Nillaku

Nillaku
Nillaku 95


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Masuk,"


Jhico memesan makanan dari restoran yang tidak jauh dari klinik nya untuk semua teman lamanya yang datang.


"Pengertian sekali Jhico ya," ujar Nares saat melihat makan dan minum di sajikan di atas meja tamu yang berada di hadapannya saat ini.


Setelah makanan tersajikan, Jhico langsung menyuruh mereka makan. "Silahkan makan. Jangan malu-malu,"


"Tidak pernah malu, Co. Kalau di depanmu kita justru selalu memalukan. Benar begitu?"


Jhico terkekeh geli mendengar ucapan Vander. Momen lucu seperti inilah yang Ia rindukan. Awal-awal bekerja di klinik tidak ada mereka, Jhico sempat merasa sepi.


***


"Coba kamu tanya pada Jhico jenis kelamin anaknya. Masa iya dia belum melakukan USG?"


"Pasti diberi tahu kalau memang sudah,"


"Tanya! apa susahnya bertanya?!"


"Kamu saja yang tanya. Kamu yang penasaran. Kalau aku, apapun jenis kelaminnya tidak masalah,"


"Kamu tidak penasaran memangnya?"


Karina berdecak dan segera melakukan apa yang diperintah oleh suaminya. Ia menghubungi Vanilla untuk bertanya mengenai jenis kelamin cucu pertamanya.


"Sudah usia berapa bulan kandungannya? tidak mungkin belum periksa,"


"Baru masuk empat bulan,"


Karina menjawab seraya menunggu jawaban dari Vanilla. Panggilannya belum juga diangkat oleh Vanilla.


"Belum diangkat," kata Ibu satu anak itu. Thanatan berdecak dan menatapnya tajam.


"Coba lagi!"


"Ini sedang aku coba lagi. Sabar, Tuan! jangan marah-marah terus,"


Vanilla baru saja melepas kepulangan sahabatnya, Joana. Mereka sudah selesai berbincang-bincang dan juga photoshoot di apartemen Vanilla.


"Hati-hati, Van di apartemen. Jangan kemana-mana,"


"Iya, memang aku mau kemana?"


"Barangkali mau jalan-jalan tanpa sepengetahuan Jhico,"


Vanilla berdecak seraya menggeleng tidak minat. Karena kalau Jhico tahu, Ia akan marah-marah lama sekali bahkan Vanilla tak diindahkan nantinya.


"Pasti Jhico yang telepon,"


Vanilla menghampiri ponselnya yang menyala di atas meja makan. Ia berjalan cepat. Ternyata nama yang Ia harapkan singgah di layar ponselnya tidak sesuai harapan.


"Mama Karina yang telepon. Ada apa ya? aduh aku jadi tidak tenang begini,"


Ia menggeser panel hijau di layar dan suara Karina langsung menyapa telinganya. "Iya, hallo, Ma."


"Bagaimana kabarmu dan Jhico?"


"Kami baik, Ma. Mama sendiri?"

__ADS_1


"Ya, baik. Kamu sudah periksa kandungan lagi?"


Vanilla terdiam sejenak. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia tahu betul pembicaraan ini akan berakhir kemana.


"Sudah, Ma."


"Jenis kelamin nya apa? Papa penasaran katanya,"


Sudah Vanilla duga. Vanilla tidak bisa diam saja. Mereka berhak tahu. Apalagi kalau mereka sudah bertanya langsung. Karina dan Thanatan adalah orangtua suaminya yang berarti akan menjadi kakek dan nenek dari anaknya. Ini adalah cucu pertama mereka berdua. Karina begitu senang menyambutnya tapi kalau Thanatan, Vanilla tidak yakin apalagi setelah Ia tahu jenis kelamin anaknya nanti.


"Perempuan, Ma."


"Ya, Tuhan. Kamu serius? Mama senang sekali mendengarnya,"


"Apa?" suara Thanatan membuat Vanilla membeku. Ternyata ada Thanatan di samping Karina.


"Perempuan,"


Suara Thanatan tidak terdengar lagi. Dalam bayangan Vanilla saat ini, Thanatan sedang menggeram hatinya.


"Diam-diam Mama berdoa pada Tuhan minta cucu pertama Mama perempuan,"


Setelah mendengar pengakuan istrinya, Thanatan menatap Karina dengan tajam seolah yang Karina lakukan adalah sebuah kesalahan.


"Mama akan menerima apapun. Tapi dilubuk hati yang paling dalam, Mama sangat berharap cucu perempuan,"


Vanilla tersenyum mendengarnya. Berarti Ia dan Karina sama. Mengharapkan perempuan sementara Thanatan sebaliknya.


"Kalian senang, Papa tidak senang!"


"Huh?" Karina terkejut mendengar seruan suaminya.


Vanilla menelan ludahnya susah payah. Terasa ada yang mengganjal di Tenggorokannya.


Karina tahu yang dirasakan Vanilla sekarang. Ia berdehem untuk mengalihkan. "Ya sudah, Vanilla. Mama hanya ingin tahu kabar kalian. Selalu jaga kesehatan ya," pesannya sebelum mengakhiri telepon.


"Pa, jangan egois begitu. Mama yakin Vanilla sedih, apalagi Jhico. Dia sudah merasa tidak diacuhkan oleh kita, lalu sekarang anaknya juga akan diperlakukan begitu?"


"Aku selalu berusaha peduli padanya. Dia yang keras kepala dan tidak mau terbuka. Bukan salahku, bukan aku yang egois!"


"Mama rasa apapun reaksi Papa terhadap jenis kelamin anak mereka, tidak akan mempengaruhi apapun."


"Jhico akan semakin membenci---"


"Aku tidak peduli. Dia membenciku? aku bisa melakukan nya juga,"


Thanatan melepas jeratan tangan istrinya di lengan. Lalu secepat kilat Ia kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan Karina yang tidak habis pikir.


"Sekalipun cucunya laki-laki, memang dia mau menjadi apa yang diinginkan oleh kakeknya? aku rasa belum tentu,"


Karina duduk dengan napas memburu. Ia harus melakukan apa sekarang. Respon Thanatan tadi pasti menjadi beban pikiran untuk Vanilla. Karina tahu bahwa Thanatan juga menyayangi menantunya. Tapi karena permasalahan kecil ini, Thanatan terlihat seperti pemeran yang begitu jahat.


"Apa lagi yang membuat kalian bertengkar? Ibu sampai bangun dari tidur,"


Hawra duduk di dekat putrinya yang sedang menatap kosong ke depan. Hawra mengusap kepala Karina dengan lembut.


"Maaf, Bu."


"Ada masalah apa?"


"Cucu lagi, Bu. Aku heran bagaimana pola pikir Thanatan. Sepertinya dia sudah gila,"


"Ssstt jangan bicara begitu. Kalau dia gila, tidak mungkin perusahaannya semakin berkembang pesat,"


"Dia begitu menginginkan cucu laki-laki. Tapi bagaimana bisa memilih? itu semua sudah menjadi kehendak Tuhan,"

__ADS_1


"Memang perkiraan jenis kelamin cucu kalian perempuan?"


"Iya, Bu. Tadi Vanilla mengatakannya,"


"Saat dia lahir, belum tentu Thanatan seperti ini. Bisa jadi dia berubah. Dia hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan bahwa harapannya tidak bisa terealisasi kan untuk saat ini. Mungkin cucu kalian yang selanjutnya akan laki-laki. Kenapa dia tidak berpikir begitu ya,"


"Aku juga bingung,"


"Reaksi nya itu akan membuat Jhico semakin kesal padanya,"


"Mungkin memang itu yang dia inginkan,"


Bukannya menarik perhatian anak dengan cara yang benar, Thanatan malah memancing ketidak pedulian Jhico hingga semakin meningkat.


****


Vanilla dan Jhico nampak serasi saat memasuki tempat digelarnya acara tunangan Jane dengan Richard.


Baju mereka memiliki warna yang senada dengan tamu yang lain karena semua yang datang menyesuaikan dress code.


Wajah Vanilla yang sedari tadi nampak merengut karena habis berdebat dengan Jhico, begitu sampai di sini langsung ceria.


Ia dan Jhico berdebat karena masalah sepatu. Vanilla masih kurang bisa menyesuaikan diri. Sekarang dia hamil, dan mau menggunakan sepatu yang berhak tinggi. Tentu saja Jhico marah sekalipun hak nya tidak terlalu tinggi, kata Vanilla.


Melihat Vanilla membawa perutnya, lalu menggunakan sepatu berhak, membuat Jhico khawatir.


"Mama dan Papa sudah datang, Jhi." ucap Vanilla saat melihat Thanatan dan Karina tengah berbincang dengan Rena dan suaminya.


"Iya, aku senang kalau acara-acara keluargamu, mereka mau datang untuk menghargai. Karena kalau ada acara di sekolahku yang mengundang mereka, jarang sekali mereka meluangkan waktunya."


"Kamu kurang dihargai berarti," canda Vanilla yang memang begitu kenyataan nya.


"Aku tahu, Nillaku. Tidak usah diperjelas bisa?"


"Hehehe maaf."


Jhico menarik kursi untuk istrinya. Di acara itu ada Aurora, Ganadian, Keynie, dan model-model lainnya yang menjadi rekan kerja Jane.


Mereka berbaur menjadi satu, berbincang, sampai akhirnya tiba di acara inti. Jane dan Richard resmi bertunangan. Pertukaran cincin yang sudah terjadi menandakan bahwa mereka sudah saling terikat dan semakin dekat dengan hari bahagia, yaitu pernikahan.


Usai bertukar cincin, Jane membawa Auristella untuk bergabung bersama Vanilla dan yang lainnya.


Sedari tadi Auristella terlihat jarang tersenyum, karena sepertinya Ia kurang nyaman dengan keramaian. Terkadang juga menangis, hingga membuat Lovi bingung. Akhirnya Jane mencoba untuk menggendongnya, dan ketika bergabung dengan teman-teman nya, Auristella nampak nyaman. Walaupun Ia tidak mengerti hal apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa itu.


"Kamu serius mau menikah, Joana?" tanya Ganadian. Vanilla menatap teman lelakinya itu dengan pandangan meledek.


"Penasaran sekali. Kamu belum dapat undangannya?" tanya Vanilla.


"Memang sudah--"


"Belum!" Joana menatap Vanilla dengan tajam. Undangan apa yang mau disebar. Dia saja lagi berusaha keras untuk membatalkan. Sampai setiap malam Ia sulit tidur karena memikirkan nasibnya.


"Joana mau menikah dengan siapa?"


"Teman masa kecilnya,"


Vanilla seperti juru bicara Joana. Orang bertanya pada Joana, tapi dia yang sibuk menjawab.


"Aku kira dengan aku,"


"Hih apa sih? jangan terlalu percaya diri begitu. Memang Joana mau denganmu?" sahut Vanilla lagi.


Tawa Ganadian meledak seketika. Ucapan Vanilla sebenarnya hanya kelakar tapi entah mengapa sedikit menyentil perasaan nya.


"Nanti kalau Joana berjodoh dengan aku, kamu jangan kaget ya! Jodoh tidak ada yang tahu. Bisa jadi Joana menikah dengan aku padahal dia dijodohkan dengan lelaki lain,"

__ADS_1


-------


__ADS_2