
"Renald, kamu mau kemana?"
Saat ingin menjauh, Renald ditahan oleh Anneth. Gadis itu langsung menyadari perubahan raut wajah Renald. Dan Ia baru sadar juga dengan ucapannya yang mungkin menyakiti hati Renald.
"Maaf, Renald. Aku--"
"Tidak apa, aku mengakui kalau aku tidak berada di level yang sama seperti Vanilla. Oleh sebab itu, aku sempat tidak berani melangkah lebih jauh bersama Vanilla. Walaupun pada akhirnya aku menyatakan perasaan, tapi sayang sudah terlambat. Vanilla sudah menjadi milik orang lain,"
"Dia sudah memiliki kekasih?"
"Suami, pada saat itu aku dibuat hancur dengan kenyataan bahwa ternyata Vanilla sudah menikah di saat aku sudah berani mengajaknya untuk saling mengenal lebih dalam,"
"Wow pasti sakit sekali rasanya,"
Renald mengendikkan bahunya lalu beranjak. Anneth setia mengikutinya.
"Anneth, aku harus bersihkan toilet dulu. Kamu juga 'kan?"
"Iya, selamat bekerja, Renald."
"Okay, kamu juga."
***
Joana membuka bekalnya hari ini. Ia melihat Vanilla yang sibuk dengan laptop nya. Joana memanggil sahabatnya itu.
"Van, makan bekal aku,"
"Aku belum lapar,"
"Coba sedikit. Ini waffle buatan ibuku dengan topping baru, Van."
Vanilla merasa tertarik. Ia segera mendekati Joana. Lalu mengambil salah satu waffle yang dibawa Joana.
Ia memasukkan waffle tersebut ke dalam mulut namun sesaat kemudian Ia terdiam. Raut wajahnya berubah. "Ini selai apa?" tanya Vanilla seraya memperhatikan makanan di tangannya.
"Almond. Itu kesukaan kamu 'kan?"
Vanilla yang memang begitu menggemari semua selai termasuk almond, tiba-tiba saja tidak suka. Vanilla cepat-cepat pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan waffle yang sudah sempat Ia kunyah.
__ADS_1
Joana bingung di tempatnya. Ia mencoba waffle tersebut dan rasanya sangat nikmat. Apa ada yang salah dengan lidah Vanilla?
Joana menyusul sahabatnya yang pergi ke toilet. "Vanilla, ada apa?" tanya Joana dengan suara yang sedikit keras agar Vanilla mendengar. Ia menyusul Vanilla yang langkahnya cepat sekali.
Tiba di depan pintu toilet, Vanilla hampir saja terjerembab di lantai kalau salah satu temannya tidak cepat-cepat menarik tangan Vanilla agar tetap berdiri seimbang.
Jantung Vanilla berdetak tidak karuan saat membayangkan Ia akan terjatuh. Karena terjatuh memiliki risiko yang besar untuk kandungannya.
Joana ikut kaget melihat kejadian itu. Ia segera berlari menghampiri. Vanilla langsung menangkup kedua tangannya seraya menatap Carroline yang tadi ingin keluar dari toilet dan bertepatan dengan masuknya Vanilla ke dalam toilet.
"Terima kasih, Carroline. Beruntung ada kamu yang menolong aku,"
"Iya, Vanilla. Lain kali hati-hati..."
"Dan kamu, tolong kalau membersihkan lantai di toilet jangan terlalu banyak menggunakan air," Carroline menegur cleaning service yang tengah bekerja. Dia adalah temannya Anneth.
"Bukan salah teman saya. Salah dia yang tidak bisa pelan-pelan kalau berjalan," Anneth membela temannya. Vanilla geram melihat gadis itu lagi. Sebelum Ia bicara, Ia berjalan ke sudut toilet untuk menghampiri wastafel agar Ia bisa mengeluarkan waffle dari dalam mulutnya.
"Sudah tahu ini toilet, tentu saja keadaan lantai licin. Kenapa berjalan cepat-cepat?!"
"Maafkan sahabatku." ujar Joana. Kemudian Joana mengisyaratkan Carroline agar tak melanjutkan perdebatan ini.
"Iya, sama-sama, Joana."
Carroline pergi dan Vanilla kembali mendekati Anneth dan Joana yang masih saling tatap.
"Oh kamu sedang hamil? kasihan sekali bayimu ya. Dia punya Ibu yang bodoh. Sudah tahu hamil, tapi malah tidak bisa menjaga anak dengan baik," kalimat tajam itu berhasil keluar dari mulut Anneth. Vanilla merasa sudut hatinya tertampar. Benarkah Ia adalah Ibu yang bodoh?
Joana segera menggenggam erat tangan Vanilla lalu menatap Anneth dengan tajam penuh peringatan.
"Kamu tidak berhak berbicara seperti itu. Tahu apa kamu tentang Vanilla?"
Joana marah sementara Vanilla tengah menyalahkan dirinya sendiri. "Orang lain saja bisa menilai aku bodoh. Kenapa aku tidak sadar?" batin Vanilla mulai egois terhadap diri sendiri, hanya mendengar ucapan orang tanpa melihat sisi positif yang ia miliki. Tidak ada Ibu yang bodoh di dunia ini. Semuanya cerdas dan merupakan wanita yang kuat.
Melihat kesedihan di mata Vanilla, Joana segera mengajak Vanilla untuk keluar dari toilet mengikuti apa yang dilakukan Anneth setelah diperingatkan dengan tegas oleh Joana. Ia melihat manik mata sahabatnya itu berkaca. Joana menyuruh sahabatnya untuk duduk. Lalu Ia mengusap pelan bahu Vanilla yang belum juga buka suara.
"Kamu tidak bodoh. Semua Ibu di dunia ini cerdas dan tanpa perhitungan. Mereka rela mengorbankan diri sendiri demi anak. Jangan pikirkan ucapan dia, Van. Dia sendiri belum tentu bisa seperti kamu,"
Vanilla mengangguk mendengar nasihat temannya. Joana duduk dan kembali mengisi perutnya.
__ADS_1
"Kamu tidak mau ini lagi?"
"Tidak, terima kasih dan maaf tidak menghargai pemberian kamu,"
"Tidak masalah, kamu sedang hamil mungkin karena itulah ada perbedaan selera makanan dari sebelum hamil dan setelah kamu hamil. Aku membawakan ini untukmu karena aku ingat kamu itu sering sekali membawa roti dengan selai almond,"
"Iya, tapi entah kenapa sekarang aku tidak menyukainya,"
"Mungkin anakmu tidak suka,"
"Maaf ya, sudah membuang waffle pemberian kamu tadi,"
"Tidak apa, Vanilla. Aku mengerti, selera makan saat hamil itu memang terkadang sulit ditebak,"
***
"Anneth, kamu berani sekali mengatakan hal itu pada mahasiswa tadi,"
"Aku kesal dengan sikapnya. Kalau dia terjatuh, pasti kita yang disalahkan,"
Anneth dan temannya yang bernama Vica itu memasuki ruang istirahat untuk mereka. Ada beberapa cleaning service yang tengah bersiap untuk bekerja, menggantikan rekannya yang bekerja di shift malam. Pagi seperti ini saatnya pergantian shift.
"Kalian datang lama sekali. Aku sudah sejak tadi, bahkan sudah membersihkan toilet," Anneth menegur teman-temannya layaknya seorang atasan.
"Jadwal memang jam segini. Kamu saja yang terlalu rajin datang pagi-pagi buta. Karena ingin melihat Renald sebelum lepas tugas ya?"
Renald memang bekerja di shift malam. Dan membersihkan salah satu toilet untuk dosen adalah pekerjaan terakhir untuknya sebelum pulang.
"Renald sudah bersiap untuk pulang itu. Kamu tidak mau mengatakan sesuatu?"
Mendapat sindiran keras dari beberapa temannya, Anneth nampak geram. Tak bisa dipungkiri, Ia memang datang sangat pagi karena ingin bertemu dengan Renald sebelum lelaki itu selesai bekerja.
"Berisik kamu!"
"Kamu juga berisik. Untuk apa mengomentari orang? kami sampai di sini sesuai jadwal, tidak terlambat sama sekali. Kenapa kamu malah berkata seperti tadi? huh?"
Anneth menghentak kakinya kesal lalu keluar dari ruangan untuk kembali bekerja. Daripada mendengar mereka semua bicara, lebih baik Ia merawat taman kampus sehingga Ia bisa lebih bebas mencibir karena berada di taman.
----------
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungannya. Wufyuuu💙