
Devan memakaikan pelindung kepala untuk anaknya. Setelah itu, Ia menaiki kuda. Disusul oleh Auristella yang Ia letakkan di depannya. Ada seorang lelaki yang menuntun kuda itu agar keduanya tetap aman.
"Daddy, aku mau naik kuda sendiri. Kuda poni,"
"Iya, nanti ya,"
Auristella mengangguk. Nanti mereka akan menggunakan kuda masing-masing, biasanya seperti itu.
"Ian dan Ean kenapa tidak mau ikut kita ya, Dad?"
"Mereka lelah mungkin,"
"Daddy tidak lelah?"
"Tidak, Daddy tidak akan lelah kalau untuk anak-anak Daddy,"
Devan mengecup puncak kepala putrinya. Lima belas menit mereka mengelilingi tempat berkuda berdua di atas kuda yang sama.
Kemudian Devan memilih untuk turun. Ia juga membantu anaknya untuk turun. Kemudian mengantar Auristella pada kuda poni miliknya yang sudah dipersiapkan.
Saat Auristella menaiki punggungnya, kuda tersebut menggeliat seperti marah. Auristella langsung merengek ketakutan dan Devan segera meraih tangan putrinya sembari menenangkan kuda tersebut, sama dengan lelaki yang bertugas mengendalikan kuda itu atau joki.
"Sstt tenang, jangan marah,"
"Kudanya sudah lana tidak dilihat oleh pemiliknya. Jadi sepeeti baru berkenalan lagi," Kata joki kuda milik Auristella.
"Aku mau turun, aku takut,"
"Tidak apa. Ini sudah mulai tenang,"
Masalahnya tidak hanya menggeliat saja tapi juga sedikit mengangkat ekornya membuat Aurustella jadi semakin takut.
Tapi saat ini memang sudah lebih tenang. Berkat Devan dan jokinya yang mengusap-usap kepalanya. Devan juga menyuruh anaknya melakukan hal serupa.
"Auris sudah jarang bermain dengan dia. Jadi dia tidak kenal lagi dengan Auris,"
"Iya nanti aku tidak jarang lagi ke sini, pinkiss. Tenang ya,"
Devan tersenyum melihat interaksi anaknya dan kuda berponi yang ia namai pinkiss itu.
"Bisa Daddy tinggal?"
Devan ingin berlatih dengan kudanya sendiri. Tapi Auristella menggeleng, sepertinya Ia masih takut. Akhirnya Devan mengikuti anaknya yang sedang menunggangi kuda seraya masih menggenggam tangan Auristella.
"Jadi kuda bisa merajuk juga ya, Dad?"
"Bisa, Auris saja bisa merajuk 'kan?"
Auristella menatapnya cemberut. Devan terkekeh melihat anaknya yang semakin gemas bila sedang merengut seperti itu. Devan menyingkirkan rambut anaknya yang sedikit menutupi mata, kemudian Ia membawanya ke samping dan memasukkannya ke dalam pelindung kepala yang digunakan sang putri.
"Sudah, Daddy bisa berlatih sekarang. Aku tidak takut lagi, aku bisa bersama joki,"
__ADS_1
"Ada Artha juga yang akan menjagamu ya"
Devan meminta pengasuh anak perempuannya untuk menggantikan posisinya, di samping Auristella dan menggenggam tangannya. Anak itu tidak pernah seperti ini, biasanya Ia begitu tenang bila menaiki kuda, memegang kepala atau leher kudanya. Tapi karena tadi kudanya habis berontak, maka Auristella takut.
"Pinkiss jangan galak-galak. Nanti aku beli kuda yang baru saja kalau kamu galak," Joki kudanya terkekeh begitupun Artha mendengar ungkapan Auristella yang baru saja mengancam kudanya.
Tadi takut sekali, sekarang sudah berani berbicara bahkan menegur kuda bernama pinkiss sebab accecories yang dikenakan memang merah muda semua mulai dari pelana, sepatu, sampai talinya.
Ini kuda Auristella yang kedua. Sebelumnya dinamai pinky. Lalu Ia minta pada Devan untuk mengganti kudanya yang langsung dipenuhi Devan. Kudanya saat ini Ia juga yang memberi nama dan namanya tidak berbeda jauh dengan kuda sebelumnya.
*****
"Aurrlis naik kuda, aku berrlmain (bermain) kuda tapi dalam game di ponsel,"
Grizelle berceloteh seraya bermain kuda di ponsel seperti yang Ia katakan tadi. Ceritanya dalam game itu, Ia menjadi seorang pemacu kuda yang sedang bertarung dengan pemacu-pemacu kuda yang lain.
"Ayo, aku bisa! pasti bisa!"
Jhico yang sedang melihat dokumen mengenai kliniknya melirik putrinya seraya tersenyum. Grizelle memang tidak jarang seperti itu. Ribut sendiri kalau sedang bermain.
"HAAA KALAH!"
Kalau sudah kalah, maka suaranya semakin kencang mungkin sebagai pelampiasan rasa kesal atau rasa tidak terimanya atas kekalahan.
"Huh, ulang lagi,"
Kemudian Ia kembali mengulangi permainan. Kali ini dengan lawan yang berbeda. Setiap gagal kemudian mengulang permainan, maka lawannya akan berganti.
"Tidak emosi, Pu," sahutnya masih serius menatap ponsel ayahnya yang sedang Ia gunakan untuk bermain.
"Tadi teriak karena kalah,"
"Iya, kelepasan terrliak (teriak) maaf ya, Pu,"
Mulutnya bicara tapi matanya masih tidak berpindah fokus sama sekali dari layar.
"Aduh ini kudaku kenapa jalannya seperrlti (seperti) orrlang mengantuk sih? tidak jelas arrlahnya (arahnya),"
Grizelle menggerutu karena terkadang kudanya hampir menyentuh kuda lawan.
"Memang mengantuk mungkin,"
"Iya, bukannya disurrluh tidurrl (diduruh tidur) dulu,"
Jhico terbahak kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Bisa-bisanya Ia meladeni sang putri kemudian akgirnya tertawa karena ucapan Grizelle memang benar-benar menggelitiknya padahal Ia seharusnya fokus dengan pekerjaan.
"Tidak pantas diajak lomba ini. Ah payah!"
"Aduh kalah,"
Baru juga dibilang tidak pantas, akhirnya kuda yang Ia tunggangi kalah karena disentuh oleh kuda yang lain.
__ADS_1
"Semangat sekali kudanya sampai menabrralk (menabrak),"
"Itu egois kudanya,"
"Iya, benarrl (benar), Pu. Tadi kudaku juga menyentuh, tapi tidak sampai membuat jatuh,"
Grizelle memperbaiki posisinya agar lebih nyaman sebelum Ia kembali bermain. Ia belum bosan dan masih penasaran menjajali rasanya menjadi pemenang dalam game ini.
"Mumu lama ya," ujarnya sesaat sebelum game kembali dimulai.
"Iya, mungkin banyak yang dibicarakan dengan Aunty Jane,"
Pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Vanilla masuk ke dalam kamar kemudian meraih shoulder bag nya. Jhico dan Grizelle langsung dibuat penasaran dengan Vanilla yang terlihat akan pergi.
Grizele keluar dari game dan duduk menatap mumunya yang kini memasukkan ponsel.
"Jhi, aku akan jemput Jane di bandara ya,"
"Jane sudah sampai?"
Vanilla mengangguk membenarkan. Perempuan itu mendekati Grizelle untuk menciumnya. "Hati-hati ya, Mu,"
"Aku antar, tunggu sebentar,"
"Okay, aku tunggu,"
Vanilla tidak menolak saat suaminya mengajukan diri untuk mengantarnya ke bandara guna menjemput Jane yang sudah tiba.
"Tadi Mumu lama mengobrrlol (mengobrol) nya,"
"Memang iya?"
Grizelle mengangguk, Mumunya tak kunjung masuk. Maka menurutnya lama.
"Iya tadi Aunty Jane sempat cerita dulu,"
"Datang berrlsama (bersama) Uncle Ri?" tanya anak itu penasaran. Ia berharap begitu. Karena Richard juga baik sekali dengannya, menganggap Ia seperti keponakannya sendiri. Walaupun mereka terbilang jarang bertemu kalau sekalinya bertemu interaksi Richard dangat hangat padanya.
"Tidak, Sayang. Kali ini Aunty Jane hanya datang sendiri,"
"Oh, jadi tidak berliburl (berlibur) dengan Uncle Rli(Ri)?"
Karena biasanya saat mereka berkunjung, tujuannya adalah berlibur. Maka Grizelle bertanya demikian. Ia pikir mereka berdua akan berlibur ke sini, tempat lahir dan tumbuh besarnya seorang Jane, Aunty yang katanya galak.
"Iya, Aunty Jane liburan sendiri,"
"Aunty Jane jarrlang (jarang) ke sini,"
"Iya, makanya sekarang datang, Sayang,"
"Tidak tinggal sekalian di sini?"
__ADS_1
Vanilla tersenyum saja. Bingung menjawab anaknya dengan kalimat seperti apa. Ia sendiri masih belum tahu rencana yang sesungguhnya dari Jane. Apa masih bertahan dengan keputusannya kemarin yang ingin tinggal di sini sendiri atau akan kembali ke sisi suaminya.