Nillaku

Nillaku
Nillaku 302 Andrean itu batu


__ADS_3

"Icelle, kami boleh menginap di sini tidak?"


"Boleh-boleh, ayo menginap di sini," Grizelle semangat sekali mengizinkan sepupunya untuk menginap di rumahnya. Tentu Ia mengizinkan.


"Boleh ya, Mom, Dad?" Auristella meminta persetujuan Ibu dan ayahnya terlebih dahulu.


Mereka berdua mengangguk. Mereka mempersilahkan ketiga anak mereka menginap di sini. Karena ke empatnya pasti masih ingin melepas rindu.


"Ya, tapi jangan nakal di sini ya. Baik-baik dengan Icelle,"


"Siap, Mom,"


"Ean juga mau menginap?" tanya Lovi yang diangguki oleh putranya itu.


"Ya sudah, kalian pulang dulu ambil pakaian ya," ucao Lovi


"Atau mau diantar saja?" tanya Devan pada ketiganya.


"Pulang, aku mau pulang dulu. Mengucap salam perpisahan pada rumah untuk sementara waktu karena aku mau menginap di sini,"


Adrian mendengus ketika adiknya bicara seperi itu. Berlebihan sekali menurutnya sampai harus mengucap salam perpisahan pada rumah.


"Kalian berdua juga mau pulang dulu?"


Dua putra kembar Lovi mengangguk ketika Lovi bertanya. Berhubung adiknya ingin pulang, sekalian saja mereka juga pulang untuk mengambil pakaian.


*****


"Griz ada tugas sekolah tidak?"


"Ada, Nay-Nay,"


"Ya sudah dikerjakan. Nanti kami bantu. Kalau kami bisa,"


Rena terkekeh di akhir kalimatnya. Entah Ia masih ingat atau tidak pelajaran untuk usia cucunya.


"Pasti bisa lah. Grrlandma dan Nay-Nay 'kan pintarrl (pintar),"

__ADS_1


Keduanya tersenyum mendapat pujian seperti itu. Kemudian mereka meminta Grizelle agar mengambil tugasnya.


Grizelle segera memperlihatkan pada keduanya. "Ini sebenarrlnya (sebenarnya) mudah. Tapi aku belum mau menyelesaikannya," ucap anak itu yang membuat kedua neneknya mengerinyit. Mereka tahu Grizelle ini terbilang anak yang rajin. Lalu sekarang Grizelle mengatakan belum mau mengerjakan tugasnya. Wajar mereka bertanya-tanya.


"Karena aku tidak bisa berrlpikirl (berpikir). Aku masih memikirrlkan (memikirkan) Mumu,"


Rena dan Karina menghembuskan napas pelan. Grizelle selalu tak terduga. Mereka kira Grizelle sedang dilanda rasa malas rupanya karena Vanilla.


"Griz, Mumu tidak usah kamu pikirkan. Pupu sudah pasti akan menjaga Mumu dan tidak akan membiarkan suatu hal terjadi pada Mumu. Jadi Griz tidak perlu memikirkan Mumu terus. Tidak masalah Griz merasa cemas. Tapi jangan berlebihan, Sayang. Nanti malah kamu yang sakit,"


"Iya, Griz. Mumu baik-baik saja. Griz hanya perlu mendoakan Mumu saja dari sini,"


Kedua neneknya kompak meminta pada Grizelle agar tidak terlalu menjadikan Vanilla sebagai hal yang terlalu Ia pikirkan. Mereka sangat memahami Grizelle tengah mencemaskan Ibunya tapi mereka tak ingin karena terlalu mencemaskan Vanilla, memikirkan tentang Vanilla, malah membuat Grizelle yang tumbang.


"Lihat ini. Kenapa bawah matamu menghitam? apa kamu tidur terlalu malam?" Karina mengusap bawah mata cucunya yang sedikit menghitam. Kalau Ia tak mengamati wajah Grizelle benar-benar, maka Ia tak menyadari itu.


"Aku terrlbangun terrlus (terbangun terus)," akunya dengan jujur tanpa kakek dan neneknya tahu bahwa Ia sering terbangun kemudian melamun sendiri sampai akhirnya datang lagi rasa kantuknya.


Karina dan Rena menatap Grizelle dengan lembut. Anak seusia ini sudah memiliki kepedulian yang luar biasa untuk orang yang disayangi. Terlampau mencintai dan menyayangi Vanilla, sampai apa yang dirasakan Vanilla seperti sampai juga pada Grizelle. Ia tak bisa tidur tenang seolah Ia yang merasakan sakit yang dialami sang ibu.


Rena dan Karina tersenyum. Mungkin dengan mengerjakan tugas Grizelle bisa sedikit mengalihkan pikiran Grizelle yang terpaku pada Mumunya. Sebab saat menonton atau bermain, anak itu masih tak bisa berhenti memikirkan Vanilla.


Saat pertama kali Ia melihat pemeran dalam film yang tadi mereka tonton, Ia langsung berujar, "Mirrlip (mirip) Mumu. Tapi lebih cantik Mumuku,"


Sepanjang film berlangsung beberapa kali Grizelle membawa-bawa nama Vanilla. Saat bermain pun demikian.


Ditengah mengerjakan tugas, ketiga kakak sepupunya datang lagi. Mereka sudah siap untuk menginap tanpa pengasuh sama sekali oleh sebab itu mereka pulang dan mengambil ransel berisi pakaian masing-masing.


Sekarang mereka sudah biasa tanpa pengasuh bahkan saat dalam perjalanan kerja Devan pun tak ada pengasuh anaknya yang Devan ajak karena memang ketiga anaknya sudah bisa mandiri. Tapi mereka masih butuh pengasuh karena begitu kembali ke negara asal Lovi harus sibuk dengan butiknya lagi dan tak bisa setiap saat bersama anak-anaknya.


"Auris mengerjakan tugas?"


Grizelle menatap Auristella kemudian mengangguk. Aurisamenjentikkan jarinya.


"Dibantu Ean saja. Dia 'kan pintar,"


"Kenapa tidak kamu atau Ian saja yang bantu aku? kalau dengan Ean, aku seperrlti belajarrl (seperti belajar) dengan batu nanti," ucap Grizelle dengan polos dan terdengar serius.

__ADS_1


Auristella dan Adrian terbahak puas dan Grizelle bingung karena Ia merasa tidak sedang melucu.


"Kenapa sih?" gumam Grizelle tak paham.


Berbeda dengan adik-adiknya, Andrean justru terlihat datar seperti biasa namun rasa kesal tak dapat Ia tutupi. Ia kesal dengan Grizelle yang dengan ringan bicara seperti itu dan ia kesal karena kedua adiknya jadi punya bahan untuk menertawakannya.


"Maka jangan terlalu kaku, Ean,"


"Jadi disamakan dengan batu 'kan,"


Adrian dan Auristella bersahutan menggoda kakak mereka. Ada juga yang menyamakan Andrean dengan batu dan itu adalah Grizelle. Maka mereka tak henti tertawa.


"Maaf ya, Ean," sesal Grizelle setelah mendapat teguran dari Karina, "Jangan bicara begitu, Sayang. Minta maaf pada Andrean,"


"Tak apa. Mereka sudah biasa seperti itu," ujar Rena yang tahu betul bahwa Karina sepertinya tak enak hati melihat Andrean diledek oleh kedua adiknya karena Grizelle.


"Aku bisa menyelesaikan ini sendirrli sebenarrlnya (sendiri sebenarnya)


"Woahhh hebat. Tidak seperti Auris yang terkadang minta bantuan padaku,"


"Hih? jarang! itupun kamu pasti marah-marah kalau membantu aku mengerjakan tugas. Makanya aku lebih sering minta bantuan pada Ean. Kalau aku bisa, pasti aku kerjakan sendiri," sahut Auristella ketika Adrian mengatakan bahwa Ia sering minta bantuan pada Adrian. Padahal menurutnya jarang. Ia lebih senang meminta pada Andrean katena Andrean tidak menyebalkan ketika dimintai  pertolongan olehnya.


"Kamu sudah serrling (sering) dibantu Ean kenapa malah menjahili dia tadi?"


Grizelle bertanya seperti itu karena tadi Auristella puas sekali menertawakan kakak tertuanya padahal Ia sendiri mengatakan bahwa Andrean sering menjadi penolongnya.


"Aku senang saja melihatnya kesal. Dan aku gemas karena saat kesal maupun tidak, ekspresi Ean sama saja. Datar, seperti dinding,"


Sudah disamakan dengan batu, sekarang disamakan juga dengan dinding. Apa ada yang ingin menambahkan?


Auristella terkekeh meringis. Kini Ia merasa bersalah. Ia segera merentangkan tangannya memeluk sang kakak.


"Ean, balas pelukan aku!" Auristella merengek karena kakaknya tak mau merengkuh balik dirinya.


Andrean menggeleng pelan. Ia melepas pelan pelukan adiknya. Kemudian berujar dengan tenang.


"Jangan memeluk batu,"

__ADS_1


__ADS_2