenyum mengangguk. Ia sudah jarang olahraga bersama dengan Devan. Karena Ia sibuk sekolah dan ayahnya juga sibuk bekerja. Devan hampir setiap hari berangkat pagi hari.


"Daddy istirahat, Jangan di sini terlalu lama, dan jangan bekerja lagi,"


"Tidak bisa, Sayang. Ada yang harus Daddy periksa,"


"Ya ampun, bisa dikerjakan lain waktu 'kan, Dad?"


"Besok sudah harus selesai,"


"Kenapa tidak diselesaikan tadi saja? Ini sudah malam,"


"Belum tengah malam. Kamu saja yang istirahat. Ke kamar sekarang. Jangan tidur terlalu malam,"


"Aku belum mengantuk, Dad,"


"Biasanya mengobrol dengan Mommy,"


"Mommy sedang mengemasi barang-barang kita yang akan dibawa pulang,"


Devan mengangguk dan menyuruh anaknya untuk segera beristirahat.


Auristella menggeleng dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia bersandar di kursi.


"Aku tunggu di sini sampai Daddy selesai,"

__ADS_1


__ADS_2