Nillaku

Nillaku
Nillaku 195


__ADS_3

Vanilla dan Joana memasuki ballroom hotel. Ketika mereka tiba di sana, acara sudah dimulai.


Vanilla dengan anggun nya menjadi bagian dari para tamu yang di dominasi oleh orang-orang yang bekerja di depan kamera sama dengan pengantin wanita nya yang merupakan teman Vanilla dan juga pebisnis seperti halnya pengantin pria.


"Selamat menempuh hidup baru, Ellin,"


"Thank you, Van. Kamu hanya datang bersama Joana? dimana suamimu?"


"Masih ada pekerjaan. Dia menitip salam untuk kalian berdua. Bahagia terus ya, begitu kata Jhico."


"Woahh sayang sekali dia tidak datang. Aku belum mengenalnya," ujar suami Ellin, Youta.


"Lain kali kita akan bertemu. Kalau perlu double date," sahut Ellin dengan senyumnya. Setelah Vanilla yang memberikan ucapan selamat dan pelukan hangat untuk Ellin, Joana juga melakukan hal yang sama.


"Kalau kamu datang tanpa pasangan, aku tidak heran,"


Joana merengut mendengar ledekan dari Ellin. Ia mencubit lengan Ellin yang kini terkekeh geli.


"Silahkan nikmati malam kalian di sini ya. Jangan cepat-cepat ingin pulang,"


"Aku ada anak masalahnya, Lin. Kalau masih single, sudah pasti sampai pagi di sini,"


Baik Joana dan Youta tertawa mendengar ucapan Vanilla. "Ngapain sampai pagi? belum berubah juga kamu, Van? astaga, aku kira sudah berubah,"


"Bersih-bersih, menghabiskan sajian yang ada," bantah Vanilla saat Ellin seolah menuduhnya yang masih seperti dulu, sebelum menikah dengan Jhico.


"Ayo, Van. Aku lapar, kita cari makan," ajak Joana menarik lengan Vanilla. Ellin dan Youta menggeleng pelan seraya terkekeh melihat mereka berdua.


"Van, ingat jangan mabuk ya pulang dari sini,"


Vanilla menoleh dan mengangkat ibu jarinya. "Tenang," jawabnya setelah dipesan seperti itu oleh Ellin.


Ellin hanya mengingatkan. Vanilla suka mabuk dulu. Agar Vanilla tidak macam-macam disaat statusnya sudah bukan lagi seorang perempuan yang belum berkeluarga.


*******


"Aman, Van?"


"Aman, cuma sedikit."


Vanilla menjawab santai setelah meneguk sedikit alkohol. Ia tidak akan mabuk kalau hanya beberapa teguk.


Joana meraih gelas sahabatnya lalu akan membuang isinya. "Sudah aku biarkan kamu minum itu sedikit. Sekarang harus dibuang. Jangan gila, Vanilla."

__ADS_1


"Jangan dibuang dulu. Aku masih ingin, ya... beberapa teguk lagi,"


"Ck, Van---"


"Santai, Joana. Aku sudah rindu dengan minuman ini,"


Joana menenggak milik sahabatnya agar jumlahnya sedikit. Vanilla berdecak karena Ia tahu niat sahabatnya yang ingin menghindarkan Vanilla dari mabuk. Padahal Ia akan baik-baik saja kalau hanya satu gelas.


"Hampir semua yang disajikan di sini memabukkan. Dan aku haus, jadi mau tidak mau aku minum ini,"


"Alasan! ada minuman juice, dan yang lainnya. Kamu bisa minum itu, Van."


Vanilla mengangguk dan segera beranjak untuk mengambil juice. Kemudian Ia meneguknya. "Astaga, Vanilla. Jangan campur-campur. Kalau mau minum juice, alkohol nya hentikan,"


"Biar ada penetralisir," jawab Vanilla santai. Ia benar-benar minum dua gelas. Yang satu juice buah dan satu lainnya adalah alkohol yang tidak sampai setengah lagi.


Seorang laki-laki memperhatikan kesibukan mereka berdua yang tengah mengobrol. Dia adalah Xendi, salah satu petinggi perusahan beauty shoes yang saat ini menjadikan Vanilla sebagai brand ambasador.


Xendi menghampiri keduanya. Vanilla dan Joana cukup terkejut mendapati dirinya yang ternyata juga menjadi salah satu dari banyaknya tamu.


"Hai," sapa Vanilla dengan canggung. Ia dengan Xendi belum terlalu akrab apalagi saat pertemuan mereka untuk pertama kalinya kurang menyenangkan. Ia langsung mencap bahwa Xendi adalah orang menyebalkan. Karena menegurnya yang sempat mengecek ponsel dan langsung menilai dirinya tidak profesional. Padahal dia membuka ponsel diakhir meeting karena ingin menghubungi Mr Joe agar menjemput Grizelle di sekolah, sebab Ia tidak bisa menjemput karena masih harus menjalani meeting.


"Kamu diundang juga?"


"Ehemm Van, sudah lama kita di sini. Ayo, pulang,"


Xendi melirik Joana yang tiba-tiba mengajak Vanilla pulang ketika Ia baru saja menghampiri keduanya.


"Aku baru datang ingin mengajak kalian mengobrol,"


"Iya, silahkan. Aku pulang nya bisa nanti,"


Joana yang mendengar ucapan Vanilla langsung melotot kaget sekaligus kesal karena Vanilla memilih untuk tetap berada di sini.


Joana kurang menyukai sosok Xendi. Ia juga melihat bagaimana pertemuan Xendi dengan Vanilla saat meeting pertama kali. Lelaki itu terlihat sangat menyebalkan. Entah kenapa Ia kesal saja melihat Xendi padahal Xendi tidak melakukan apapun padanya. Hanya menegur tegas sahabatnya dua kali karena Vanilla terlambat dan Vanilla membuka ponsel disaat meeting. Xendi dengan gaya arogan nya menegur Vanilla.


"Aku akan bekerja sama dengan dia, jadi harus akrab," ujar Vanilla dalam hati. Ia tidak ingin bekerja dengan kaku. Kalau Ia dan Xendi kaku seperti kemarin-kemarin, rasanya pekerjaan mereka akan membosankan. Ia terikat kontrak dengan beauty shoes juga lumayan lama.


******


Jhico dan putrinya tiba di rumah. Grizelle langsung mencari Vanilla yang ternyata belum pulang.


"Pu, kita jadi menyusul Mumu 'kan?"

__ADS_1


"Pupu saja ya? Griz istirahat, ini sudah malam,"


"Tidak mau, aku ingin ikut Pupu,"


Jhico menghembuskan napas merasa keberatan untuk memenuhi keinginan anaknya itu. Tapi melihat raut memohon Grizelle, akhirnya Ia mengangguk.


Grizelle berseru senang kemudian langsung melangkah ke kamarnya dan meminta pada pengasuhnya, Nada, untuk membantunya mengganti baju yang pantas untuk datang ke pesta.


"Ganti bajunya yang cepat ya, Sayang."


"Okay, Pu. Aku akan secepat kilat,"


Grizelle berlari menaiki tangga dan itu membuat Jhico panik. Ia berseru memanggil Grizelle dengan tegas.


"Grizelle, berjalan yang benar!"


Kaki Grizelle berhenti berlari. Ia menoleh pada Jhico yang menatapnya tajam. "Solly (Sorry), Pu."


Jhico berusaha menghilangkan rasa kesalnya terhadap Grizelle yang hampir membahayakan dirinya sendiri. Ia menghembuskan napas pelan lalu mengisyaratkan Nada untuk membawa Grizelle ke kamarnya.


******


"Nada, Pupu malah (marah) padaku ya?"


"Tidak marah, Griz. Pupu hanya khawatir pada Griz. Lain kali Griz harus hati-hati. Kalau terjadi sesuatu padamu, Mumu dan Pupu akan sedih,"


Grizelle masih merasa tidak tenang usai ditegur oleh Jhico. Pupunya itu jarang sekali bicara dengan nada yang sedikit kencang seperti tadi. Jhico kaget, sehingga tanpa sadar memanggil anaknya dengan suara yang berbeda dari biasanya.


"Kalau Pupu sudah bicala sedikit kencang, artinya Pupu benal-benal malah (benar-benar marah), Nada." gumam Grizelle


"Pupu sangat khawatir padamu,"


Sembari memberi pengertian, Nada menyempurnakan penampilan Grizelle. Anak itu nampak murung, tidak seperti sebelumnya yang tampak berseri-seri karena akan datang ke pesta, menyusul Mumu nya.


"Sudah cantik, ayo Griz turun. Mumu keburu datang nanti,"


"Bagus kalau Mumu datang sekalang bial (sekarang biar) aku tidak jadi ke sana. Ini 'kan sudah malam. Aku ingin menyusul Mumu ke pesta itu hanya kalena (karena) aku khawatil (khawatir),"


 ---------


 


Hei hei pa kabs semuaaa? Icelle jg bisa ceroboh ya ternyata ampe di tegur Pupunya gegara lari² di tangga wkwk. Untung gak jatoh, Griz :( Kl jatoh, aku syedih. Ntar ceritanya kek Andrean sama Adrian dong yg pernah jatoh dr tangga pas ultah dan ampe dijahit pala nya :(

__ADS_1


__ADS_2